Pekan Keluarga Galilea IX - HUT GKP "Galilea" Jemaat Tanjung Priok, 5 Juli 2014

 
Senin, 14 Juli 2914 
Are We Growing Up or Just Getting Older?
(Apakah kita bertumbuh semakin dewasa atau hanya 'nambah umur doang?)

1 Korintus 13:11

Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.
Selamat Ulang Tahun bagi kita semua, jemaat Tuhan di Galilea Tanjung Priok! Aw, kita sekarang umurnya sudah 9 tahun lho .... hmmmm kita bukan lagi seumuran anak TK, jika mau dianalogikan dengan tumbuh kembang usia manusia, tetapi kita ini sudah mau naik kelas 3 atau 4 SD.

Tentu antara anak TK dengan anak kelas 3 atau 4 SD, ada perbedaan karakternya. Salah satu yang menonjol adalah anak TK masih suka dianterin kalau ke sekolah oleh mamanya, tetapi anak yang udah kelas 4? ... mana mau lagi dianterin orang tuanya ke sekolah? Malu atuh mereka :) - jadi teringat dulu, saya itu cuma dianterin mama ke sekolah waktu kelas 1 SD, itu cuma satu minggu doang.
Tanpa harus mengetahui teori-teori para ahli tentang perkembangan umur manusia, kita semua tahu bahwa sejatinya semua orang yang semakin nambah umur, seharusnya semakin tampak kedewasaannya, baik dalam ciri fisiknya (secara gender) maupun dari perkembangan pikiran (kognitif / otak, afektif / sikap dan psikomotoris / keterampilan).

Akan tetapi permasalahannya adalah tepat seperti yang dinyatakan dalam tema kita hari ini bahwa apakah memang setiap orang yang semakin bertambah umurnya itu akan semakin tampak dewasanya? Belum tentu.

Pertambahan usia sebuah gereja tentu tidaklah sama persis dengan pertambahan usia manusia. Tetapi jelas ketika kita berbicara tentang umur yang semakin bertambah, maka harapannya adalah kita sebagai jemaat semakin mampu menunjukkan kedewasaan sikap, iman dan mental kita sebagai jemaat Tuhan dalam menghadapi pergumulan-pergumulan yang terjadi di dalam situasi hidup kita, baik sebagai pribadi, keluarga dan juga tentunya sebagai jemaat.

Rasul Paulus dengan tepat menerangkan satu bentuk konkrit dari kedewasaan itu dengan kalimat: " ... sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu." Bila kita mau mengingat sejenak tentang apa yang terjadi dalam konteks jemaat di Korintus pada waktu itu, maka kita akan dengan mudah menemukan tantangan "meninggalkan sikap kekanak-kanakan" itu ketika mereka sebagai jemaat mengalami pergumulan. Sebut saja pertikaian tentang karunia roh yang mengancam kehidupan jemaat pada waktu itu (1 Korintus 12) atau tentang perpecahan di dalam tubuh jemaat itu sendiri (1 Korintus 3). Sekali mereka tak meninggalkan sikap kenakan-kanakan itu, maka kehancuran tinggal menunggu waktu saja.Bagaimana dengan kehidupan jemaat Tuhan di Galilea Tanjung Priok hari ini? Yang namanya pergumulan mah gak bakalan ada habisnya. Akan tetapi janji Tuhan bagi kita sebagai orang percaya akan selalu tetap sama, "tak berkesudahan kasih setia Tuhan, selalu baru setiap pagi; besar kesetiaan-Mu" (Ratapan 3:22-23).

Sudahkah sebagai jemaat Tuhan di Galilea Tanjung Priok kita bukan hanya semakin bertambah umur, tetapi juga semakin bertambah dewasa dalam memahami bentuk kasih setia Tuhan di balik semua hal yang kita alami bersama sebagai jemaat? Bahkan ketika kita sedang mengalami hal hal yang tidak ringan, kedewasaan sikap kita akan sangat menentukan pengenalan kita akan kasih setia-Nya yang tak berkesudahan itu. 

***

Selasa, 15 Juli 2014

Tergila-gila Karena-Mu

2 Korintus 11:23
Apakah mereka pelayan Kristus? --aku berkata seperti orang gila-- aku lebih lagi! Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut.

Demam piala dunia melanda di bulan Juni - Juli ini. semua orang menjadi "gila bola", bahkan ibu-ibu yang biasanya gak suka nonton bola pun akhirnya jadi ikutan nonton piala dunia kan ya :) Selamat untuk para pendukung Jerman dan Argentina ya ... (Siapa juaranya jadinya?)

