Pekan Keluarga Jemaat - HUT X, GKP "Galilea" Tanjung Priok


BERJUMPA DENGAN TUHAN
DALAM KEHIDUPAN KITA  


   
PEKAN KELUARGA JEMAAT
HUT X GKP GALILEA TANJUNG PRIOK
20 – 26 Juli 2015

Senin, 20 Juli 2015

MenYATAKAN ALLAH

Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah,
yang ada dalam pangkuan Bapa, Dia-lah yang menyatakan-Nya. (Yohanes 1:18)

Selamat hari jadi GKP “Galilea” Tanjung Priok yang ke 10 tahun!
Tidak terasa sekali bahwa bulan ini, tepatnya tanggal 5 juli 2015 yang lalu, adalah tahun ke 10 kemandirian Gereja Tuhan di GKP Tanjung Priok.  Waktu yang berjalan membawa kita memasuki beragam rasa dalam kehidupan bersama. Suka-duka, pahit-manis, jatuh-bangun … segala rasa ada. Tema “Berjumpa dengan Tuhan dalam Kehidupan kita” dipilih berdasarkan keyakinan bahwa Tuhan menyertai kehidupan kita, dalam segala situasi hidup kita. Termasuk yang tidak enak – tidak enak itu, sehingga Tuhan bisa membentuk kehidupan kita menjadi “suatu bejana yang lebih baik dan elok” untuk kemuliaan-Nya.
                Sangat manusiawi bila dalam keadaan yang tidak enak, seseorang bisa saja lupa tentang apa yang menjadi tema renungan pembuka kita ini. Pergumulan mengeruhkan air pengharapan, iman dan kasih. Dalam bahasa ayat Alkitab yang menjadi bahan, lupa bahwa melalui kehidupannya, sekali lagi dalam segala situasi, seseorang selalu memiliki kesempatan untuk menyatakan Allah. Menyatakan bahwa Dia memiliki kasih, kuasa dan segala sesuatu yang kita butuhkan untuk bisa … bukan hanya sekedar bertahan, tetapi meraih kemenangan dalam setiap pergumulan kita.
Yohanes 1:18 menjadi penghubung kesulitan banyak orang Yahudi yang di dalam Perjanjian Lama, Allah mengatakan bahwa Dia bukanlah manusia (misal: Bilangan 23:19). Allah memang bukan manusia. Allah itu adalah Roh (Kejadian 1:2). Di dalam kemanusiaan Yesus itulah Allah yang adalah Roh itu menyatakan diri-Nya. Itulah sebabnya Yesus kita panggil Tuhan. Yesus menyatakan bagaimana Allah itu kepada umat ketika Roh Allah berdiam dibalik tubuh manusia Yesus itu.  
                Hari ini, kita pun sebenarnya bisa selalu menyatakan Allah dalam kehidupan kita. Menyatakan bahwa Allah berkuasa dalam hidup kita; tak peduli seberapa berat jalan hidup yang kita tempuh, Allah adalah sang empunya kuasa.  Bukankah itu yang dinyatakan-Nya dalam kehidupan jemaat di Galilea? Kita selalu berpikir kita ini kecil, semoga kita tidak lupa bahwa kita memiliki Allah yang besar. Kita selalu berpikir bahwa kita ini tidak mampu, semoga kita tidak lupa bahwa kita memiliki Allah yang Mahamampu.


Selasa, 21 Juli 2015

Tak ada yang tak berarti

Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini? (Yohanes 6:9)

Hampir semua orang berpikir bahwa “kebesaran” datang melalui sesuatu yang besar, banyak, hebat. Sedangkan “kecil, sedikit” tentu jauh dari kata “kebesaran”. Hmmmm … tapi tunggu dulu … Saya ingat satu film berjudul “I Spy”. Film yang dibintangi oleh Owen Wilson dan Eddie Murphy ini menceritakan tentang dua agen rahasia Amerika (satunya itu cabutan, yang Eddie Murphy) yang memiliki misi khusus untuk menangkap buron penjahat internasional. Salah satu adegan yang saya ingat betul adalah saat Owen Wilson diberi senjata perlengkapan yang ukurannya besar. Dan di situ dia protes, kira kira begini dia protesnya: “Hey, di dunia mata-mata (spy), justru semakin kecil senjata dan perlengkapan makin hebat! Kok saya dikasih perlengkapan yang gede gini?” Betulkan kalau anggapan banyak orang bahwa kebesaran harus sebanding lurus dengan hal-hal yang besar itu salah.
Contohnya ya itu tadi, di dunia mata-mata, kalau perlengkapannya kegedean ya mana bisa mata-matain musuh? Contoh Alkitabiahnya ada juga kok: Teks yang menjadi bahan kita hari ini. Sangat familiar ya, Yesus memberi makan 5000 orang. Siapa yang tidak tahu cerita itu? Para murid berpikir keras. Mengapa? Karena mereka tahunya bahwa kebesaran harus dijawab dengan kebesaran pula. Itulah sebabnya ayat 9 kita menyebut bahwa sesuatu yang jumlahnya kecil itu dipertanyakan adakah artinya untuk orang sebanyak ini? Kecil tidak cocok dengan banyak. Makanya para murid kebingungan sewaktu tahu bahwa 5000 orang itu butuh makan setelah dalam waktu yang lama mendengarkan Yesus mengajar.
                Boleh tanya kepada kita sekarang? GKP Galilea itu masuk dalam kategori yang mana? Kecil atau besar? Jangan lupa ya bahwa rumus umumnya adalah kecil tidak cocok dengan kebesaran.  Satu hal yang semoga tidak kita lupakan (seperti yang pernah dilupakan para murid dalam teks kita), bagi Tuhan … kecil itu cukup untuk menunjukkan kebesaran-Nya. Kuncinya cuma satu: adakah semangat dan kerelaan seorang anak kecil seperti yang ada dalam teks kita hari ini untuk membawa segala sesuatu yang kita anggap kecil itu supaya melalui kebesaran-Nya, Tuhan dapat melakukan sesuatu yang berarti bagi kita? 


