Yeremia 29:10-14


Andai Janji Tuhan itu seperti ... Mie Instan

Syalom bapa dan ibu dan teman-teman muda,
Masih dalam suasana Natal dan Tahun Baru ... bicara tentang tahun yang semakin bertambah, orang akan selalu terobsesi, salah satunya ya, dengan pikiran ‘bagaimana caranya untuk membuat segala sesuatunya itu makin singkat waktunya, makin cepat. Hampir di semua aspek kehidupan, orang maunya begitu. Cara cepat, bukan berlama-lama.

Contoh ya:
Dulu itu kalau kita pergi ke Bandung dari Jakarta butuh waktu ... 5 jam. Muter lewat Cikampek terus ke sononya lagi. Sekarang? Cuma 2 jam. Cipularang.
Dulu, cetak foto itu ribet. Sekarang? Orang mana ada yang cetak foto lagi? Pasti jarang karena simpan saja di hp, gak ribet.
Dulu .. masak mie lama kan, minimal waktu 30 menit lah untuk masak mie. Sekarang? Ada mie yang dijual dalam bentuk gelas’an bu yang tinggal seduh langsung jadi dalam waktu semenit.

Ide yang luarbiasa: Makin cepat makin baik. Instan maka hebat.

Makanya dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, saya yakin sekali orang-orang Israel akan lebih memilih untuk memercayai nubuat yang disampaikan oleh nabi Hanaya (yang dikemudian hari Israel tahu bahwa dia itu nabi palsu) ketimbang apa yang disampaikan oleh Tuhan melalui nabi Yeremia.

Coba bandingkan dua ayat ini dan pilih mana yang lebih enak?
Yeremia 28:2-3 
"Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Aku telah mematahkan kuk raja Babel itu. Dalam dua tahun ini Aku akan mengembalikan ke tempat ini segala perkakas rumah TUHAN yang telah diambil dari tempat ini oleh Nebukadnezar, raja Babel, dan yang diangkutnya ke Babel.

Yeremia 29:10
Sebab beginilah firman TUHAN: Apabila telah genap tujuh puluh tahun bagi Babel, barulah Aku memperhatikan kamu. Aku akan menepati janji-Ku itu kepadamu dengan mengembalikan kamu ke tempat ini.
Jika bapa dan ibu menjadi orang Israel pada masa itu, milih percaya yang mana? Pasti lebih enak untuk memercayai apa yang dinyatakan oleh Hanaya bukan? Lebih menggiurkan dengan waktu yang jelas jauh lebih singkat dari pada apa yang dinyatakan oleh Yeremia. Tetapi sayangnya, apa yang disampaikan oleh Hanaya itu bukanlah apa yang dikehendaki Tuhan.

Saya kita ini akan selalu berulang dalam kehidupan kita semua ... Kita maunya cepat (dapet kerjaan, dapet calon istri, dll ... dll) ... tapi, kadang Tuhan itu memiliki rencana yang berbeda dengan apa yang kita mau. Kita mau cepat, Dia mau kita sabar.

Saya mau mengajak kita untuk merenungkan beberapa saja hari ini ...

(1)    Ini ucapan dari seorang kawan saya ...
“Karena kita gak tahu yang mana itu kehendak Tuhan, maka gak ada salahnya berdoa: Semoga kehendakku sejalan dengan kehendak-Mu ya Tuhan.”

Itu akan memastikan seseorang untuk terus berjuang tanpa kehilangan semangatnya untuk sesuatu yang dia percayai. (Woii, jombloers ... jangan nyerah dong menemukan cinta. Hahahahha). Permasalahannya sekarang menjadi ada di diri kita masing-masing. Apa yang kita percayai yang Tuhan akan berikan kepada diri kita? Perjuangkan itu. Walaupun tampaknya hari ini kita kesulitan, atau gak masuk akal lah mencapai hal itu ... Percaya dan berbuat sesuatu dengan apa yang kita percayai itu adalah modal paling utama untuk melihat apa yang Tuhan janjikan bagi hidup kita. Tuhan tidak pernah memberikan makanan langsung untuk satu keluarga burung yang bersarang di atas pohon. Papa dan mama nya yang terbang untuk menemukan makanan yang telah Tuhan sediakan bagi keluarganya itu.

