Mazmur 19:1-15 | Facebook Menceritakan ...

S
yalom bapak ibu dan teman-teman muda. Saya senang sekali bisa kembali ke GKP Teluk Jambe setelah bertahun-tahun lamanya gak ke Teluk Jambe akhirnya sekarang balik lagi ke sini. Seinget saya dulu saya pelayanan ke Teluk Jambe itu pas gedung gereja kita gak kayak gini ya ... Belum ada AC, bangku masih gak sebanyak ini. Dulu belum jadi pendeta kalau gak salah, masih jadi vikaris ya .. atau masih kuliah waktu itu. Lupa saya.

Hari ini kita memasuki minggu ke 2 pekan keluarga HUT GKP ke 83 yang mengambil tema HUT: Bijak Ber-Medsos. Zaman sekarang siapa sih yang gak punya media sosial? Coba sebut siapa yang gak punya Facebook, Twitter, Instagram, Line, Whatsapp dll minimal satu aja punya. Bahkan oma-opa di tempat saya melayani rajin tuh ngobrol-ngobrol di Medsos. Anak-anak bapak dan ibu biar kecil-kecil gitu juga mereka jago tu mengoperasikan internet, jangan salah. Kalau saya? Saya punya beberapa walaupun gak terlalu aktif.

Mari kita melihat bacaan kita hari ini dari Mazmur 19:1-15.
Mazmur 19:1-15
19:1 Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud.
19:2 Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya;
19:3 hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam.
19:4Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar;
19:5 tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi. Ia memasang kemah di langit untuk matahari,
19:6 yang keluar bagaikan pengantin laki-laki yang keluar dari kamarnya, girang bagaikan pahlawan yang hendak melakukan perjalanannya.
19:7 Dari ujung langit ia terbit, dan ia beredar sampai ke ujung yang lain; tidak ada yang terlindung dari panas sinarnya.
19:8 Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman.
19:9 Titah TUHAN itu tepat, menyukakan hati; perintah TUHAN itu murni, membuat mata bercahaya.
19:10 Takut akan TUHAN itu suci, tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum TUHAN itu benar, adil semuanya,
19:11 lebih indah dari pada emas, bahkan dari pada banyak emas tua; dan lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah.
19:12 Lagipula hamba-Mu diperingatkan oleh semuanya itu, dan orang yang berpegang padanya mendapat upah yang besar.
19:13 Siapakah yang dapat mengetahui kesesatan? Bebaskanlah aku dari apa yang tidak kusadari.
19:14 Lindungilah hamba-Mu, juga terhadap orang yang kurang ajar; janganlah mereka menguasai aku! Maka aku menjadi tak bercela dan bebas dari pelanggaran besar.
19:15 Mudah-mudahan Engkau berkenan akan ucapan mulutku dan renungan hatiku, ya TUHAN, gunung batuku dan penebusku.

Sewaktu saya membaca perikop kita ini saya langsung bilang: rasa-rasanya kenal nih ayat ... Ternyata memang Mazmur 19 ini sudah digubah menjadi lagu yang ada di PKJ (ada yang bisa tebak PKJ berapa?) Yups betul, PKJ 132 "Langit Menceritakan". Gpp dong kalau kita nyanyikan lagu ini ...

PKJ.132 LANGIT MENCERITAKAN
Syair dan lagu: Henkie Kotte, 1999, berdasarkan Mazmur 19
do = bes 3 ketuk

(1) Langit menceritakan kemuliaan Allah,
alam memberitakan karya tangan Tuhan.
Tidak ada berita, juga kata-kata,
namun gemanya terpancar ke s'luruh dunia.
Refrein:
Hai percaya padaNya, jangan takut dan gentar,
kar'na kasih dan lindunganNya abadi.

(2) Taurat Tuhan sempurna, menyegarkan jiwa,
perintahNya pun murni menyenangkan hati,
kasih dan kuasaNya, bumi pun bergetar.
Dia pelindung dan perisai selamanya.

