1 Petrus 2:18-25 | Super Zero


Super Zero

Kita pasti gak asing dengan kisah-kisah superhero. Batman, Superman, Spidey, Robocop, dan yang paling akhir di bioskop ... Captain America. Mereka-mereka yang memiliki kekuatan luar biasa untuk melawan orang-orang jahat. Dan hampir selalu, para superhero itu punya hal-hal yang mereka korbankan untuk membela kebenaran dan orang-orang yang baik. Pengabdian memang adalah pengorbanan.

Satu hal ini saya cermati, sewaktu para superhero itu datang untuk membela orang-orang baik dengan menggunakan superpower mereka dan mereka menang (walaupun polisi hampir selalu diceritakan datang terlambat dalam film-film, satu orang superhero saja sudah bisa membasmi orang-orang jahat) ... Bagaimana dengan Yesus di hari Jumat, dua ribuan tahun yang lalu itu?

Yesus punya kekuatan luar biasa?
Ya jelaslah Dia punya. Dia kan Tuhan yang datang dalam rupa manusia.
Tapi untuk siapa Yesus datang ke dunia ini?
Untuk orang-orang baik saja? Bukan. Bahkan termasuk untuk orang-orang yang dikatakan dalam ayat 24-25, orang berdosa dan orang sesat. 

Lihat pula cara yang digunakan oleh Yesus ..
bukan dengan superpower-Nya, melainkan dengan cara-Nya yang membingungkan semua orang: menyerahkan diri (bukan memimpin pemberontakan), membiarkan diri menderita (bukan melawan), menerima salib dan mati (bukan melarikan diri).

Loh, jagoannya mati! Bagaimana ini?!?

Kita tentu masih ingat suara-suara itu ...
"Jika Engkau adalah Anak Allah, selamatkanlah diri-Mu!"
"Orang lain Dia selamatkan, sedangkan diri-Nya sendiri??"

Jumat Agung adalah bukan pertunjukan kehebatan seorang superhero yang diharap-harap oleh banyak orang waktu itu. Jumat Agung lebih pantas disebut sebagai pertunjukan dari seorang yang dianggap ... superzero.

Paling tidak itulah yang bisa jadi dipahami oleh banyak yang sangat berharap besar terhadap Yesus sebagai Raja baru, Mesias baru yang mengalahkan penjajah Romawi waktu itu. Sewaktu orang banyak di depan pengadilan itu berteriak lantang, "Salibkan Dia!" ... entah berapa banyak orang yang berkata dalam hatinya, "beri kami tanda untuk maju dan kita akan berperang!" ... Tetapi ... kita tahu yang terjadi selanjutnya ... "Salibkan Dia! Mati ... dan Jaga kubur-Nya!"

Lalu apa yang bisa kita banggakan dengan aksi superzero di hari Jumat 2000 tahunan yang lalu itu? Saya mau share beberapa hal yang bisa kita renungkan bersama-sama hari ini ... Dua hal ...

(1) Ayat 23 bagian 1
Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam,

Berbanggalah karena melalui hari Jumat di 2000 tahun yang lalu itu, kita menjadi tahu bahwa ada jalan yang lain untuk memenangkan kehidupan.

Jalan yang lama yang sudah kita ketahui berteriak keras: "kalau dia jahat, jahatin lagi ... balas ... kalau hidup menderita, tolak penderitaan itu"
Jalan yang baru kita ketahui adalah ... "kejahatan dikalahkan dengan kebaikan ... menerima keselamatan dengan jalan kematian ... menjadi menang, walaupun tampak seperti seorang superzero"

(2) Ayat 23 bagian 2
tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.

Justru menjadi seorang superzero itu kan susah ya. Banget. Karena kita hampir selalu ingin meraih hasil yang hebat, dengan cara yang mudah, dalam waktu yang paling cepat dan jalan yang paling enak. "ngapain harus kalah? ngapain harus menderita?"

Tetapi jelas apa yang dinamakan dengan penderitaan, sakit, kecewa .. semua beban dalam hidup kita ini. semua nya tidak terelakkan. 

Bersyukurlah dan berbanggalah karena di hari Jumat Agung ini kita semua menjadi semakin tahu bahwa setiap cerita tentang kita .. tentang penderitaan, kesakitan dan lain-lain itu ... Itu bukanlah titik. Orang lain semua bisa saja ngasih titik dalam peristiwa kehidupan kita.

kamu gagal. titik.
kamu pecundang. titik.
keluargamu ancur. titik.
masa depan mu suram. titik.

Aksi superzero Yesus di hari Jumat dahulu seharusnya membuat mata kita semua terbuka lebar. Sewaktu semua orang lain bisa memberi tanda titik dalam kehidupan kita, Tuhan selalu bisa kasih tanda koma dan berkata pada kita, "ceritamu belum berakhir sampai di sini".

Ini bukan akhir cerita tentang kita.
Previous
Next Post »