Rabu, 22 Juli 2015

Aku Beserta Kamu

Tetapi jawab Yoas kepada semua orang yang mengerumuninya itu: “Kamu mau berjuang membela Baal? Atau kamu mau menolong dia? Siapa yang berjuang membela Baal akan dihukum mati sebelum pagi. Jika Baal itu allah, biarlah ia berjuang membela dirinya sendiri, setelah mezbahnya dirobohkan orang”. (Hakim-hakim 6:31)

Perkataan “Aku beserta kamu” yang selalu diucapkan Tuhan kepada kita sangat cukup untuk menenangkan hidup kita.  Tetapi bukankah akan lebih mendamaikan dan menenangkan jika bukan hanya Tuhan yang berkata itu kepada kita, melainkan juga orang-orang yang ada di dekat kita berkata kepada kita: “Aku beserta kamu”. Maksudnya, kita didukung, ditopang, dimengerti, dikasihi, dibela oleh juga mereka yang ada di dekat kita.
                Terbayang bila hal itu tidak terjadi? Kita tenang karena tahu bahwa Tuhan beserta kita, tetapi kita di dalam kehidupan kita, kita dikelilingi oleh orang-orang yang tidak memahami, menopang, dll. dalam hidup kita.
                Saya tidak membayangkan bagaimana nasib Gideon dalam perikop Hakim-hakim 6:25-32 yang telah menghancurkan mezbah Baal, ketika diburu oleh orang Israel yang kala itu hidup menyimpang dari Tuhan dengan menyembah Baal, apabila orang dekatnya (yaitu ayahnya sendiri) tidak berkata-kata seperti yang bisa kita baca dalam ayat 31. Bacalah mulai dari ayat 30, Gideon didakwa mati oleh kerumunan orang pada saat itu.
                Gideon selamat karena penyertaan Allah dinyatakan melalui keberadaan ayahnya.
                Tidakkah apabila kedua hal itu nyata dalam hidup kita, itu adalah kebahagian yang sangat luar biasa. Allah menyertai, dan kita juga tahu bahwa orang-orang yang ada di dekat kita pun beserta dengan kita. Hmmm …
                Apabila bapak dan ibu membaca tema kita hari ini: Aku beserta kamu. Boleh bertanya? Bapak dan ibu mengira di awal tadi, Aku nya itu siapa? Pasti Tuhan kan. Betul. Tidak salah juga menjawab Tuhan sih. Tetapi terpikirkah bahwa kata “aku” dalam tema kita hari ini adalah .. ya aku. Diri kita. Diri kita beserta dengan orang-orang yang ada di dekat kita.  Jadilah “Aku” yang ada dalam tema kita hari ini. Aku yang juga menyertai kamu. Kamu yang adalah orang-orang yang ada di sekitar hidupku. Agar karya penyertaan Allah yang telah nyata dalam hidup kita menjadi semakin nyata dengan kehadiranmu di dalam hidupku.  


Kamis, 23 Juli 2005

Bijak

Karena itu aku berkata kepadamu: Janganlah bertindak terhadap orang-orang ini. Biarkanlah mereka, sebab jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap, tetapi jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari Allah, kamu tidak akan dapa meleyapkan orang-orang ini; mungin ternyata juga nanti, bahwa kamu melawan Allah. (Kisah Rasul 5:38-39)

