Yeremia 33:14-16 | Bersitegang dengan Tuhan


Bersitegang dengan Tuhan 

Hubungan kita dengan sesama kita, orang-orang yang ada di sekitar kita, seringkali itu merupakan gambaran yang sangat nyata tentang hubungan kita dengan Tuhan. Ada saat-saat menyenangkan: semuanya indah, damai, tenang, tenteram, bahagia, dll yang bagus-bagus. Akan tetapi ada juga pasti saatnya “memuakkan”: ada kekesalan di sana, marah-geram, bingung, kuatir, cemberut, sakit, dll yang “memuakkan” itu. 

Masih ingat gak sih kapan kali terakhirnya kita bersitegang dengan Tuhan? Atau masih ingat gak kapan kali terakhirnya kita bersitegang dengan sesama kita? Saya kira bohong kalau dibilang hubungan kita dengan Tuhan akan selalu berjalan mulus, wong hubungan dengan sesama kita saja tak selalu berjalan dengan mulus kok ... (kan kadang-kadang seringnya gitu yah, kita ini lagi marahan sama orang, eh Tuhan juga kena imbasnya, atau sebaliknya ... kita sedang marahan ke Tuhan, eh orang yang ada di sekitar kita kena dampratnya ... bener gak tuh ya?) 

Jadi, kapan kali terakhirnya kita marahan sama Tuhan? Alasannya kenapa? Dan apa yang kita lakukan pada waktu itu? Kalau ditanya alasan kenapa kita marahan sama Tuhan, mungkin kita bisa kasih banyak alasan kali ya ... ABCD-Z. Cari kerja gak dapat-dapat, sekalinya dapat kerja eh kok ya malah di PHK; Cari pacar gak dapat-dapat, udah punya pacar eh kok ya putus di tengah jalan. 

Saat kehidupan menjadi tampak membingungkan, itu kesempatan besar kita untuk ... bersitegang dengan Tuhan. 

Beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan seorang kawan yang saya kira dia itu punya kesempatan yang besar untuk ... bersitegang dengan Tuhan. 

Jadi ceritanya begini ... 
Dia ngobrol dengan saya, “Pak, saya mau komit nih membawa perpuluhan pada Tuhan setiap bulannya, sebab saya dengar itu memang kewajiban kita pada Tuhan dan Tuhan akan semakin memberkati kehidupan kita pak.” Respon saya mendengar hal itu, “Itu bagus, silahkan saja. Kabari saya perkembangannya ya ...”. 

Beberapa hari setelah komitmen dibuat dan dilaksanakan, kawan saya itu kemudian ngobrol lagi dengan saya, “Wah pak, Tuhan langsung bereaksi nih pak!” Senangnya mendengar kawan saya itu semangat sekali waktu itu ... tetapi kemudian dia melanjutkan ceritanya, “Setelah saya komitmen membawa perpuluhan pada Tuhan, sejak saat itu hingga hari ini, sudah ada dua pekerjaan saya hilang pak! Haha, ini Tuhan sedang bercanda sama saya kali ya pak, haha ...” 

(Coba kalau bapak dan ibu jadi saya, bapak dan ibu akan merespon gimana? Bingungkan ...) 
Akhirnya respon saya hanya ini, “Kan dasarnya kita membawa persembahan kepada Tuhan itu bukan untuk “mancing”, tapi karena sudah selalu diberi “ikan” (baca: berkat) oleh Dia.” 

Yang saya kagum waktu itu adalah bagaimana dia menceritakan reaksi Tuhan yang “diluar dugaan” itu dengan nada yang “mayor” (gak ngambek gitu maksudnya), padahal itu kesempatan besar baginya untuk mengeluarkan nada “minor” ke Tuhan (sinis, mengkritisi, semua yang gak enak di dengar ...). Yang dia lakukan adalah, ketimbang memilih bersitegang dengan Tuhan, mencoba memahami jalan Tuhan yang tidak terselami itu dengan cara tetap menantikan apa yang sedang Tuhan mau buat dalam hidupnya, dengan perkataannya waktu itu dengan humornya: “Ini Tuhan lagi becanda ya pak, hahaha”. 

Tahukah bapak dan ibu kelanjutan ceritanya? (Ya pasti gak tahulah, kan belum saya ceritain).
Beberapa hari kemudian setelah sharing yang terakhir itu, dia ngobrol lagi dengan saya, “Pak, Tuhan emang bener-bener membingungkan ya ... Kemarin pekerjaan saya dua hilang, sekarang Dia mengganti dua pekerjaan saya yang hilang itu dengan yang baru, bahkan lebih banyak lagi. Saking banyaknya itu kerjaan, jadwal saya udah penuh sesak ini setiap minggunya.” 

