1 Petrus 2:18-25


Super Zero

Kita pasti gak asing dengan kisah-kisah superhero. Batman, Superman, Spidey, Robocop, dan yang paling akhir di bioskop ... Captain America. Mereka-mereka yang memiliki kekuatan luar biasa untuk melawan orang-orang jahat. Dan hampir selalu, para superhero itu punya hal-hal yang mereka korbankan untuk membela kebenaran dan orang-orang yang baik. Pengabdian memang adalah pengorbanan.

Satu hal ini saya cermati, sewaktu para superhero itu datang untuk membela orang-orang baik dengan menggunakan superpower mereka dan mereka menang (walaupun polisi hampir selalu diceritakan datang terlambat dalam film-film, satu orang superhero saja sudah bisa membasmi orang-orang jahat) ... Bagaimana dengan Yesus di hari Jumat, dua ribuan tahun yang lalu itu?

Yesus punya kekuatan luar biasa?
Ya jelaslah Dia punya. Dia kan Tuhan yang datang dalam rupa manusia.
Tapi untuk siapa Yesus datang ke dunia ini?
Untuk orang-orang baik saja? Bukan. Bahkan termasuk untuk orang-orang yang dikatakan dalam ayat 24-25, orang berdosa dan orang sesat. 

Lihat pula cara yang digunakan oleh Yesus ..
bukan dengan superpower-Nya, melainkan dengan cara-Nya yang membingungkan semua orang: menyerahkan diri (bukan memimpin pemberontakan), membiarkan diri menderita (bukan melawan), menerima salib dan mati (bukan melarikan diri).

Loh, jagoannya mati! Bagaimana ini?!?

Kita tentu masih ingat suara-suara itu ...
"Jika Engkau adalah Anak Allah, selamatkanlah diri-Mu!"
"Orang lain Dia selamatkan, sedangkan diri-Nya sendiri??"

Jumat Agung adalah bukan pertunjukan kehebatan seorang superhero yang diharap-harap oleh banyak orang waktu itu. Jumat Agung lebih pantas disebut sebagai pertunjukan dari seorang yang dianggap ... superzero.

Paling tidak itulah yang bisa jadi dipahami oleh banyak yang sangat berharap besar terhadap Yesus sebagai Raja baru, Mesias baru yang mengalahkan penjajah Romawi waktu itu. Sewaktu orang banyak di depan pengadilan itu berteriak lantang, "Salibkan Dia!" ... entah berapa banyak orang yang berkata dalam hatinya, "beri kami tanda untuk maju dan kita akan berperang!" ... Tetapi ... kita tahu yang terjadi selanjutnya ... "Salibkan Dia! Mati ... dan Jaga kubur-Nya!"

Lalu apa yang bisa kita banggakan dengan aksi superzero di hari Jumat 2000 tahunan yang lalu itu? Saya mau share beberapa hal yang bisa kita renungkan bersama-sama hari ini ... Dua hal ...

(1) Ayat 23 bagian 1
Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam,

Berbanggalah karena melalui hari Jumat di 2000 tahun yang lalu itu, kita menjadi tahu bahwa ada jalan yang lain untuk memenangkan kehidupan.

Jalan yang lama yang sudah kita ketahui berteriak keras: "kalau dia jahat, jahatin lagi ... balas ... kalau hidup menderita, tolak penderitaan itu"
Jalan yang baru kita ketahui adalah ... "kejahatan dikalahkan dengan kebaikan ... menerima keselamatan dengan jalan kematian ... menjadi menang, walaupun tampak seperti seorang superzero"

(2) Ayat 23 bagian 2
tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.

Justru menjadi seorang superzero itu kan susah ya. Banget. Karena kita hampir selalu ingin meraih hasil yang hebat, dengan cara yang mudah, dalam waktu yang paling cepat dan jalan yang paling enak. "ngapain harus kalah? ngapain harus menderita?"

Tetapi jelas apa yang dinamakan dengan penderitaan, sakit, kecewa .. semua beban dalam hidup kita ini. semua nya tidak terelakkan. 

Bersyukurlah dan berbanggalah karena di hari Jumat Agung ini kita semua menjadi semakin tahu bahwa setiap cerita tentang kita .. tentang penderitaan, kesakitan dan lain-lain itu ... Itu bukanlah titik. Orang lain semua bisa saja ngasih titik dalam peristiwa kehidupan kita.

kamu gagal. titik.
kamu pecundang. titik.
keluargamu ancur. titik.
masa depan mu suram. titik.