Dalam sebuah kebersamaan, apapun itu, konflik tidak akan pernah bisa dihindari. Perbedaan yang menjadi dasar hakiki manusia menjadi dasar pula terjadinya konflik. Kita sudah cukup sedih melihat banyaknya konflik berdarah di Indonesia ini karena perbedaan. Agama, suku, golongan, partai, dll … semua sangat mudah diprovokasi untuk bisa menghasilkan sebuah konflik.
                Satu contoh Alkitabiah kita dapati ketika para murid Yesus yang sedang bersemangat mengabarkan Injil, masuk ke dalam “kandang singa” Yahudi yang siap menerkam karena perbedaan iman mereka (ayat 28).  Ya jelaslah mereka ditangkap dan siap dihukum. Jika tidak ada satu sosok bijak yang memberikan kesadaran yang awalnya tidak dipikirkan oleh orang banyak itu.
                Yups. Andai di dunia ini banyak orang seperti Gamaliel yang ada dalam teks kita, damai lah bumi ini. Mau ada perbedaan apa kek, pasti tidak akan menjadi masalah jika orang bijak bertebaran di muka bumi ini.
                Apakah kita adalah salah satu orang bijak yang ada di muka bumi ini? Yang mampu belajar dari beragam peristiwa, seperti Gamaliel belajar dari pengalaman masa lalu dalam ayat 35-37, sehingga dapat memberikan solusi bijak yang penuh damai di tengah konflik yang terjadi karena perbedaan?
                Bukankah kita dalam hidup bersama di tengah keluarga dan jemaat juga pasti telah banyak melewati pengalaman bersama dalam sejarah hidup kita? Saya kadang berpikir, jika suatu waktu kita marah, lalu kemudian kita bermaafan kembali, lalu apa untungnya kita marah dahulu itu? Bukan berarti kita tidak bisa menyampaikan ketidaksetujuan dll, tetapi ini berkaitan dengan cara. Orang bijak akan menemukan cara-cara yang baik dalam menyelesaikan setiap persoalan yang sedang dihadapinya. 


Jumat, 24 Juli 2015

Penyembuh yang terluka

Tetapi jawab Tuhan kepadaku, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna”. Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. (2 Korintus 12:9)


Tuhan tidak selalu mengabulkan apa yang kita inginkan. Akan tetapi Dia tahu apa yang kita butuhkan. Saya akan selalu ingat kutipan itu ketika saya merasa … kadang Tuhan itu aneh. Kita maunya kan baik, ingin sembuh, ingin maju terus, ingin … ah semua yang baik-baik deh. Tetapi kok malah Tuhan maunya beda. Kan aneh. Selalu akhirnya kita bisa protes, “emang salahnya apa sih Tuhan akan mau ku itu?” Seringkali Tuhan menjawab di dalam diam-Nya. Dan itu makin mengesalkan. Karena pasti kita ingin segala sesuatunya terjelaskan dengan cepat kan ya. Satu hal yang perlu kita ingat, Tuhan itu memang tipe pendiam … mulut-Nya, tetapi dalam diam mulut-Nya, tangan-Nya terus berkarya untuk membentuk kehidupan kita sesuai dengan rencana-Nya yang indah bagi hidup kita.
                Pernahkah bapak dan ibu mengalami perasaan yang sama seperti itu? Dalam hidup keluarga? Dalam hidup jemaat? Mengalami “Tuhan yang aneh” karena mauku dan mau-Nya tidak nyambung sama sekali? Lalu apa yang bapak dan ibu lakukan? Marah? Atau seperti … Paulus dalam teks kita hari ini. Maunya Paulus itu satu, duri di dalam dagingnya (baca: kesakitannya) itu diangkat oleh Tuhan (ayat 7), tetapi .. itu lah dia … Paulus juga mengalaminya! Tuhan yang aneh! Mau sembuh kok gak setuju. Mau ku dan mau-Nya tidak sejalan.
                Akan tetapi, coba bayangkan … bagaimana bisa Paulus sampai pada kalimat: “ .. Sebab itu aku terlebih suka bermegah atas kelemahanku … “ ?? Satu-satunya jawaban adalah berefleksi. Mencoba mendengar Tuhan di dalam diam-Nya melalui pekerjaan tangan-Nya … Tangan-Nya berbisik pada kita selalu: “ … dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna”.  Ketergantungan hidup pada sang pemilik hidup itu sendiri.
                Henri Nouwen, seorang penulis pernah menyebut kalimat ini: Penyembuh yang terluka. Setiap orang memiliki luka nya masing-masing bukan? Dalam keterlukaan yang ada, seseorang bisa menjadi seorang yang menyembuhkan. Itu yang dilakukan Paulus dalam ayat kita, menjadi penyembuh yang terluka. Kita? Yang terluka maka melukai? Semoga tidak. 


Sabtu, 25 Juli 2015

Tidak melihat tapi percaya

Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya. (Yohanes 20:29)