Binggo! 
Itu dia penjelasan dan pembuktian Tuhan yang dalam pembacaan Alkitab kita hari ini diwakili dengan dua perkataan:
“Waktunya akan datang ... Aku akan ... ” (ayat 14) 
“Pada waktu itu ... Aku akan ... ” (ayat 15 dan 16) 
Semuanya intinya “nanti, ... tunggu dulu ... sabar dulu ...” 

Itulah masalah kita. Orang itu kan maunya kalau udah punya keinginan tuh ya pengennya secepat kilat jadi. “Tuhan, saya belum kerja nih ... belum punya pacar juga ...” Lalu Tuhan bilang, “Waktunya akan datang ... Pada waktu itu ... Aku akan ( membuat kamu dapat pekerjaan dan juga dapat pacar baru)”. Tapi kita hantam lagi janji-Nya itu dengan perkataan: “Kapan Tuhan? Saya mau sekarang!” 

Masa-masa penantian adalah masa paling kritis setiap kita di mana kita bisa bersitegang dengan Tuhan, ketimbang kita mempercayai apa yang sedang Dia katakan pada kita: “Waktunya akan datang ... Pada waktu itu ... Aku akan ... ” Tanyakan saja pada orang Israel yang mendengar perkataan Tuhan dalam pembacaan Alkitab kita hari ini ketika mereka ada di negeri pembuangan, padahal mereka pastinya ingin secepat-cepatnya pulang kampung ke tanah air tercinta: Yerusalem (Bnd. Yeremia 28:2-3 dan Yeremia 29:10, tentang 2 tahun atau 70 tahun lagi). 

Saya pernah dengar sebuah ungkapan dalam bahasa inggris yang menyebut begini, “God, give me patience and give me right now!” Aneh. Minta supaya Tuhan membuat dia sabar, tetapi dalam ucapan itu dia sedang tidak sabar. 

Sebagai jemaat Tuhan di Galilea Tanjung Priok, bukankah kita baru-baru ini saja mengalami juga masa penantian dan datangnya jawaban Tuhan? Tentang apa? Yups, keyboard! Keyboard kita itu sejak bulan yang lalu tuh rusak pak, bu. Bayangin aja, udah mau Natal, keyboard pake rusak parah segala. Bingung kebaktian minggu mau pake apa, ansamble anak juga mau latihan diiringin pake apa? Akhirnya kita coba juga kan kebaktian minggu pake gitar akustikan. 

Satu minggu ... Dua minggu ... Tiga minggu ... 
“Waktunya akan datang .... Pada waktu itu .... Aku akan ... ” mendatangkan keyboardnya yang baru. Dan beneran, keyboard kita ini yang sekarang sudah ada kan, baru. 

Bapak dan ibu tahu perkembangan terakhirnya? 
Hari Selasa kemarin, ibu Pdt. Anna Sarniem dari GKP Jemaat Kerawang telpon saya, “Pak, kami sudah menggalang dana untuk membantu jemaat di Priok dalam pengadaan keyboard yang baru.” Lalu saya bilang, “Yah bu, kami baru saja menerima berkat Tuhan berupa keyboard baru juga.”

Singkat cerita, 
“Akhirnya solusi di dapat, kita berencana untuk mengganti lagi keyboard yang baru ini dengan seri yang jauh lebih baik dengan dana yang sudah terkumpul melalui kebaikan hati ibu Pdt. Anna Sarniem.” 

Tidakkah sekali lagi kita menjadi saksi mata akan kebenaran firman Tuhan, janji Tuhan bagi jemaat Galilea Tanjung Priok? “Akan datang waktunya ... Pada waktu itu ...” Dan itu pasti! 

Saya hanya kepikiran satu saja pak, bu ... 
Jika saudara-saudara kita di luar sana sangat-sangat peduli dengan keberadaan kehidupan ber-jemaat di Galilea Tanjung Priok ... Sepeduli apa sih kita dengan perkembangan jemaat Tuhan yang di dalamnya kita berada? 

Tuhan sayang sama kita, itu pasti. 
Tetapi pasti akan ‘menyulitkan’ (kalau boleh dibilang begitu) bagi Tuhan untuk menunjukkan sayang-Nya itu pada kita, kalau kita nya sendiri tidak menyayangi ‘diri kita sendiri’.
Previous
Next Post »