(2)    Vox Populi Vox Dei
Itu satu ungkapan Latin yang artinya: Suara rakyat adalah suara Tuhan. Jujur, saya gak terlalu sepakat. Alasannya simple, karena belum tentu begitu. Coba kembali ke teks kita hari ini, apakah suara rakyat Israel yang ada di teks kita hari ini adalah sama seperti suara Tuhan? Tidak tuh.

Tugas kita hari ini Cuma dua: Berjuang seperti apa yang kita percayai tentang Janji Tuhan yang akan dinyatakan dalam hidup kita dan ... satu hal yang paling penting, tahu bahwa rancangan Tuhan, bahkan bila yang kita lihat hari ini adalah “halilintar”, tepat pada waktunya akan berubah menjadi “halleluya”.
Baca Selengkapnya ...

Imamat 26:12


 
Berjumpa dengan Allah di tengah Keluarga
Imamat 26:12

Syalom bapa ibu semua,
Selamat Natal. Saya melihat tema. Natal kita tahun ini sebenarnya jadi agak bingung nih. Sebelumnya, ini bukan kali pertamanya saya bingung dengan tema Natal PGI (dan KWI) kita .... Tahun yang lalu juga sebenarnya diawali dengan bingung. Masih ingat tema Natal tahun yang lalu? Yups! Benar. Temanya “Datanglah Ya Raja Damai!”. Tahukan ya bingungnya di mana? (apa? bingungnya itu tuh di sini? Itu lagu keles!). Bingungnya itu Raja damainya sudah datang 2000 tahun yang lalu, lha kok ya bikin tema seperti itu tadi ... Apalagi ini bukan Advent, ini natal bung! Akan tetapi, kita dah bahas itu tahun yang lalu, saya gak mau ngulang lagi bahwa ternyata memang sudah datang Sang Raja Damai itu 2000 tahun yang lalu, tetapi apakah benar Yesus sudah datang dan diterima di hati kita secara pribadi? Itu masalah yang direnungkan di tahun yang lalu ... (Nah, jadi ngulang juga kan akhirnya).

Kalau yang sekarang? Coba tebak bingungnya di mana? Hmmm ... bingungnya itu di bahannya. Imamat 26:12. Kalau tahun lalu kan dari Yesaya ya, itu masih mendingan karena ayat itu berkaitan tentang nubuat tentang Kristus. Lha yang Imamat 26:12 ini sekarang, Yesus nya di mana?

Coba kita baca ya ...
Tetapi Aku akan hadir di tengah-tengahmu dan Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku.
Di mana Yesus nya? J
Saya kira itu jadi salah satu pertanyaan abadi yang akan ditanyakan oleh hampir setiap orang Kristen. Minimal sekali dalam kehidupan mereka.

Padahal jawabannya sederhana sebenarnya ...
Bahwa yang ada di balik tubuh manusia Yesus itu, ya itulah Dia yang sedang mengucapkan janji-Nya bagi umat manusia sejak dahulu kala. Dia yang menyatakan diri-Nya dalam Perjanjian Lama adalah Dia yang sama yang telah menyatakan diri-Nya dalam kehadiran Yesus Kristus ke tengah dunia, dua ribuan tahun yang lalu.

Saya mau mengajak kita untuk merenungkan itu saja satu di hari natal ini. Janji yang kemudian di genapi ... Nubuat yang kemudian terjadi.

Ngomong-ngomong, bapa dan ibu tahu gak ada berapa banyak janji Tuhan di dalam Alkitab kita? Saya membaca satu sumber yang menyebutkan ada 6000an janji Tuhan, termasuk puluhan di antara itu adalah nubuat tentang kehadiran Yesus. Tahukah kita bahwa janji yang sudah digenapi itu barulah sebanyak 3000an saja?

Itu artinya bahwa memang ada janji Tuhan yang belum tergenapi dalam Alkitab kita ... sampai hari ini. Contoh ya:

Kedatangan Yesus kembali.
Sudah? Belum. Pasti terjadi? Ya. Kapan? Kita tak tahu.
Nubuat tentang kehadiran Juruselamat Penebus umat manusia?
Ada? Ada. Sudah tergenapi? Sudah.