Satu hal yang sangat layak untuk kita cermati bersama adalah bentuk kegilaan apa yang ada di dalam diri semua orang yang mengaku sebagai pecinta bola ketika piala dunia ini berlangsung? Gak perlu lah kita melihat dari fans fanatik setiap warga negara yang memang jelas jelas "PSSI"-nya mereka masuk piala dunia macam FA-nya orang Inggris (hooligans inggris kan terkenal tu ya) atau CBF-nya orang Brasil, mereka semua itu saking gilanya lihat saja antusiasnya mereka mendukung timnas mereka di ajang 4 tahunan itu di tahun ini. Kita di Indonesia? salah satu kegilaannya adalah tengoklah jam berapa itu tanding bolanya main dan tayang live di TV? Dini hari! Tetap saja banyak yang nonton tuh, padahal besoknya kan banyak yang kerja pagi juga.

Salah satu ciri "kegilaan terhadap sesuatu" adalah "ngebela-belainnya". Biar hujan juga kita terobos kan waktu bapak dulu pacaran sama ibu karena saking kangennya? Itu artinya memang ibu sudah "digilai" oleh bapak, makanya sekarang jadi suami istri. Sama lah kayak penggila bola di piala dunia tahun ini, mereka di sebut gila juga karena "ngebela-belain" nonton bola di pagi hari padahal beberapa jam lagi mereka masuk kantor.

Dalam teks Alkitab kita yang cuma satu ayat itu, bukan karena ada kata "gila" nya maka kita tahu bahwa Paulus benar-benar tergila-gila dengan sang Kristus Juruselamat itu. Bukan itu. Akan tetapi lihatlah apa yang dikatakannya tentang "hasil dari kegilaannya kepada Kristus" itu: " ... Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut." (bahkan kalau mau lebih detail, bacalah kelanjutan ayatnya: ayat 24-29, makin tahu kita bahwa Yesus memang telah "digilai" oleh Paulus).

Kita pasti tahu makna kata "digilai" itu adalah karena saking sayangnya, nge-fans-nya, suka-nya seseorang terhadap sesuatu, maka apapun akan dilakukan olehnya untuk menyatakan rasa sayangnya itu pada yang "digilai"-nya itu.

Yang saya takutkan adalah seseorang bisa saja "menggilai" sesuatu sampai "segila-gilanya", dibelain segitunya, tetapi untuk "menggilai Tuhan" seperti yang dilakukan oleh Paulus dalam teks kita hari ini, hmmmm .... hujan sedikit saja bisa membuat kita menunda perjumpaan dengan Tuhan di rumah-Nya, bukan?

Bulan ini, 10 hari yang lalu, kita genap berusia 9 tahun sebagai jemaat Tuhan yang mandiri. Selama 9 tahun ini, telah banyak yang Tuhan perbuat bagi kita sebagai jemaat yang mandiri. Hmmm kalau ingat cerita dari para orang tua kita tentang keadaan kita di masa yang lalu itu ... haduh, bukankah hari ini kita jelas seharusnya semakin bersyukur pada Tuhan tentang apa yang sudah diperbuatnya bagi kita? Dalam terang tema kita hari ini mungkin bahasanya yang perlu kita renungkan begini, "Tuhan sudah menggilaimu sedemikian rupanya, sudahkah kita pun menggilai cinta kasih-Nya itu dalam kehidupan kita bersama-Nya?"

***

Rabu, 16 Juli 2014
Seorang Penuai adalah Penabur

Mazmur 126:5
Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai.
Sembilan tahun lewat beberapa hari kita sudah menikmati berkat Tuhan sebagai satu jemaat yang mandiri. Jika kita mau merefleksikan tentang apa apa yang sudah terjadi dalam kehidupan kita sebagai jemaat Tuhan di Galilea Tanjung Priok, dan bertanya: "Kemajuan apa yang sudah kita capai di sepanjang perjalanan kita sebagai jemaat Tuhan yang mandiri ini?" Maka apa yang menjadi jawaban kita semua?

Jujur .... kadang kadang ... banyak orang yang mungkin bisa saja menilai bahwa "kita cenderung jalan di tempat" ... Apalagi jika kita mau bicara masalah kuantitas, ya anggota jemaat kita "segitu-gitu aja" ... Salah satu ketakutan saya adalah, terjebak dalam pemahaman bahwa kita tidak bertumbuh apa apa.


Ada satu puisi yang ditulis oleh seorang bernama Ann North, yang saya jumpai dalam buku "Yesus: Chief Executive Officer" yang ditulis oleh Laurie Beth Jones. Puisi itu menyatakan begini:

Tukang Kebun

Benih-benih harapan yang ditebarkan di musim gugur yang lalu beberapa belum tumbuh.
Masih tergeletak dan belum mewujud, mengering di tanah musim semi.

Yang terkuat dan terbaik bangkit menguak dedaunan.
Menyingkirkan tindihan tanah dingin dan keras.

Menyembul ke udara biru dan berdiri hijau telanjang.
Bernafas.

