Matius 25:14-30


Beresiko
Matius 25:14-30

Syalom bapa ibu semua ...
Senang bisa kembali ke Awiligar hari ini. 

Saya ingat dulu pernah lho saya mimpin di Awiligar, waktu itu ruang ibadahnya teh kedap suara pake tempat telor. Inget gak kedap suaranya? Pasti inget dong. Hmmm .. sekitar ... bertahun-tahun yang lalu ... Dan hari ini ada di Awiligar lagi. Menyenangkan.

Perikop yang kita baca hari ini sangat populer. Saking populernya, mungkin tanpa baca teksnya lagi kita sudah hafal inti ceritanya: Ada seorang tuan yang mau pergi lalu panggil 3 hambanya lalu memberikan 5, 2, 1 talenta pada mereka masing-masing. Yang 5 jadi 10, yang 2 jadi 4 dan yang satu malah tetap menjadi satu. Sewaktu tuannya kembali, dia marah karena yang dikasih satu itu nimbun saja talentanya sehingga tetap menjadi satu.

Tentu kita sudah tahu pula bahwa yang namanya talenta itu dulu benar-benar adalah uang atau alat pembayaran orang Israel. Coba cek kamus Alkitab kita yang ada di belakang Alkitab kita tu ...

1 Talenta = 6000 dinar
1 Dinar = upah satu hari kerja
Jadi per talentanya itu = 6000:365 (jumlah hari dalam setahun) = 16,5 (tahun upah harian yang ditabung)

Salah satu kesulitan kita kalau ketemu perikop yang populer adalah ... arahnya kita udah tahu semua atau minimal bisa nebaklah. Kemarin saya sharing dengan salah satu rekan tentang bahan ini lalu bilang tentang kesulitan itu. Saya bahkan masih menyimpan di blog, renungan perikop kita ini yang pernah dulu dibawakan.

Ada sudut pandang yang menarik di bahas kemarin dengan rekan saya itu. Tentang yang satu talenta: Kenapa sih yang dapat satu talenta itu akhirnya memutuskan untuk menimbun saja satu talentanya? Kalau ditimbun ya gak bakal nambah atau kurang kan. Segitu aja akhirnya.

Salah satu kemungkinannya: karena takut. Takut di marah sama tuannya kalau uang itu habis (ayat 24-25), takut gagal usaha dan rugi lalu hilang duit nya.

Lha itu yang dapat 5 dan 2 talenta mah kan enak ya. Gagal sekali pake satu talenta mereka, maka masih ada 4 talenta dan 1 talenta yang bisa digunakan lagi ... Nah yang cuma dikasih satu talenta kan kalau gagal sekali, ya langsung rugi buntung.

Dari situ saya mau mengajak kita untuk merenungkan beberapa hal.

1. Mau tidak mau, suka tidak suka, yang namanya pertumbuhan – pertambahan apapun itu bentuknya (iman, uang, dll) selalu terkait dengan seberapa berani kita untuk mengambil resiko.

Resikonya sih ngeri pak bu ...
Tampak bodoh ..
Tampak gagal konyol ..
Malu ...
Menderita sudah pasti ..
Dll .. dll ...

Akan tetapi resiko yang satunya lagi adalah ... berhasil, sukses dll yang bagus-bagus.

Beberapa orang mungkin tidak perlu mencoba berkali-kali untuk sukses, cukup dengan sekali aksi langsung sukses. Bersyukurlah. Karena tidak semua orang seperti itu. Ada yang butuh banyak aksi gagal sebelum sukses.

Saya mau ambil contoh pak bu ...
Majelis Jemaat ... Sudah dua tahun ya. Ini pergumulan banyak jemaat: waktu pemilihan MJ, susahnya minta ampun bukan? Kenapa? Kalau dalam bahasa perikop kita hari ini: karena merasa talenta yang ada dalam diri mereka itu kekecilan, maka gak berani untuk mengambil resiko (Tapi di Awiligar semuanya semangat kan waktu pemilihan MJ dulu itu. Hebat).

