Kejadian 45:1-15 | Obat Anti Sakit Hati



Obat Anti Sakit Hati
Kejadian 45:1-15

Sakit hati. Terasa sakit bangetnya tuh di sini, tapi pas cek ke dokter ternyata katanya kita sehat-sehat aja. Tidak kelihatan terluka ... tapi sakit. Luka dalam.

Setiap orang umumnya adalah orang yang mudah sekali tersakiti. Tampak kuat diluar tetapi sebenarnya rapuh sekali di dalam.

Saya kasih alasannya:


Kalau kayak gitu sih positif ya. 

Gak bakalan sakit hati bu Susinya. Bangga malah jadi trendsetter.

Tapi coba kalo yang ini:


Nikita tendangin aja! Apa gak sakit hati coba kalau kayak gitu.
Teknologi makin canggih pak bu, nge-bully orang makin hari makin gampang. Googling aja coba banyak contohnya ... Alat untuk bikin gambar nge-bully orang juga makin gampang ditemukan.

Dalam keseharian kita, sadar atau gak sadar, kadang, celetukan orang yang mungkin maksudnya sekedar bercanda bisa ditanggapi dengan ... sakit hati.
Contoh: “Wih pantesan hari ini gak hujan, ternyata kamu datang kebaktian nih hari ini”.
Maksud hati bercanda, tetapi kita gak tahu kan ditanggapinya dengan sikap hati yang bagaimana oleh yang dibecandain itu.

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini ada banyak alasan untuk Yusuf sakit hati.
- Diejek sebagai tukang tidur – tukang mimpi
- Dimusuhi kakak-kakak-nya
- Mau dibunuh tapi gak jadi
- Dijual – dibuang

Jadi sangat wajar kalau kita membaca respon saudara-saudaranya Yusuf dalam perikop kita hari ini seperti yang ada di ayat 3: “ ... Tetapi saudara-saudaranya tidak dapat menjawabnya, sebab mereka takut dan gemetar menghadapi dia.”

Mengapa? Takut Yusuf sakit hati dan bisa membalas dendam perlakuan mereka yang jahat di masa lalu sekarang ini dalam perikop kita. Gak ada yang bisa menahan Yusuf jika Yusuf mau memilih untuk membalas dendam pada saat itu juga. Kesempatan di depan mata, kedudukan dan kuasa jauh di atas apa yang di miliki kakak-kakaknya sekarang ini. Semuanya menjadi berbeda.

Saya mau mengajak kita untuk merenungkan dua hal saja menjawab pertanyaan mengapa Yusuf yang memiliki kesempatan untuk membalas dendam sakit hatinya (jika Yusuf sakit hati) justru memilih untuk mengampuni?

(1) Ayat 7-8
Maka Allah telah menyuruh aku mendahului kamu untuk menjamin kelanjutan keturunanmu di bumi ini dan untuk memelihara hidupmu, sehingga sebagian besar dari padamu tertolong. Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah; Dialah yang telah menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir.

Melihat dari perspektif yang berbeda: Ada gambaran yang jauh lebih besar.

Pada akhirnya setiap kita memang harus memilih mau melihat peristiwa-peristiwa yang kita alami dalam kehidupan kita ini dari perspektif mana?
- mau melihat gelas dan menyebut itu setengah isi atau setengah kosong … bisa.
- mau melihat mawar berduri atau bunga mawarnya … bisa.

Beranilah untuk mengambil keputusan untuk memilih yang menguatkan diri, yang memulihkan diri, yang mendamaikan diri. Memilih untuk mempercayai Tuhan ketimbang hanya mengambil kesimpulan sesaat yang justru malah membuat kita menjadi (semakin) sakit hati.

(2) Ayat 5
Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu.

Kita mengira bahwa persoalan yang terjadi dalam diri kakak-kakaknya Yusuf selesai setelah Yusuf berkata di ayat lima itu. Akan tetapi ternyata salah. Coba lihat Kejadian 50:20 (baca dari ayat 14).
Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.

Dibutuhkan dua kali penegasan dari Yusuf bahwa dia sudah benar-benar berdamai dengan masa lalu dirinya yang pernah disakiti sehingga Yusuf bisa mengampuni.

Ternyata, (bagi kakak-kakaknya Yusuf) berdamai dengan diri sendiri memang tidak selalu mudah ya.

Hanya orang yang telah berdamai dengan dirinya sendiri yang bisa mengajak atau meyakinkan orang lain yang ada di sekitar kehidupan mereka untuk bisa melakukan hal yang sama: berdamai dengan diri sendiri.

Previous
Next Post »