Bolehkah saya bertanya? Data dalam Alkitab kita menunjukkan bahwa Tuhan bisa saja memang belum menggenapi janji-Nya pada umat, pada kita. Tetapi tepat pada waktu-Nya, Dia akan menjelaskan dan menepati janji-Nya bagi kita. Pertanyaan saya, adakah janji Tuhan yang belum digenapi dalam hidup keluarga kita sekarang ini?

Janji Tuhan itu rancangan damai sejahtera ... lalu bapak dan ibu mikir, kenapa masih ribut terus ini kami di rumah?
Janji Tuhan itu yang terbaik bagi kita ... lalu kita teringat kemarin baru kena PHK atau kena PHP (apa tuh? Putus hubungan pacaran dari si pemberi harapan palsu? Halah!).
Janji Tuhan itu .... Tapi kok yang ku lihat berbeda sekali ya? (silahkan di isi sendiri).

Natal dan semua peristiwa Kristus seharusnya menjadi materai bagi kita semua untuk bisa menenangkan hati dan pikiran kita di tengah galaunya dunia kita hari ini ... Itu jaminan bagi kita bahwa semua yang dikatakan Tuhan dalam firman-Nya pasti akan digenapi-Nya. Tidak terlalu lambat untuk ditunggu, tidak terlalu cepat sehingga kita terkaget-kaget. Semuanya pas.

Selamat Natal,
Damai di hati, tenanglah wahai jiwaku.
Baca Selengkapnya ...

Yohanes 8:2-11



Super Trap!!!

Syalom bapak, ibu dan teman-teman muda semua ... Apa kabar?
Perikop kita hari ini yang mau kita renungkan bersama ... sangat-sangat populer. Tentang Yesus yang menyelamatkan seorang perempuan yang seharusnya sudah calon mati di rajam saja karena tertangkap basah berbuat zina.

Karena teksnya populer, boleh dong saya nanya sedikit tentang ayat ... 6a "Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. ..." Pertanyaannya adalah ... ahli-ahli Taurat dan orang Farisi itu sukses tidak mencobai Yesus dalam teks kita hari ini? 

Mudah ya jawabnya. Jawabannya ... gagal mencobai Yesus, makanya mereka mulai pergi meninggalkan Yesus di ayatnya yang ke 9. 

Boleh nanya satu lagi ya, kayaknya ini akan lebih susah sedikit ... Pertanyaannya adalah ... Jika perempuan yang kedapatan berbuat zina itu oleh Yesus tidak dihukum rajam (karena diselamatkan-Nya) ... nah yang kayak gitu itu di bilang: gagal mencobai Yesus, maka ahli Taurat dan orang Farisi itu dibilang sukses mencobai Yesus pada saat apa dong??

Tidak merajam -> Farisi dan Ahli Taurat gagal mencobai.
... ... ... ... ... -> Farisi dan Ahli Taurat sukses mencobai.

Jawabannya:
Mereka dibilang sukses mencobai Yesus pada saat mereka sukses membuat Yesus berkata kepada orang banyak yang ada di sana pada saat itu, "Rajam perempuan ini sesuai Hukum Taurat!"

Nah, sampai di sini ... seharusnya kita jadi bingung ... Kenapa sewaktu, seandainya, Yesus memerintahkan untuk melakukan hukum rajam sesuai dengan Taurat itu, justru itu dikatakan bahwa di saat itulah ahli taurat dan farisi menjadi sukses mencobai Yesus??

Saya berhasil membuat bapak dan ibu bingung gak ya sekarang ini?? Hmmmm ..