Boleh tanya ke bapak dan ibu anggota MJ hari ini ...
Apakah bapak dan ibu adalah orang yang sama seperti kali pertama dulu waktu terpilih jadi anggota MJ? Kemungkinan besar bapak dan ibu akan menjawab: tidak sama.
-    Siapa yang nyangka bisa bicara di depan orang banyak hari ini?
-    Siapa yang nyangka bisa berdoa di depan orang banyak hari ini?
-    Siapa yang nyangka ... (ah banyak lah yang tak mampu ternyata hari ini dimampukan, bukan?)
[Andai bapak dan ibu tahu masa kecil saya, pasti bapak dan ibu gak akan nyangka saya jadi pendeta hari ini. Saya itu jadi liturgos aja gemeteran bu, itu dulu waktu SMA – sekarang sih masih gemeteran, tapi pasti berbeda].

Ketika seseorang berani mengambil resiko untuk bergerak, maka disitulah dia memulai bertumbuh dan bertambah. Dan catet: Meski pada awalnya “rugi”, mungkin. Ya rugilah kalau bapak dan ibu menyambut panggilan Tuhan untuk jadi pelayannya kalau hanya untuk dipermalukan waktu tugas pelayanan. Bener gak sih? Pada awalnya mungkin ada pengalaman seperti itu: salah baca Mazmur, jemaat senyam-senyum, kitanya malu banget ... dll ... dll ... Itu rugi namanya.

2. Tapi tidak berhenti di situ ... Meskipun awalnya ketemu dengan resiko (atau sudah jadi fakta) bahwa kita ini mengalami “rugi – buntung – gagal”, dia, siapapun orangnya pasti akan bertumbuh dan bertambah. Cepat atau lambat. Kenapa? Karena gak ada orang yang mau terus-terusan merugi.

Kan ada jargon tuh, “Kegagalan adalah awal dari kesuksesan”. Setuju. Hanya jika yang merugi di awal itu terus bergerak melakukan sesuatu untuk meperbaiki keadaan. Di situlah dia menikmati pertumbuhan yang berujung pada keuntungan. Apapun itu.

Saya suka satu ayat dari Mazmur ..
Orang yang menabur dengan air mata akan menuai dengan sukacita.

Kalau hari ini kita nangis karena bertemu dengan resiko yang gak enakin diri kita itu semua, pastikan saja kita tetap bergerak untuk menabur sesuatu ... hingga suatu saaat kita akan menuai dengan sukacita. 


Hanya seorang penabur yang akan menjadi seorang penuai.
Baca Selengkapnya ...

Mazmur 118:1-29


Hari yang Berat ... 
Mazmur 1-29 (19-29)


Games:
Bagi kelompok menjadi dua, Cewe dan Cowo.

Tugasnya, yang cowo nyiapin cara nembak cewe yang paling keren. Yang cewe nyiapin cara nolak yang paling tega lah. ... Ni cewe-cewe ada yang sadis cara nolaknya [emang lu pikir lu siapa? Ngaca dulu deh lu] ??

Pernah gak sih kayak gitu bro, sis?
Cape-cape naro perasaan, perhatian, - keluar modal pulak - ... eh ujungnya ... ditolak. Tinggal nyanyi aja: “Terlalu sadis caramu ... Sakitnya tuh di sini ...”

Satu hal yang pasti, kalau yang kayak begitu terjadi dalam kehidupan kita, hmmm ... itu berdampak pada diri kita dalam melewati hari-hari kemudian.

Ditolak ...
Putus ...
Lihat Ortu berantem ...
Ribut sama ade atau kaka atau sahabat sendiri ...
Sampe ke main games, coba aja kalau lagi kalah war (Clash of Clans, maksudnya), berasa kan ...
(Anak-anak muda lagi pada getol ya main game COC ini)

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, kalau teman-teman membaca tadi, pasti akan dengan mudah terpesona dengan kalimat pujian – penyembahan yang disampaikan oleh pemazmur di situ. Beberapa kalimat ayatnya kan jadi lagu rohani populer:
- Bersyukurlah kepada Tuhan sebab Ia baik (ayat 29)
- Masuk gerbang-Nya bersyukur (ayat 19-21)
- Tuhanlah kekuatan dan mazmurku (ayat 14)


Tetapi, apakah teman-teman memerhatikan hal ini, bahwa pemazmur sedang mengalami hari-hari yang berat sewaktu dia menuliskan mazmur ini? Coba kita cek ya sama-sama:
- Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan ... (ayat 22)
- Dalam kesesakan ... (ayat 5)
- Segala bangsa mengelilingi aku ... artinya? Dikeroyok (ayat 10)
- Aku ditolak dengan hebat (ayat 13)
- Hingga di satu titik: Tuhan menghajar aku (ayat 18)

Yang agak sulit dilacak adalah, peristiwa apa tepatnya yang dialami oleh pemazmur ini sehinggga dia kemudian menulis refleksi imannya seperti itu? Kita gak tahu ...