Ada satu lagi kutipan yang saya suka. Bunyinya kira-kira begini: Ketika aku tidak dapat melihat tangan Tuhan berkarya dalam hidupku, aku selalu akan mempercayai hati-Nya. Salah satu pertanyaan yang sangat sulit di jawab adalah pertanyaan “di mana Tuhan ketika aku sedang mengalami …?” Bapak dan ibu tinggal mengisi titik-titiknya dengan hal-hal yang tidak mengenakkan yang sedang dialami oleh bapak dan ibu.  Seseorang menjadi tidak percaya karena tidak melihat tangan Tuhan sedang menjamah hidupnya yang sulit.
Thomas mengalami kesulitan itu. Di kala para murid yang lain sudah mulai memercayai Yesus telah bangkit dan menang, satu orang tertinggal di belakang. Thomas. Amat wajar Thomas putus asa. Sebagai orang Israel pada umumnya, Thomas pasti punya pengharapan besar terhadap Yesus yang bisa menjadi pemimpin Israel. Ketika Yesus mati, maka musnahlah harapan itu. Amat wajar pula Thomas mengucap ayat 25 yang monumental itu: sebelum aku mencucukkan jari ku ke bekas paku dan lambung-Nya, aku tidak akan percaya. Karena bagi Thomas, orang yang mati lalu bangkit pastilah sesuatu yang irasional.
Dan inilah yang terjadi kemudian, Tuhan menjumpai Thomas dan mengubah semua pikiran Thomas tentang Yesus yang telah mati itu dan yang akhirnya dipercayai bangkit dan menang itu dengan mata tangannya sendiri.
Dalam ayat kita hari ini, Tuhan dengan jelas mengatakan bahwa percaya mendahului melihat. Kita tidak akan pernah melihat apa yang tidak kita percayai. Mau jadi orang sukses? Mau! Sudah jadi orang sukses? Belum. Percaya bisa jadi orang sukses? Enggak. Nah lho, gimana bisa melihat kalau tidak percaya?
Mau contoh konkret di jemaat kita? Bapak dan ibu sewaktu datang ke gereja pasti melihat bangunan atas bukan? Ada apa di sana? Tidak ada apa-apa. Kita tidak melihat apa-apa. Apa yang jemaat percaya akan ada di sana? Pastori! Maka percayalah akan datang waktunya kita akan melihat apa yang kita percayai ada di bangunan atas itu. Bukan perkara apa yang kita lihat hari ini. Penglihatan kita itu terbatas. Maka tembuslah batasan itu dengan memercayai apa yang belum kita lihat hari ini. Berbahagialah kita yang tidak melihat namun percaya. 


Minggu, 26 Juli 2015

Perjumpaan Yang Mendewasakan

Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau,
tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. (Ayub 42:5)

Kisah hidup Ayub mungkin merupakan gambaran kehidupan banyak orang di masa kini. Coba kita cek urutannya: Di izinkan mengalami pencobaan oleh Tuhan, tidak ditopang oleh orang terdekatnya (istrinya), kehilangan segalanya, bahkan teman-teman datang untuk menghakiminya. Awalnya Ayub tampak kalem dalam menghadapi itu semua, tetapi di satu titik kemudian, Ayub berontak. Ayub mempertanyakan dan memprotes keras Tuhan. Maka Tuhan menjumpainya. Di situlah titik balik kehidupan Ayub. Ayub yang awalnya kalem, lalu protes keras, lalu akhirnya kembali lagi ke kalem (kalem itu bahasa jawa, artinya sabar, tenang).
                Bagi beberapa orang di masa kini, mungkin hidup Ayub adalah gambaran kehidupannya. Sayang, bagi orang masa kini, justru menjadi gambaran yang tidak utuh terhadap kehidupan Ayub itu sendiri. Maksudnya begini, beberapa orang mengalami itu yang namanya pencobaan dan segala sesuatu yang dialami Ayub ketika jatuh. Akan tetapi … sampaikah orang-orang di masa kini hingga pasal terakhir dari lembar kehidupan Ayub di dalam Alkitab kita? Ketika Ayub dipulihkan, ketika Ayub menjadi seorang yang … lebih dewasa karena telah mampu melewati pencobaan itu dengan baik. Itulah persoalan di masa kini, banyak yang mungkin tidak lanjut hingga happy endingnya.
                Kisah perjalanan hidup jemaat Tuhan di GKP Galilea pun pasti mengalami pencobaan nya sendiri. Konfliknya sendiri. Dibalik pencobaan selalu tersedia berkat. Segala sesuatu yang hari ini kita ratapi, tangisi dan membuat kita sedih, suatu hari bisa menjadikan kita bersukacita. Seperti seseorang yang tidak mengerti akan ilmu tentang batu akik, sakit karena tersandung bongkahan batu mentah, dia tidak akan kegirangan. Tetapi bagi orang yang mengerti, dia akan menaruh pengharapan bahwa yang dijumpainya itu adalah sesuatu yang berharga.
                Saya selalu mengingat ucapan seorang motivator, Anthony Robbins, dia berkata: Jika suatu hari Anda akan menertawakan pencobaan-pencobaan Anda kemarin, maka kenapa tidak menertawakannya sejak hari ini saja? Tertawa bahagia karena melalui pencobaan itulah cara Tuhan mendewasakan kita.

Baca Selengkapnya ...

Matius 25:14-30


Beresiko
Matius 25:14-30

Syalom bapa ibu semua ...
Senang bisa kembali ke Awiligar hari ini. 

Saya ingat dulu pernah lho saya mimpin di Awiligar, waktu itu ruang ibadahnya teh kedap suara pake tempat telor. Inget gak kedap suaranya? Pasti inget dong. Hmmm .. sekitar ... bertahun-tahun yang lalu ... Dan hari ini ada di Awiligar lagi. Menyenangkan.