Jika kita mengira apabila Yesus memerintahkan untuk merajam perempuan itu sampai mati adalah sesuai dengan Hukum Taurat ... saya mau mengajak kita untuk melihat sedikit beberapa data ini:

(a) Ulangan 22:22-24
(b) Ulangan 17:2-9

Apa  yang kita lihat dari dua perikop di atas dalam Ulangan itu? 
Proseduralnya:
(1) Ulangan 22:22, prosedurnya dua-duanya harus ada dan dihukum. Sedangkan dalam teks kita hari ini ... hanya ada  ... satu: perempuannya saja.
(2) Prosesi pelaksanaan hukum rajam itu harus ada di ... luar pintu gerbang kota (Ulangan 22:24). Padahal dalam teks kita hari ini mereka sedang ada di ... Bait Allah.
(3) Ulangan 17:7, prosedurnya saksi harus duluan merajam. Dalam teks kita, tak ada yang mau merajam duluan dari antara para saksinya.
(4) Ulangan 17:9, prosedurnya pergi kepada orang lewi atau pergi pada hakim. Yesus ... bukan orang lewi, bukan pula hakim.

Masih bingung pak bu??
Intinya begini, Ahli Taurat dan Farisi itu benar-benar merancang dengan teliti dan terencana matang akan jebakan yang mereka sedang buat itu pada Yesus. Super sekali. Mereka tahu hukumnya, maka mereka merancang jebakan yang bermain di "aturan prosedural" nya  sehingga memiliki kesempatan untuk "menemukan kesalahan Yesus". Super Trap!!! Target korbannya jadinya dua, yang pertama itu perempuan yang kedapatan berzina itu siap di rajam, lalu setelah mereka selesai merajam mereka akan mempersalahkan perintah siapa itu yang merajam dengan menunjukkan proseduralnya, kena deh Yesus.


Ngeri ya, seniat itu mereka terhadap Yesus sehingga merancang jebakan sempurna dan mematikan.

Akan tetapi,
dalam teks kita hari ini, justru Yesus lah yang sukses kemudian membombardir orang-orang yang memasang perangkap itu dengan cara ... menunjukkan belas kasihan yang sejati terhadap perempuan itu.

Saya hanya mau mengajak kita untuk merenungkan satu hal saja pak, bu ... Bukankah di zaman sekarang, perilaku - sikap - tindakan yang persis yang sama seperti yang dilakukan oleh mereka yang ada di teks kita ... itu masih ada (dan akan selalu ada ...). Orang-orang yang entah kenapa .. mereka kok kayaknya benci sekali kepada kita lalu mereka mau berbuat apa saja untuk membuat kita tampak bodoh atau bahkan celaka. "Jebakan betmen! Rasain lo!"

Pernah ngalamin? Super Trap?
Di tv kan sering tuh sinetronnya gambarin yang kayak begitu. "ibu-ibu jadi akhirnya gak berani keluar rumah karena dikerjain sama ibu tetangga sebelah ... bapak di kantor yang dijebak supaya tampak tidak baik di mata bos dan yang baik itu orang yang ngejebaknya. ... hmmmm ..."

Sewaktu saya merenung tentang hal ini, saya jadi inget perkataan Yesus: "Kasih adalah kegenapan Hukum Taurat". -- Sewaktu seluruh tindakan - perkataan kita selalu didasari oleh kasih (terhadap Tuhan dan sesama), maka di situlah "jaring pengamannya". Orang boleh membuat jebakan paling super sekali pun, tetapi tindakan kasih akan menjadi jaring pengaman kehidupan kita selalu, sekaligus pemicu transformasi diri (bukan hanya kita, bisa jadi juga orang yang dulunya itu jahat pada kita, eh sekarang malah jadi kayak lebih dari saudara sendiri).

Saya ingat pengalaman seorang bapak waktu saya mimpin kebaktian pria beberapa waktu lalu. Bapak itu cerita tentang pengalamannya dikerjain habis2an di kantornya ... Lalu apa yang bapak lakukan? tanya saya. Bales? gak. Marah? sedikit, akan tetapi saya tetap baik kok pak kepada mereka itu. "Lalu apa kelanjutannya pak?" Sekarang mah mereka jadi malu sendiri kalau ketemu sama saya pak ... 

Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, 
pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua.  
Yohanes 8:9
Baca Selengkapnya ...

