Yunus 3:1-10 | Bertobat Itu Memang Susah!


Tema kita hari ini bener ya ... Bertobat: kelihatannya mudah, tapi kenyataannya susahnya minta ampun. Hmmmm ... Mengapa banyak orang susah untuk bertobat? Saya punya gambar ...


Orang Eskimo, salah satu musuh yang mereka hadapi dalam keseharian hidup mereka adalah .. binatang buas: serigala. Ada yang udah tahu cara orang Eskimo membunuh serigala? Mereka ambil sebilah pisau yang sangat tajam lalu direndam dengan darah hingga membeku. Kemudian mereka membuat jebakan dengan pisau yang terbungkus oleh batu es dari darah itu menghunus ke atas. Serigala datang karena bau darah dan menjilati darah beku itu hingga akhirnya tanpa sadar darah yang dalam bongkahan es itu habis kemudian serigala menjilati pisau yang tajam tadi ... Serigala menjilati pisau tajam dan terluka namun tidak sadar karena lidahnya kebas karena dingin ... Sampai akhirnya serigala terluka dan menjilati darahnya sendiri sampai mati kehabisan darah.

Pointnya, tobat itu susah karena kita selalu berhadapan dengan sesuatu yang kita pandang enak, menyenangkan, kita sukai ... Diminta untuk melepaskan, berubah, meninggalkan sesuatu yang kita anggap enak (dalam bahasa ibrani, shuv – bertobat arti sederhananya berbalik arah, sama seperti metanoia dalam bahasa yunani yang artinya perubahan pikiran) ini susahnya luar biasa. Padahal bisa jadi apa yang sedang dilakukannya itu persis seperti serigala tadi ... seseorang sedang merusak dirinya sendiri (hingga celaka).

Di sini letak menariknya perikop kita ... karena kalau kita membaca Yunus 3:1-10 tadi, Yunus itu cuma ngomong singkat aja tuh lalu dalam sekejap dengan serta-merta bangsa Niniwe semuanya bertobat. Ayat 4 Mulailah Yunus masuk ke dalam kota itu sehari perjalanan jauhnya, lalu berseru: "Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan."
3:1 Datanglah firman TUHAN kepada Yunus untuk kedua kalinya, demikian:
3:2 "Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, dan sampaikanlah kepadanya seruan yang Kufirmankan kepadamu."
3:3 Bersiaplah Yunus, lalu pergi ke Niniwe, sesuai dengan firman Allah. Niniwe adalah sebuah kota yang mengagumkan besarnya, tiga hari perjalanan luasnya.
3:4 Mulailah Yunus masuk ke dalam kota itu sehari perjalanan jauhnya, lalu berseru: "Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan."
3:5 Orang Niniwe percaya kepada Allah, lalu mereka mengumumkan puasa dan mereka, baik orang dewasa maupun anak-anak, mengenakan kain kabung.
3:6 Setelah sampai kabar itu kepada raja kota Niniwe, turunlah ia dari singgasananya, ditanggalkannya jubahnya, diselubungkannya kain kabung, lalu duduklah ia di abu.
3:7 Lalu atas perintah raja dan para pembesarnya orang memaklumkan dan mengatakan di Niniwe demikian: "Manusia dan ternak, lembu sapi dan kambing domba tidak boleh makan apa-apa, tidak boleh makan rumput dan tidak boleh minum air.
3:8 Haruslah semuanya, manusia dan ternak, berselubung kain kabung dan berseru dengan keras kepada Allah serta haruslah masing-masing berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan yang dilakukannya.
3:9 Siapa tahu, mungkin Allah akan berbalik dan menyesal serta berpaling dari murka-Nya yang bernyala-nyala itu, sehingga kita tidak binasa."
3:10 Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Iapun tidak jadi melakukannya.
Saya mau mengajak kita untuk merenungkan proses pertobatan yang bagi banyak orang, kita seringkali jatuh bangun di situ.

