Lukas 17:11-19 | Lupa



Lupa 
Lukas 17:11-19 

Kisah yang kita baca hari ini sangat populer. Kita pasti tahu jalan ceritanya walau mungkin kita gak baca lagi teks Alkitabnya tentang ke-10 orang kusta ini. 

Saya tertarik dengan ayat 17, 
"Lalu Yesus berkata: "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu?"

Membayangkan 9 mantan orang kusta itu pada ke mana semuanya ya? Kok kuma satu orang yang kembali ke Yesus untuk bilang terima kasih? Mari kita bayangkan: 
1. Aduh, sorry deh … saya butuh cepet-cepet pulang ketemu dengan keluarga saya. Dah kangen berat nih. 2. Karena saya sakit kusta nih, pacar saya ninggalin saya. Sekarang, saya mau ketemu pacar saya lagi.
3. Dulu sebelum sakit kusta, saya ini olahragawan. Saya sekarang mau ke tempat fitness lagi.4. Cita-cita saya itu mau ikutan lomba masak di tipi. Karena sakit makanya gak jadi. Sekarang, saya mau cepat-sepat daftar ah ...
5. .... (apalagi ya alasannya, sampai bingung juga mencari kemungkinan-kemungkinan alasan 9 orang kusta itu) ...
Saya mau mengajak kita untuk merenungkan dua hal tentang perikop kita sekarang ini. 

Pertama, terkait dengan sikap ke 9 orang kusta tadi: 
”Berkat diminta – Berkat dikirim – Sumber berkat dilupakan, lupa bersyukur puji Tuhan."

Sekali lagi saya tertarik akan satu ayat, yaitu dengan ucapan 10 orang kusta dalam ayat 13,
" ... Yesus, Guru, kasihanilah kami!"

Mereka hanya berteriak sangat sedikit kata dalam menggambarkan penderitaan mereka yang teramat besar itu. 

Sakit kusta: 
- Penderitaan fisik: sakit, anggota tubuh bisa lepas sendiri. 
- Penderitaan batin: dikucilkan, dianggap gak guna, dianggap masyarakat kelas buangan. 

Dan mereka hanya berteriak ”Yesus, Guru, kasihanilah kami!” ???
Seperti kehabisan kata-kata lagi untuk mengungkapkan apa yang mereka telah alami dan derita selama itu. 

Berkat diminta – berkat dikirim. 

Sewaktu saya baca ayat 13-14 tadi, saya jadi kepikiran ... hanya dengan sedikit kata atau hanya dengan air mata saja mungkin (hari ini), Tuhan tahu persis apa yang jadi beban-beban kita, berat-beratnya hidup kita dan penderitaan kita. 

Peristiwa yang menyakitkan akan selamanya jadi penyakit jika kita tidak berusaha untuk melupakannya. Kata anak muda mah, kudu move on and let it go. Dan akan jadi tambah sengsara kalau kita terus mengingat detailnya. Itu ibarat luka yang terus digaruk, bukannya sembuh. Tapi malah jadi terus-terusan sakit. 

Tirulah 10 orang kusta ini: 
Ketika penderitaan datang menghantui kehidupan kita, cari dan temukan Tuhan, lalu bicaralah kepada-Nya. Dia sangat mengerti beban-beban kita, walau kita gak bisa bicara banyak tentang kepedihan kita (karena saking sakitnya kali ya) ….Dia tahu apa yang menjadi perasaan-perasaan kita. 

Akan tetapi, semoga kita tidak termasuk ke dalam 9 orang kusta yang polanya: “berkat diminta – berkat dikirim – sumber berkat dilupakan”.

> Orang nangis-nangis minta kerjaan ke Tuhan. Dikasih kerjaan, tetapi akhirnya karena kerjaannya itu justru dia gak punya waktu lagi untuk Tuhan. > Orang nangis-nangis minta pasangan hidup, pacar, jodoh .... waktu dikasih sama Tuhan ... eh kok ya malah jadi jarang kebaktiannya.
Terdengar akrab di telinga kita? 
Tapi kita gak mau jadi seperti ke-9 orang kusta dalam pembacaan Alkitab kita hari ini kan?

Yang terakhir. 
Sepuluh orang kusta, satu dari samaria dan sisanya ... mari kita yakini bahwa sisanya itu adalah orang israel. Yesus bukan hanya di kisah ini menjadikan seorang samaria sebagai tokoh favorit, kita tentu ingat bahwa ada ’kisah orang samaria yang baik hati’. 

Kita pasti tahu bahwa antara Israel dan Samaria dalam Alkitab itu mereka gak pernah akur. Orang Yahudi akan selalu tak mau menerima keberadaan diri seorang samaria di tengah kehidupan mereka. Hidup terpisah antara ”si campuran, yaitu samaria” dan ”si murni, yaitu Israel”. 

Akan tetapi, mengapa ada seorang kusta dari samaria di tengah-tengah kumpulan orang yang sakit kusta dan mereka itu semuanya adalah orang Israel? Kenapa mereka bisa berjalan bersama, akur ... dan melupakan kebencian yang seharusnya menjadi bagian hidup mereka waktu itu? Aneh. 

Penderitaan bersama: sakit kusta. 
Itulah yang membuat 9 orang kusta dari israel dan 1 orang kusta dari samaria melupakan semua ’masalah keterpisahan – kebencian’ diantara mereka ... Yang ada sekarang hanyalah rasa senasib dan sepenanggungan. 

Pak, bu .... musuh sejati kita itu bukanlah orang-orang yang ada di samping dan sekitar kita. Bukan dia dan bukan mereka. Musuh kita itu yang sejati adalah penderitaan-penderitaan kita semua. Kita akan selalu memiliki kesempatan untuk merasakan pergumulan yang mirip dengan orang lain (kalau gak mau dibilang sama). 

Pergumulan-pergumulan yang mirip itulah musuh kita yang sebenar. Dan kita ada di sini, di gereja Tuhan ... supaya kita bisa saling menopang, menguatkan ... mengasihi. Kita ini kawan seperjalanan, untuk menemukan kuasa dan berkat Tuhan bagi hidup kita. Kita bukan lawan seperjalanan yang saling mengepalkan tangan kita diantara orang-orang yang ada di sekitar kita, kita mau kita membuka tangan kita, bergandengan tangan, dan menjadi kawan dalam menempuh perjalanan menuju pernyataan berkat Tuhan. 

Kalau sebentar lagi kita akan masuk dalam undangan Tuhan di Perjamuan Kudus-Nya, siapa sih kita seharusnya di hadapan Tuhan? Kawan? Kawan yang selalu melawan dan menyakiti hati Tuhan. Maaf, tapi itulah kenyataan kebanyakan dari hidup kita semua bukan? Berkali-kali menyakiti hati Tuhan, tetapi masih saja dipandang oleh Tuhan sebagai seorang kawan, sahabat yang layak untuk diperjuangkan agak kita semua hidup bahagia, bukan celaka. 

Ketika Tuhan tidak mengepalkan tangan-Nya ke muka kita, tetapi membuka tangan-Nya lebar-lebar untuk bisa menggandeng perjalanan hidup kita meraih bahagia .... betapa bersyukurnya kita ini, seharusnya .... Atau karena kita kebanyakan lupanya ya?
Previous
Next Post »