Kalau yang jadi pemazmur itu adalah teman-teman hari ini, bisa tidak mengidentifikasi peristiwa-peristiwa nya apa saja sehingga menuliskan ... saya ulangin ya: dibuang, nyesek, dikeroyok, ditolak, dihajar ...

Bisa?
Bisa. Kita tahu persis hal-hal apa saja yang membuat hari-hari ini terasa berat.
Boleh minta tolong gak?
Coba deh keluarin hape, lihat daftar putar lagu nya. Pasti ada lagu galaunya kan? Boleh diputer?

Satu hal yang membedakan antara pemazmur yang kita baca refleksi imannya hari ini dengan kebanyakan orang di masa kini, mungkin, adalah ...
Pemazmur mengalami hari yang berat tapi tetap melayangkan pandangannya ke depan dengan percaya pada tindakan Tuhan hingga akhirnya bisa keluar dari hari berat itu dan menuliskan kidung pujian pada akhirnya.

Kita? Sama, kita juga mengalami hari-hari berat versi kita hari ini ... Tetapi apakah kita sudah menemukan kidung pujian kita dan meninggalkan kidung galau yang hari ini sering kita putar?
Ah ... semoga tidak berlama-lama lagi ada di hari-hari yang berat karena akhirnya menemukan rancangan damai sejahtera Tuhan yang memang disediakan bagi kita semua.
Baca Selengkapnya ...

Matius 28:1-10


Tidak Dianggap
Matius 28:1-10

Pernah? Paling tidak merasa diri tidak dianggap oleh orang lain yang ada dalam kehidupan kita ... Tidak dianggap, tidak diperhitungkan, tidak diakui ... adalah salah satu perasaan yang terbesar terberat yang bisa dialami oleh seseorang ... kita. Rasa itu melemahkan, menyakitkan ... bahkan bisa sampai “mematikan”.

Saya ingat dulu papa saya pernah cerita waktu masih pelayanan di GKP Cideres, papa pernah pulang dari pelayanan, hari sudah malam. Mama dirumah sudah masak untuk makan malam ... eh terus itu papa gak makan masakan yang dibuat mama (mungkin karena di waktu kebaktian sudah makan kali ya). Bapak ibu tau apa yang dilakukan mama saya waktu itu? Mama saya (katanya ya, karena waktu itu saya sama adek belum lahir) nangis kenceng-kenceng sambil teriak, “Papa udah gak sayang mama lagi!!!”

Busyet! Itu kan cuma perkara sepele ... masalah makanan yang gak kemakan karena memang sudah makan di tempat kebaktian tadi (mungkin). Akan tetapi, perasaan itu muncul ... tidak dianggap, tidak diperhatikan. Makanya dulu, waktu kami sekeluarga pulang kampung ke rumah eyang di Tuban, setiap kali kami pergi jalan-jalan sore keluar rumah lalu makan malam di luar, papa mama selalu bilang: “Gerry, Bondan ... nanti kalau nyampe rumah eyang lagi harus makan lagi masakannya eyang uti.

Sekali lagi, itu hanya masalah yang sepele: masakan. Akan tetapi bisa dirasakan sebagai bentuk dari sebuah pengabaian, tidak dianggap.

Ada pengalaman-pengalaman lain yang lebih rumit?
Sepertinya ada ... ...

Suami yang tidak dianggap 
Istri yang tidak dianggap 
Anak yang tidak dianggap 
Kawan yang tidak dianggap 
... Kekasih yang tidak dianggap 

Mengerikan.
Ada, hadir, eksis ... tetapi diacuhkan, diabaikan, tidak diakui, tidak diperhitungkan, dianggap sebelah mata atau bahkan dianggap tidak ada sekalian saja.