II Timotius 3:10-16


Tidak Sendirian
2 Timotius 3:10-16

Tema yang diberikan Sinode GKP 
hari ini (note: Bertumbuh dalam Ajaran yang Baik - tema dari Sinode, saya nambahin aja itu temanya jadi "Tidak Sendirian") sepertinya agak menonjok realitas hidup beberapa kejadian yang bisa kita lihat di tv akhi-akhir ini. Masih ingat kejadian-kejadian ini: Seorang lurah yang menghabisi nyawa seluruh keluarganya lalu dia sendiri bunuh diri (itu lurah, atau kepala desa, atau camat ya? saya lupa), lalu ada seorang anak yang menuntut ibunya sendiri ke pengadilan karena masalah tanah? Dituntut berapa? Satu Milyar! Kalau berita tentang orang yang bunuh diri: terjun bebas dari gedung tinggi mungkin bukan hal yang jarang di dengar ya ... 

Apa sih yang membuat mereka melakukan hal itu semua? 
Bergumul berat? Itu anak yang nuntut ibunya sendiri apa dia lupa bahwa .. itu kan ibunya sendiri ... 

Sewaktu sesuatu datang dan hal itu sangat sulit dipahami - sehingga bergumul - ... seseorang memang kadang bisa saja kepikiran untuk melakukan hal-hal yang konyol (menurut pandangan kita) macam itu. 

Kemarin saya kunjungan. Ketemu dengan seorang bapak muda yang baru saja kecelakaan. Tabrakan motor. Hasilnya, dua tangannya patah. Bapak itu cerita bahwa sempet kepikiran gimana ini nanti ke depannya? Sempet bengkak parah pun patah tangannya itu karena di bawa ke tukang urut. Untungnya bapak itu dinasehati oleh semua keluarga untuk mau di bawa ke rumah sakit, dan akhirnya ... operasi. Kan serem kalau terlambat sedikit itu tangan bisa diamputasi.

Dalam teks Alkitab kita hari ini, kita ketemu dengan seorang anak muda: Timo, yang sedang bergumul dalam tugas pelayanannya waktu itu. 

Saya hanya ingin mengingatkan bahwa ini kan surat rasul Paulus yang ke dua untuk Timo ... kebayang gak situasinya ... Saya ngebayanginnya sih gini, Timotius pertama kali bergumul dalam tugas pelayanannya ... lalu Tuhan melalui rasul Paulus meneguhkan dan menyemangati Timo ... di surat yang pertama. Nah ini surat yang ke dua. Artinya?? Timo di surat yang pertama sudah dikuatkan .. dan sekarang ... jatuh semangat lagi .... Itulah sebabnya Rasul Paulus menuliskan kembali pesan firman Tuhan bagi Timo melalui surat yang ke dua ini.

Saya hanya mau mengajak kita untuk merenungkan dua hal saja hari ini ...

(1) Bersyukurlah karena bapak, ibu, teman-teman muda hari ini dikelilingi oleh orang-orang (keluarga, tetangga, jemaat) yang ... menguatkan, memulihkan, menopang, menyemangati.

Timotius dikelilingi oleh mereka yang seperti itu dan beruntungnya dia. Ibu dan neneknya yang memberikan ajaran yang baik ... dan sahabat sekaligus bapa rohaninya - Paulus -  yang selalu menopang, menyemangati dan menguatkan Timo. "Ketika aku kehilangan semangat dan bergumul, aku ditopang" 

Boleh nanya?
Betul nih itu adalah gambaran diri kita ketika kita ada ditengah kebersamaan? Seseorang yang ... kepadanya dia akan berkata, "betapa bersyukurnya aku karena Tuhan telah mengirim kamu dalam hidup aku"

"Di luar sana ... banyak orang yang tidak memahamiku, tidak menyemangatiku, tidak menopangku ... tetapi di sini ... bersama kamu .. aku tenang, aku dipahami."

Apakah betul orang itu adalah bapak dan ibu?


(2) Sayangnya ... ada pengalaman-pengalaman lain yang tidak seberuntung bapak dan ibu .. dan timo dalam teks Alkitab kita hari ini ... 


"Di luar sana mereka menderita karena pergumulan dengan orang-orang atau dengan pekerjaan mungkin ... di dalam ... ketika mereka pulang ke rumah, ada di tengah-tengah saudara-saudari seimannya ... ini kok malah jadi tambah menderita ya??"

