Yohanes 1:19-28

Rendah Hati
Yohanes 1:19-28, 3:27-30

Tema kita hari ini sulit. 
Tentang rendah hati.
Siapa orang di dunia ini yang bisa mengatakan bahwa dirinya itu adalah seorang yang rendah hati?

Saya suka waktu dulu pernah baca ada seseorang yang menuliskan: "Rendah hati: Ketika seseorang merasa dia sudah mendapatkannya, justru dia kehilangan".
Kalau ada seseorang yang sudah berkata: "Eh, saya ini orangnya rendah hati lho" - kemungkinan besar dia bohong (mana ada orang yang rendah hati pengumuman ke mana-mana?).

Saya suka sewaktu pengurus remaja memilih bahan Yohanes 1:19-28, 3:27-30 ini dan kemudian memberi tema: Rendah Hati. Mengapa? Karena di sepanjang teks kita yang kita baca ini, tak akan pernah kita temukan kata rendah hati di sana. Benarkan ya. Gak ada kan kata "rendah hati" dalam teks kita hari ini.
Buat saya ini menjadi point penting bagi kita semua sewaktu kita mau berbicara tentang "rendah hati". Ketika kita sedang berbicara tentang "rendah hati", kita tidak sedang berbicara tentang "mulut yang berkata", melainkan "diri yang bersikap dalam sebuah tindakan".

Dalam Alkitab sendiri, ada beberapa ayat yang secara langsung menyebut kata "rendah hati" itu. Salah satunya ada dalam Efesus 4:2, "Hendaklah kamu selalu rendah hati ..."

Kata yang digunakan dalam Efesus 4:2 tentang kata "rendah hati" itu adalah tapeinophrosune, yang berasal dari kata tapeinos. Saya tertarik dengan arti kata tapeinos secara harafiahnya. Disebutkan begini:
(1) Tidak naik terlalu tinggi atau terlalu jauh dari tanah.
(2) Sesuai dengan keadaannya.

Dalam Kamus Bahasa Indonesia, definisinya lebih langsung menggambarkan. Rendah hati: tidak sombong, tidak angkuh.

Sekarang mari kita lihat mengapa kita tahu bahwa Yohanes dalam teks Alkitab kita hari ini bisa dikatakan sebagai seorang yang rendah hati.

Ayat 25
Mereka bertanya kepadanya, katanya: "Mengapakah engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?"

Sebenarnya, Yohanes bisa saja mengaku-ngaku waktu itu: "Oh, benar! Sayalah orangnya". Dan semua orang mungkin akan percaya. Akan tetapi, disinilah letak kerendah-hatian diri Yohanes. Dalam perikop kita selanjutnya Yohanes menegaskan siapa dirinya yang sesungguhnya.

Ayat 28: aku bukan Mesias
Ayat 30: Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil

Itu dia. Tapeinos.

Not Rising Far From The Ground - Tidak naik terlalu tinggi atau terlalu jauh dari tanah!

Tahu siapa dirinya yang sesungguhnya. 

Bukan dia yang layak mendapatkan pujian, hormat dan kemuliaan, melainkan Yesus.

Dalam hidup keseharian kita, bukankah kita seringkali diperhadapkan dengan situasi yang mirip dengan apa yang dialami oleh Yohanes ketika ia bisa 'merebut' hormat, kemuliaan dan pujian itu menjadi miliknya (padahal bukan miliknya).

Mari kita cari contoh yang sederhana saja. Saat-saat kita mulai serasa terbang tinggi karena pujian yang dilemparkan oleh orang lain:

"jago amat sih main musiknya ..."
" kamu tuh lucu, imut, ngegemesin banget ya ..."
"Wow, kamu pinter banget bisa dapat IPK gede kayak gitu ..."

Saat kamu sedang dipuji dan serasa terbang tinggi ... 

Di situlah ujian sebenarnya untuk melihat apakah kita memang adalah seorang yang rendah hati atau bukan ...

Yohanes menjawabnya dengan berkata: 

"Ia harus makin besar, aku harus makin kecil"
Apa jawaban kita?

Pdt. Gerry Atje: The Story Of Us

Terima kasih sudah membaca renungan atau artikel lainnya di blog ini. Akan menyenangkan sekali bila kita saling membangun dan menguatkan satu sama lain di dalam Tuhan. Untuk berlangganan artikel blog ini melalui email, sahabat bisa mendaftarkannya melalui kotak di bawah ini dan memverifikasinya melalui email. Salam hangat selalu, untukmu.

ShareThis