Aksi superzero Yesus di hari Jumat dahulu seharusnya membuat mata kita semua terbuka lebar. Sewaktu semua orang lain bisa memberi tanda titik dalam kehidupan kita, Tuhan selalu bisa kasih tanda koma dan berkata pada kita, "ceritamu belum berakhir sampai di sini".

Ini bukan akhir cerita tentang kita.
Baca Selengkapnya ...

Roma 13:1-7


Kepatuhan

"Di atas kami di aniaya, di bawah kami berdoa" adalah jargon iman yang selalu diucapkan oleh orang percaya di masa dekat Tuhan Yesus (orang kristen mula-mula). Sebenarnya jargon itu pake bahasa inggris, tapi saya lupa kalimat tepatnya dalam bahasa inggris itu bagaimana, tapi artinya ya itu tadi ....

Surat Roma di tulis oleh Paulus sekitar tahun 50 an Masehi. Itu berarti semua orang percaya masih hidup diliputi oleh banyak sekali ketakutan. Mereka dibenci, dianiaya, dikejar-kejar ... di pandang tak ada harganya ... hingga dibunuh. Perlakuan itu ditunjukkan bukan saja oleh masyarakat sekitar yang belum mengenal Kristus, tetapi juga oleh pemerintah Romawi yang pada waktu itu berkuasa atas mereka. 

Saya mau narik ke depan sedikit ... 20 tahun setelah surat Roma ini ditulis, tahun 70 Masehi, kaisar Roma pada waktu itu dengan sengaja membakar kota Roma hanya karena kebenciannya yang teramat sangat kepada orang Kristen, pengikut Kristus, dan kemudian memfitnah orang percaya  sebagai kelompok yang bertanggung jawab atas terbakarnya kota Roma pada waktu itu. Hasilnya tak terelakkan, orang percaya semakin diburu, dianiaya, dijebloskan ke dalam penjara, di salib ... dan dibunuh ... Ada banyak derita bagi orang percaya di masa itu pastinya ...

Saya mengajak kita semua untuk melihat sedikit di sekeliling kehidupan orang percaya di zaman perikop kita hari ini agar kita tahu bahwa ketika rasul Paulus menulis tentang "kepatuhan terhadap pemerintah", itu harganya terlampau mahal. Saking mahalnya ... sampai-sampai, mungkin gak kebeli kali ... oleh orang percaya pada waktu itu. "Rasul gila! menyuruh patuh pada pemerintah yang zalim? Penganiaya hidup kita? Gila!"

Akan tetapi, kita semua tidak salah kok membaca surat ini. Tuhan memang benar-benar memerintahkan melalui rasul Paulus kepada orang percaya untuk ... "patuh pada pemerintah".

Hari ini saya mau mengajak kita untuk merenungkan tentang dua hal yang berkaitan dengan harga mahal untuk membeli sebuah kepatuhan itu ...

(1) Ayat 2
Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya.

"Bagaimana mungkin seseorang bisa harus tetap paruh, meski diperlakukan dengan semena-mena dan teraniaya?"
Mungkin begitu pikir mereka ...
Tetapi bukankah ini yang namanya pengorbanan?

Sewaktu seseorang yang berjalan kemudian melihat bahwa jalan yang dilaluinya itu tidak seindah yang diharapkan, lalu dia mulai bertanya pada Tuhan, "kenapa ini terjadi Tuhan? Jalannya gak enak!" Lalu kita mendengar Tuhan berbisik kepada kita, "Jalan terus, kamu bisa melewati itu semua ... Percaya. Patuh saja" ...

Bukankah itu pengorbanan namanya? Korban sakit di hati, di pikiran, di badan ... harus jalan terus walau jalannya gak enak ...

Kepatuhan memang kadang kala harus dibayar dengan uang muka yang namanya pengorbanan.

(2) Ayat 1
Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah

Ada iman yang hebat di balik ayat yang kita baca di atas itu ...
Iman yang berkata bahwa, "Aku percaya Tuhan akan melakukan yang baik, yang benar ... Dia melihat, mendengar ... Dia berkuasa penuh, adil ... semua bentuk konkret iman kita padanya ada di sana.

Itu sebabnya kita baca, "semua pemerintahan berasal dari Allah." Apa tidak salah? Tidak. Bahkan yang bengis sekalipun? Ya. Kok bisa begitu? Karena yang pegang kuasa mutlak terhadap jalannya kehidupan ini tetaplah Tuhan. 