Selalu begitu waktu menanam.
Tak pernah tahu mulanya, mana yang akan hidup dan mana akan gagal.
Akan tetapi yang selalu harus dipegang dan diyakini hanyalah ...
tetap menabur benih.

Apapun yang kita lihat hari ini tentang keberadaan diri kita, entah itu sebagai pribadi, keluarga ataupun jemaat, satu hal yang penting untuk kita lakukan adalah .... tetap menabur benih. Seorang penuai pastilah seorang penabur. Kita tidak akan pernah menuai sesuatu yang tidak pernah kita tabur. Walaupun harus bersusah payah hingga ber-air mata, satu satu nya jalan untuk menjadi lebih baik adalah tetap menabur hal hal yang baik.


***

Kamis, 17 Juli 2014
Andai yang Tertidur, ... Bangun ...
Matius 26:40
Setelah itu Ia kembali kepada murid-murid-Nya itu dan mendapati mereka sedang tidur. Dan Ia berkata kepada Petrus: "Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?
Saya pernah membaca satu kalimat yang berbunyi begini, "gereja hari ini bukanlah kumpulan orang-orang pilihan (the choosen people), tetapi lebih mirip kumpulan orang-orang yang sudah membeku (the frozen people). Mungkin kita tidak heran apabila kemudian ada orang yang menulis kalimat seperti itu ... karena ya mungkin yang dilihatnya tentang gereja hari ini di tempat dia melihat adalah memang seperti itu. Gereja yang membeku, tak ada gairah sama sekali, tak ada pergerakan ... lebih mirip seperti seseorang yang tertidur.

Ada satu kata lagi yang seringkali menjadi momok bagi kehidupan kita sebagai gereja-Nya. Satu kata, tetapi cukup mematikan: rutinitas. Seseorang yang memandang bahwa apa apa yang dilakukannya sebagai orang percaya hari ini, ya karena memang harusnya begitu. Pergi ke gereja setiap hari minggu, ya memang orang Kristen ke gereja setiap hari Minggu (hari lainnya enggak ibadah sama sekali), Orang Kristen itu penuh kasih dan harus mengampuni orang lain (tetapi tak bisa menghilangkan akar pahitnya). Apa masalahnya dengan hal itu? Kehilangan makna. Ini seperti seseorang yang bernyanyi, tetapi sebetulnya hanya lips sing saja. Tampak sedang bernyanyi, tetapi yang sebenarnya adalah cuma menggerak-gerakkan bibirnya mengisi suara nyanyian yang sudah ada.

Gereja yang tertidur adalah gereja yang tidak menyadari bahwa sebagai gereja, dirinya memiliki satu hal yang diperintahkan oleh Tuhan. Gereja yang tertidur adalah gereja yang acuh tak acuh (cuek) dengan keberadaan dirinya sendiri, dan jika sudah cuek dengan dirinya sendiri, bagaimana dengan membangun hidup bersama orang lain?

Dalam ayat kita hari ini, murid-murid tertidur ketika Yesus memerintahkan mereka untuk berdoa dan berjaga-jaga. Kita tentu tahu bahwa ayat itu adalah ayat di mana sebentar lagi Yesus ditangkap dan di bawa ke dalam pengadilan Romawi. Ketika Yesus meminta para muridnya untuk berjaga dalam doa, apa sih yang sebenarnya diinginkan oleh Yesus? Supaya bisa melawan Romawi? Tidak. Yesus meminta para murid untuk berjaga dan berdoa (tidak tertidur) supaya mereka siap dalam menghadapi semua hal yang menjadi kehendak Bapa, termasuk di dalamnya ketika Bapa berkehendak untuk menyerahkan diri-Nya dalam rupa manusia Yesus itu ke dalam pengadilan Romawi untuk penyaliban.  
Inti dari sebuah "kebangunan" diri adalah supaya setiap kita dimampukan untuk menghadapi hal hal yang terjadi dalam kehidupan kita ini. Dan itulah tugas kita sebagai gereja-Nya: bersama-sama "terjaga" untuk bisa hidup saling menguatkan dan saling menopang satu dengan yang lain.

Hmmmm ... apabila semua orang yang "tertidur" hari ini menjadi "terbangun" .... dapatkah kita membayangkan betapa besarnya potensi yang ada dalam kehidupan gereja Tuhan di Tanjung Priok ini? Andai semua yang "tertidur" .... bangun!

***

Jumat, 18 Juli 2014
Genting!
Yosua 24:15
Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!
Ada yang saya cermati dalam pemilu Presiden dan wakilnya tahun ini. Tampaknya bangsa Indonesia sangat antusias dalam memberikan suara mereka kepada duet yang mereka pilih untuk menjadi RI 1 itu. Hal itu terbukti dengan jumlah golput yang tahun ini, katanya, menurun. Pertanyaannya kan menjadi kenapa bisa seantusias itu?

