I Yohanes 3:19-24

Bengkel Hati
I Yohanes 3:19-24

I. Pembukaan

Lewis Smedes dalam bukunya “Mengampuni & Melupakan” pernah bercerita tentang seorang penjahit yang datang ke Bait Allah untuk berdoa dan kemudian berjumpa dengan Pendeta-nya ketika dia mau keluar, pulang ke rumah, dari Sinagoge itu. “Selamat siang pak, bukankah jam ini bukan jam ibadah … apa yang bapak lakukan di Sinagoge tadi?” tanya Pendeta itu. “Saya tadi berdoa kepada Tuhan, pak Pendeta” … “Oh .. bagus itu dan apakah di dalam doa bapak tadi, bapak juga mengakui dosa-dosa bapak kepada Tuhan?” tanya Pendeta itu semangat. “Tentu saja saya berdoa dan mengakui semua ‘dosa kecil’ saya pak pendeta” …

Dosa kecil??” Pendeta mulai kebingungan. “Iya, dosa kecil saya … saya mengaku kepada Tuhan tadi kalau saya waktu bekerja itu sering curang ke pelanggan saya … sering korupsi benang waktu ‘ngejahit, sering ngerjain pesanan jahitan asal jadi aja … itu dosa kecil saya.” “Bapak bilang begitu ke Tuhan?” … “Iya pak Pendeta … dan saya pun bilang ke Tuhan … Tuhan, saya memang salah melakukan semua dosa kecil saya tadi … Tapi jangan lupa ya, Tuhan juga membiarkan satu anak bayi yang tak bersalah kemarin meninggal … jadi mari kita bikin deal aja Tuhan … Tuhan mengampuni semua ‘dosa kecil’ saya, dan saya juga akan mengampuni ‘dosa besar’ Tuhan itu.”

II. Penjelasan & Penerapan Bahan

Cerita tadi tentu hanya kelakar saja … (jadi jangan dibahas tentang dasar pemahaman iman kita tentang dosa ya … sebab bukan itu tujuan nya) … Yang kita mau lihat dari cerita tadi adalah pertanyaan mengapa si bapak tadi datang ke Sinagoge untuk berdoa dan mengakui segala dosa yang dia lakukan??

Mungkin kita bisa bilang: “Oh .. itu harus! Kita harus ngaku dosa di hadapan Dia!” Tapi kan, ada lho orang yang tahu itu dosa dan dilakukan tapi gak pernah ngakuin juga dosa itu ke Dia … Okelah itu ada … itu bisa terjadi, kalau ada orang yang berpikir ‘gak perlulah mengakui dosa kita ke Tuhan’ … Kalau begitu, apa kah orang-orang tipe itu bisa meraih apa yang menjadi dambaan jemaat Yohanes dalam pembacaan Alkitab kita hari ini? Ketenangan Hati (ayat 19) … sulit rasanya meraih itu apabila masih ada yang sesuatu yang mengganjal di hati kita … sesuatu yang kita tahu itu salah, sesuatu yang kita tahu itu tidak sesuai dengan kehendak-Nya …

Jemaat Yohanes pada waktu itu mengalami apa yang dikatakan “tuduhan hati yang menyebabkan hidup menjadi tidak tenang” (ayat19-20). Jemaat waktu itu bergumul dengan orang-orang yang mereka benci karena orang-orang itu ‘jahat’ dan akhirnya membuat mereka tertunduk lesu karena sadar bahwa mereka ‘tidak bisa’ melakukan apa yang Tuhan perintahkan: “saling mengasihi” (lihat ayat 18). Ketidakmampuan untuk bisa mengasihi itulah yang membuat jemaat di sana ‘menuduh hati mereka sendiri’ bahwa mereka ‘tidak pantas dan tidak layak’ menjadi pengikut Tuhan. Yang menarik dalam pembacaan Alkitab kita saat ini adalah bagaimana cara Tuhan melalui Yohanes menunjukkan cara agar hati yang rusak itu bisa di reparasi! Mari kita lihat “Bengkel Hati” yang disediakan oleh Dia: ·

Bebaskan hati kita dari segala tuduhan (ayat 20)

‘Allah adalah lebih besar dari pada (apa yang ada di dalam) hati kita (yang mungkin memberatkan hidup kita) serta mengetahui segala sesuatu.’ Allah tahu bahwa hal itu sulit dilakukan: ‘tetap mengasihi orang yang telah berbuat jahat’ dan Dia sadar betul adakalanya kita ‘belum mampu’ melakukan hal itu.

Jangan hakimi diri kita sendiri karena tahu bahwa kita ini belum cukup mampu (bukannya tidak mampu) melakukan apa yang menjadi kehendak-Nya! Masih ingat dong apa yang dilakukan Petrus waktu menjawab pertanyaan Yesus (Yoh. 21) … Petrus tidak terjerumus dalam ‘menghakimi dirinya sendiri’ … makanya kelanjutan kisah hidup Petrus berbeda dengan kelanjutan hidup Yudas! ·

Mintalah perlengkapan yang cukup agar hati kita mampu bertahan dari goncangan yang merusak (ayat 22)

Ingat pengalaman Daud ketika melawan Goliath? Di kala seluruh hati bangsa Israel menjadi tawar, kecut dan takut … Daud mampu bertahan dan memenangkan pertarungan. Mengapa? Karena Daud tahu Tuhan telah memperlengkapi dirinya untuk mengalahkan ‘raksasa’ itu. Hati Daud tetap terjaga dari bahaya virus yang merusak, yang telah mewabah di Israel kala itu.

Hari ini Tuhan pun bisa mengulangi ‘Peristiwa Daud’ itu dalam hidup kita! Tuhan telah menyediakan perlengkapan-perlengkapan yang cukup untuk ‘melawan raksasa’ di dalam kehidupan kita hari ini. Kita diperlengkapi oleh Dia ketika kita berhadapan dengan ‘raksasa kebencian’, ‘raksasa kekuatiran’ dan semua saudara raksasa lainnya itu.

Pokok Diskusi
  1. Menurut bapak dan ibu, perlengkapan apa saja yang kita perlukan untuk menguatkan kondisi hati kita?
  2. Apa artinya ayat 24 (terutama bagian b) untuk hidup kita sekarang?

Pdt. Gerry Atje: The Story Of Us

Terima kasih sudah membaca renungan atau artikel lainnya di blog ini. Akan menyenangkan sekali bila kita saling membangun dan menguatkan satu sama lain di dalam Tuhan. Untuk berlangganan artikel blog ini melalui email, sahabat bisa mendaftarkannya melalui kotak di bawah ini dan memverifikasinya melalui email. Salam hangat selalu, untukmu.

ShareThis