Kisah Rasul 15:35-41

Selamat ber-Konflik


Pembukaan

Pada bulan Mei tahun 1884, satu keluarga berselisih untuk memberikan nama tengah dari anak mereka yang baru lahir waktu itu. Si ibu lebih memilih nama Salomon sedangkan si ayah lebih memilih nama Shipp (dua-duanya adalah nama dari kakek anak mereka itu).

Bisa kah kita bayangkan bahwa ada satu keluarga yang berselisih dan tengkar hanya karena nama tengah dari anak mereka yang baru lahir itu? Kenyataannya memang ada.  Keluarga yang berselisih itu adalah keluarga bapak Young Truman dan ibu Martha Ellen untuk menentukan nama tengah dari anak mereka yang sudah diberi nama Harry itu.

Akhirnya, untuk menyelesaikan perselisihan di antara mereka berdua waktu itu, mereka sepakat untuk hanya menyematkan huruf “S” saja sebagai inisial dari nama anak mereka: Harry S. Truman, yang kelak menjadi presiden Amerika Serikat ke 33. 

Penjelasan & Penerapan Bahan

Yang namanya perselisihan itu memang bisa datang dari mana saja akar soalnya. Dari yang paling rumit hingga yang paling sepele sekalipun kita semua bisa menjadi berselisih dan punya potensi tengkar yang sama besarnya. Menurut Kamus Bahasa Indonesia, konflik artinya:  percekcokan; perselisihan; pertentangan yang menghasilkan ketegangan antara satu dengan yang lainnya.

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini pun, Rasul Paulus pernah mengalami pertengkaran dan perselisihan dengan Barnabas karena seorang yang bernama Markus (ayat 37).

Paulus menjelaskan alasannya, bahwa: “tidak baik membawa serta orang yang telah meninggalkan mereka dan tidak mau bekerja sama dengan mereka” (ayat 38, Kisah Rasul 13:13). Perselisihan yang tidak bisa dihindari sehingga menimbulkan perpecahan: “Barnabas tetap memilih Markus, sedangkan Paulus lebih memilih Silas” (ayat 39)

Secara positif kita memang masih bisa mengatakan bahwa dengan berselisihnya Paulus dan Barnabas tentang Markus itu membuat tim Pekabar Injil menjadi dua kelompok:  Barnabas dan Markus pergi ke Siprus sedangkan Paulus dan Silas pergi ke Siria dan Kilikia (ayat 39-41). Itu artinya Pekabaran Injil menjadi menjangkau daerah-daerah yang lebih luas lagi (ketimbang jika mereka hanya satu tim saja).

Tetapi jelas pertikaian – perselisihan – pertengkaran yang tidak terselesaikan akan selalu menjadi “duri dalam daging”.

Yang patut kita syukuri adalah sejarah selanjutnya, bahwa di kemudian hari, Paulus menyatakan:
“Hanya Lukas yang tinggal dengan aku. Jemputlah Markus dan bawalah ia ke mari, karena pelayanannya penting bagiku.” (2 Timotius 4:11)

Seorang Paulus yang awalnya bersitegang dengan Barnabas tentang Markus yang disebutnya sebagai: “seorang yang telah meninggalkan tugas dan tidak mau bekerja sama” … Kini mengatakan bahwa “Markus, pelayanannya penting bagiku”.  Apa yang terjadi sebenarnya? Kita tidak pernah tahu pasti, yang jelas Markus dan Paulus kini telah berbaikan dari pertikaian masa lalunya dulu itu.

Apa yang bisa kita pelajari dari kisah perjalanan Paulus dan Markus ini?

(a) Konflik itu biasa terjadi.
Bahkan seorang Rasul Paulus pun pernah menghadapi dan ber-konflik dengan rekan sekerjanya waktu itu.

(b) Keberadaan sebuah konflik tidaklah membuat kita lupa akan tugas dan tanggung jawab pelayanan kita bersama bagi Tuhan.
Tetaplah melayani, tetaplah melakukan apa yang harus kita lakukan yang telah Tuhan percayakan bagi kita untuk berkarya.

(c) Menemukan penyelesaian terhadap konflik.
Mau sampai kapan kita terus ber-konflik? Sampai tua? Makin cepat kita menemukan cara untuk berdamai dengan konflik-konflik yang kita hadapi, bukankah itu akan menjadi lebih baik bagi kita?

Pokok Diskusi:
Apa yang bisa kita lakukan untuk bisa menyelesaikan konflik yang terjadi?

Pdt. Gerry Atje: The Story Of Us

Terima kasih sudah membaca renungan atau artikel lainnya di blog ini. Akan menyenangkan sekali bila kita saling membangun dan menguatkan satu sama lain di dalam Tuhan. Untuk berlangganan artikel blog ini melalui email, sahabat bisa mendaftarkannya melalui kotak di bawah ini dan memverifikasinya melalui email. Salam hangat selalu, untukmu.

ShareThis