I Tesalonika 4:13-18

Sang Penghibur
I Tesalonika 4:13-18


Saya pernah mendengar cerita tentang perjalanan Colombus dalam menemukan benua yang baru. Katanya, pernah terjadi ketika Colombus berlabuh di sebuah pulai kecil, beberapa anak buahnya tertinggal di pulau itu.

Setelah Colombus menyadari bahwa ada beberapa anak buahnya yang tertinggal, di carilah jalan untuk kembali ke pulau kecil itu. Tapi sayangnya, berhari-hari, berbulan-bulan tak bisa juga ternyata kapal Colombus itu menemukan jalan kembali.

Sampai akhirnya, setelah berbulan-bulan lamanya, ketemu juga tuh pulau kecil itu. Yang mengherankan adalah, ketika Colombus datang untuk menjemput anak buahnya yang tertinggal itu, ternyata para anak buahnya itu sudah bersiap-siap dan berkemas seakan tahu bahwa hari itu Colombus datang menjemput mereka yang tertinggal di pulau kecil itu.

"Lah, kok kalian udah siap-siap gini sih?? Darimana kalian tahu hari ini saya bisa ketemu kalian di pulau kecil ini??" tanya Colombus.

"Oh, tidak kapten, kami tidak tahu kapan kapten datang kembali untuk menjemput kami. Tapi setiap hari kami selalu saling mengingatkan setiap hari: woii, beres-beres semua ya, siapa tahu kapten datang hari ini"

Apa yang dirasakan oleh para anak buah yang tertinggal di pulau kecil tadi itu sebetulnya hal itu juga yang menjadi perasaan dan pengharapan mereka, jemaat di Tesalonika: Mereka menanti kedatangan bos dan mereka berharap bos cepat datang dan akan datang di hari itu.

Akan tetapi, ternyata bagi jemaat di Tesalonika, bos nya belum datang-datang. Tuhan maksudnya yang belum datang-datang.

Itu masalahnya yang pertama: mereka menanti dan ternyata belum datang-datang!

Masalah yang kedua adalah yang ada di dalam perikop kita hari ini: Dalam masa penantian yang tak tahu kapan waktunya bos itu datang, ternyata mereka juga di hadapi dengan kenyataan bahwa ada keluarga mereka yang meninggal lebih dulu.

Sudah penantian panjang tanpa tahu akhirnya kapan, sekarang di tambah lagi dengan satu hal yang tak kalah stress nya: duka!
Lengkap sudah penderitaan mereka.

Oleh sebab itulah firman Tuhan datang untuk memberikan kekuatan bagi jemaat di sana, sekaligus mengungarkan bahwa mereka harus saling menghibur: "hiburkanlah seorang akan yang lain!"

Sekarang mari kita lihat kehidupan kita di sini ...
Kalau mau bicara masalah "menanti" .... kita juga menderita karena masalah penantian itu.
menanti kerja
menanti pasangan hidup
menanti jawaban ...

Begitu juga dengan duka, kita pun menderita karena duka
kehilangan orang yang kita sayang
kehilangan pekerjaan
bahkan kehilangan hp baru juga dukanya bisa gak ilang dalam sebulan tuh

Kalau sudah begini, memang kita mau lari mencari penghiburan kepada siapa??
Orang-orang di luar sana belum tentu akan ikut berduka, ikut merasakan penderitaan yang kita alami! Ada banyak kok yang tepuk tangan dan sukacita melihat ada orang yang menderita.

Dan yang paling membuat seseorang menjadi tidak kuat adalah apabila bahkan orang-orang yang ada di dekatnya: keluarga, tetangga, jemaat ... justru melalui orang-orang yang ada di dekatnya, dia tidak merasakan di berikan penghiburan dan kekuatan saat ia sangat membutuhkan hal itu.

Saya punya satu cerita untuk nutup renungan kita hari ini:

Ada satu pemuda yang betul-betul waktu itu sedang galau, menderita:
- baru di pecat sama bos di kantornya.
- baru di putusin sama tunangannya.
- dia ribut sama orang tuanya
- dia bingung .. gak tahu harus gmana.

sampai di satu titik, pemuda ini pun mengambil kesimpulan: "Hidup gue dah gak ada gunanya lagi! Buat apa hidup kalau kayak gini ... semua orang ngetawain hidup gue sekarang ... mending g bunuh diri aja sekarang ini"

Tapi di tengah kegalauan nya itu, pemuda tadi masih ingat Tuhan, ternyata. "Tuhan, kalau Tuhan itu memang baik, dan Tuhan masih sayang dengan aku yang udah ancur ini .. tolong Tuhan kasih tanda buat ku ... Tanda dari umatmu yang masih mau tersenyum dan menyapa aku dan memberi penguatan terhadap hidupku yang hancur berantakan ini. Kalau aku ketemu dengan umat-Mu yang seperti itu Tuhan, aku gak akan bunuh diri."

Kalau pemuda itu hari ini bertemu dengan Anda,
kira-kira pemuda itu akan tetap melanjutkan niat bunuh diri nya itu atau tidak ya?

Pdt. Gerry Atje: The Story Of Us

Terima kasih sudah membaca renungan atau artikel lainnya di blog ini. Akan menyenangkan sekali bila kita saling membangun dan menguatkan satu sama lain di dalam Tuhan. Untuk berlangganan artikel blog ini melalui email, sahabat bisa mendaftarkannya melalui kotak di bawah ini dan memverifikasinya melalui email. Salam hangat selalu, untukmu.

ShareThis