Kejadian 15:1-6 | Percaya pada Janji-Mu

Percaya pada Janji-Mu
Kejadian 15:1-6 



Pada tanggal 7 Desember 1998 dibagian utara Armenia, suatu gempa dengan kekuatan 6,9 skala richter menghancurkan sebuah gedung sekolah diantara bangunan-bangunan lainnya. Di tengah keramaian dan suasana panik, seorang bapak berlari menuju ke sekolah tersebut, di mana anaknya menuntut ilmu setiap harinya. Sambil berlari, ia terus teringat pada kata-kata yang sering ia ucapkan kepada anaknya itu, “Anakku, apapun yang terjadi, papa akan selalu bersamamu!”

Sesampainya di tempat di mana sekolah itu dulunya berdiri, yang ia dapati hanyalah sebuah bukit tumpukan batu, kayu dan semen sisa dari gedung yang hancur total! Pertama-tama ia hanya berdiri saja di sana sambil menahan tangis. Namun kemudian, tiba-tiba ia pergi ke bagian sekolah yang ia yakini adalah tempat ruang kelas anaknya. Dengan menggunakan tangannya sendiri ia mulai menggali dan mengangkat batu-batu yang bertumpuk disana.
Ada seseorang yang sempat menegurnya, “ Pak, itu tak ada gunanya lagi. Mereka semua pasti sudah mati.” Bapak itu menjawab, “Kamu bias berdiri saja disana atau kamu bisa membantu mengangkat batu-batu ini!”Maka orang itu dan beberapa orang lain ikut menolong, namun setelah beberapa jam mereka capek dan menyerah.


Sebaliknya, si bapak tidak bias berhenti memikirkan anaknya, maka ia menggali terus. Dua jam telah berlalu, lalu lima jam, sepuluh jam, tigabelas jam, delapanbelas jam. Lalu tiba-tiba ia mendengar suatu suara dari bawah papan yang rubuh. Dia mengangkat sebagian dari papan itu, dan berteriak, “Armando!”,dan dari kegelapan dibawah itu terdengarlah suara kecil, “Papa!”.

Kemudian terdengarlah suara-suara yang lain sementara anak-anak yang selamat itu ikut bertieriak! Semua orang yang ada disekitar reruntuhan itu, kebanyakan para orang tua dari murid-murid itu, kaget dan bersyukur saat menyaksikan dan mendengar teriakan mereka. Mereka menemukan 14 anak yang masih hidup itu!

Pada saat Armando sudah selamat, dia membantu untuk menggali dan mengangkat batu-batu sampai teman-temannya sudah diselamatkan semua. Semua orang mendengarnya ketika ia berkata kepada teman-temannya itu, “Lihat, aku sudah bilangkan, bahwa papa ku pasti akan datang untuk menyelamatkan kita!”

*** 

Mari kita jujur akan satu hal, bahwa kisah yang kita baca di atas itu yang adalah sebuah kisah nyata, memang benar pernah terjadi, tetapi tidak semua peristiwa gempa bumi yang dialami oleh banyak orang di dunia ini berakhir “bahagia” seperti itu.

Akhir-akhir ini saya memperhatikan tayangan film indonesia, FTV kayaknya, yang ditayangkan di SCTV sekitar jam 11 malam hingga jam 2 pagi ... dua film lepas tayang selalu. Dan semuanya selalu berakhir bahagia. Cerita tentang seorang supir yang jatuh cinta kepada anak majikannya, dan ternyata supir itu adalah seorang anak orang kaya yang sedang menyamar ... happy ending! Cerita tentang anak muda yang jatuh hati kepada seorang penjuang sayur di pasar. Ternyata penjual sayur itu adalah mahasiswi dengan predikat anak beasiswa (artinya dia pinter) ... happy ending!

Seseorang pernah menulis dengan nada sinis dan pesimis: “Kebahagiaan itu seperti seekor kupu-kupu. Selalu terlihat hinggap di orang lain, tetapi tak pernah hinggap di hidupku”. Dengan kata lain, dia sedang mengatakan bahwa ‘happy ending itu buat orang lain aja, buat saya ... yang selalu terjadi adalah sad ending mungkin’.

Abraham dalam teks Alkitab kita hari ini, rasanya memang sudah sepesimis itu memandang masa depan keluarganya. Baca ayat 2-3:
Abram menjawab: "Ya Tuhan ALLAH, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu." Lagi kata Abram: "Engkau tidak memberikan kepadaku keturunan, sehingga seorang hambaku nanti menjadi ahli warisku."

Apakah menurut bapak dan ibu, Abraham akan dengan segera beralih dari ucapan Tuhan dalam ayat 4 dan 5, menuju pada keterangan yang kita baca dalam ayat 6: 
lalu percayalah Abram ...” ? 

