Yeremia 18:1-12 | Bejana Tanah Liat yang Hidup Kepunyaan Allah - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

Bejana Tanah Liat yang Hidup
Kepunyaan Allah

Yeremia 18:1-12


Satu hal yang membuat saya bertanya-tanya selama persiapan adalah: "Kalau Tuhan memang mau mengatakan sesuatu kepada Yeremia, kenapa Tuhan gak langsung to the point ngomong saja?? Kenapa Yeremia justru diperintahkan oleh Tuhan untuk pergi ke rumah tukang periuk dulu??"
Sekedar info aja ... dalam kitab Yeremia, ada 9 peristiwa di mana Tuhan menggunakan "alat peraga" untuk mengatakan sesuatu kepada Yeremia ...

Bandingkan .. jika Tuhan langsung saja ngomong ke Yeremia tentang inti maksud-Nya saat itu:
"Aku ini Tuhan yang memiliki kuasa ... kalau kamu merasa hidupmu ini sedang hancur-hancurnya, Aku sanggup memulihkan kehidupanmu!"
Samakan ya intinya dengan apa yang baru saja kita baca dalam perikop kita hari ini ... cuma satu ayat aja kalau Tuhan langsung ke inti ... bandingkan perikop kita ... ada 12 ayat!

Jadi apa sebenarnya tujuan Tuhan, sehingga Tuhan repot-repot bawa Yeremia ke rumah tukang periuk?? (Bayangin perasaan Yeremia waktu itu .. "ini nih siapa yang kurang kerjaan ya? Aku yang kurang kerjaan atau Tuhan kurang kerjaan apa ya, pake nyuruh ke tukang periuk segala ...")

Saya menemukan jawabannya:
Ada banyak orang .. ketika mereka mendengar Allah berfirman tentang dirinya, hidupnya, masa depannya .. kemudian mereka tidak percaya!! Kenapa mereka tidak percaya?? Karena yang mereka lihat dan rasakan hari ini sama sekali tidak sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Tuhan! "Mana Tuhan ... katanya Tuhan bilang A, tapi kok malah Z .. zauh gini??"

Kalau sudah begini ... apa yang mereka butuhkan?? Bukti! Bukti bahwa Allah memang benar sanggup untuk menepati dan menggenapi apa yang difirmankan-Nya.

Yang kita butuhkan saat terjadi hal-hal yang tidak kita mengerti, hal-hal yang tidak seperti harapan kita, hal-hal yang membuat kita bertanya dan mengkritisi Tuhan adalah ... Penjelasan dari Tuhan!

Inilah pembuktian dan penjelasan dari Allah tentang hidup kita:
Ayat 4-6
Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya. Kemudian datanglah firman TUHAN kepadaku, bunyinya: "Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini, hai kaum Israel!, demikianlah firman TUHAN. Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel!

Nas pembimbing kita hari ini mengatakan:
"Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami!
kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami,
dan kami sekalian adalah buatan tanganMu."
(Yesaya 64:8)

Pertanyaan penting: Jika saat ini kita memang sedang dibentuk oleh Tuhan, sang Tukang Periuk, untuk dijadikan cangkir atau gelas, bagaimana kita menggambarkan keadaan cangkir atau gelas diri kita sekarang ini?
Sempurna?
Ada retakan?
Setengah jadi?
atau dulu sih sepertinya sempurna tapi sekarang kok ancur gini ya??

Apapun perasaan kita saat ini, satu hal yang harus kita mengerti bersama adalah bahwa Allah masih terus menerus memproses dan membentuk "cangkir" kehidupan kita!! Allah belum selesai dengan cangkir kehidupan kita!

Kabar Baiknya adalah ..
Allah siap membentuk dan memproses kehidupan kita!
Sampai kapan? Sampai Allah berkata:
"Hey .. lihat .. itu Gerry, dia adalah cangkir kebanggaan Saya!"

Kabar Buruknya adalah ...
Allah siap membentuk hidup kita dan memproses kita. Kita? Apakah kita siapa dengan cara Allah memproses dan membentuk kehidupan kita sekarang ini??

Ketika Allah sepertinya sedang menghancur-leburkan cangkir hidupku sebagai cara-Nya untuk memproses dan membentuk masa depanku ... Apakah kita siap??
Di PHK?
Di putusin pacar?
Gagal dalam studi?
Gagal dalam bisnis usaha?

Lalu apa yang kita lakukan???
Ayat 4
Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.

Atau ...
merencanakan bunuh diri?
marah dan terus memaki Tuhan?

