Kejadian 39:1-23


Gambar Diri
Kejadian 39:1-23

Mari kita membaca kembali ayat 20 “Lalu Yusuf ditangkap oleh tuannya dan dimasukkan ke dalam tempat tahanan-tahanan raja dikurung. Demikianlah Yusuf dipenjarakan di sana” Entah sudah berapa kalinya Yusuf kembali terjatuh dalam pergumulan yang berat semacam ini (mulai dari dimusuhi kakak-kakaknya, dijual, dijadikan budak). Akan tetapi yang paling hebat dari tokoh Alkitab kita yang satu ini adalah tidak pernah tercatat dalam Alkitab, Yusuf mengeluh, atau marah bahkan kecewa dengan kejadian atau peristiwa yang dia alami waktu itu.

Bila mau dibandingkan dengan kehidupan di zaman modern akhir-akhir ini, di mana satu peristiwa bergumul datang mampu membuat seseorang kehilangan akal sehatnya dan mulai bertindak yang bukan-bukan (suami bakar istri karena cekcok rumah tangga, ibu bunuh anak karena sulit ekonomi). Sepertinya, di masa sekarang orang-orang mulai mudah kehilangan apa yang menjadi landasan hidup Yusuf yang mampu menguatkan Yusuf dalam menanggung begitu banyak cobaan.

Pertanyaan besar bagi kita sekarang yang sedang membaca kisah Yusuf dalam perikop ini adalah: apa yang membuat Yusuf mampu dengan tenang, percaya dan tidak tersulut luapan emosi ketika berhadapan dengan situasi buruk yang ia alami waktu itu?

Ayat 2 mengatakan kepada kita: “tetapi Tuhan menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya”.

Datang ke rumah Potifar sebagai budak belian dan menjadi pembantu rumah tangga di sana, ternyata tidak membuat Yusuf patah semangat dalam melanjutkan kehidupannya. Pertanyaan penting: bisakah Yusuf kecewa dengan keadaannya saat ini? Bisa!

Jika ia membayangkan kehidupannya dulu sewaktu masih di dalam kehidupan keluarga besarnya – di sayang ayahnya, bisa saja Yusuf menjadi kecewa atau patah semangat dengan perjalanan kehidupannya sekarang: menjadi budak – pembantu rumah tangga.

Semua itu dijalani oleh Yusuf dengan satu semangat: keyakinan bahwa dirinya disertai oleh Allah: “Aku ini disertai oleh Allahku!” – Imanuel, Allah besertaku!”

Lihat bagaimana Yusuf meyakini gambaran dirinya sebagai ‘orang yang disertai oleh Allah’ yang membuat dirinya mampu berbuat yang terbaik dalam pekerjaannya dan dikatakan di Alkitab bahwa ‘Yusuf berhasil dalam segala sesuatu yang dikerjakannya’.

Tapi tidak berhenti di situ saja, kita juga melihat bahwa dalam penggambaran Yusuf tentang dirinya sebagai ‘orang yang disertai Allah’, hal itu juga membawa satu sikap Yusuf yang menolak untuk melakukan hal-hal yang berlawanan dengan kehendak Allah (ayat 8-9). Meskipun sikap Yusuf itu pada akhirnya membawa ia pada pergumulan kembali, ketika ia dijebloskan ke dalam penjara, namun Yusuf tetap memegang teguh bahwa hidupnya itu disertai oleh Allah.

Ayat 20-21 “... demikianlah Yusuf dipenjarakan di sana. Tetapi Tuhan (tetap) menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya ...” Yusuf mampu melewati segala pergumulan yang terjadi dalam hidupnya.

Salah satu kunci Yusuf adalah mempertahankan gambar diri yang benar seturut dengan kehendak Allah. Yusuf tidak terjerumus dalam penggambaran-penggambaran diri yang membuat hidupnya semakin terpuruk, melainkan Yusuf menemukan cara agar hidupnya bisa bangkit dan tetap melakukan apa yang bisa dia lakukan sebaik mungkin ...

bagi Yusuf, apapun yang terjadi dalam hidupnya – pergumulannya: Aku ini orang yang disertai oleh Allahku. Bagaimana dengan Anda?

Pokok Diskusi
  1. Bagaimana Anda mengggambarkan diri anda ketika berhadapan dengan sebuah pergumulan di masa sekarang?
  2. Dapatkah Anda sebutkan, penggambaran diri macam apa yang mampu membangun kehidupan kita sebagai orang percaya?
  3. Dapatkah Anda sebutkan, penggambaran diri macam apa yang mampu menghancurkan kehidupan kita sebagai orang percaya?

Pdt. Gerry Atje: The Story Of Us

Terima kasih sudah membaca renungan atau artikel lainnya di blog ini. Akan menyenangkan sekali bila kita saling membangun dan menguatkan satu sama lain di dalam Tuhan. Untuk berlangganan artikel blog ini melalui email, sahabat bisa mendaftarkannya melalui kotak di bawah ini dan memverifikasinya melalui email. Salam hangat selalu, untukmu.

ShareThis