Lukas 1:5-25; 1:26-38 | Kokoh


Kokoh 
Lukas 1:5-25; 1:26-38 

Membaca perikop kita hari ini, saya heran dengan keluarga Zakharia dan Elisabeth dan satu lagi dengan calon keluarga Maria dan Yusuf, calon suaminya. Bagaimana tidak heran ... apa yang membuat mereka kokoh – bertahan sebagai keluarga pada akhirnya sedangkan jalan yang mereka tempuh itu sama sekali tidak mudah? Maksud saya, apa yang telah mereka bangun bersama selama ini dalam menata masa depan mereka itu bisa runtuh seketika itu juga. 

Dua keluarga dengan persoalan dan pergumulan yang berat.
Keluarga Zakharia dan Elisabeth,

Ayat 7: Tetapi mereka tidak mempunyai anak, sebab Elisabet mandul dan keduanya telah lanjut umurnya.
Keluarga Maria dan Yusuf,
Ayat 34: Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?"

Yang satu bertemu dengan pergumulan berat disepanjang perjalanan hidup berkeluarga mereka, sedangkan yang satunya lagi bertemu dengan persoalan hebat di awal mereka mau berjalan bersama sebagai keluarga. Dan itu ibarat bom waktu yang siap meruntuhkan kapan saja. Dan mereka kokoh menghadapi itu semua ... hebat sekali! 

Ada banyak orang di luar sana yang tak sanggup berdiri kokoh seperti apa yang kita lihat dalam kisah dua keluarga di teks Alkitab kita hari ini ... gak usah bertemu dengan hal-hal yang berat bahkan ... hal-hal yang sepele pun mampu meruntuhkan apa yang sudah mereka bangun selama ini. Bener kan? 

Saya jadi ingat cerita tentang sebuah keluarga ... suatu malam suami minta tolong kepada istrinya untuk motong celana yang mau dipakainya untuk kerja besok pagi karena kepanjangan 15 cm, “Mak, tolong potongin ni celana napa, kepanjangan 15 cm nih ...”. Kemudian istrinya nyahut, “Minta tolong Oma ajalah, lagi nanggung nonton sinetron nih!” ... Suaminya pun datang ke ibu mertuanya, “Oma, tolong potongin celana ku dong, kepanjangan 15 cm nih ...”. Oma, “Oma capek sekarang, besok siang ajalah ...”. Suami, “Lah, gimana besok siang? Wong besok pagi dah mau dipake”. 

Karena kesel, akhirnya si suami itu pun milih langsung tidur aja, bodo dah besok celana mau digulung ... digulung dah. Tengah malam, istri bangun, “Kasian amat nih laki gue, celana kepanjangan ... potong 15 cm ...” Menjelang subuh, giliran oma yang bangun ... “Kasian amat ini anak mantu saya, celana kepanjangan. Potong 15 cm.” Pagi harinya pas si suami bangun dan mau berangkat kerja ... “Ini celana kenapa jadi ngatung?!?” 

Bisa jagi ribut itu kan ya? 

Hal-hal yang sederhana yang bisa membuat tidak kokoh lagi ... Ambil contoh lain, masak sayur keasinan ... masakan tiap hari itu lagi-itu lagi, bosen ... de el el ... wah, apa yang kokoh ternyata bisa runtuh karena hal-hal yang sebenarnya sederhana sekali. 

Bersyukurlah kita hari ini langsung ketemu dengan dua contoh persoalan yang dihadapi oleh keluarga, dan itu langsung persoalan yang berat dan mereka bisa kokoh. Apa rahasianya? Itu yang mau kita cari bersama hari ini. Menurut bapak dan ibu? 

1. Komunikasi. 

Komunikasi yang buruk itu sumbunya, tinggal tunggu pemercik apinya saja maka meledaklah semuanya dan hancur. Jadi apa yang dikomunikasikan oleh Zakharia dan Elisabeth dan juga Maria dan Yusuf sewaktu mereka berhadapan dengan ‘bom waktu’ yang siap meruntuhkah kebersamaan hidup keluarga mereka? Tiap-tiap hari sejak pergumulan itu diketahui oleh mereka, apa yang mereka bicarakan? Bagaimana mereka menggunakan mulut mereka untuk saling bicara satu dengan yang lain? 

Mau dibikin tetap kokoh, bisa. 
Mau dibikin langsung hancur seketika itu juga, bisa juga tuh. 

Kita mau menggunakan mulut kita hari ini untuk mengokohkan atau untuk menghancurkan? 

2. Bohong kalau satu kehidupan bersama bisa terbangun dengan kokoh tanpa adanya rasa saling percaya. 

Curiga aja tiap hari. Cari siapa yang salah aja tiap hari. Gimana bisa kokoh? 

Kebayang gak dengan Elisabeth yang curiga, “Kita begini itu karena kamu!”. Begitu juga dengan Zakharia, “Bukan aku, tapi kamu!” ... Atau membayangkan Yusuf yang curiga kepada calon istrinya, Maria, “Jujur aja deh, siapa orangnya?!” 

Apakah menurut bapak dan ibu, itulah yang menjadi keseharian mereka dalam berbicara satu dengan lainnya setiap hari untuk membangun hidup keluarga mereka waktu itu? Tidak! Sebab kalau itu yang terjadi, hancurlah sudah semuanya. 

Khusus untuk keluarga Zakharia dan Elisabeth, kok ya saya bisa sampai pada pemikiran bahwa bahkan tanpa kedatangan Gabriel untuk membawa kabar baik tentang apa yang menjadi penantian mereka itu pun ... tanpa kabar berita itu pun (akan hadirnya seorang anak maksudnya), saya kira keluarga mereka akan tetap selalu kokoh berdiri. Mereka sudah melakukannya sejak awal hingga sampai usia mereka lanjut bukan? 

Jadi apa artinya saling percaya dalam hal ini? 
Yang paling sederhana, apa yang dilakukan oleh Zakharia – Elisabeth dan Yusuf – Maria ketika mereka kokoh dengan rasa saling percaya ... itu berarti mereka memilih untuk mengedepankan hati dan pikiran yang baik dan positif tentang segala hal yang terjadi dalam hidup mereka waktu itu: tentang dia yang ada di samping mereka, tentang rencana Tuhan untuk hidup masa depan mereka, tentang masa depan hidup mereka berdua. 

Boleh nanya? 
Seberapa kokoh kehidupan bersama yang kita jalani di rumah, di jemaat atau di mana pun kita ada hari ini yang telah kita bangun sejauh ini? 

Jadilah pribadi-pribadi yang mengokohkan hubungan.
Previous
Next Post »