Pada akhirnya mempercayai selalu apa yang dikatakan oleh Tuhan, itulah yang dilakukan oleh Abram dalam teks kita hari ini. Tetapi akan selalu ada proses dari “kepala yang tertunduk meragu, menjadi kepala yang menatap ke arah bintang-bintang di langit ... dan percaya”. 

Yang menarik adalah apa yang dinyatakan oleh Tuhan setelah melihat keputusan Abram ditengah keraguan – pesimismenya tentang masa depan hidupnya hari itu dan akhirnya memilih untuk mempercayai Tuhan. “ ... maka Tuhan memandang hal itu kepadanya sebagai kebenaran” (ayat 6b).

Kebenaran bagi seorang Abram dalam teks kita hari ini adalah dirinya dan istrinya sudah tidak muda lagi dan mereka belum dikaruniai pewaris keturunan dari darah daging mereka sendiri. 
Kebenaran bagi Abram adalah jika hal itu terus berlanjut hingga ujung usia mereka berdua, maka Eliezer, abdinya yang berasal dari Damsyik, dialah yang akan menjadi pewaris bagi Abram. 

Sedangkan apa yang diucapkan oleh Tuhan, dalam ayat 4-5, meskipun itu adalah kebenaran yang dinyatakan oleh Tuhan ... sekali lagi, hari itu, apa yang dinyatakan Tuhan kepada Abram belumlah dirasakan oleh keluarga Abram sebagai sebuah kebenaran yang nyata. Masih berupa janji dari Tuhan.

Maka ayat 6 menjadi sedemikian penting karena di situlah pertemuan antara kebenaran versi Abram yang teramat nyata di hari itu (mereka hari ini belum punya keturunan) dengan kebenaran versi Tuhan, yang hari itu masih berupa sesuatu yang belum nyata (mereka nanti akan memiliki keturunan).

Bagaimana kita menyikapi semua kenyataan hidup kita hari ini berdasarkan apa yang dijanjikan oleh Tuhan, itulah yang akan “dilihat” oleh Tuhan sebagai kebenaran untuk mewujudnyatakan kebenaran janji-Nya terhadap hidup kita. Apakah kita akan terus maju, atau cukup berhenti sampai di sini?

Ada sebuah jurang antara kebenaran kita hari ini (ayat 2-3) dengan kebenaran janji Tuhan bagi kita (ayat 4-5). Dan sikap kita, sebagaimana sikap Abram yang telah ditunjukkan kepada Tuhan (ayat 6) ... Itulah saat dimana dia sedang membangun jembatan baginya untuk terus berjalan menggapai kebenaran janji Tuhan bagi hidupnya. 

Kita hari ini bukan hanya perlu, tetapi harus membangun sikap kita yang benar dalam menghadapi semua kenyataan hidup kita hari ini. Sebab itulah bahan-bahan kita untuk membangun jembatan yang akan membuat kita sampai pada penggenapan janji Tuhan dalam hidup kita.

Lihatlah bagaimana kita bersikap dengan kenyataan kita hari ini. Dalam keluarga, jemaat, atau bahkan masa depan hidup kita semua hari ini. Apakah Tuhan akan memperhitungkan juga semua sikap kita dalam menghadapi semua kenyataan pahit yang kita alami dalam hidup kita hari ini sebagai sebuah kebenaran?

Kebenaran Tuhan adalah Tuhan akan terus menyertai dan menggenapi janji-janji-Nya bagi kita. Apa yang Tuhan janjikan bagi hidup kita? Bukan malapetaka, melainkan rancangan damai sejahtera bagi masa depan hidup kita.

Apa yang kita pandang hari ini sebagai “malapetaka” bagi kita, dengan sikap yang benar, maka kita akan bisa berjumpa dengan indahnya penggenapan janji Tuhan di dalam hidup kita.



Tuhan, aku masih jomblo! (ini malapetaka, sebab aku sudah 30 tahun, Tuhan!)
Tuhan, pembangunan pastori masih belum juga berlanjut ... belum selesai! (ini bisa disebut “malapetaka”? Mungkin. Sebab kita kan maunya cepat selesai.) 
Tuhan, ayahku pergi meninggalkan keluarga kami! (ini malapetaka!) 
Tuhan, hingga hari ini kami masih belum dikaruniai keturunan (kata orang, ini malapetaka). 

Sikap yang kita ambil dan pilih sebagai jalan kita selanjutnya dalam menghadapi , akan sangat menentukan perjumpaan kita dengan janji Tuhan bagi hidup kita.


Satu klip untuk kita renungkan bersama:



Percayalah ...
Previous
Next Post »