Genting! Banyak orang Indonesia hari ini, dalam pemilu presiden, yang menyadari bahwa "persaingan menuju RI 1" kali ini sangat ketat. Artinya, satu suara saja bisa menghasilkan perbedaan yang signifikan. Lihat saja hasil Quick Count yang memang menunjukkan angka perbedaan perolehan suara yang cukup ketat itu.

Satu yang mau kita refleksikan bersama hari ini adalah ... apakah memang benar keadaan genting menghasilkan komitmen yang cukup besar dan itu berpengaruh pada semangat dan komitmen? Apakah bila keadaan ada di "zona nyaman", maka golput menjadi naik kembali persentasenya? Apakah bila tak ada situasi yang genting, maka komitmen kita menjadi melemah?

Entahlah.


Yosua menghadapi situasi genting pula dalam teks alkitab kita hari ini. Pada waktu itu, Israel kembali lengah dengan membiarkan diri dipengaruhi oleh iman bangsa-bangsa lain di sekitar Israel dan membuat mereka meninggalkan (atau paling tidak, menduakan) Tuhan. Dan Yosua tahu bahwa bila hal itu terus berlanjut, maka Tuhan bisa marah (lihat saja kondisi setelah Yosua mati, Israel yang jatuh bangun di hukum dan dipulihkan oleh Tuhan).

Hari ini, sebagai jemaat Tuhan di Tanjung Priok, bagaimana dengan kita?
Situasi genting yang membuat kita berkomitmen? Ya, kita pernah mengalami hal itu ... Ada sebuah situasi yang genting dan akhirnya hal itu membuat kita peduli dan berkomitmen untuk keluar dari situasi itu. Tetapi apakah memang harus ada situasi yang genting dulu baru kita semua bisa berkomitmen untuk berjuang bersama sebagai jemaat Tuhan yang mandiri? Semoga saja tidak, karena apapun situasi dan kondisi yang kita hadapi sebagai jemaat Tuhan hari ini, semua yang kulakukan untuk Tuhan adalah yang terbaik yang bisa kulakukan untuk-Nya.

***

Sabtu, 19 Juli 2014
Hidup yang Bersyukur
1 Tesalonika 5:18
Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.
Ada satu kutipan yang menarik sekali untuk kita dengar saat ini, "kita bersyukur bukan karena kita berbahagia, tetapi bersyukurlah maka kita akan bahagia". Pola yang terbalik kadang yang digunakan oleh banyak orang, sewaktu kita berbahagia, barulah disitu kita bersyukur. Sedangkan ketika kita sedang rasa-rasa gak enak, apa yang mau disyukuri kalau gitu?

Bukan hanya pola yang terbalik saja yang kita hadapi hari ini, tetapi juga satu kalimat yang paling susah adalah ... "dalam segala hal" nya itu loh. Muaranya sih sama ... sewaktu keadaan baik, betapa mudahnya kita bersyukur (walaupun ada juga sih beberapa kejadian di mana sewaktu keadaan baik, toh akhirnya malah lupa bersyukur sama Tuhan juga), sedangkan dalam keadaaan kita sulit, susah pula rasanya kita ini untuk bersyukur.

Hari ini kita bersyukur karena kita masih bisa merayakan HUT GKP Galilea Tanjung Priok yang ke 9 ini dalam sebuah perayaan ibadah yang diadakan sore hari nanti. Semoga dengan perayaan syukur ini, makin bertambah-tambah pula pengenalan kita akan kasih setia Tuhan yang telah diberlakukan-Nya bagi kita, sebagai pribadi keluarga dan jemaat ... sehingga hal ini memungkinkan kita selalu untuk bersyukur dalam segala hal dan kita bisa menemukan pula selalu apa itu artinya kebahagiaan yang sejati.

Selamat Ulang Tahun GKP Galilea Tanjung Priok.
Tuhan memberkati selalu. Amin.
Baca Selengkapnya ...

Mazmur 122:1-9


Di Jual: Rumah Tuhan!

Di Jual: Rumah Tuhan!
Kalimat itu mungkin terasa asing di telinga kita sebagai orang percaya di Indonesia ... Di sini ada begitu banyak saudara-saudara kita orang percaya yang berguul berat untuk bisa punya satu Rumah Tuhan untuk beribadah.

tengoklah peristiwa penutupan dan penolakan pembangunan gereja-gereja di mana aja? Yasmin, Dayeuhkolot ... dan banyak lagi di hampir seluruh bumi nusantara ... Kita di sini bergumul justru untuk memiliki satu tempat yang tenang, gereja, untuk bisa beribadah. 