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, sangat menarik karena perasaan yang sama – tidak dianggap – (oleh kebanyakan orang pada waktu itu) juga bisa hadir dalam perasaan dua hal dalam teks Alkitab kita hari ini. Saya mau mengajak kita untuk merenungkan dua hal yang tidak dianggap itu ...

(1) Ayat 1. Tentang perempuan-perempuan.
Ada yang waktu baca perikop kita hari ini nanya-nanya gak? Kemana para pengikut Yesus yang laki-lakinya? Kenapa justru berita dahsyat tentang kebangkitan Tuhan dipercayakan untuk diberitakan melalui para perempuan untuk kali pertamanya?

Jangan lupa, Yahudi itu sangat patrialkal budayanya. Perempuan seringkali tidak dianggap. Bahkan kalau ada perkara di persidangan, kesaksian seorang perempuan itu seringkali tidak dianggap sebagai fakta jika tidak didukung oleh kesaksian lelaki. Contoh dalam teks kita lah, ada kalimat “perempuan yang lain” ... itu siapa?

Akan tetapi justru kepada mereka yang tidak dianggap itulah kabar baik sukacita Paska dipercayakan Tuhan.

(2) Ayat 7, 10. Tentang Galilea.
Ada yang waktu baca teks kita hari ini nanya-nanya gak? Kenapa Yesus justru memilih Galilea untuk menjumpai para murid-Nya? Kenapa gak di Yerusalem yang menjadi “Jakarta”-nya Israel? Pusat kota. Galilea itu kan daerah orang Samaria. Itu dia permasalahannya. Galilea adalah daerah orang-orang yang tidak dianggap, tidak diperhitungkan, tidak diakui ... oleh orang Israel. Dianggap buruk.

Saya kalau lagi jalan keluar naik angkot atau bis gitu, pak bu, kadang ditanya kan: Tinggal di mana? Lalu saya nyebut: Priok. Beberapa orang masih ada lho yang denger kata Priok itu ngasih reaksi yang agak-agak gimana gitu ... daerah panas, keras, preman, kerlap-kerlip malam.

Kembali ke teks Alkitab kita hari ini, kenapa Galilea, bukan yang lain? Gak ada yang tahu alasan Tuhan kenapa. Btw, ini GKP Tanjung Priok kan namanya juga Galilea kan ... kenapa coba dikasih nama Galilea? Apa karena dekat sungai aja? :)

Yang jelas, dari dua hal tadi ... baik para perempuan dan Galilea memiliki satu kesamaan:
Yang tidak dianggap oleh dunia (orang-orang), ketika orang-orang menutup mata dan memberi nilai dan batasan kriteria ... Tuhan membuka mata-Nya lebar-lebar untuk berkarya melalui siapapun juga. 

Tidak terkecuali ... kita. Bapak dan ibu dan teman muda dan saya ... yang mungkin hari ini pun memiliki perasaan awal yang sama, yang melemahkan ... dan kadang mematikan semangat .. Karena merasa menjadi orang yang tidak dianggap.
Baca Selengkapnya ...

Yeremia 29:10-14


Andai Janji Tuhan itu seperti ... Mie Instan

Syalom bapa dan ibu dan teman-teman muda,
Masih dalam suasana Natal dan Tahun Baru ... bicara tentang tahun yang semakin bertambah, orang akan selalu terobsesi, salah satunya ya, dengan pikiran ‘bagaimana caranya untuk membuat segala sesuatunya itu makin singkat waktunya, makin cepat. Hampir di semua aspek kehidupan, orang maunya begitu. Cara cepat, bukan berlama-lama.

Contoh ya:
Dulu itu kalau kita pergi ke Bandung dari Jakarta butuh waktu ... 5 jam. Muter lewat Cikampek terus ke sononya lagi. Sekarang? Cuma 2 jam. Cipularang.
Dulu, cetak foto itu ribet. Sekarang? Orang mana ada yang cetak foto lagi? Pasti jarang karena simpan saja di hp, gak ribet.
Dulu .. masak mie lama kan, minimal waktu 30 menit lah untuk masak mie. Sekarang? Ada mie yang dijual dalam bentuk gelas’an bu yang tinggal seduh langsung jadi dalam waktu semenit.

Ide yang luarbiasa: Makin cepat makin baik. Instan maka hebat.

