Mazmur 146:1-10 | Kemampuan untuk Menenangkan Diri


Kemampuan untuk Menenangkan Diri


Pembukaan 

Pagi hari di sebuah taman kompleks perumahan, seorang ayah terlihat sedang berbicara kepada anaknya yang masih bayi itu “ ... Tenang sekarang, John ... Semuanya baik-baik saja ... Relaks saja ... Semuanya akan baik-baik saja ...” 

Seorang ibu yang melihat sikap si ayah ini kemudian berkata, “Wow, sebagai seorang ayah, Anda sangat mengerti bagaimana berbicara dan menenangkan anak Anda yang masih bayi dan sedang menangis ini!” Kemudian si ibu ini mengulurkan tangannya untuk menggendong si bayi, “Kamu kenapa menangis terus adik John yang manis?” Sahut ibu itu ikut menenangkan juga ... 

Kemudian sang ayah kemudian berkata, “Ibu, dia bukan John, saya yang namanya John. Anak saya namanya Michael!” 

(Ternyata yang sedang ditenangkan dirinya itu oleh si ayah, ya dirinya sendiri dalam menghadapi anaknya yang nangis terus waktu itu ... hahahahha

Penjelasan dan Penerapan Bahan 

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, sang Pemazmur memulainya dengan suatu pernyataan iman yang sangat indah, ... ayat 2 ... . “Selagi aku ada ... aku hendak memuji, memuliakan dan bermazmur ... bagi Tuhan”. 

Sayangnya, kita secara manusiawi memang agak mudah melupakan bagaimana peran Allah dalam kehidupan kita. Mengapa? Ya, sederhananya karena memang lebih mudah melihat bagaimana peran orang-orang disekitar kita yang kita anggap “lebih” dalam menolong kita, dibandingkan menyadari bahwa Allah punya peran dalam menolong hidup kita lebih dari siapapun orang di dunia ini. Kita menjadi tenang, ketika kita pikir, ‘dekingan’ kita itu orang ‘bagus’ ... Ketika kita merasa tidak didukung oleh orang yang ada di sekitar kita, maka biasanya di situlah sumber ketidaktenangan kita.

Sayangnya, sekali lagi, itu semua salah! 
Pemazmur menyebut “ ... para bangsawan, anak manusia ... (yang dianggap) dapat memberikan keselamatan ... tetapi ternyata tidak!” (ayat 2). Kenapa? Karena keberadaan mereka semua dalam hidup kita itu benar-benar cuma sementara. Entah karena memang hidup kita semua punya jangka waktu terbatas, seperti kata pemazmur, atau bisa jadi karena “yang dahulunya kita merasa didukung, tetapi sekarang perasaan itu sudah lenyap sama sekali”. 

Yang paling bener, seharusnya bukan hanya menurut pemazmur dalam ayat 3-4 (tetapi menurut kita juga hari ini), adalah ... Sumber kebahagian dan ketenangan kita itu hanyalah Tuhan.

Simaklah kemalangan yang menimpa orang-orang yang disebut oleh pemazmur dalam perikop yang kita baca hari ini:
Ayat 7: orang-orang yang diperas, orang-orang lapar, orang-orang yang terkurung. Ayat 8: orang-orang buta, orang-orang yang tertunduk. Ayat 9: orang-orang asing, anak yatim dan janda. 

Pernahkah bapak dan ibu mencoba merasakan apa jadinya bila kita ada di posisi mereka? Tanyalah pada diri kita jika berada dalam posisi mereka: “Mau lari ke mana kita untuk menemukan ketenangan dan kedamaian dalam hidup kita?” Kepada manusia yang kita anggap “lebih baik” di banding hidup kita hari ini? Mungkin mereka memang bisa menolong ... sementara waktu. Sebab bukankah setiap kita memiliki kesusahan masing-masing? 

Kita semua tidak bisa menggantungkan kehidupan kita di atas kehidupan orang lain. Kita harus mandiri dan berdaya. Dan untuk mencapai impian itu, satu hal yang paling mendasar untuk kita lakukan adalah ... menenangkan diri dan mendamaikan diri dari semua kegalauan yang berkecamuk dalam hati dan pikiran kita hari ini. 

Ayat 6 dan ayat 10 menjadi kunci bagi kita untuk menemukan ketenangan dan kedamaian dalam diri kita. 

Dia yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya; yang tetap setia untuk selama-lamanya, ... TUHAN itu Raja untuk selama-lamanya, Allahmu, ya Sion, turun-temurun! Haleluya!

Jika Allah yang setia itu sanggup mengatur seluruh isi dunia ini: langit dan bumi, laut dan segala isinya ... Dan Dia adalah Raja yang Mahakuasa dalam hidup kita ini ... masakan Raja Mahabesar itu tak sanggup mengatur hidup kita yang hanya secuil ini di tengah kebesaran alam semesta, yang rumit ini, yang telah Dia ciptakan? 

Ketika ketidaktenangan melanda ... Allah sanggup meredakan kerumitan badai dunia. Sang Raja yang sanggup meredakan kekacauan di tengah alam semesta ini sehingga menemukan keharmonisan kembali ... Mengapa kita tidak mencoba untuk menjadikan Tuhan sebagai Raja di hati kita sekarang? 

Pokok Diskusi 
1. Apa yang akan bapak dan ibu lakukan ketika ketidaktenangan melanda hidup kita? 
2. Apakah cara itu berhasil? Jelaskan.
Previous
Next Post »