Yohanes 12:1-8

Membaca Pikiran Maria


Kalau kita ada di dalam rumah itu dan kita ikut dalam jamuan makan bersama Yesus waktu itu ... kemudian kita melihat Maria datang dan meminyaki kaki Yesus dengan rambutnya menggunakan setengah liter minyak wangi seharga 12 bulan gaji kita ... Saya kira kita pun akan sempat berpikir seperti Yudas: "Sayang amat buang-buang minyak wangi mahal" (ayat 5).

Yang dilakukan oleh Maria waktu itu ... dia sudah nabng susah-susah selama, pastinya lebih dari 300 hari (1 dinar itu upah harian pekerja sehari) andai dia menyisihkan 1/4 saja upah hariannya maka Maria sudah menabung 4 tahun lamanya sehingga punya setengah kati (setara dengan setengah liter) minyak narwastu. Dan kemudian dalam hitungan menit, harta bendanya yang berharga itu hadis ... dalam sekejap.

Itu baru kalau kita mau hitung-hitungan harga -duit - harta yang "diboroskan" oleh Maria demi Yesus. Ada satu hal lagi yang bisa kita main hitung-hitungan dalam teks kita hari ini ... Masalah cara. Cara Maria menyeka kaki Yesus: dengan rambutnya sendiri (ayat 3).

Saya jarang ketemu dengan perempuan yang botak. Sangat sering ketemu dengan yang berambut panjang. Karena rambut itu mahkota - salah satu kehormatan ... Bayangkan, kepala Maria menghampiri kaki Yesus, yang pastinya kaki Yesus waktu itu gak bersih-bersih amat.

Merendahkan diri serendah-rendahnya dihadapan Yesus. 
Harga dirinya ditaruh di atas kaki, ditempat yang paling dekat dengan tanah.

Mari kita hitung-hitungan,
berapa banyak orang yang bisa menaruh harga dirinya di tepat yang paling rendah (dan itu diperlihatkan dihadapan banyak orang)? [Jadi kalau mau cari ribut itu mudah. Rendahkan saja harga diri seseorang ... pasti marah dia. "Eh, lu bukannya ngaca!" atau "Dasar suami gak guna!"]

Tetapi Maria yang satu ini benar-benar tidak kenal berhitung tentang dua hal tadi. Dia menghabiskan hartanya dalam sekejab mata dan juga dia menaruh harga dirinya di depan banyak orang waktu itu di tempat yang paling rendah ... di kaki Yesus.

Saya hari ini mau mengajak kita untuk sedikit membaca pikiran Maria. Ada dua hal yang mau kita renungkan bersama hari ini.

Yang pertama adalah ...
Ada apa dengan Maria? Kenapa dia mau dan rela melakukan itu semua hanya untuk menyeka kaki Yesus? 

Salah satu peristiwa yang disadari oleh Maria sehingga dengan rela hati melakukan itu semua demi Yesus adalah pengalaman yang luar biasa yang telah dialami Maria dengan Yesus. 

Bila kita melihat pasal 11, tepat sebelum perikop kita hari ini, maka kita bisa menyadari betul kenapa Maria rela melakukan itu semua untuk Yesus. Yohanes 11:32, Maria datang kepada Yesus dengan menangis karena Lazarus, saudaranya itu telah mati.

Pengalaman luar biasa Maria yang melihat dan menjadi saksi mata akan kuasa Yesus membangkitkan Lazarus (Yohanes 11:43-44) ... itulah yang menjadi salah satu alasan mengapa dia bisa dengan rela hati melakukan itu semua demi Yesus. "Apalah artinya minyak narwastu seharga 300 dinar yang mahal ini bila dibandingkan dengan saudaraku yang telah mati lalu dibangkitkan hidup kembali?" ... mungkin itu yang ada dalam pikiran Maria.

Kalau ditanya pengalaman iman kita dalam hidup bersama-sama dengan Tuhan, mari kita coba hitung anugerah dan berkat dari Tuhan itu yang telah, sedang dan akan diberikan Tuhan untuk kita ...

Lebih cepat mana menghitungnya bila dibandingkan ketika kita bertanya pada diri kita sendiri, "Apa yang sudah kuberikan sebagai ungkapan syukurku kepada Tuhan?"

Bukankah akan selalu ada anugerah dan berkat dari Tuhan yang sangat layak untuk kita syukuri hari ini? Semua yang telah, sedang dan akan Tuhan lakukan bagi hidup kita ... adalah rancangan damia sejahtera bukan kecelakaan. Jadi mengapa kita tidak mulai hidup bersyukur? Ada apa dengan kita?

Makanya hal yang kedua yang sangat berkaitan dengan hal yang pertama tadi adalah ... masalah kesempatan. 

Ketika Yesus datang kembali ke rumah keluarga Maria, Maria memandang hal itu sebagai kesempatannya untuk mengungkapkan rasa syukurnya kepada Yesus ... dan dia mengambil kesempatan itu dan memberikan yang terbaik yang dia miliki.

Beberapa minggu yang lalu, saya mimpin kebaktian rumah tangga di GKP Cawang ... waktu diskusi, saya sempat ngomong ke bapak tuan rumah, "Pak, bapak kan sekarang sudah pensiun ... sudah pernah melayani Tuhan (jadi komisi pelayanan atau jadi MJ?) - belum kata bapak -." Lalu saya melanjutkan, "Jika suatu hari nanti Tuhan memberi kesempatan itu, jangan ditolak ya pak .. itu kesempatan."

Kalau kita di Priok?
Tuhan memberikan kesempatan kepada kita untuk mengungkapkan syukur kita itu buaaannnyyyaakkk ... Tetapi apakah kita semua sudah meraih dan mengambil kesempatan untuk bersyukur kepada Tuhan?

Saya percaya satu hal, kita walau kecil di Priok ini, walau masih sedikit ... hanya 100 orang bila ngumpul semua .. saya percaya kita bisa mandiri. Tri Kemandirian Gereja: Mandiri Daya, Mandiri Teologi, Mandiri Dana.
Kemandirian Daya ... SDM yang baik ... kita bisa.
Kemandirian Teologi ... kita juga bisa.
Kemandirian Dana ... Sebenarnya kita juga bisa.
Bukan lagi "tadah tangan" (meminta) 
tetapi mulai belajar untuk "tumpang tangan" (hidup menjadi berkat). 

Syaratnya cuma satu:
Kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita untuk mengungkapkan rasa syukur kita kepada-nya itu ya harus diambil, diraih.
Kesempatan untuk melayani, bukan hanya sekedar ingin dilayani,
Kesempatan untuk menikmati persekutuan ibadah bersama saudara-saudari seiman,
Kesempatan untuk mengungkapkan syukur membaca persembahan untuk dikelola demi kemuliaan nama Tuhan.
Sudahkah kita meraih dan mengambil kesempatan itu?

Cinta itu bukan cinta kalau memperhitungkan harga. 
Cinta itu memberi apa yang ada dalam dirinya. 
Dan satu-satunya penyesalan adalah ia tidak punya lebih banyak lagi untuk diberikan.
William Barclay

Pdt. Gerry Atje: The Story Of Us

Terima kasih sudah membaca renungan atau artikel lainnya di blog ini. Akan menyenangkan sekali bila kita saling membangun dan menguatkan satu sama lain di dalam Tuhan. Untuk berlangganan artikel blog ini melalui email, sahabat bisa mendaftarkannya melalui kotak di bawah ini dan memverifikasinya melalui email. Salam hangat selalu, untukmu.

ShareThis