Matius 20:1-16 | Untung Tuhan "Tidak Pandai Berhitung"


Untung Tuhan "Tidak Pandai Berhitung"
Matius 20:1-16


Hmmm ... Matius 20:1-16.
Jujur ya, selalu sulit untuk sepakat dengan Tuhan dalam perumpamaan ini bila kita ditempatkan pada kelompok mereka yang bekerja dari pagi-pagi buta.

Ada lima kelompok kan:
Ayat 1, mereka yang datang pagi-pagi benar. Katakanlah jam 6 pagi mereka datang, berarti 12 jam kerja.
Ayat 3, mereka yang datang jam 9 pagi, 9 jam kerja.
Ayat 5, mereka yang datang jam 12 siang, 4 jam kerja.
Ayat 5, mereka yang datang jam 3 sore, 3 jam kerja.
Ayat 6, mereka yang datang jam 5 sore, hanya 1 jam kerja (ayat 11).

Biar dikata juga tuannya sudah bilang di ayat 13, "kita kan sepakat 1 dinar sehari", tetep aja ya berasa gimana gitu ...

Akan jauh lebih adil kalau dihitung sesuai jam kerjanya.
Satu dinar satu hari dengan 12 jam kerja. Upah hariannya berapa? Katakanlah biar mudah dihitung, 120 ribu per hari. Berarti 10 ribu per jamnya.

Nih buat kamu 120 ribu yang datang dari paling pagi. Kamu yang datang jam 9, nih 90 ribu. Kamu yang datang jam 5, nih 10 ribu. Adil.

Atau ... kalau pun mau baik dengan bikin semua sama rata, ya mbok di atur gitu ngasih upahnya ... Dalam teks kita kan yang dikasih duluan itu yang datang jam 5 sore: nih 1 dinar, 120 ribu, upah kamu. Terang saja kalau yang datang lebih awal mengira mereka akan menerima lebih banyak, "kalau yang 1 jam kerja saja 120 ribu, saya kan kerjanya 12 jam ... pastinya dapat lebih banyak."

Kalau mau gak ada yang iri, ya mbok diatur kebalikannya gitu ... Yang duluan datang pagi dipanggil paling pertama terima upah ... kasih 120 ribu dan mereka pulang. Yang datang jam 9 dipanggil dan dikasih 120 ribu dan mereka pulang ... begitu seterusnya sampai yang datang jam 5 sore, "Kamu cuma kerja 1 jam ya ... seharusnya 10 ribu nih, tapi karena kamu butuh beli makanan untuk anak istri, maka saya kasih 120 ribu. Besok harus datang pagi ya."

Kalau begitu kan aman. gak ada yang ngiri, lha wong mereka yang bisa ngiri gak tahu ...

Sebenarnya perasaan diperlakukan tidak adil ini sering kita temukan dalam keseharian kita. Di tempat kerja, ide dari kita, yang dapat pujian bos. Kita kerja gila, gaji UMR aja kagak. Makanya banyak demo kan.

Tapi yang kita baca dalam teks kita hari ini sama sekali lain. Kalau di dunia kerja kita biasanya merasa diperlakukan tidak adil itu karena kebijakan yang mencekik kita ... dengan kata lain, "tuan nya yang buruk". ... Akan tetapi, dalam teks kita hari ini kita bertemu dengan "tuan yang baik" ... Sudah sesuai standart upah harian 1 dinar 1 hari. Sesuai lagi dengan kesepakatan. Makanya ayat 13, 15 itu menjadi puncak kick balik dari tuannya kepada mereka yang protes. 

Hari ini saya mau mengajak kita untuk merenungkan dua hal ...

Yang pertama,
Saya ngasih tema renungan kita hari ini: "Untung Tuhan tidak pandai berhitung". Sebab Tuhan kalau mau bener main hitung-hitungan dengan kita semua, maka celakalah kita semua. Gak layak diberi anugerah semua kita ini. 

Dulu, sebelum saya ke Tangerang, di Priok, kami sedang membangun pastori. Sempat bingung mau pilih borongan atau harian untuk mengupah tukangnya ... Akhirnya dipilih dengan cara upah borongan. Kenapa? Karena takut kalau upahnya harian maka tukangnya akan sengaja males-malesan kerjanya jadi molor waktunya: satu hari harusnya kerja 8 jam diupah 120 ribu ... tapi dari yang 8 jam waktu kerja itu efektif kerjanya ternyata cuma 3 jam. Lima jam lainnya? Ngopi, ngobrol, neduh .... Yang seharusnya selesai dalam 7 hari saja jadi selesai 3 minggu. Sama juga bohong. 

Saya gak kebayang kalau Tuhan mau mulai main hitung-hitungan dengan kita:
"Kamu, 12 jam kerja? Bukannya kamu masih Kristen Tomat? Kristen yang hari ini tobat besok kumat? Dua belas jam apanya? Kumatnya kamu itu lebih banyak dari tobatnya."

Yang terakhir,
Di awal tadi saya sebut bahwa kita sulit sepakat dengan Tuhan dalam teks kita hari ini. Setelah saya renung-renung lebih jauh lagi ternyata yang terjadi saat ini sepertinya kebalikannya: Kita terlalu sering sepakat dengan apa yang dilakukan tuan dalam perikop kita hari ini. Serius ini! Mungkin bapak dan ibu saja yang tidak menyadari bahwa kita terlalu sering sepakat dengan gambaran perumpamaan dari Tuhan Yesus ini.

Dua contoh, bagaimana perasaan bapak ibu sewaktu mendengar hal ini:
"Mas, aku mau ikut Tuhan Yesus ... bagaimana caranya aku bisa jadi orang Kristen?"
Sewaktu kebaktian, datang seorang yang sudah lama sekali gak ke gereja ...

Bagaimana perasaan bapak dan ibu dengan dua contoh tadi? Marah? Dumel? Iri? Atau bersukacita?
Previous
Next Post »