Kejadian 6:7, 7:13, 8:16 | Akhirnya!!!


Akhirnya!!!
Kejadian 6:7, 7:13, 8:16

Akhirnya!!! 
Setelah melewati jalan panjang, berliku, berbatu, hampir nyusrug, terluka lalu pulih ... beberapa kali ada di persimpangan jalan ... tapi akhirnya! (Coba ingat berapa kali pernah terucap di kelas bina pra nikah: “Kalau begitu mending kita gak usah nikah aja!”)

Tapi akhirnya! Hari ini kita ada di sini menyaksikan Tuhan mempersatukan dua pribadi yang memiliki karakter mereka masing-masing menjadi satu. Saya kepikiran tentang hal ini: Dua pribadi yang berbeda dalam hal karakter, yang satu keras sedangkan yang satu lagi lembut – ini jauh “lebih mudah” dipersatukan daripada dua pribadi yang sama karakternya. Entah itu sama karakternya keras, yang satu keras yang lain lebih keras lagi ... hmmm. Atau mungkin satu pendiam, yang lain lebih pendiam lagi ... Jadi susah ini yang pertama ribut terus yang kedua gak ada yang ngomong duluan. Haha. Kemarin, bu Joice cerita ke saya bahwa dengan pa Charlie itu mereka seumuran, kalau mereka berantem ... hmmm gak ada yang mau ngalah katanya. Tapi akhirnya akur lagi.

Saya mau mengajak kita untuk mendasari pernikahan kudus ini dengan membaca 3 bagian Alkitab dari kisah perjalanan keluarga Nuh. Mungkin banyak orang yang tidak menyadari bahwa kisah Nuh tidak hanya menggambarkan tentang kemarahan Tuhan tetapi juga tentang gambaran akan kehidupan sebagai keluarga Allah.

Kejadian 6:18
Tetapi dengan engkau Aku akan mengadakan perjanjian-Ku, dan engkau akan masuk ke dalam bahtera itu: engkau bersama-sama dengan anak-anakmu dan isterimu dan isteri anak-anakmu.

Menarik ya, Tuhan memberi tugas pada seorang pribadi yaitu Nuh. Akan tetapi Tuhan membungkusnya dalam bingkai keluarga: bersama-sama keluargamu.

Salah satu akar dari keributan di tengah keluarga kita mungkin adalah masalah ini: “Ini tugas kamu, bukan tugas saya”. Melupakan bahwa kita mengawali semuanya yang kita lakukan ditengah keluarga kita adalah bersama-sama.

Kejadian 7:13
Pada hari itu juga masuklah Nuh serta Sem, Ham dan Yafet, anak-anak Nuh, dan isteri Nuh, dan ketiga isteri anak-anaknya bersama-sama dengan dia, ke dalam bahtera itu,

Ini kita membacanya enak ya. Satu keluarga bersama-sama masuk ke dalam bahtera. Akan tetapi jika kita bertanya, berapa hari waktu yang dibutuhkan dari Kejadian 6:18 itu hingga sampai saatnya mereka ada di Kejadian 7:13? Kita gak tahu. Tujuh hari di ayat 4 itu setelah Nuh dan keluarganya selesai membangun bahtera. Proses membangun bahteranya berapa lama? Kita gak tahu.

Mari kita coba lihat gambaran-gambaran yang ditampilkan dalam film Nuh. Misalnya di film “Evan Almighty. Lancar? Gak tuh. Mereka rebut, istrinya memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya sebelum akhirnya nanti kembali ada bersama-sama dengan Nuh.

Ribut itu akan selalu ada.
Yang diperjuangkan bersama adalah kembali rukunnya.

Ada satu scene yang saya suka dari film Evan Almighty, sewaktu istrinya dalam perjalanan pulang ke rumah orangtuanya karena kesal dengan suaminya. Dalam perjalanan mereka bertemu Tuhan:

 

“ … bukannya selama ini kamu minta supaya suamimu lebih meluangkan waktu bersama-sama? Mungkin inilah saatnya. … Sewaktu kamu minta kesabaran, apa Tuhan akan memberi kesabaran itu langsung begitu saja atau Tuhan memberi kesempatan bagi orang itu untuk menemukan kesabaran?”

Mendengar hal itu, istrinya kembali pulang … kembali bersama-sama dengan Nuh (Evan Almighty).

Terakhir,
Kejadian 8:16
"Keluarlah dari bahtera itu, engkau bersama-sama dengan isterimu serta anak-anakmu dan isteri anak-anakmu;


Memulai bersama-sama, berjalan bersama-sama dan akhirnya menggapai kehidupan yang baru bersama-sama.

Prinsip satu ditambah satu samadengan satu ini hanya bisa terjadi ketika masing-masing pribadi itu bersedia membuang ½ dirinya. 1+1=1 hanya bisa dilakukan jika (1-1/2) + (1-1/2) = 1. Ada sesuatu yang mesti dikorbankan untuk memperjuangkan kebersamaan … Ego kah? Kepentingan pribadikah? Yang harus dikurangi, agar kebersamaan yang satu itu boleh terjadi selalu.
Previous
Next Post »