Perikop yang kita baca hari ini sangat populer. Saking populernya, mungkin tanpa baca teksnya lagi kita sudah hafal inti ceritanya: Ada seorang tuan yang mau pergi lalu panggil 3 hambanya lalu memberikan 5, 2, 1 talenta pada mereka masing-masing. Yang 5 jadi 10, yang 2 jadi 4 dan yang satu malah tetap menjadi satu. Sewaktu tuannya kembali, dia marah karena yang dikasih satu itu nimbun saja talentanya sehingga tetap menjadi satu.

Tentu kita sudah tahu pula bahwa yang namanya talenta itu dulu benar-benar adalah uang atau alat pembayaran orang Israel. Coba cek kamus Alkitab kita yang ada di belakang Alkitab kita tu ...

1 Talenta = 6000 dinar
1 Dinar = upah satu hari kerja
Jadi per talentanya itu = 6000:365 (jumlah hari dalam setahun) = 16,5 (tahun upah harian yang ditabung)

Salah satu kesulitan kita kalau ketemu perikop yang populer adalah ... arahnya kita udah tahu semua atau minimal bisa nebaklah. Kemarin saya sharing dengan salah satu rekan tentang bahan ini lalu bilang tentang kesulitan itu. Saya bahkan masih menyimpan di blog, renungan perikop kita ini yang pernah dulu dibawakan.

Ada sudut pandang yang menarik di bahas kemarin dengan rekan saya itu. Tentang yang satu talenta: Kenapa sih yang dapat satu talenta itu akhirnya memutuskan untuk menimbun saja satu talentanya? Kalau ditimbun ya gak bakal nambah atau kurang kan. Segitu aja akhirnya.

Salah satu kemungkinannya: karena takut. Takut di marah sama tuannya kalau uang itu habis (ayat 24-25), takut gagal usaha dan rugi lalu hilang duit nya.

Lha itu yang dapat 5 dan 2 talenta mah kan enak ya. Gagal sekali pake satu talenta mereka, maka masih ada 4 talenta dan 1 talenta yang bisa digunakan lagi ... Nah yang cuma dikasih satu talenta kan kalau gagal sekali, ya langsung rugi buntung.

Dari situ saya mau mengajak kita untuk merenungkan beberapa hal.

1. Mau tidak mau, suka tidak suka, yang namanya pertumbuhan – pertambahan apapun itu bentuknya (iman, uang, dll) selalu terkait dengan seberapa berani kita untuk mengambil resiko.

Resikonya sih ngeri pak bu ...
Tampak bodoh ..
Tampak gagal konyol ..
Malu ...
Menderita sudah pasti ..
Dll .. dll ...

Akan tetapi resiko yang satunya lagi adalah ... berhasil, sukses dll yang bagus-bagus.

Beberapa orang mungkin tidak perlu mencoba berkali-kali untuk sukses, cukup dengan sekali aksi langsung sukses. Bersyukurlah. Karena tidak semua orang seperti itu. Ada yang butuh banyak aksi gagal sebelum sukses.

Saya mau ambil contoh pak bu ...
Majelis Jemaat ... Sudah dua tahun ya. Ini pergumulan banyak jemaat: waktu pemilihan MJ, susahnya minta ampun bukan? Kenapa? Kalau dalam bahasa perikop kita hari ini: karena merasa talenta yang ada dalam diri mereka itu kekecilan, maka gak berani untuk mengambil resiko (Tapi di Awiligar semuanya semangat kan waktu pemilihan MJ dulu itu. Hebat).

Boleh tanya ke bapak dan ibu anggota MJ hari ini ...
Apakah bapak dan ibu adalah orang yang sama seperti kali pertama dulu waktu terpilih jadi anggota MJ? Kemungkinan besar bapak dan ibu akan menjawab: tidak sama.
-    Siapa yang nyangka bisa bicara di depan orang banyak hari ini?
-    Siapa yang nyangka bisa berdoa di depan orang banyak hari ini?
-    Siapa yang nyangka ... (ah banyak lah yang tak mampu ternyata hari ini dimampukan, bukan?)
[Andai bapak dan ibu tahu masa kecil saya, pasti bapak dan ibu gak akan nyangka saya jadi pendeta hari ini. Saya itu jadi liturgos aja gemeteran bu, itu dulu waktu SMA – sekarang sih masih gemeteran, tapi pasti berbeda].

Ketika seseorang berani mengambil resiko untuk bergerak, maka disitulah dia memulai bertumbuh dan bertambah. Dan catet: Meski pada awalnya “rugi”, mungkin. Ya rugilah kalau bapak dan ibu menyambut panggilan Tuhan untuk jadi pelayannya kalau hanya untuk dipermalukan waktu tugas pelayanan. Bener gak sih? Pada awalnya mungkin ada pengalaman seperti itu: salah baca Mazmur, jemaat senyam-senyum, kitanya malu banget ... dll ... dll ... Itu rugi namanya.