Sewaktu saya membaca perikop kita dan mendengar lagunya tadi ... sama sekali saya (dan kita) tidak menyanggahnya. Langit menceritakan ... Cakrawala memberitakan ... Taurat Tuhan memperingatkan ... Semuanya betul. Memang di zaman Daud, ya seperti itu: Sewaktu orang keluar dari rumah ... melihat langit dengan segala keindahannya, cakrawala dengan semua lukisannya ... semua memberitakan tentang betapa besarnya Tuhan kita. Lalu orang yang tadi keluar, sekarang masuk ke rumah dan membaca Alkitab ... makin terkagum karena pernyataan kehadiran Tuhan yang nyata setiap waktu.

Nah coba kita bayangkan jika Daud hidup di zaman sekarang. Saya sudah membayangkannya ... Sepertinya Daud akan menambahkan satu bagian lagi sebelum dia menutup Mazmur 19. Daud mungkin akan menuliskan tentang Facebook menceritakan ... atau Instagram menceritakan ...

Persoalannya cuma satu.
Saya mau menunjukkan beberapa gambar kepada kita sekarang.



Zaman sekarang pak bu, apa sih yang gak bisa dilakukan orang melalui online? Kalau zaman dulu, misalnya nih saya kesel dengan bapak lalu saya mau marah kan susah: mesti ketemu dulu, siap-siap berantem dulu (hahaha, enggak lah ya yang ini). Lha di zaman sekarang, bapak ibu kalau kesel sama orang lain dan mau mengungkapkan kekesalannya itu mudah sekali. Tinggal pencet-pencet HP lalu selesai. Perasaan jadi puas, lega karena sudah mengeluarkan emosinya, namun tidak menyadari bahwa itu diperhatikan oleh seluruh dunia online. Inget iklan yang ini gak: ada cewe di antar pacarnya ke kantor, baru masuk pintu depan di sapa oleh pak satpam: "cie cie pacar baru", lalu dia ke tempat administrasi dan disapa oleh mba adminnya: "oh itu mba tas barunya", dan yang paling gak enak buat cewe tadi pas dia mau naik lift ketemu sama bos nya ya lalu bosnya itu bilang: "katanya sakit kok malah liburan?". Ini mereka tahu dari mana kalau bukan dari sharenya mba tadi di sosmed.

Saya mau mengajak kita untuk merenungkan dua hal saja.
jika Daud hidup di hari ini dan menuliskan Mazmur 19, kira-kira Daud akan menuliskan apa tentang "Facebook menceritakan ..."

Facebook menceritakan kemuliaan Tuhan, Instagram memberitakan pekerjaan Tangan-Nya. Atau ... Facebook menceritakan kemarahan - kekesalan - maki-makinya saya ke orang lain yang saya anggap telah menyakiti saya?

Mari kita coba mengerti bila ada orang yang melampiaskan kekesalan-kemarahan-dll di media sosial, memang sih jadi lebih lega (katanya). Tapi kita sama sekali gak tahu dampaknya terhadap orang lain dan pada akhirnya dampaknya pada kita juga. Lagipula, gak terlalu penting juga kan memberitahukan ke orang lain tentang apa yang ada di hati kita semuanya (bapak ibu boleh gak setuju dengan saya tentang ini).
Mazmur 19:15
Mudah-mudahan Engkau berkenan akan ucapan mulutku dan renungan hatiku, ya TUHAN, gunung batuku dan penebusku.

karena ini pekan keluarga, coba deh kita sama-sama ngecek ke dalam keluarga kita masing-masing. Seberapa terbuka sih kita sebagai suami ke istri dan anak-anak kita, atau seberapa terbuka ibu sebagai isteri ke suami dan anak-anak, atau seberapa terbuka anak-anak ke mama papanya sendiri. Jangan sampai lebih terbuka sama orang yang baru dikenal di media sosial ketimbang terbuka ke orang-orang yang ada di dekat kehidupan kita sendiri. Mengapa kita harus mencari teman curhat di online jika di depan hidung kita ada keluarga kita yang sedia menjadi teman curhat yang bisa menguatkan kehidupan kita? Itu berarti menjadi tugas kita bersama berupaya menjadi pribadi-pribadi yang bisa digunakan oleh Tuhan untuk menjadi perpanjangan tangan-Nya dalam menyatakan kuasa pemulihan dan menopang atau bahkan membangun kehidupan orang-orang yang nyata-nyatanya ada di sekitar kehidupan kita.
Previous
Next Post »