Kisah Para Rasul 11:1-18 | Menyikapi Perselisihan


Menyikapi Perselisihan



Saya suka dengan satu cerita tentang empat orang musafir buta yang sangat ingin tahu tentang “apa sih itu yang namanya gajah?” Maka datanglah mereka ke kebon binatang dan mulai lah mereka mencari yang nama nya gajah itu.

Musafir 1: Ketemu gajah, lalu meraba belalainya ...
“Oh ternyata yang namanya gajah itu kayak gini ya ... puanjang rupanya.”
Musafir 2: Ketemu gajah, lalu meraba badannya ... 
“Wah, gajah itu buesar sekali ya .. sampe gak bisa di peluk nih sama saya.”
Musafir 3: Ketemu gajah, lalu meraba kupingnya ... 
“Ah, ternyata gajah itu lebar dan pipih rupanya”
Musafir 4: Ketemu gajah, lalu meraba ekornya ... 
“Ternyata gajah tuh kecil ya ... kayak cacing raksasa aja kalau kayak gini mah”.
Lalu keempat musafir itu pun saling bertemu untuk bercerita tentang gajah ... dan hasilnya ... mereka mulai bertengkar.

Ya itulah yang memang seringkali terjadi di satu rumah besar bernama dunia ini. Kita gak tahu tentang segalanya, baru tahu sebagian saja sudah gontok-gontokan. Padahal dari antara 4 orang musafir itu, siapa yang benar siapa yang salah? Semua benar, gak ada yang salah. Merekanya aja yang saling mempersalahkan satu sama lain.
Berselisih dengan orang-orang yang ada di sekitar kita, siapa yang tidak pernah mengalami hal itu? Kita pernah mengalaminya. Rasul Petrus pun dahulu pernah mengalami apa yang namanya breselisih itu.

Ayat 2:
“Ketika Petrus tiba di Yerusalem, orang-orang dari golongan yang bersunat berselisih pendapat dengan dia.“

Yang menarik adalah bagaimana cara Rasul Paulus menghadapi perselisihan pendapat yang waktu itu terjadi. Mari kita lihat apa yang dilakukan oleh Rasul Petrus:

1. Ayat 4. Menjelaskan duduk perkaranya
Kalau ada kesempatan untuk saling klarifikasi, kenapa tidak di ambil? Katanya kan setiap cerita itu selalu ada tiga versi: versi saya, versi dia dan versi sebenarnya. Untuk bisa tahu “versi sebenarnya” itulah kita perlu duduk bersama untuk saling menjelaskan.
2. Ayat 17. Saya gak tahu apa namanya ini ... tapi jelas ini sangat penting: “Jadi jika Allah memberikan karunia-Nya kepada mereka sama seperti kepada kita pada waktu kita mulai percaya kepada Yesus Kristus, bagaimanakah mungkin aku mencegah Dia?"

Apa namanya itu? Katakanlah “membuat satu kesimpulan awal untuk dipikirkan bersama”. Petrus mikir pada waktu ia melihat penyataan Allah dalam ayat 5-16. Dan setelah Petrus menjelaskan duduk perkaranya iu, mereka (orang dari golongan bersunat) pun akhirnya jadi ikutan mikir.

Hasilnya...
3. Ayat 18 “ ... mereka menjadi tenang ...”
Apa sih yang kita cari sewaktu kita ketemu dengan yang namanya perselisihan itu? 
- Kita mau cari sakit hati terus? Bisa.
- Kita mau cari siapa yang paling bonyok di antara kita? Bisa
- Kita mau cari ngemut akar pahit terus? Itu pun jelas bisa kita lakukan.

Akan tetapi, semoga ketika kita berada dalam situasi berselisih ... yang menjadi tujuan utama kita adalah: supaya kita sama-sama pada akhirnya menjadi tenang.

Previous
Next Post »