Efesus 2:11-22

Keluarga Allah
Efesus 2:11-22


Saya mau mengajak kita untuk membayangkan sejenak, apa bila peristiwa yang terjadi dalam perikop kita hari ini, terjadi juga dalam kehidupan kita: ditengah-tengah keluarga, jemaat, masyarakat, atau antar suku bangsa lainnya … Wah ngeri gak sih?? Ketika ada orang-orang yang merasa dirinya itu paling benar, paling hebat, paling bisa, paling dekat, paling suci dan semua yang pake paling-paling lagi … dan kemudian menganggap orang-orang lain disekitarnya itu lebih rendah, lebih buruk, lebih dibawah … lebih-lebih yang gak enak lah … Terbayangkan apa jadinya.

Alkitab mencatat peristiwa dimana orang-orang Yahudi Kristen dalam perikop kita dalam kehidupan berjemaat pernah merasa diri lebih dibanding orang Kristen bukan Yahudi. Gimana rasanya hidup berjemaat ditengah-tengah prasangka seperti itu … ke gereja datang, ketemu, beribadah, tapi dalam hatinya: "Ni orang gak se-Level dengan saya!! Berani macam-macam, tak sikat nanti!!" … Ada rasa tak nyaman.

Contoh yang lain: Sejarah mencatat peristiwa MahatmaGandhi, tokoh besar umat Hindu di India, yang sangat mengidolakan ajaran cinta kasih Yesus suatu kali pernah datang ke gereja, tapi apa yang terjadi … di depan gereja dia disambut oleh MJ-nya “Pak kalau mau ke gereja, jangan ke sini …. Ke sana aja, disana gereja khusus orang kulit hitam, disini khusus kulit putih”. Gandhi yang awalnya bersemangat ikut Yesus jadi mikir lagi: “buat apa jadi Kristen, kalo orang Kristennya aja gak mencerminkan Kasih Kristus!" Pulang Dia! …

Hari ini, tantangan Firman Tuhan kepada kita mari kita lihat hidup kita saat ini … Kehidupan macam apa yang sedang kita bangun ditengah-tengah kebersamaan dengan orang lain disekitar kita!! Apakah kita sedang membangun jalan untuk bisa memberitakan cinta kasih Tuhan kepada yang lain atau ... justru kita sedang membangun tembok pemisah: disini calon sorga, diluar sana calon neraka!!

Harapan saya, kita tidak tertular dengan 2 virus ini:

VIRUS SUPERIORITAS
Aku yang paling hebat, keluargaku, suku-ku, agamaku …

Bangsa kita terjangkit virus ini, dan kita sedang berusaha sama-sama menyembuhkan diri kita mulai terbuka mata ketika bencana di Wasior, di Mentawai, di Yogya, bahwa tembok pemisah itu harus diruntuhkan perbedaan suku, agama, tidak lagi jadi pemisah karena bencana datang tidak pandang bulu!!

Ingat cerita tentang 10 orang Kusta: 9 orang Yahudi, 1 Orang Samaria. Kalo gak ada penderitaan mereka gak mungkin jalan bareng. Mungkin itu sebabnya Tuhan mengizinkan 1 penderitaan datang ditengah-tengah keluarga, jemaat atau bahkan bangsa .. Karena melalui penderitaan kita bisa belajar tentang arti kebersamaan, persatuan, dan menghilangkan virus SUPERIORITAS tadi!!

VIRUS MIND-ERITAS alias MINDER

Itu sebabnya Paulus nulis surat ini kepada jemaat di Efesus: yang Yahudi Kristen kena Virus SUPERIORITAS, yang bukan Yahudi kena Virus Minderitas!! Merasa diri gak sebaik orang lain: minder. Makanya banyak orang suka lagu D’Masiv: "syukuri apa yang ada, hidup adalah anugrah, tetap jalani hidup kita, menjalani yang terbaik

Bersyukur Lakukan yang terbaik yang kita bisa!! Tuhan pasti tolong kita!! Ambil kesempatan yang diberikan Tuhan, (Pemilihan MJ baru??) – Pasti cerita di awal dengan di akhir beda. Awal: minder, gek bisa, gak mampu. Tapi di akhir: ternyata Tuhan memang ada dan menolong kita yang mau menjawab panggilan Nya itu.

Pdt. Gerry Atje: The Story Of Us

Terima kasih sudah membaca renungan atau artikel lainnya di blog ini. Akan menyenangkan sekali bila kita saling membangun dan menguatkan satu sama lain di dalam Tuhan. Untuk berlangganan artikel blog ini melalui email, sahabat bisa mendaftarkannya melalui kotak di bawah ini dan memverifikasinya melalui email. Salam hangat selalu, untukmu.

ShareThis