Allah mengerti tentang segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita ini. Dia pasti melakukan sesuatu ... yang benar, yang baik ... yang adil ... yang indah tepat pada waktunya. 

(berkaitan tentang pemerintahan yang zalim, kita bisa melihat kok bahwa pada awalnya Tuhan memilih orang yang baik, jika dalam perjalanannya orang yang dipilihnya itu berpaling dari jalan yang baik itu ... itu soal yang lain ... salah satu contoh yang bisa kita lihat, walaupun tak terlalu menggambarkan juga sih, adalah kisah Raja Saul. Seseorang bisa saja mengambil jalan yang salah.)

Bapak dan ibu pasti masih ingat ... beberapa ratus tahun kemudian (ada yang masih mau bilang, "pertolongan Tuhan datang terlambat!" Gak ada yang terlambat, Tuhan sudah mengatur waktu yang tepat pembelaan bagi orang yang percaya dan patuh kepada-Nya) ... Tuhan merangkul kaisar Roma, Konstantinus, yang akhirnya menjadi orang percaya. Sejak saat itu, perubahan besar terjadi dalam kehidupan orang-orang percaya.

Bapak dan ibu sudah mengambil barang bawaan yang harganya cukup mahal itu, kepatuhan? Ambillah ... gak akan berakhir sia-sia.
Baca Selengkapnya ...

Yakobus 2:1-4


Gereja Tanpa Tembok

Pernah gak sih terbayang apa yang dikuatirkan oleh Yakobus dalam teks pembacaan Alkitab kita hari ini itu terjadi benar-benar di sana pada waktu itu? Saya kebayang .... Tentang orang-orang yang dikatakan oleh Yakobus dalam ayat yang ke 3,
dan kamu menghormati orang yang berpakaian indah itu dan berkata kepadanya: 
"Silakan tuan duduk di tempat yang baik ini!", sedang kepada orang yang miskin itu kamu berkata: "Berdirilah di sana!" atau: "Duduklah di lantai ini dekat tumpuan kakiku!",

Mereka pasti adalah orang-prang yang dengan mudahnya mengubah raut wajah mereka. Mungkin hanya sepersekian detik mereka bisa mengubah tampak muka mereka itu ...
- dari yang berwajah manis ... menjadi asem - pahit
- dari yang tampak ramah ... jadi ... sangar

Coba aja di test, di ayat tiga itu kan ada tiga kalimat:
1. Silahkan tuan duduk di tempat yang baik ini!
2. Berdirilah di sana!
3. Duduklah di lantai ini dekat tumpuan kakiku!

Coba itu tiga kalimat itu cocoknya pake raut muka dan nada suara yang gmana? Cocok gak kalimat yang nomer 2 dan tiga itu pake wajah manis dan ramah? Cocok? Ah yang bener! Gak cocoklah!

Segala sesuatu yang di dalamnya kita sudah mulai untuk mencoba membangun tembok - sekat pemisah ... itu pasti akan selalu melemahkan - mengurangi kekuatan yang sesungguhnya.

Itu ibaratnya ruangan ibadah gereja kita ini nih ya sekarang yang seluas ini ... lalu tiba-tiba ada yang membangun satu tembok tinggi yang membagi dua bagian antara barisan kursi sebelah kiri saya dan barisan kursi di sebelah kanan saya.

Harusnya kita seluas ruangan "gereja tanpa tembok" ini, tapi karena temboknya itu ada di tengah dan membagi dua ... jadi gak kelihatan lah seluas yang seharusnya. Itu cuma contoh aja ya, bukan kenyataan.

Saya gak tahu apakah jemaat yang diingatkan oleh Yakobus ini sudah se-ekstrim yang kita baca atau belum. Akan tetapi kalau kita baca seperti yang kayak ayat tiga tadi itu ... ya berarti kemungkinan besar memang kejadiannya sudah pernah terjadi.

Pertanyaan pentingnya adalah .. apakah kejadian-kejadian seperti dalam ayat tiga itu masih terus bisa kita temukan sampai dengan hari ini ... walaupun ... semua orang tahu bahwa membangun tembok pemisah itu benar-benar banyak meruginya.

Mungkin tidak se-ekstrim seperti yang kita baca dalam ayat tiga. Tetapi justru karena tidak ekstrim seperti ayat tiga itu, bukannya itu jadi lebih menakutkan? Yang ekstrim menakutkan ... yang tidak ekstrim jauh lebih menakutkan lagi.