Hambatan muncul kuat luar biasa di negeri kita ini ... mau bikin sertifikat aja susah, apalagi ngurus IMB ... Itulah yang menyebabkan ada banyak saudara seiman kita yang akhirnya ibadah di ... mall-mall dan hotel-hotel. Datanglah ke mall, apa saja ... pasti ada gereja di sana :)

Ada satu buku yang menceritakan tentang sengsaranya hidup orang percaya di abad-abad mula-mula, judulnya: "Semakin Dibabat, Semakin Merambat" ... Di Indonesia hari ini, kita tahu betul apa bentuk nyata dari kalimat itu. Kita gak boleh bangun gereja? Ok! Sewa ruangan di mall-mall atau hotel untuk kita bisa ibadah. Gitu aja kok repot. Kan Gereja itu bukan gedungnya, tetapi ... orangnya. Beberapa hari yang lalu saya mimpin di Kompas-Gramedia, saya kira mau ibadah di gedung kantornya, tapi ternyata enggak ... mereka bikin di apartemen. Karena memang gak disediakan ruang ibadah di sana ternyata. "Hambatan yang tidak menjadi alasan untuk berhenti merambat".

Tapi sayangnya, lain di Indonesia, lain pula pengalaman di barat. 


Di Jual: Rumah Tuhan! Kalimat itu gak asing (katanya) di sana. Katanya, ada banyak gereja-gereja yang gulung tikar dan berubah menjadi mall, atau bahkan menjadi tempat ibadah umat beragama lain. Ironis. Di sini kita kesusahan punya rumah ibadah, di sana mereka jual-jualin gitu aja. Tukeran sini kita sama mereka.



Dulu saya sempet di tanya juga sama teman tentang kenapa itu di barat gereja banyak yang tutup? Lalu saya jawab aja: "Oh itu karena mereka sekarang pindahan ke konsep megachurch, satu gedung yang buesar sekali dan menampung puluhan ribu orang untuk sekali ibadah". Itu sebenarnya jawaban yang menghibur diri aja. Semoga benar.

SAya mengajak kita untuk melihat dua realitas tadi sebelum kita melihat teks kita hari ini, Mazmur 122. Ada semangat yang berbeda dengan 2 realitas tadi dengan teks kita hari ini? Ada. 

Di Indonesia: Semangat ibadahnya ada, gedungnya susah.
Di barat: gedungnya ada, semangat ibadahnya berkurang (katanya)

Di teks kita hari ini? Hmmm ... Gambaran yang sempurna :)
Rumah Tuhan nya ada, diimbangi dengan semangat yang luar biasa dari orang israel untuk pergi beribadah.

Mari kita lihat ulang sedikit teks kita hari ini:
1. ayat 1 - Ada sukacita di sana, ada semangat untuk pergi ke rumah Tuhan di sana.
2. ayat 8 - Ada suasana yang harmonis, persaudaraan yang menyenangkan.
3. ayat 9 - ada niat yang tulus dari semua anggota jemaat untuk ... mencari kebaikan di antara sesama.

Terbayang gak sih suasana hidup bersama sebagai satu keluarga umat Tuhan seperti yang di gambarkan dalam teks kita yang beneran terjadi di masa raja Daud itu?

- Orang yang malas beribadah karena capek kerja semingguan penuh ...
- orang yang berantem dan gak kelar-kelar sampai akhir zaman nanti
- orang yang bergosip
- orang yang saling sikut sana sini ...

Rasanya tak kita temukan bahkan dalam bayangan sekalipun tentang teks kita Mazmur 122 itu ...

Pak, bu .. boleh tanya ..
Gambarana apa sih yang sedang kita lihat nyata di depan mata kita sewaktu kita berada di rumah Tuhan? Sewaktu kita hidup bersama dengan keluarga jemaat Tuhan di tempat kita?

Siapa yang gak rindu dengan gambaran nyata yang sangat ideal yang pernah terjadi di masa raja Daud dalam Mazmur 122 itu?

Sudahkah kita juga merasakan hal yang sama sekarang?
Atau kita sedang siap-siap bikin papan iklan besar-besar dan taruh itu di depan gedung gereja kita: 

DI JUAL: RUMAH TUHAN!
Baca Selengkapnya ...

1 Petrus 2:18-25


Super Zero

Kita pasti gak asing dengan kisah-kisah superhero. Batman, Superman, Spidey, Robocop, dan yang paling akhir di bioskop ... Captain America. Mereka-mereka yang memiliki kekuatan luar biasa untuk melawan orang-orang jahat. Dan hampir selalu, para superhero itu punya hal-hal yang mereka korbankan untuk membela kebenaran dan orang-orang yang baik. Pengabdian memang adalah pengorbanan.

Satu hal ini saya cermati, sewaktu para superhero itu datang untuk membela orang-orang baik dengan menggunakan superpower mereka dan mereka menang (walaupun polisi hampir selalu diceritakan datang terlambat dalam film-film, satu orang superhero saja sudah bisa membasmi orang-orang jahat) ... Bagaimana dengan Yesus di hari Jumat, dua ribuan tahun yang lalu itu?

