Kisah Para Rasul 6:1-7

Terampil Mengatasi Konflik
Kisah Para Rasul 6:1-7

Dari mana datangnya sebuah konflik?
Mungkin ada banyak cara kita melihat potensi terjadi nya sebuah konflik. Bisa dari perbedaan, ketidakpekaan, … dll.

Ada satu riset ilmiah yang memperlihatkan bahwa rata-rata kaum pria berbicara sebanyak 25.000 kata per hari, sedangkan wanita 30.000 kata per hari. Seorang pria yang membaca hasil riset itu langsung berbicara begini: “Ooo … pantas saja istri saya cerewet sekali di rumah, sebab setiap pulang ke rumah dari kantor, saya sudah menghabiskan 25.000 kata itu, sedangkan istri saya belum mulai dengan jatah 30.000 kata-katanya. Jadilah saya yang kena cerewetannya terus pulang dari kantor

--- hayo yang ibu-ibu jangan marah ya, namanya juga pendapat bapak itu, tenang aja, tidak semua laki-laki merasa kayak bapak itu kok dan tidak semua perempuan juga seperti yang bapak itu tadi ceritakan ---

Yang mau kita lihat sekarang adalah kenyataan bahwa konflik sangat mungkin terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari! Dengan berbagai pemicunya di sekitar kita. – kalau hati lagi kesel, bahkan gara-gara segelas kopi pun kita bisa jadi marah besar bukan ?!

Dalam pembacaan Alkitab hari ini, kita juga dapat melihat bahwa kehidupan keluarga orang percaya mula-mula itu (baca: jemaat mula-mula) pun tidak terlepas dari yang namanya konflik. Kehidupan berjemaat semakin kompleks, jumlah anggota jemaat bertambah, tapi pelayannya tidak nambah-nambah … hasilnya?

Ayat 1: ada yang merasa terabaikan! – ini dia potensi konflik dalam teks Alkitab kita hari ini. Bayangkan apabila potensi konflik itu tidak terdeteksi oleh para rasul pada waktu itu? Apa ‘gak bubar jemaat mula-mula yang merasa terabaikan waktu itu …

Melalui pembacaan Alkitab kita hari ini kita mau belajar tentang bagaimana meredam dan akhirnya mengatasi konflik agar tidak semakin berbahaya. Setidaknya dari bacaan kita hari ini ada beberapa hal yang bisa kita temukan:

Peka terhadap potensi Konflik

Menarik untuk kita perhatikan ketika para rasul berkata “kami tidak merasa puas (penekanan tambahan: terhadap diri kami sendiri), karena kami melalaikan firman Allah untuk melayani meja” --- Mereka menyatakan kepekaannya terhadap potensi konflik dengan cara tidak mencari-cari alasan untuk menuding balik jemaat yang merasa terabaikan itu. Mereka mau mengevaluasi diri dan mulai mencari jalan agar potensi konflik itu tidak berlanjut.

“Mama gimana sih, suami baru pulang kerja bukannya di bikinin kopi kek … “

“Mama, papa pulang, mama pasti capek ya seharian dah beres-beres rumah, sini biar papa buatin air panas, kita ngeteh anget sama-sama ya”

… hmmm suami idaman para perempuan. Konflik bisa diatasi apabila ada kerendahan hati Tidak sama-sama keras kepala, melainkan mau duduk bersama, dengan kepala dingin, berbicara dari hati ke hati tentang jalan-jalan keluar yang bisa kita pilih untuk menyelesaikan konflik itu. Dan pada akhirnya kerendahan hati untuk mau berjalan bersama kembali di jalan yang telah disepakati bersama untuk berjuang mengalahkan konflik yang terjadi itu.

Musuh terbesar yang kita hadapi di sini adalah diri kita sendiri.

Jemaat mula-mula yang merasa terabaikan itu mampu mengalahkan perasaan kecewa mereka, marah mereka, dan kesal mereka terhadap para rasul yang dianggap ‘bersalah’ oleh mereka itu dan dengan sangat rendah hati mau memulai kembali perjalanan hidup sebagai keluarga jemaat Allah di dunia --- bersama-sama.

Kesimpulannya sederhana,
jika kita mau terampil mengatasi konflik, yang pertama harus kita kalahkan adalah diri kita sendiri.

Pokok Diskusi

Hal apa yang menjadi bagian paling sulit ketika kita mau menyelesaikan sebuah konflik yang terjadi dalam hidup kita?

Pdt. Gerry Atje: The Story Of Us

Terima kasih sudah membaca renungan atau artikel lainnya di blog ini. Akan menyenangkan sekali bila kita saling membangun dan menguatkan satu sama lain di dalam Tuhan. Untuk berlangganan artikel blog ini melalui email, sahabat bisa mendaftarkannya melalui kotak di bawah ini dan memverifikasinya melalui email. Salam hangat selalu, untukmu.

ShareThis