Orang bisa duduk bersama, tetapi sebenarnya mereka terpisah. Temboknya gak kelihatan. Duduk bersama tetapi diem-dieman, senyum pas berhadapan muka, tetapi di belakang cemberut.
Tembok yang paling menakutkan adalah tembok yang seseorang bangun tetapi tidak pernah kasat mata.

Hari ini, mari kita lihat hidup kita ...
Apakah kita sedang membangun sebuah tembok pemisah atau kita sedang mau menghancurkannya?

Kuncinya ...
Ayat 4
bukankah kamu telah membuat pembedaan di dalam hatimu dan bertindak sebagai hakim dengan pikiran yang jahat?

Susah ya kuncinya ...
Karena kuncinya meruntuhkan keinginan untuk membangun tembok pemisah itu adalah keluar dari hati kita masing-masing. Mendamaikan dirinya sendiri sebelum berdamai dengan orang lain yang ada di sekitarnya.

Pengalaman-pengalaman di hari kemarin ketika hidup bersama dengan orang-orang lain ... Itu bisa jadi modal yang cukup bagi siapa saja untuk mulai membawa sebuah batu bata merah dan mulai menumpuknya menjadi satu tembok.
- Dia jahat
- Dia curang
- Dia nyakitin
- Dia bersikap buruk

Cukup modalnya? 
Tinggal di bangun deh kalau sudah begitu ...

Sekali lagi .. ayat empat menjadi kuncinya.
Kita bukan hakim. Oleh sebab itu berhentilah bersikap bak seorang hakim yang menghakimi. "Tapi dia sudah begitu nyakitin!" Stop. Itu urusan dia atau mereka sama Tuhan.

Tugas kita hanya sampai pada menjaga hati dan pikiran kita tetap damai dan berusaha untuk berdamai dengan diri sendiri dan semua orang. Cuma itu saja.

Selebihnya ...
Kasih ke Tuhan. Dia tahu apa yang harus Dia lakukan untuk kita, untuk dia ... atau untuk mereka.
Baca Selengkapnya ...

Bilangan 13:25-33


Realistis - Optimis

Kita pasti pernah pake kalimat ini, "Realistis dong!" Pernah? Pasti pernah. Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan kata 'realistis' dengan arti bersifat nyata dan wajar. Sedangkan untuk kata yang satunya lagi yang menjadi tema kita hari ini, optimis, KBBI mendefinisikan kata itu sebagai 'selalu memiliki pandangan atau pengharapan yang baik dalam menghadapi segala hal.

Dalam hidup ini, ada kalanya kata realistis mengalahkan optimis. Maksud saya begini, kita ambil contoh aja ya dalam kehidupan sehari-hari ... mari kita hitung biaya hidup keluarga kita selama sehari ... sudah? Kalikan dengan 30 (hari dalam sebulan) ... Sudah? Sekarang bandingkan dengan pemasukan keluarga kita selama sebulan.

Bagaimana hasilnya? Itu realitasnya.
Realistisnya ada banyak orang yang mendapati bahwa apa yang menjadi 'biaya operasional rumah tangga' mereka itu jauh lebih besar dibandingkan dengan apa yang 'realistis' mereka dapatkan dalam sebulan. Realistis mengalahkan optimis sewaktu mereka menjalani hidup yang sudah berat ini menjadi semakin berat. Realistis - Pesismis.

Akan tetapi, akan selalu ada orang-orang yang mampu mengalahkan segala sesuatu yang 'nampak realistis itu' (kan biasanya kalau kita nyebut kata "realistis" kan biasanya agak pesimis - negatif bukan artinya?) dengan optimis. Salah satu contoh konkretnya adalah apa yang kita baca dalam teks Alkitab kita hari ini.

Apa yang salah dari laporan 10 orang pengintai yang diperintahkan oleh Musa untuk mengintip keadaan Tanah Perjanjian itu? Bacalah sekali lagi ayat 27-29 .. Apa yang salah? Gak ada.

Realitanya memang begitu. Itu kenyataannya. Bangsa-bangsa yang mapan macam Amori atau Amalek ada di sana. Belum lagi keberadaan kaum raksasa seperti si Goliath itu yaitu kaum Enak, juga ada di sana. Itu realitanya. Realita yang membuat mereka (10 orang pengintai itu) pun mengambil kesimpulan yang ... menurut mereka ... paling realistis: ayat 31 ".. kita tidak dapat maju menyerang .. karena mereka lebih kuat daripada kita."