2. Tapi tidak berhenti di situ ... Meskipun awalnya ketemu dengan resiko (atau sudah jadi fakta) bahwa kita ini mengalami “rugi – buntung – gagal”, dia, siapapun orangnya pasti akan bertumbuh dan bertambah. Cepat atau lambat. Kenapa? Karena gak ada orang yang mau terus-terusan merugi.

Kan ada jargon tuh, “Kegagalan adalah awal dari kesuksesan”. Setuju. Hanya jika yang merugi di awal itu terus bergerak melakukan sesuatu untuk meperbaiki keadaan. Di situlah dia menikmati pertumbuhan yang berujung pada keuntungan. Apapun itu.

Saya suka satu ayat dari Mazmur ..
Orang yang menabur dengan air mata akan menuai dengan sukacita.

Kalau hari ini kita nangis karena bertemu dengan resiko yang gak enakin diri kita itu semua, pastikan saja kita tetap bergerak untuk menabur sesuatu ... hingga suatu saaat kita akan menuai dengan sukacita. 


Hanya seorang penabur yang akan menjadi seorang penuai.
Baca Selengkapnya ...

Mazmur 118:1-29


Hari yang Berat ... 
Mazmur 1-29 (19-29)


Games:
Bagi kelompok menjadi dua, Cewe dan Cowo.

Tugasnya, yang cowo nyiapin cara nembak cewe yang paling keren. Yang cewe nyiapin cara nolak yang paling tega lah. ... Ni cewe-cewe ada yang sadis cara nolaknya [emang lu pikir lu siapa? Ngaca dulu deh lu] ??

Pernah gak sih kayak gitu bro, sis?
Cape-cape naro perasaan, perhatian, - keluar modal pulak - ... eh ujungnya ... ditolak. Tinggal nyanyi aja: “Terlalu sadis caramu ... Sakitnya tuh di sini ...”

Satu hal yang pasti, kalau yang kayak begitu terjadi dalam kehidupan kita, hmmm ... itu berdampak pada diri kita dalam melewati hari-hari kemudian.

Ditolak ...
Putus ...
Lihat Ortu berantem ...
Ribut sama ade atau kaka atau sahabat sendiri ...
Sampe ke main games, coba aja kalau lagi kalah war (Clash of Clans, maksudnya), berasa kan ...
(Anak-anak muda lagi pada getol ya main game COC ini)

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, kalau teman-teman membaca tadi, pasti akan dengan mudah terpesona dengan kalimat pujian – penyembahan yang disampaikan oleh pemazmur di situ. Beberapa kalimat ayatnya kan jadi lagu rohani populer:
- Bersyukurlah kepada Tuhan sebab Ia baik (ayat 29)
- Masuk gerbang-Nya bersyukur (ayat 19-21)
- Tuhanlah kekuatan dan mazmurku (ayat 14)


Tetapi, apakah teman-teman memerhatikan hal ini, bahwa pemazmur sedang mengalami hari-hari yang berat sewaktu dia menuliskan mazmur ini? Coba kita cek ya sama-sama:
- Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan ... (ayat 22)
- Dalam kesesakan ... (ayat 5)
- Segala bangsa mengelilingi aku ... artinya? Dikeroyok (ayat 10)
- Aku ditolak dengan hebat (ayat 13)
- Hingga di satu titik: Tuhan menghajar aku (ayat 18)

Yang agak sulit dilacak adalah, peristiwa apa tepatnya yang dialami oleh pemazmur ini sehinggga dia kemudian menulis refleksi imannya seperti itu? Kita gak tahu ...

Kalau yang jadi pemazmur itu adalah teman-teman hari ini, bisa tidak mengidentifikasi peristiwa-peristiwa nya apa saja sehingga menuliskan ... saya ulangin ya: dibuang, nyesek, dikeroyok, ditolak, dihajar ...

Bisa?
Bisa. Kita tahu persis hal-hal apa saja yang membuat hari-hari ini terasa berat.
Boleh minta tolong gak?
Coba deh keluarin hape, lihat daftar putar lagu nya. Pasti ada lagu galaunya kan? Boleh diputer?

Satu hal yang membedakan antara pemazmur yang kita baca refleksi imannya hari ini dengan kebanyakan orang di masa kini, mungkin, adalah ...
Pemazmur mengalami hari yang berat tapi tetap melayangkan pandangannya ke depan dengan percaya pada tindakan Tuhan hingga akhirnya bisa keluar dari hari berat itu dan menuliskan kidung pujian pada akhirnya.

Kita? Sama, kita juga mengalami hari-hari berat versi kita hari ini ... Tetapi apakah kita sudah menemukan kidung pujian kita dan meninggalkan kidung galau yang hari ini sering kita putar?
Ah ... semoga tidak berlama-lama lagi ada di hari-hari yang berat karena akhirnya menemukan rancangan damai sejahtera Tuhan yang memang disediakan bagi kita semua.
Baca Selengkapnya ...

Matius 28:1-10


Tidak Dianggap
Matius 28:1-10

Pernah? Paling tidak merasa diri tidak dianggap oleh orang lain yang ada dalam kehidupan kita ... Tidak dianggap, tidak diperhitungkan, tidak diakui ... adalah salah satu perasaan yang terbesar terberat yang bisa dialami oleh seseorang ... kita. Rasa itu melemahkan, menyakitkan ... bahkan bisa sampai “mematikan”.