Yesus punya kekuatan luar biasa?
Ya jelaslah Dia punya. Dia kan Tuhan yang datang dalam rupa manusia.
Tapi untuk siapa Yesus datang ke dunia ini?
Untuk orang-orang baik saja? Bukan. Bahkan termasuk untuk orang-orang yang dikatakan dalam ayat 24-25, orang berdosa dan orang sesat. 

Lihat pula cara yang digunakan oleh Yesus ..
bukan dengan superpower-Nya, melainkan dengan cara-Nya yang membingungkan semua orang: menyerahkan diri (bukan memimpin pemberontakan), membiarkan diri menderita (bukan melawan), menerima salib dan mati (bukan melarikan diri).

Loh, jagoannya mati! Bagaimana ini?!?

Kita tentu masih ingat suara-suara itu ...
"Jika Engkau adalah Anak Allah, selamatkanlah diri-Mu!"
"Orang lain Dia selamatkan, sedangkan diri-Nya sendiri??"

Jumat Agung adalah bukan pertunjukan kehebatan seorang superhero yang diharap-harap oleh banyak orang waktu itu. Jumat Agung lebih pantas disebut sebagai pertunjukan dari seorang yang dianggap ... superzero.

Paling tidak itulah yang bisa jadi dipahami oleh banyak yang sangat berharap besar terhadap Yesus sebagai Raja baru, Mesias baru yang mengalahkan penjajah Romawi waktu itu. Sewaktu orang banyak di depan pengadilan itu berteriak lantang, "Salibkan Dia!" ... entah berapa banyak orang yang berkata dalam hatinya, "beri kami tanda untuk maju dan kita akan berperang!" ... Tetapi ... kita tahu yang terjadi selanjutnya ... "Salibkan Dia! Mati ... dan Jaga kubur-Nya!"

Lalu apa yang bisa kita banggakan dengan aksi superzero di hari Jumat 2000 tahunan yang lalu itu? Saya mau share beberapa hal yang bisa kita renungkan bersama-sama hari ini ... Dua hal ...

(1) Ayat 23 bagian 1
Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam,

Berbanggalah karena melalui hari Jumat di 2000 tahun yang lalu itu, kita menjadi tahu bahwa ada jalan yang lain untuk memenangkan kehidupan.

Jalan yang lama yang sudah kita ketahui berteriak keras: "kalau dia jahat, jahatin lagi ... balas ... kalau hidup menderita, tolak penderitaan itu"
Jalan yang baru kita ketahui adalah ... "kejahatan dikalahkan dengan kebaikan ... menerima keselamatan dengan jalan kematian ... menjadi menang, walaupun tampak seperti seorang superzero"

(2) Ayat 23 bagian 2
tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.

Justru menjadi seorang superzero itu kan susah ya. Banget. Karena kita hampir selalu ingin meraih hasil yang hebat, dengan cara yang mudah, dalam waktu yang paling cepat dan jalan yang paling enak. "ngapain harus kalah? ngapain harus menderita?"

Tetapi jelas apa yang dinamakan dengan penderitaan, sakit, kecewa .. semua beban dalam hidup kita ini. semua nya tidak terelakkan. 

Bersyukurlah dan berbanggalah karena di hari Jumat Agung ini kita semua menjadi semakin tahu bahwa setiap cerita tentang kita .. tentang penderitaan, kesakitan dan lain-lain itu ... Itu bukanlah titik. Orang lain semua bisa saja ngasih titik dalam peristiwa kehidupan kita.

kamu gagal. titik.
kamu pecundang. titik.
keluargamu ancur. titik.
masa depan mu suram. titik.

Aksi superzero Yesus di hari Jumat dahulu seharusnya membuat mata kita semua terbuka lebar. Sewaktu semua orang lain bisa memberi tanda titik dalam kehidupan kita, Tuhan selalu bisa kasih tanda koma dan berkata pada kita, "ceritamu belum berakhir sampai di sini".

Ini bukan akhir cerita tentang kita.
Baca Selengkapnya ...

Roma 13:1-7


Kepatuhan

"Di atas kami di aniaya, di bawah kami berdoa" adalah jargon iman yang selalu diucapkan oleh orang percaya di masa dekat Tuhan Yesus (orang kristen mula-mula). Sebenarnya jargon itu pake bahasa inggris, tapi saya lupa kalimat tepatnya dalam bahasa inggris itu bagaimana, tapi artinya ya itu tadi ....

Surat Roma di tulis oleh Paulus sekitar tahun 50 an Masehi. Itu berarti semua orang percaya masih hidup diliputi oleh banyak sekali ketakutan. Mereka dibenci, dianiaya, dikejar-kejar ... di pandang tak ada harganya ... hingga dibunuh. Perlakuan itu ditunjukkan bukan saja oleh masyarakat sekitar yang belum mengenal Kristus, tetapi juga oleh pemerintah Romawi yang pada waktu itu berkuasa atas mereka. 

