Titus 3:4-7 | Cinta Gila!


Cinta Gila! 

Natal Selalu membuka pertanyaan bagi kita tentang Dia, “Mengapa Dia mau melakukan itu semua demi kita?” Dia datang ke dunia yang rusak ini, Dia punya tujuan: pemulihan, penebusan ... untuk siapa? Untuk kita. Padahal kalau dipikir-pikir ... memangnya siapa kita ini?

Bulan yang lalu, keyboard gereja kita rusak parah. Kita memang berusaha membetulkannya ... tetapi setelah kita tahu bahwa harga betulinnya itu muahal sekali ... lalu apa yang kita lakukan? Lem biru! (Lempar, beli baru! – sekali lagi, terimakasih untuk Pdt. Anna Sarniem dari GKP Karawang yang telah menghimpun para donatur untuk mengadakan keyboard yang baru di GKP Tanjung Priok). Sebenarnya gak dilempar juga sih keyboard yang rusak itu, cuma gak jadi dibetulin aja. Habis masa harga betulinnya itu semahal kalau kita beli keyboard yang baru. Daripada ngeluarin dana besar untuk betulin keyboard yang sudah rusak, mendingan beli baru aja sekalian ... toh harganya gak jauh beda. 

Contoh yang lain ... 
Kalau bapak dan ibu punya hape, lalu hape itu rusak ... Mau dibenerin, tapi harga benerinnya itu gak jauh beda sama harga hape yang baru. Apa yang akan bapak dan ibu lakukan? Percaya deh, di “lem biru” juga kan. Gak pake ribet, gak pake lama (asal duitnya ada aja).

Banyak alat elektronik yang biasanya gitu juga kan ... kalau udah rusak parah, ya udah, di museumkan saja ... ketauan beli yang baru! 

Tuhan, seharusnya bisa melakukan hal yang sama persis seperti itu terhadap ... kita. Siapa Dia? Siapa kita? Dia ciptakan segala sesuatu itu baik adanya, tetapi kita merusaknya sedemikian rupa hingga parah. Seharusnya Dia tinggal me-“lem biru” (baca: meninggalkan kita sampai musnah, lalu menciptakan kembali sesuatu yang sama sekali baru dan lebih baik lagi). 

Tapi kok malah Dia tidak melakukan hal itu ya? 
Yang Dia lakukan itu aneh ... tetap berjuang sekuat tenaga-Nya untuk kita yang sudah rusak parah ini supaya kita ini menjadi pulih dan baik kembali ... supaya ‘suatu saat nanti keadaan akan membaik dan sempurna kembali’. 

Aneh? Ya anehlah! 
Sebab itu sama seperti kita yang keukeuh (bahasa sunda, artinya: tetap teguh percaya) bahwa dengan harga yang sama mahalnya dengan beli yang baru, kita memilih untuk benerin keyboard atau hape kita yang sudah rusak itu. 

Aneh. Kenapa Dia mau mempertahankan? 

Dalam teks pembacaan Alkitab kita hari ini ... Ayat 4-5 menjadi kunci jawabannya. 
Mari kita memerhatikan beberapa kata ini: 
“ ... kemurahan ... kasih ... rahmat ... “ 

Kenapa Dia mau mempertahankan kamu? 
  • Kemurahan-Nya ... yang terlalu mahal. Semahal harga penebusan yang telah dilakukan untuk men-service ‘keyboard’ (baca: kita) yang sudah rusak parah itu. 
  • Kasih-Nya ... yang terlalu dalam, tinggi, lebar dan luas. Hingga Dia mau mengambil jalan paling ribet, datang ke dunia ini menjadi manusia, mati, bangkit dan lalu kembali ke tahta-Nya.
  • Rahmat-Nya yang terlalu ... gila! Berapa harga yang harus kita bayar untuk menikmati karya-Nya itu? Gak ada. Semua gratis! 
Ah, Tuhan memang benar-benar jatuh cinta pada kita! 
Dia benar-benar tergila-gila oleh karena kita! 

Pernah kebayang gini gak? 
Kalau Tuhan itu seorang pria yang sedang jatuh hati, 
maka di dalam dompetnya itu pasti ada foto kita. 
Kalau Tuhan itu seorang pemusik yang sedang jatuh hati, 
maka Dia pasti buatin lagu khusus buat kita. 
Kalau Tuhan itu seorang sutradara film yang sedang jatuh hati, 
maka Dia pasti buatin film khusus hanya untuk kamu. 
Kalau Tuhan itu seorang pendeta? (hehehehe ...) Mungkin Dia akan bilang, 
“Hey ... renungan ini terinspirasi dari kamu lho!” 
hahahaha ... gitu kali ya. Tau ah. 

Padahal ... siapa kita? Siapa Anda? Sehingga Tuhan mau melakukan itu semua untuk kita? Untuk Anda? Kita ini cuma ciptaan yang telah merusak keberadaan diri kita sendiri di hadapan Dia. 

Dan betapa bersyukurnya kita, seharusnya, karena kita mengenal Dia di dalam karya Kristus ... Saat orang lain di luar sana mungkin hanya melihat yang jelek, buruk, rusak dalam hidup kita ... Jelas Dia tak akan memandang hal itu lebih besar dibandingkan dengan cinta gila-Nya pada kita. 

Saya cuma kepikiran satu hal saja ... apakah cukup hanya dengan mengetahui bahwa Dia benar-benar tergila-gila pada kita? Awalnya, saya kira itu tidak cukup ... Awalnya, saya kira Tuhan menuntut hal yang sama juga pada kita: ‘karena Dia telah menunjukkan cinta gila-Nya pada kita, maka Dia pun mengharuskan kita berlaku serupa – tergila-gila pada-Nya’ ... Tapi sepertinya saya salah ... 

Buktinya? 

Tengoklah berapa banyak orang, bahkan hingga hari ini, setelah dua ribu tahun yang lalu Dia telah membuktikan cinta gila-Nya pada kita ... Berapa banyak orang yang tetap saja masih meragukan cinta-Nya dalam hidup mereka itu? Dan apa yang Tuhan lakukan melihat kenyataan itu? Marah? Ya ya, mungkin Dia bisa marah, tetapi kemarahan-Nya tak akan menandingi cinta-Nya pada kita ... Dia tetap pada posisi mengasihi kita, mencintai kita ... segila itu. Segila itu sehingga hari ini Dia menunggu ... Dia menunggu kita menyadari bahwa ada loh Pribadi yang segila itu mengasihi kita ... 

Apakah menyadari bahwa Dia memang cinta gila pada kita itu cukup? 

Ya. Itu cukup! 
Karena kalau semua orang sudah sadar tentang karya-Nya yang besar bagi jalan hidup setiap kita ... hanya ucapan syukur dan terima kasih yang akan tergambar dalam kehidupan mereka ... bagi Dia yang telah mengasihi kita segila itu. Bener gak sih? 
Previous
Next Post »