Makanya dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, saya yakin sekali orang-orang Israel akan lebih memilih untuk memercayai nubuat yang disampaikan oleh nabi Hanaya (yang dikemudian hari Israel tahu bahwa dia itu nabi palsu) ketimbang apa yang disampaikan oleh Tuhan melalui nabi Yeremia.

Coba bandingkan dua ayat ini dan pilih mana yang lebih enak?
Yeremia 28:2-3 
"Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Aku telah mematahkan kuk raja Babel itu. Dalam dua tahun ini Aku akan mengembalikan ke tempat ini segala perkakas rumah TUHAN yang telah diambil dari tempat ini oleh Nebukadnezar, raja Babel, dan yang diangkutnya ke Babel.

Yeremia 29:10
Sebab beginilah firman TUHAN: Apabila telah genap tujuh puluh tahun bagi Babel, barulah Aku memperhatikan kamu. Aku akan menepati janji-Ku itu kepadamu dengan mengembalikan kamu ke tempat ini.
Jika bapa dan ibu menjadi orang Israel pada masa itu, milih percaya yang mana? Pasti lebih enak untuk memercayai apa yang dinyatakan oleh Hanaya bukan? Lebih menggiurkan dengan waktu yang jelas jauh lebih singkat dari pada apa yang dinyatakan oleh Yeremia. Tetapi sayangnya, apa yang disampaikan oleh Hanaya itu bukanlah apa yang dikehendaki Tuhan.

Saya kita ini akan selalu berulang dalam kehidupan kita semua ... Kita maunya cepat (dapet kerjaan, dapet calon istri, dll ... dll) ... tapi, kadang Tuhan itu memiliki rencana yang berbeda dengan apa yang kita mau. Kita mau cepat, Dia mau kita sabar.

Saya mau mengajak kita untuk merenungkan beberapa saja hari ini ...

(1)    Ini ucapan dari seorang kawan saya ...
“Karena kita gak tahu yang mana itu kehendak Tuhan, maka gak ada salahnya berdoa: Semoga kehendakku sejalan dengan kehendak-Mu ya Tuhan.”

Itu akan memastikan seseorang untuk terus berjuang tanpa kehilangan semangatnya untuk sesuatu yang dia percayai. (Woii, jombloers ... jangan nyerah dong menemukan cinta. Hahahahha). Permasalahannya sekarang menjadi ada di diri kita masing-masing. Apa yang kita percayai yang Tuhan akan berikan kepada diri kita? Perjuangkan itu. Walaupun tampaknya hari ini kita kesulitan, atau gak masuk akal lah mencapai hal itu ... Percaya dan berbuat sesuatu dengan apa yang kita percayai itu adalah modal paling utama untuk melihat apa yang Tuhan janjikan bagi hidup kita. Tuhan tidak pernah memberikan makanan langsung untuk satu keluarga burung yang bersarang di atas pohon. Papa dan mama nya yang terbang untuk menemukan makanan yang telah Tuhan sediakan bagi keluarganya itu.

(2)    Vox Populi Vox Dei
Itu satu ungkapan Latin yang artinya: Suara rakyat adalah suara Tuhan. Jujur, saya gak terlalu sepakat. Alasannya simple, karena belum tentu begitu. Coba kembali ke teks kita hari ini, apakah suara rakyat Israel yang ada di teks kita hari ini adalah sama seperti suara Tuhan? Tidak tuh.

Tugas kita hari ini Cuma dua: Berjuang seperti apa yang kita percayai tentang Janji Tuhan yang akan dinyatakan dalam hidup kita dan ... satu hal yang paling penting, tahu bahwa rancangan Tuhan, bahkan bila yang kita lihat hari ini adalah “halilintar”, tepat pada waktunya akan berubah menjadi “halleluya”.
Baca Selengkapnya ...