Saya mau narik ke depan sedikit ... 20 tahun setelah surat Roma ini ditulis, tahun 70 Masehi, kaisar Roma pada waktu itu dengan sengaja membakar kota Roma hanya karena kebenciannya yang teramat sangat kepada orang Kristen, pengikut Kristus, dan kemudian memfitnah orang percaya  sebagai kelompok yang bertanggung jawab atas terbakarnya kota Roma pada waktu itu. Hasilnya tak terelakkan, orang percaya semakin diburu, dianiaya, dijebloskan ke dalam penjara, di salib ... dan dibunuh ... Ada banyak derita bagi orang percaya di masa itu pastinya ...

Saya mengajak kita semua untuk melihat sedikit di sekeliling kehidupan orang percaya di zaman perikop kita hari ini agar kita tahu bahwa ketika rasul Paulus menulis tentang "kepatuhan terhadap pemerintah", itu harganya terlampau mahal. Saking mahalnya ... sampai-sampai, mungkin gak kebeli kali ... oleh orang percaya pada waktu itu. "Rasul gila! menyuruh patuh pada pemerintah yang zalim? Penganiaya hidup kita? Gila!"

Akan tetapi, kita semua tidak salah kok membaca surat ini. Tuhan memang benar-benar memerintahkan melalui rasul Paulus kepada orang percaya untuk ... "patuh pada pemerintah".

Hari ini saya mau mengajak kita untuk merenungkan tentang dua hal yang berkaitan dengan harga mahal untuk membeli sebuah kepatuhan itu ...

(1) Ayat 2
Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya.

"Bagaimana mungkin seseorang bisa harus tetap paruh, meski diperlakukan dengan semena-mena dan teraniaya?"
Mungkin begitu pikir mereka ...
Tetapi bukankah ini yang namanya pengorbanan?

Sewaktu seseorang yang berjalan kemudian melihat bahwa jalan yang dilaluinya itu tidak seindah yang diharapkan, lalu dia mulai bertanya pada Tuhan, "kenapa ini terjadi Tuhan? Jalannya gak enak!" Lalu kita mendengar Tuhan berbisik kepada kita, "Jalan terus, kamu bisa melewati itu semua ... Percaya. Patuh saja" ...

Bukankah itu pengorbanan namanya? Korban sakit di hati, di pikiran, di badan ... harus jalan terus walau jalannya gak enak ...

Kepatuhan memang kadang kala harus dibayar dengan uang muka yang namanya pengorbanan.

(2) Ayat 1
Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah

Ada iman yang hebat di balik ayat yang kita baca di atas itu ...
Iman yang berkata bahwa, "Aku percaya Tuhan akan melakukan yang baik, yang benar ... Dia melihat, mendengar ... Dia berkuasa penuh, adil ... semua bentuk konkret iman kita padanya ada di sana.

Itu sebabnya kita baca, "semua pemerintahan berasal dari Allah." Apa tidak salah? Tidak. Bahkan yang bengis sekalipun? Ya. Kok bisa begitu? Karena yang pegang kuasa mutlak terhadap jalannya kehidupan ini tetaplah Tuhan. 

Allah mengerti tentang segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita ini. Dia pasti melakukan sesuatu ... yang benar, yang baik ... yang adil ... yang indah tepat pada waktunya. 

(berkaitan tentang pemerintahan yang zalim, kita bisa melihat kok bahwa pada awalnya Tuhan memilih orang yang baik, jika dalam perjalanannya orang yang dipilihnya itu berpaling dari jalan yang baik itu ... itu soal yang lain ... salah satu contoh yang bisa kita lihat, walaupun tak terlalu menggambarkan juga sih, adalah kisah Raja Saul. Seseorang bisa saja mengambil jalan yang salah.)

Bapak dan ibu pasti masih ingat ... beberapa ratus tahun kemudian (ada yang masih mau bilang, "pertolongan Tuhan datang terlambat!" Gak ada yang terlambat, Tuhan sudah mengatur waktu yang tepat pembelaan bagi orang yang percaya dan patuh kepada-Nya) ... Tuhan merangkul kaisar Roma, Konstantinus, yang akhirnya menjadi orang percaya. Sejak saat itu, perubahan besar terjadi dalam kehidupan orang-orang percaya.

Bapak dan ibu sudah mengambil barang bawaan yang harganya cukup mahal itu, kepatuhan? Ambillah ... gak akan berakhir sia-sia.
Baca Selengkapnya ...