Yang pertama, ayat 5 - Sadar.
Orang Niniwe percaya kepada Allah, lalu mereka mengumumkan puasa dan mereka, baik orang dewasa maupun anak-anak, mengenakan kain kabung.

Banyak orang yang bahkan untuk sadar saja susah banget. Padahal ini adalah syarat awal untuk kita bisa berubah menjadi lebih baik. Kenapa susah sadar?
- Bisa jadi karena enak tadi. Melepaskan ang enak itu susah. Dalam bacaan leksionari kita hari ini, Mazmur 62:11 – pemerasan, perampokan. Enak. Disuruh melepas yang enak itu ya susah.
- Ada lagi alasan? Ada. 1 Korintus 7:29, merasa masih banyak waktu. Padahal siapa yang tahu waktu kita di dunia ini selesainya kapan.
- Yang ini yang paling saya takutkan, kenapa orang susah sadar? Karena seperti yang kita bisa baca dalam Injil Markus 1:15, Tuhan ini memang terlalu lemah lembut mengajak orang untuk bertobatnya. Beda kayak Yunus kan, gak tobat, hancurlah kalian.

Yang kedua, setelah sadar ... ayat 6-7 – Menyesal
Setelah sampai kabar itu kepada raja kota Niniwe, turunlah ia dari singgasananya, ditanggalkannya jubahnya, diselubungkannya kain kabung, lalu duduklah ia di abu. Lalu atas perintah raja dan para pembesarnya orang memaklumkan dan mengatakan di Niniwe demikian: "Manusia dan ternak, lembu sapi dan kambing domba tidak boleh makan apa-apa, tidak boleh makan rumput dan tidak boleh minum air.

Setelah sadar, lalu menyesali apa yang dilakukannya itu. Di sini juga orang banyak yang jatuh bangun untuk sadar dan menyesalinya. Hari ini sadar dan menyesal, besok-besoknya ngulang lagi .... Makanya ada istilah apa itu “Kristen Tomat”? Kristen yang hari ini tobat besoknya kumat?

Yang terakhir, setelah sadar – menyesali ... Ayat 8-9 – Perubahan total.
Haruslah semuanya, manusia dan ternak, berselubung kain kabung dan berseru dengan keras kepada Allah serta haruslah masing-masing berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan yang dilakukannya. Siapa tahu, mungkin Allah akan berbalik dan menyesal serta berpaling dari murka-Nya yang bernyala-nyala itu, sehingga kita tidak binasa."

Nah ini puncaknya pertobatan, terjadi perubahan yang sebenar-benarnya. Sadar lalu menyesali dan tidak mengulanginya lagi. Sekarang mari kita melihat kehidupan kita masing-masing ... Hal-hal apa saja yang disitu kita perlu untuk bertobat? Ini jujur ya bapak dan ibu ... bahkan kita gak usah ngomong bertobat dari dosa (yang nyatanya memang harus), bertobat dari sesuatu yang gak dosa tapi merugikan diri kita sendiri saja susahnya minta ampun ... Sudah tahu kolesterol tinggi, asam urat tinggi, ... masih aja dihajar makanan-makanan yang seharusnya gak boleh itu ... Benerkan susah.

Berbahagialah mereka yang dimampukan oleh Tuhan ketika pertobatan yang terjadi di dalam kehidupan mereka ini prosesnya sangat cepat seperti bangsa Niniwe atau seperti rasul Paulus ... Bagi banyak orang yang mungkin tidak seberuntung mereka yang dimampukan oleh Tuhan bertobat secara radikal – total – kilat dan masih jatuh bangun di dalam mengupayakan kehidupan barunya, tetaplah berjuang bersama-sama dengan Tuhan ... sehingga tepat pada waktunya kita pun bisa merasakan kebahagiaan yang sama karena kehidupan kita telah diubahkan oleh Tuhan.
Previous
Next Post »