Dan orang-orang yang seperti itulah yang seringkali kehilangan pengharapan karena merasa tidak ada siapa-siapa yang memahami nya ... dan tindakan yang kita kira dan pikir: itu konyol, ... bagi mereka, itu adalah hal yang logis.
- buat apa ... saya gagal kok ...
- buat apa ... saya kan gak berguna ...

Kalau bapak dan ibu bertemua dengan mereka, apa yang akan bapak dan ibu lakukan bagi mereka, bagi dia? Berharap kitalah orang yang akan selalu berkata: "Aku ada untuk kamu ... Aku mengerti dan aku mempercayai kamu ..."

Yang susah ... adalah jika kita yang berpikir bahwa kita lah orang nya ... maksudnya kitalah orang yang mengira bahwa ... tak ada orang yang memahami dan menguatkan kita lagi di tengah kehidupan kita sekarang ini ... Apa yang akan kita lakukan bila begitu?

Berharap kita tidak melupakan bahwa sekalipun semua orang tidak memahami atau bahkan tidak percaya ... akan selalu ada yang tidak akan pernah meninggalkan kita sendirian. Dia ada, Dia mengerti dan Dia percaya bahwa setiap kita bisa menemukan diri kita yang terbaik ... melewati pergumulan hari ini dan menemukan berkat di balik setiap pergumulan. 

Bukankah tepat di saat itu, seharusnya setiap orang bisa berkata: Aku tidak pernah sendirian. 
Baca Selengkapnya ...

Amsal 4:1-5


Untuk Ayah Ter ....
Amsal 4:1-4

Kali pertama saya membaca teks Alkitab kita hari ini, ada dua hal yang langsung terlintas di pikiran saya. Yang pertama itu, saya jadi teringat lagu ini: 
Dimana akan kucari
Aku menangis seorang diri
Hatiku selalu ingin bertemu
Untuk mu aku bernyanyi...

Untuk ayah tercinta
Aku ingin bernyanyi
Walau air mata di pipiku
Ayah dengarkanlah
Aku ingin berjumpa
Walau hanya dalam mimpi..

Lihatlah hari berlalu
Namun tiada seindah dulu
Datanglah aku ingin bertemu
Untukmu aku bernyanyi.

Yups, itu lagunya band The Mercy's, wuih jadul banget ya ... tapi tenang saja, banyak yang nyanyiin ulang itu lagu yang bagus itu. 

Yang kedua, ... hayo yang kedua ini bapak dan ibu bisa tebat tidak apa yang langsung terpikir oleh saya sewaktu baca teks Alkitab kita hari ini?

Saya mau protes ke penulis Amsal ini. Berarti protesnya ke .... Salomo. Itu kenapa yang diomongin sama Salomo itu cuma bapaknya saja? Ibunya enggak? Kepikiran gitu gak sih pak, bu? (terutama ibu - ibu nih yang saya kira harusnya kepikiran ke sana)

Padahal, kita semua tahu bahwa frekuensi interaksi antara anak itu pasti lebih banyak dengan ... Ayah! Salah. Ya dengan ibu lah banyakannya.

Kan sudah ada juga tuh lagunya:

papa mungkin seminggu di bali
nyari panggung sana sini
papa gak pulang beibeh
papa gak bawa uang beibeh

Papa lebih sering banyak di luar, cari nafkah buat keluarga, tetapi ibu lebih banyak di rumah bersama anak-anak. Bener gak tuh? Coba kita cek ... kamu mba, lebih deket ke siapa nih di rumah? ke papa atau ke mama? Pasti ke ... mama ...

 Oke, kita sepakat bahwa kita bisa protes: kok yang diomonginnya itu cuma tentang ayah doang. Kenapa gak ada mama nya?

Akan tetapi, justru di balik protesnya kita yang bisa kita demo bareng-bareng sekarang ini, bukankah justru ada satu kabar baik yang bisa kita refleksikan bersama hari ini? 

Saya kalau bisa sih mau nanya langsung ke Salomo, kenapa sih ko cuma ngomongin tentang papa aja?

Lalu saya merefleksikan hal ini .... Mungkin Salomo akan berkata seperti ini:
"Kalau tentang mama, hampir semua orang punya kedekatan yang erat dengan mama (kata Salomo dalam bayangan saya). Yang jarang itu mungkin adalah kedekatan antara ayah dan anak seperti yang digambarkan oleh Salomo dalam Amsal yang kita baca hari ini."