Saya ingat dulu papa saya pernah cerita waktu masih pelayanan di GKP Cideres, papa pernah pulang dari pelayanan, hari sudah malam. Mama dirumah sudah masak untuk makan malam ... eh terus itu papa gak makan masakan yang dibuat mama (mungkin karena di waktu kebaktian sudah makan kali ya). Bapak ibu tau apa yang dilakukan mama saya waktu itu? Mama saya (katanya ya, karena waktu itu saya sama adek belum lahir) nangis kenceng-kenceng sambil teriak, “Papa udah gak sayang mama lagi!!!”

Busyet! Itu kan cuma perkara sepele ... masalah makanan yang gak kemakan karena memang sudah makan di tempat kebaktian tadi (mungkin). Akan tetapi, perasaan itu muncul ... tidak dianggap, tidak diperhatikan. Makanya dulu, waktu kami sekeluarga pulang kampung ke rumah eyang di Tuban, setiap kali kami pergi jalan-jalan sore keluar rumah lalu makan malam di luar, papa mama selalu bilang: “Gerry, Bondan ... nanti kalau nyampe rumah eyang lagi harus makan lagi masakannya eyang uti.

Sekali lagi, itu hanya masalah yang sepele: masakan. Akan tetapi bisa dirasakan sebagai bentuk dari sebuah pengabaian, tidak dianggap.

Ada pengalaman-pengalaman lain yang lebih rumit?
Sepertinya ada ... ...

Suami yang tidak dianggap 
Istri yang tidak dianggap 
Anak yang tidak dianggap 
Kawan yang tidak dianggap 
... Kekasih yang tidak dianggap 

Mengerikan.
Ada, hadir, eksis ... tetapi diacuhkan, diabaikan, tidak diakui, tidak diperhitungkan, dianggap sebelah mata atau bahkan dianggap tidak ada sekalian saja.

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, sangat menarik karena perasaan yang sama – tidak dianggap – (oleh kebanyakan orang pada waktu itu) juga bisa hadir dalam perasaan dua hal dalam teks Alkitab kita hari ini. Saya mau mengajak kita untuk merenungkan dua hal yang tidak dianggap itu ...

(1) Ayat 1. Tentang perempuan-perempuan.
Ada yang waktu baca perikop kita hari ini nanya-nanya gak? Kemana para pengikut Yesus yang laki-lakinya? Kenapa justru berita dahsyat tentang kebangkitan Tuhan dipercayakan untuk diberitakan melalui para perempuan untuk kali pertamanya?

Jangan lupa, Yahudi itu sangat patrialkal budayanya. Perempuan seringkali tidak dianggap. Bahkan kalau ada perkara di persidangan, kesaksian seorang perempuan itu seringkali tidak dianggap sebagai fakta jika tidak didukung oleh kesaksian lelaki. Contoh dalam teks kita lah, ada kalimat “perempuan yang lain” ... itu siapa?

Akan tetapi justru kepada mereka yang tidak dianggap itulah kabar baik sukacita Paska dipercayakan Tuhan.

(2) Ayat 7, 10. Tentang Galilea.
Ada yang waktu baca teks kita hari ini nanya-nanya gak? Kenapa Yesus justru memilih Galilea untuk menjumpai para murid-Nya? Kenapa gak di Yerusalem yang menjadi “Jakarta”-nya Israel? Pusat kota. Galilea itu kan daerah orang Samaria. Itu dia permasalahannya. Galilea adalah daerah orang-orang yang tidak dianggap, tidak diperhitungkan, tidak diakui ... oleh orang Israel. Dianggap buruk.

Saya kalau lagi jalan keluar naik angkot atau bis gitu, pak bu, kadang ditanya kan: Tinggal di mana? Lalu saya nyebut: Priok. Beberapa orang masih ada lho yang denger kata Priok itu ngasih reaksi yang agak-agak gimana gitu ... daerah panas, keras, preman, kerlap-kerlip malam.

Kembali ke teks Alkitab kita hari ini, kenapa Galilea, bukan yang lain? Gak ada yang tahu alasan Tuhan kenapa. Btw, ini GKP Tanjung Priok kan namanya juga Galilea kan ... kenapa coba dikasih nama Galilea? Apa karena dekat sungai aja? :)

Yang jelas, dari dua hal tadi ... baik para perempuan dan Galilea memiliki satu kesamaan:
Yang tidak dianggap oleh dunia (orang-orang), ketika orang-orang menutup mata dan memberi nilai dan batasan kriteria ... Tuhan membuka mata-Nya lebar-lebar untuk berkarya melalui siapapun juga. 

Tidak terkecuali ... kita. Bapak dan ibu dan teman muda dan saya ... yang mungkin hari ini pun memiliki perasaan awal yang sama, yang melemahkan ... dan kadang mematikan semangat .. Karena merasa menjadi orang yang tidak dianggap.
Baca Selengkapnya ...

