Matius 26:6-13 | Logika Bersyukur ~ Pdt. Gerry Atje

Matius 26:6-13 | Logika Bersyukur


Renungan Warta, 4 Maret 2018
Logika Bersyukur
Matius 26:6-13

Ada dua ujian yang dihadapi para murid Yesus dalam perikop kita hari ini. Yang pertama, para murid berhasil melewati ‘ujian’ dengan tidak mempersoalkan Yesus yang kala itu singgah di rumah seseorang yang dianggap oleh banyak orang di zaman Yesus sebagai orang yang berdosa (karena menderita sakit kusta, bnd. Yoh. 9:2). Akan tetapi, di ujian selanjutnya para murid gagal paham tentang apa yang dilakukan perempuan itu sewaktu ia mencurahkan buli-buli minyak wangi yang mahal untuk mengurapi kepala Yesus. Secara logika manusia biasa, sangat logis untuk sepakat dengan cara berpikir para murid bahwa yang dilakukan oleh perempuan itu (dengan meminyaki Yesus dengan minyak yang mahal) adalah suatu pemborosan.

Jadi, ada apa gerangan dengan seorang perempuan yang luar biasa dalam perikop kita hari ini sehingga ia dengan rela hati “memboroskan” harta benda yang sudah dengan susah payah dikumpulkannya itu demi Tuhan Yesus? Kita perlu membaca perikop paralelnya di dalam Yohanes 12:1-8 untuk memahami “logika perempuan yang boros” itu. Dari sana kita menemukan bahwa Maria melakukan pengurapan minyak Narwastu yang harganya 300 dinar (Yoh. 12:5, satu dinar adalah upah satu hari kerja Mat. 20:2; Jika dikonversi satu hari senilai Rp. 100.000 maka nilainya mencapai Rp. 30.000.000) hanya untuk Yesus sebagai bentuk ungkapan rasa syukurnya pada Yesus yang telah berbuat teramat baik bagi keluarganya dengan membangkitkan kembali Lazarus, saudara Maria.

Tidak ada logika hitung-hitungan yang sebanding untuk menakar dan menandingi semua kebaikan perbuatan Tuhan dalam kehidupan kita. Saat seseorang mengenali dan menyadari bahwa Tuhan telah berbuat sangat teramat baiknya kepada dirinya dan keluarganya maka yang ada dalam pikiran mereka hanyalah tentang bagaimana cara membalas semua kebaikan yang telah Tuhan perbuat dalam kehidupanku (atau kami) ini. Mari kita senantiasa mengungkapkan rasa syukur kita kepada Tuhan dengan selalu mengingat bahwa semua yang ada dalam kehidupan kita ini adalah anugerah yang asalnya dari Tuhan.

Selama lebih dari 40 tahun saya telah mempersembahkan 60-70% penghasilan saya kepada Tuhan. Akan tetapi saya tidak pernah berhasil melebihi Dia. Dia selalu memberi lebih banyak daripada saya. (Henry Parsons Crowell, Pendiri Quaker Oats)
Previous
Next Post »