Yakobus 2:1-4


Gereja Tanpa Tembok

Pernah gak sih terbayang apa yang dikuatirkan oleh Yakobus dalam teks pembacaan Alkitab kita hari ini itu terjadi benar-benar di sana pada waktu itu? Saya kebayang .... Tentang orang-orang yang dikatakan oleh Yakobus dalam ayat yang ke 3,
dan kamu menghormati orang yang berpakaian indah itu dan berkata kepadanya: 
"Silakan tuan duduk di tempat yang baik ini!", sedang kepada orang yang miskin itu kamu berkata: "Berdirilah di sana!" atau: "Duduklah di lantai ini dekat tumpuan kakiku!",

Mereka pasti adalah orang-prang yang dengan mudahnya mengubah raut wajah mereka. Mungkin hanya sepersekian detik mereka bisa mengubah tampak muka mereka itu ...
- dari yang berwajah manis ... menjadi asem - pahit
- dari yang tampak ramah ... jadi ... sangar

Coba aja di test, di ayat tiga itu kan ada tiga kalimat:
1. Silahkan tuan duduk di tempat yang baik ini!
2. Berdirilah di sana!
3. Duduklah di lantai ini dekat tumpuan kakiku!

Coba itu tiga kalimat itu cocoknya pake raut muka dan nada suara yang gmana? Cocok gak kalimat yang nomer 2 dan tiga itu pake wajah manis dan ramah? Cocok? Ah yang bener! Gak cocoklah!

Segala sesuatu yang di dalamnya kita sudah mulai untuk mencoba membangun tembok - sekat pemisah ... itu pasti akan selalu melemahkan - mengurangi kekuatan yang sesungguhnya.

Itu ibaratnya ruangan ibadah gereja kita ini nih ya sekarang yang seluas ini ... lalu tiba-tiba ada yang membangun satu tembok tinggi yang membagi dua bagian antara barisan kursi sebelah kiri saya dan barisan kursi di sebelah kanan saya.

Harusnya kita seluas ruangan "gereja tanpa tembok" ini, tapi karena temboknya itu ada di tengah dan membagi dua ... jadi gak kelihatan lah seluas yang seharusnya. Itu cuma contoh aja ya, bukan kenyataan.

Saya gak tahu apakah jemaat yang diingatkan oleh Yakobus ini sudah se-ekstrim yang kita baca atau belum. Akan tetapi kalau kita baca seperti yang kayak ayat tiga tadi itu ... ya berarti kemungkinan besar memang kejadiannya sudah pernah terjadi.

Pertanyaan pentingnya adalah .. apakah kejadian-kejadian seperti dalam ayat tiga itu masih terus bisa kita temukan sampai dengan hari ini ... walaupun ... semua orang tahu bahwa membangun tembok pemisah itu benar-benar banyak meruginya.

Mungkin tidak se-ekstrim seperti yang kita baca dalam ayat tiga. Tetapi justru karena tidak ekstrim seperti ayat tiga itu, bukannya itu jadi lebih menakutkan? Yang ekstrim menakutkan ... yang tidak ekstrim jauh lebih menakutkan lagi.

Orang bisa duduk bersama, tetapi sebenarnya mereka terpisah. Temboknya gak kelihatan. Duduk bersama tetapi diem-dieman, senyum pas berhadapan muka, tetapi di belakang cemberut.
Tembok yang paling menakutkan adalah tembok yang seseorang bangun tetapi tidak pernah kasat mata.

Hari ini, mari kita lihat hidup kita ...
Apakah kita sedang membangun sebuah tembok pemisah atau kita sedang mau menghancurkannya?

Kuncinya ...
Ayat 4
bukankah kamu telah membuat pembedaan di dalam hatimu dan bertindak sebagai hakim dengan pikiran yang jahat?

Susah ya kuncinya ...
Karena kuncinya meruntuhkan keinginan untuk membangun tembok pemisah itu adalah keluar dari hati kita masing-masing. Mendamaikan dirinya sendiri sebelum berdamai dengan orang lain yang ada di sekitarnya.

Pengalaman-pengalaman di hari kemarin ketika hidup bersama dengan orang-orang lain ... Itu bisa jadi modal yang cukup bagi siapa saja untuk mulai membawa sebuah batu bata merah dan mulai menumpuknya menjadi satu tembok.
- Dia jahat
- Dia curang
- Dia nyakitin
- Dia bersikap buruk

Cukup modalnya? 
Tinggal di bangun deh kalau sudah begitu ...

Sekali lagi .. ayat empat menjadi kuncinya.
Kita bukan hakim. Oleh sebab itu berhentilah bersikap bak seorang hakim yang menghakimi. "Tapi dia sudah begitu nyakitin!" Stop. Itu urusan dia atau mereka sama Tuhan.

Tugas kita hanya sampai pada menjaga hati dan pikiran kita tetap damai dan berusaha untuk berdamai dengan diri sendiri dan semua orang. Cuma itu saja.

Selebihnya ...
Kasih ke Tuhan. Dia tahu apa yang harus Dia lakukan untuk kita, untuk dia ... atau untuk mereka.
Baca Selengkapnya ...

ShareThis