Itu dia contohnya 'realistisme yang mengalahkan optimisme. Tetapi apakah ada orang-orang yang .. mereka tahu realitanya bagaimana ... dan hebatnya mereka adalah mereka tak pernah menghapus optimisme dalam kamus kehidupan mereka? Ada dan akan selalu ada.

Yosua dan Kaleb mewakili orang-orang tipe 'realistis - optimis'.
Ketika Yosua dan Kaleb berkata dalam ayat 30: 
"Tidak! (pake tanda seru lho ini di ayatnya) Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!" (pake tanda seru lagi .. artinya pernyataan Yosua dalam ayat ini sangat keras dan bersemangat! - nah nah .. saya juga jadi ikutan pake tanda seru kan).

Yang seharusnya menjadi perenungan kita hari ini adalah ... kita dalam menjalani langkah kehidupan ini mau menjadi orang yang bertipe seperti apa? Realistis - Pesimis .. atau ...

Realistis - Optimis.
Saya suka dengan ucapan Zig Ziglar sewaktu dia menulis tentang dampak dari kata pesimis dalam kehidupan itu begini, singkat saja: "Pesimisme mengeruhkan air peluang". Kita akan kehilangan banyak sekali peluang dalam hidup kita ini bila kita yang sudah berpikir paling realistis ini bertemu dengan pesimisme.

Peluang itulah yang terus dihembuskan oleh Yosua dan Kaleb untuk melawan keruhnya air yang dibuat oleh 10 orang kawan pengintai lainnya itu (masih ingat dalam teks kita dikatakan bahwa 10 orang itu menyampaikan . "kabar busuk" .. ayat 32). Peluang bahwa kita bisa menang asal kita terus maju.

Hal yang kedua yang mau kita renungkan sebetulnya jauh lebih dalam dari pada sekedar kita menentukan akan menjalani kehidupan yang ber-tipe-kan apa .... Mari kita temukan modal apa yang kita punya sehingga dalam menghadapi hal-hal yang paling realistis yang terjadi dalam hidup kita sekarang ini (yang ... kadang memang memberatkan hati dan pikiran kita). Apa modal kita supaya kita bisa mengikuti jejak tipikal Kaleb dan Yosua ... menjadi seorang yang Realistis - Optimis.

Mari kita diskusikan bersama.
Baca Selengkapnya ...

Lukas 9:28-36


Di Sini Lebih Baik
Lukas 9:28-36

Saya sangat tertarik dengan perkataan Petrus dalam ayat 33 tadi yang menyatakan, "Guru, betapa bahagianya kami ada di tempat ini ..." Soalnya saya jadi bertanya-tanya sendiri .. kenapa Petrus ngomong kayak gitu? "bahagia benar di sini" ... di mana itu 'di sini'? - di atas gunung - Lah, emang kalau biasanya mereka ada 'di bawah gunung, - ditempat mereka biasa ada, maksudnya - ... emangnya kenapa? Maksudnya mereka gak bahagia gitu sewaktu ada 'di bawah gunung' di tempat mereka biasanya berada? Kita gak tahu ... Kadangkan pilihannya memang bukan selalu antara baik atau buruk ... bisa juga antara baik dan lebih baik.

Yang jelas, dalam perasaan Petrus sewaktu berada di atas gunung bersama-sama dengan Yesus dan beberapa murid lainnya pada waktu itu (ditambah lagi dengan penyataan akan kehadiran Elia dan Musa) ... menurut Petrus, di sini, di atas gunung lebih membahagiakan dibandingkan dengan 'di bawah gunung'. 

Kan seharusnya kita menjadi bertanya lagi ya ... memang ada apa sih di bawah sana? Mari kita lihat beberapa contoh yang terdapat dalam ayat-ayat sebelumnya:

Lukas 9:22 ... 'mengerikan bukan?'
Lukas 9:9 .... 'tambah mengerikan lagi kan?'
Lukas 8:53 ... 'nah yang ini namanya ngeselin. siapa kamu menertawakan Allah yang datang dalam rupa manusia?

Itulah beberapa kenyataan yang dihadapi oleh mereka sewaktu mereka ada di bawah sana. Ada .. katakanlah ... kengerian tersendiri - bagi para murid dan orang percaya pada waktu itu, mungkin ... - sewaktu mereka menyadari bahwa ketika mereka mengikut Kristus, ada banyak hal yang terjadi di bawah sana.