Imamat 26:12


 
Berjumpa dengan Allah di tengah Keluarga
Imamat 26:12

Syalom bapa ibu semua,
Selamat Natal. Saya melihat tema. Natal kita tahun ini sebenarnya jadi agak bingung nih. Sebelumnya, ini bukan kali pertamanya saya bingung dengan tema Natal PGI (dan KWI) kita .... Tahun yang lalu juga sebenarnya diawali dengan bingung. Masih ingat tema Natal tahun yang lalu? Yups! Benar. Temanya “Datanglah Ya Raja Damai!”. Tahukan ya bingungnya di mana? (apa? bingungnya itu tuh di sini? Itu lagu keles!). Bingungnya itu Raja damainya sudah datang 2000 tahun yang lalu, lha kok ya bikin tema seperti itu tadi ... Apalagi ini bukan Advent, ini natal bung! Akan tetapi, kita dah bahas itu tahun yang lalu, saya gak mau ngulang lagi bahwa ternyata memang sudah datang Sang Raja Damai itu 2000 tahun yang lalu, tetapi apakah benar Yesus sudah datang dan diterima di hati kita secara pribadi? Itu masalah yang direnungkan di tahun yang lalu ... (Nah, jadi ngulang juga kan akhirnya).

Kalau yang sekarang? Coba tebak bingungnya di mana? Hmmm ... bingungnya itu di bahannya. Imamat 26:12. Kalau tahun lalu kan dari Yesaya ya, itu masih mendingan karena ayat itu berkaitan tentang nubuat tentang Kristus. Lha yang Imamat 26:12 ini sekarang, Yesus nya di mana?

Coba kita baca ya ...
Tetapi Aku akan hadir di tengah-tengahmu dan Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku.
Di mana Yesus nya? J
Saya kira itu jadi salah satu pertanyaan abadi yang akan ditanyakan oleh hampir setiap orang Kristen. Minimal sekali dalam kehidupan mereka.

Padahal jawabannya sederhana sebenarnya ...
Bahwa yang ada di balik tubuh manusia Yesus itu, ya itulah Dia yang sedang mengucapkan janji-Nya bagi umat manusia sejak dahulu kala. Dia yang menyatakan diri-Nya dalam Perjanjian Lama adalah Dia yang sama yang telah menyatakan diri-Nya dalam kehadiran Yesus Kristus ke tengah dunia, dua ribuan tahun yang lalu.

Saya mau mengajak kita untuk merenungkan itu saja satu di hari natal ini. Janji yang kemudian di genapi ... Nubuat yang kemudian terjadi.

Ngomong-ngomong, bapa dan ibu tahu gak ada berapa banyak janji Tuhan di dalam Alkitab kita? Saya membaca satu sumber yang menyebutkan ada 6000an janji Tuhan, termasuk puluhan di antara itu adalah nubuat tentang kehadiran Yesus. Tahukah kita bahwa janji yang sudah digenapi itu barulah sebanyak 3000an saja?

Itu artinya bahwa memang ada janji Tuhan yang belum tergenapi dalam Alkitab kita ... sampai hari ini. Contoh ya:

Kedatangan Yesus kembali.
Sudah? Belum. Pasti terjadi? Ya. Kapan? Kita tak tahu.
Nubuat tentang kehadiran Juruselamat Penebus umat manusia?
Ada? Ada. Sudah tergenapi? Sudah.

Bolehkah saya bertanya? Data dalam Alkitab kita menunjukkan bahwa Tuhan bisa saja memang belum menggenapi janji-Nya pada umat, pada kita. Tetapi tepat pada waktu-Nya, Dia akan menjelaskan dan menepati janji-Nya bagi kita. Pertanyaan saya, adakah janji Tuhan yang belum digenapi dalam hidup keluarga kita sekarang ini?

Janji Tuhan itu rancangan damai sejahtera ... lalu bapak dan ibu mikir, kenapa masih ribut terus ini kami di rumah?
Janji Tuhan itu yang terbaik bagi kita ... lalu kita teringat kemarin baru kena PHK atau kena PHP (apa tuh? Putus hubungan pacaran dari si pemberi harapan palsu? Halah!).
Janji Tuhan itu .... Tapi kok yang ku lihat berbeda sekali ya? (silahkan di isi sendiri).

Natal dan semua peristiwa Kristus seharusnya menjadi materai bagi kita semua untuk bisa menenangkan hati dan pikiran kita di tengah galaunya dunia kita hari ini ... Itu jaminan bagi kita bahwa semua yang dikatakan Tuhan dalam firman-Nya pasti akan digenapi-Nya. Tidak terlalu lambat untuk ditunggu, tidak terlalu cepat sehingga kita terkaget-kaget. Semuanya pas.

Selamat Natal,
Damai di hati, tenanglah wahai jiwaku.
Baca Selengkapnya ...

ShareThis