Efesus 6:1-4

Memaafkan Orangtua 


Waktu saya dikasih tahu sama komisi remaja untuk membahas tema itu, langsung kepikiran: “Emangnya orangtua kita punya salah apa ya?” (Buanyakkk! Hehehehe ... bercanda). 

Orangtua kita sebenarnya jarang berbuat salah kepada kita, anak-anaknya (kalau gak boleh dibilang gak pernah salah). Itu bener. Jarang memang berbuat salah, yang sering adalah ... mereka menjengkelkan. Coba aja kalau kita udah bisa buat respon, “masak gitu aja gak boleh?!” ... Itulah satu contoh dari antara banyak contoh saat dimana mereka kita anggap menjengkelkan. 

Sean Covey dalam bukunya “The Most Important 6 Decisions You’ll Ever Make” menyebutkan ada lima hal yang paling ‘njengkelin dari orangtua kita. 
1. Selalu membanding-bandingkan aku dengan ... (Kamar kamu kayak kapal pecah! Contoh itu adekmu yang rapih!) 
2. Mereka gak pernah puas (Aku: Pah, dapat 6 ulangan Matematika kemarin. Papa: Belajar lagi yang giat, biar nilainya bagus. Aku: Dapet nilai 6, ini juga udah setengah mati pah belajarnya.) 
3. Mereka terlalu ... protektif. (Kamu dimana? Sama siapa aja? Pulang cepet! – hampir mirip kayak lagunya Kangen band yang dulu itu) 
4. Mereka ... memalukan. Hayo ngaku ... siapa kalau yang diajak jalan ke mall atau ke mana aja deh sama orangtuanya ... pasti jalannya itu dibelakang mereka atau duluan. Pokoknya seakan-akan kita gak mau orang lain sadar bahwa mereka itu adalah orang tua kita ... ‘cung tangannya. 
5. Mereka selalu bertengkar. Menyebalkan bukan? Diluar rumah, kita udah stress sama kerjaan, sekolah, atau bahkan dengan teman-teman. Di dalam rumah bukannya ilang stress nya, malah nambah. 
Jika begitu adanya, maka akan tampak berat bagi kita untuk setuju dengan apa yang dikatakan oleh firman Tuhan dalam perikop yang kita baca tadi. 

Tugas kita: “ ... taatilah ... hormatilah ... supaya ...” 
Tugas orangtua kita: “ ... didiklah ...” 

Persinggungan antara keinginan untuk mentaati dari kita yang tak dibarengi dengan situasi-kondisi yang sering tampak tak mendukung, karena didikan yang diberikan oleh orangtua kita. Biasanya selalu itu yang berbenturan sehingga masalahnya muncul. 

Mari kita cek, seberapa bagus sih hubungan kita dengan orangtua kita hari ini?
Kembali, Sean Covey punya alat ukurnya: (nanti saya scan dulu ya lembaran tolak ukurnya)


Jumlahkan total angka yang kamu kasih di sana. 
Sudah? Ini dia nilai hubungan kamu dengan orangtuamu. 
40-50 Wow, kamu anak yang sangat mengerti dan memahami orangtuamu! 
30-39 Hmmm ... lumayanlah. Kadang nurut, kadang bandel. Hahaha. 
10-29 Mau sampe kapan ribut terus sama orangtua kamu? 
Jadi apa artinya kalau begitu, tema kita hari ini? Memaafkan orangtua berarti kita berusaha untuk memahami apa yang dilakukan oleh orangtua kita dan berusaha mengerti bahwa yang mereka lakukan itu semua adalah semata-mata untuk kebaikan kita juga. 

Ada beberapa hal yang selalu dapat kita gunakan sebagai pertimbangan, sewaktu mungkin ... kita hari ini sedang berantem besar dengan orangtua kita ... 

1. Sampai hari ini, coba hitung berapa banyaknya mantan pacar kamu. Bisa? Bisa. Menghitung mereka yang dulunya teman, tetapi sekarang seperti menjadi ‘mantan teman’? Bisa. Ada mantan pacar, mantan teman .. tetapi gak akan pernah ada yang namanya mantan bapak atau mantan ibu. Sampai akhir jaman yang namanya bapak kita ya itu orangnya, yang namanya ibu kita ya itu juga orangnya. 

2. Coba lihat perbandingan umur kamu sama umur orangtua kamu. Berapa banding berapa? 1:2? 1:3? Tak bisa dipungkiri bahwa orangtua kita akan selalu telah berjalan lebih dulu di jalan-jalan yang telah kita alami hari ini. Mereka tahu apa artinya gagal, mereka tahu apa artinya sakit, mereka tahu ... jauh lebih banyak dibandingkan dengan apa yang kita tahu hari ini. 

3. Sejelek-jeleknya orangtua kita di mata kita, gak akan pernah ada orangtua di dunia ini yang mau anaknya itu menjadi “jauh lebih buruk” daripada apa yang ada dalam hidup mereka hari ini. Ada satu teman remaja yang pernah cerita tentang omongan bapaknya: “Dek, papamu ini cuma lulusan D1, kamu harus jadi S1”. 

Satu hal yang gak akan pernah saya lupakan sewaktu saya silang pendapat sama orangtua saya adalah karena mama selalu bilang begini: “Ger, nanti kalau kamu udah punya anak, baru kamu ngerti ...” 

Pdt. Gerry Atje: The Story Of Us

Terima kasih sudah membaca renungan atau artikel lainnya di blog ini. Akan menyenangkan sekali bila kita saling membangun dan menguatkan satu sama lain di dalam Tuhan. Untuk berlangganan artikel blog ini melalui email, sahabat bisa mendaftarkannya melalui kotak di bawah ini dan memverifikasinya melalui email. Salam hangat selalu, untukmu.

ShareThis