Sedangkan di sini? Di atas gunung ini ...?
Gak ada siapa-siapa di sini selain kita ... Gak ada orang yang rese, tukang rusuh, pengganggu dan perusak, penebar masalah atau bahkan komentator sejati ... Gak ada. 

Di sini kita tenang. 
Di bawah sana. Penat luar biasa.

Itu satu hal yang mau saya ajak untuk kita renungkan hari ini: "Perasaan dibawah gunung dan perasaan sewaktu ada di atas gunung"

Mereka merasa bahwa "di atas gunung ini" adalah "tempat persembunyian" yang sempurna. Damai di sini, di bawah sana gak terlalu damai rasanya. ... Jadi kalau boleh, di sini saja selamanya, gak usah ke bawah lagi.

Bukankah setiap kita punya tempat di mana kita bisa merasakan jauh-jauh lebih damai dibandingkan ketika kita berada di tempat lainnya. Katakanlah tempat kita bisa menenangkan diri, mendamaikan hati dari kepenatan keseharian kita.

Yang saya takutkan adalah sewaktu ada orang yang sampe kepikiran bahwa "tempat di atas gunung" mereka itu bukan di sini. "Di sini" nya itu di mana? Ya di keluarga pas kita balik ke rumah ... atau di jemaat kalau kita lagi kumpulan bersama saudara seiman kita.

Itu kebalik!
Seharusnya, keluarga, jemaat ... adalah "tempat di atas gunung" nya kita yang bisa membuat kita ... seharusnya ... bisa pula berucap seperti Petrus, "Tuhan, betapa berbahagianya kami ini ada di sini." Bukan malah jadi horor gitu kalau pulang ke rumah atau pergi ke gereja.

Mungkin beberapa orang bisa bilang, "yah ... memang begitulah di keluarga saya mah, jemaat juga begitu ... menyedihkan ..." Serem gak sih kalau sampai keluarga dan jemaat kita bukanlah tempat "di atas gunung" nya kita?

Kuncinya pak bu ...
Cuma satu sebenarnya. Yesus ada gak di sana? Ketemu Yesus gak kita di sana? Ngobrol dengan Yesus gak kita di sana? Kita dengar tidak apa yang diucapkan oleh-Nya pada kita tentang hidup kita?

Kuncinya satu itu: fokus pada berjumpa dan menemui Kristus yang ada dalam kehidupan kita, di keluarga, di jemaat ... di mana pun kita ada.

Saya pernah dengar satu cerita tentang seorang pegolf yang sedang tanding ... kan kalau golf itu mainnya mirip catur ya ... (penontonnya gak boleh berisik maksudnya) ... Saat itu tiba giliran satu pegolf memukul bola ... dia memusatkan perhatiannya pada bola golf itu ... dan kemudian memukul bolanya .. dan ... bolanya masuk. Semua penonton bertepuk tangan, dan di antara penonton itu ada satu yang menghampirinya, "Selamat ya, anda berhasil memasukkan bolanya dengan baik .. padahal suara kereta api yang tadi lewat itu bising sekali lho." 

Lalu si pegolf itu pun kemudian berkata: "Suara bising kereta api yang tadi lewat? Kereta api yang lewat yang mana ya?"

Yups .. itu lah artinya fokus pada 'bola golf'nya sehingga bahkan sekalipun ada kebisingan di sekitarnya waktu itu ... fokusnya si pegolf itu hanya pada bola.

Yang terakhir, ayat 37
"Pada keesokan harinya ketika mereka turun dari gunung itu ..."

Ini dia kebenaran yang paling nyatanya. Kita tidak akan pernah bisa menemukan kedamaian yang sejati dengan cara melarikan diri dari kenyataan yang ada dalam kehidupan keseharian kita. 

Itu sebabnya Yesus membawa mereka turun kembali ke dunia nyata. Sebab, "di atas gunung" bukanlah tempat mereka yang sebenarnya berada ... Hadapi, belajar, berproses, fokus pada penyertaan Tuhan. Sebab dari kunci itulah kita bisa menemukan kebenaran bahwa damai yang sesungguhnya dan yang sejati itu bukanlah terletak pada pertanyaan "di mana?" (tempat), melainkan karena ... Dia.
Baca Selengkapnya ...

ShareThis