Yeremia 29:10-14


Andai Janji Tuhan itu seperti ... Mie Instan

Syalom bapa dan ibu dan teman-teman muda,
Masih dalam suasana Natal dan Tahun Baru ... bicara tentang tahun yang semakin bertambah, orang akan selalu terobsesi, salah satunya ya, dengan pikiran ‘bagaimana caranya untuk membuat segala sesuatunya itu makin singkat waktunya, makin cepat. Hampir di semua aspek kehidupan, orang maunya begitu. Cara cepat, bukan berlama-lama.

Contoh ya:
Dulu itu kalau kita pergi ke Bandung dari Jakarta butuh waktu ... 5 jam. Muter lewat Cikampek terus ke sononya lagi. Sekarang? Cuma 2 jam. Cipularang.
Dulu, cetak foto itu ribet. Sekarang? Orang mana ada yang cetak foto lagi? Pasti jarang karena simpan saja di hp, gak ribet.
Dulu .. masak mie lama kan, minimal waktu 30 menit lah untuk masak mie. Sekarang? Ada mie yang dijual dalam bentuk gelas’an bu yang tinggal seduh langsung jadi dalam waktu semenit.

Ide yang luarbiasa: Makin cepat makin baik. Instan maka hebat.

Makanya dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, saya yakin sekali orang-orang Israel akan lebih memilih untuk memercayai nubuat yang disampaikan oleh nabi Hanaya (yang dikemudian hari Israel tahu bahwa dia itu nabi palsu) ketimbang apa yang disampaikan oleh Tuhan melalui nabi Yeremia.

Coba bandingkan dua ayat ini dan pilih mana yang lebih enak?
Yeremia 28:2-3 
"Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Aku telah mematahkan kuk raja Babel itu. Dalam dua tahun ini Aku akan mengembalikan ke tempat ini segala perkakas rumah TUHAN yang telah diambil dari tempat ini oleh Nebukadnezar, raja Babel, dan yang diangkutnya ke Babel.

Yeremia 29:10
Sebab beginilah firman TUHAN: Apabila telah genap tujuh puluh tahun bagi Babel, barulah Aku memperhatikan kamu. Aku akan menepati janji-Ku itu kepadamu dengan mengembalikan kamu ke tempat ini.
Jika bapa dan ibu menjadi orang Israel pada masa itu, milih percaya yang mana? Pasti lebih enak untuk memercayai apa yang dinyatakan oleh Hanaya bukan? Lebih menggiurkan dengan waktu yang jelas jauh lebih singkat dari pada apa yang dinyatakan oleh Yeremia. Tetapi sayangnya, apa yang disampaikan oleh Hanaya itu bukanlah apa yang dikehendaki Tuhan.

Saya kita ini akan selalu berulang dalam kehidupan kita semua ... Kita maunya cepat (dapet kerjaan, dapet calon istri, dll ... dll) ... tapi, kadang Tuhan itu memiliki rencana yang berbeda dengan apa yang kita mau. Kita mau cepat, Dia mau kita sabar.

Saya mau mengajak kita untuk merenungkan beberapa saja hari ini ...

(1)    Ini ucapan dari seorang kawan saya ...
“Karena kita gak tahu yang mana itu kehendak Tuhan, maka gak ada salahnya berdoa: Semoga kehendakku sejalan dengan kehendak-Mu ya Tuhan.”

Itu akan memastikan seseorang untuk terus berjuang tanpa kehilangan semangatnya untuk sesuatu yang dia percayai. (Woii, jombloers ... jangan nyerah dong menemukan cinta. Hahahahha). Permasalahannya sekarang menjadi ada di diri kita masing-masing. Apa yang kita percayai yang Tuhan akan berikan kepada diri kita? Perjuangkan itu. Walaupun tampaknya hari ini kita kesulitan, atau gak masuk akal lah mencapai hal itu ... Percaya dan berbuat sesuatu dengan apa yang kita percayai itu adalah modal paling utama untuk melihat apa yang Tuhan janjikan bagi hidup kita. Tuhan tidak pernah memberikan makanan langsung untuk satu keluarga burung yang bersarang di atas pohon. Papa dan mama nya yang terbang untuk menemukan makanan yang telah Tuhan sediakan bagi keluarganya itu.

(2)    Vox Populi Vox Dei
Itu satu ungkapan Latin yang artinya: Suara rakyat adalah suara Tuhan. Jujur, saya gak terlalu sepakat. Alasannya simple, karena belum tentu begitu. Coba kembali ke teks kita hari ini, apakah suara rakyat Israel yang ada di teks kita hari ini adalah sama seperti suara Tuhan? Tidak tuh.

Tugas kita hari ini Cuma dua: Berjuang seperti apa yang kita percayai tentang Janji Tuhan yang akan dinyatakan dalam hidup kita dan ... satu hal yang paling penting, tahu bahwa rancangan Tuhan, bahkan bila yang kita lihat hari ini adalah “halilintar”, tepat pada waktunya akan berubah menjadi “halleluya”.
Baca Selengkapnya ...

ShareThis