Maksudnya begini, Salomo tak perlu menceritakan kedekatannya dengan ibunya, karena tak perlu di ceritakan pun pasti dekatlah dia dengan ibunya yang mengandung dirinya itu selama 9 bulan dan menjagai Salomo sampai ujung usia mama .... Tetapi, dekat dengan seorang ayah? Hmmmm tidak semua orang punya pengalaman yang sama seperti Salomo seperti yang bisa kita lihat hari ini ...

Kita semua tentu masih ingat tentang siapa ayah dari Salomo ini .... Itu dia: Daud. Daud itu orang sibuk ya pak, bu ... Raja Israel yang membawa Israel ke puncak kejayaan. Sampai-sampai hari ini, semua orang Israel masih memakai lambang bintang Daud di bendera negara Israel mereka itu. 

Akan tetapi, lihatlah bagaimana Salomo punya gambaran yang sangat baik di ingatannya tentang ayahnya, Daud, yang pastinya super sibuk itu ... 
"dengar didikan ayahmu ..."
"aku diajari ayahku ..."
Semua itu kata Salomo tentang apa yang dilakukan oleh Daud terhadap dirinya. Tidak mungkin seseorang yang tidak diajari ayahnya atau tidak pernah dididik ayahnya akan bisa berkata seperti apa yang kita baca dalam teks kita hari ini ...

Pasti kita pernah dengar cerita tentang seorang anak TK yang suatu hari nanya ke mamanya, "Ma ... sebenarnya papa itu dapat gaji berapa sih dari kantornya? Kok sampai gak pernah ada di rumah ... gak pernah ajak kita jalan jalan ke luar gitu sih?" Lalu mamanya jawab: "Oh, papa memang sibuk kaka, gajinya papa kan gede, makanya papa juga jarang di rumah" Anak itu pun nanya lagi: "Emang papa itu di gaji berapa sih sehari ma?" Mama menjawab: "Papa di gaji 200 ribu sehari ka" .... 

Dua bulan kemudian,
"Mama, aku boleh minjem uang 50 ribu gak ke mama?" Mama menjawab: "Buat apa kaka?" Anak pun menjelaskan, "Enggak ma, dulu kan mama pernah bilang kalau papa itu di gajinya 200 ribu sehari dari kantor papa, ya udah, kaka nabung deh dari dulu itu dan sekarang uang kaka udah ada 150 ribu ma ... kurang 50 ribu lagi nih supaya kita bisa bayar papa sehari aja ngajak kita jalan-jalan sekeluarga."

Saya sempet nge cek satu data statistik yang menyebutkan bahwa ternyata ... 70% orang yang ada di penjara itu adalah orang yang kurang perhatian dari ayah .... 

Satu hal saja yang mau saya ajak untuk kita renungkan hari ini ...
Jika kita adalah orang yang menulis Amsal yang kita baca hari ini, Apakah tulisannya akan sama seperti yang kita baca sekarang? Setujukah dengan apa yang dinyatakan oleh Salomo tentang seorang ayah ...

ada kebanggaan di dalamnya
ada memori yang baik di dalamnya

Atau ... 

Seandainya ada seseorang di luar sana yang ... tidak seberuntung Salomo yang memiliki pengalaman yang baik dengan papa (dan mamanya tentu) ... Lalu bagaimana?
memiliki ... papa yang kasar, suka mukulin mama, pergi lalu gak pulang-pulang ... 


Lalu bagaimana?
Satu hal yang bisa dilakukan: 
Memutus memori buruk itu dan tidak menurunkannya pada anak-anak kita nanti. "Cut" semua gambaran yang buruk tentang apa yang sudah dilakukan oleh "siapapun mereka yang ada di tengah keluarga kita" (papa kah atau mama kah), yang jelas ... jika kita memiliki keluarga nanti, kita tidak akan membiarkan anak-anak kita (nanti) mempunyai memori yang buruk seperti yang mungkin saja dialami oleh orang-orang yang tak seberuntung Salomo seperti dalam teks kita sekarang.
Baca Selengkapnya ...

ShareThis