Keluaran 18:13-27 | Mendengarkan Nasihat

Mendengarkan Nasihat
Keluaran 18:13-27


Brasil, 19 Oktober 1992 ...
Diselenggarakanlah sebuah konferensi Bangsa-Bangsa yang mau membicarakan masalah lingkungan hidup. Semua kekuatiran dunia di bicarakan di sana: masalah ozon, masalah kelaparan, penderitaan ... semuanya.

Yang menarik adalah tampilnya seorang anak kecil berusia 12 tahun yang bernama Severn Suzuki dan berpidato di depan para pemimpin bangsa-bangsa ... orang-orang penting dunia waktu itu ... Pidatonya singkat ... hanya 8 menit ...

Saya punya videonya dan juga catatan lengkap naskah pidatonya dalam bahasa Indonesia. [Karena kedua hal ini bisa dilihat di link youtube yang akan saya tampilkan .. maka hanya videonya saja yang mau saya share .. untuk naskahnya bisa di lihat apabila sahabat melihat langsung tayangan ini di Youtube.]



Setelah dia selesai berpidato, semua orang yang hadir di ruang sidang itu berdiri dan memberikan applause kepada gadis keccil yang baru saja menasihati mereka, orang-orang dewasa itu!

Yang saya mau katakan adalah .. bayangkan seorang gadis kecil yang berjalan menuju podium ini ... dan bayangkan apa yang ada dalam pikiran para pemimpin dunia pada waktu itu ?? Gak bisa juga sih kalau bilang semua akan berpikir seperti ini, akan tetapi apakah mungkin ada yang berpikir: "Ini anak kecil mau ngomong apa dia, sok-sok an mau ngomong soal dunia ... tahu apa dia tentang masalah dunia ??!!"

Dan semua anggapan keraguan itu sirna sewaktu mereka selesai mendengarkan pidato gadis kecil ini ... Sambutan orang-prang penting dunia itu sungguh luar biasa terhadapa apa yang dipidatokan - disampaikan dan dinasihatkan oleh seorang gadis kecil berumur 12 tahun itu ...

Hari ini kita mau merenungkan tentang satu tema: Terbuka Terhadap Nasihat. Pertanyaan saya satu: Apakah memang banyak orang sudah sealergi itu ketika mendengar kata "Nasihat" ??? ... Sampai-sampai di barat ada orang yang ciptain lagu dengan tema nasihat judulnya: "Papa Don't Preach!" [Kelly Osbourne?]

Kalau mau jujur, memang ada banyak orang ya yang mungkin gak suka bertemu dengan "nasihat". Kalau yang namanya sudah tidak suka, bagaimana seseorang bisa mau terbuka terhadap nasihat??

Hari ini kita mau belajar dari sosok dan pengalaman Musa, Yitro dan Severn Suzuki dan para pemimpin dunia dalam konferensi tahun 1992 itu ...

(1) Mari kita share tentang sosok "Pemberi Nasihat" - itu berarti kita mau melihat dari sudut pandang Yitro dan Severn Suzuki.

Lucunya adalah, seringkali seseorang menjadi begitu tertutu[ terhadap nasihat, bukan karena dia tidak setuju terhadap isi nasihat itu ... Akan tetapi dia menolak untuk mendengar, kenapa? Karena CARA MENYAMPAIKAN NASIHAT itu yang tidak mengenakkan.

Saya jadi inget satu film lepas - ceritanya ada dua orang mahasiswi yang sama-sama melamar untuk menjadi asisten dosen mereka di kampus. Akhirnya dosen ini membuat sebuah perlombaan: "siapa yang bisa mengerjakan proyek bangunan gedung ini tepat waktu - kuliah jurusan arsitektur mereka - dia yang jadi asisten saya" kata dosen itu ...

Mahasiswi yang satu jadi mandor ... dan setiap hari kerjanya itu bentak-bentak anak buahnya: "Ayo kerja yang benar, kalau perlu lembur aja kalian ... awas ya kalau sampai ini kerjaan gak selesai ..."

Mahasiswi yang satunya lagi jadi mandor ... "bapak-bapak .. kita selesaikan bangunan ini tepat waktu ya ... kalau bapak-bapak cape, istirahat aja dulu ... di pojok sana ada tukang pijit kalau udah mulai pegel-pegel bolehlah ke sana dulu, ngopi-ngopi dulu ..."

Menurut bapak ibu, yang mana yang akhirnya menang dan kenapa dia bisa menang??

Ayat 18
Engkau akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini; sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau melakukannya seorang diri saja.

Mereka memiliki kemampuan untuk berempati - dalam perkataannya, nasihatnya ... Merka juga mau berusaha untuk bisa merasakan apa yang orang lain itu rasakan ... Berpikir sebelum berbicara ... jangan sampai sudah sakit hati duluan baru dah kepikiran kitanya ...

(2) dari sisi si "Penerima Nasihat"

Paling tidak, apa yang dialami oleh para pemimpin bangsa yang mendengar pidato Severn Suzuki dan Musa yang mendengar nasihatnya mertua, mau berkata kepada kita:
"Bukan perkara dari siapa, berapa umurnya ... tetapi perkara yang sebenarnya adalah masalah kebenaran yang terkandung dalam sebuah nasihat"

Karena kalau yang namanya sudah sebuah "Kebenaran" ... biar kita tolak juga hari ini pun, cepat atau lambat yang namanya kebenaran itu akan datang menghampiri kita ... Kita tidak bisa lari dari yang namanya sebuah "Kebenaran"

Musa dan para pemimpin bangsa waktu itu berhasil melawan "Rasa Besar Diri" yang bisa membuat mereka lupa bahwa ada "Kebenaran" di balik nasihat yang waktu itu sedang mereka dengar. "Memang kamu siapa? Tau apa kamu dibanding saya?"

Untunglah kisah Musa tidak berakhir seperti itu .. Happy Ending! Itu pengalaman Musa. Bagaimana dengan pengalaman kita ketika kita berjumpa dengan sebuah nasihat?? Akankah kita juga berjumpa dengan sebuah Happy Ending? Semoga.
Previous
Next Post »