Kalau kita marah atau bahkan memaki Tuhan terhadap satu peristiwa buruk yang terjadi dalam kehidupan kita biasanya itulah tandanya kita sedang kecewa terhadap diri kita sendiri - terhadap keputusan-keputusan yang kita ambil dahulu, jalan yang kita pilih yang akhirnya membawa kita pada konsekuensi logis dari apa yang kita pilih itu - Kita kecewa hasilnya, karena tindakan yang kita pilih di masa lalu dan kemudian kita "meng-kambing-hitam-kan" Tuhan.

Ini dia masalahnya:
Karena Tuhan sebagai tukang periuk ini sedang membentuk tanah liat menjadi cangkir ... Tuhan sedang berhadapan dengan "tanah liat yang hidup", bukan yang mati!

Kalau tanah liat yang biasa (secara harafiah) .. gak susah ngaturnya ... dibentuk gmana aja, dengan cara apa aja ... dia gak akan rewel ...

Sedangkan kita? karena kita adalah "tanah liat yang hidup" ... yang bisa berteriak, menggugat dan marah ... kita selalu dapat memutuskan untuk bersedia atau menolak cara Allah membentuk dan memproses kehidupan kita ini dengan cara-Nya!

Untuk menutup renungan ..
Saya punya slide -> tentang seseorang yang mengalami kehancuran dulu sebelum menjadi cangkir kebanggaan Allah ...
(Arrrgghhh .. saya lupa saya dulu pake slide apa ... hadeuhhh .. maap sahabat!)

Tantangan kita 1:
Menjadi cangkir - bejana tanah liat yang bisa Allah banggakan!

Syaratnya 1:
Bersedia melewati proses pembentukan Sang Tukan Periuk kita itu, seturut dengan cara-Nya untuk masa depan kehidupan kita.

Yeremia 18:1-12 | Bejana Tanah Liat yang Hidup Kepunyaan Allah

Bejana Tanah Liat yang Hidup
Kepunyaan Allah

Yeremia 18:1-12


Satu hal yang membuat saya bertanya-tanya selama persiapan adalah: "Kalau Tuhan memang mau mengatakan sesuatu kepada Yeremia, kenapa Tuhan gak langsung to the point ngomong saja?? Kenapa Yeremia justru diperintahkan oleh Tuhan untuk pergi ke rumah tukang periuk dulu??"
Sekedar info aja ... dalam kitab Yeremia, ada 9 peristiwa di mana Tuhan menggunakan "alat peraga" untuk mengatakan sesuatu kepada Yeremia ...

Bandingkan .. jika Tuhan langsung saja ngomong ke Yeremia tentang inti maksud-Nya saat itu:
"Aku ini Tuhan yang memiliki kuasa ... kalau kamu merasa hidupmu ini sedang hancur-hancurnya, Aku sanggup memulihkan kehidupanmu!"
Samakan ya intinya dengan apa yang baru saja kita baca dalam perikop kita hari ini ... cuma satu ayat aja kalau Tuhan langsung ke inti ... bandingkan perikop kita ... ada 12 ayat!

Jadi apa sebenarnya tujuan Tuhan, sehingga Tuhan repot-repot bawa Yeremia ke rumah tukang periuk?? (Bayangin perasaan Yeremia waktu itu .. "ini nih siapa yang kurang kerjaan ya? Aku yang kurang kerjaan atau Tuhan kurang kerjaan apa ya, pake nyuruh ke tukang periuk segala ...")

Saya menemukan jawabannya:
Ada banyak orang .. ketika mereka mendengar Allah berfirman tentang dirinya, hidupnya, masa depannya .. kemudian mereka tidak percaya!! Kenapa mereka tidak percaya?? Karena yang mereka lihat dan rasakan hari ini sama sekali tidak sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Tuhan! "Mana Tuhan ... katanya Tuhan bilang A, tapi kok malah Z .. zauh gini??"

Kalau sudah begini ... apa yang mereka butuhkan?? Bukti! Bukti bahwa Allah memang benar sanggup untuk menepati dan menggenapi apa yang difirmankan-Nya.

Yang kita butuhkan saat terjadi hal-hal yang tidak kita mengerti, hal-hal yang tidak seperti harapan kita, hal-hal yang membuat kita bertanya dan mengkritisi Tuhan adalah ... Penjelasan dari Tuhan!

Inilah pembuktian dan penjelasan dari Allah tentang hidup kita:
Ayat 4-6
Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya. Kemudian datanglah firman TUHAN kepadaku, bunyinya: "Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini, hai kaum Israel!, demikianlah firman TUHAN. Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel!

Nas pembimbing kita hari ini mengatakan:
"Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami!
kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami,
dan kami sekalian adalah buatan tanganMu."
(Yesaya 64:8)

Pertanyaan penting: Jika saat ini kita memang sedang dibentuk oleh Tuhan, sang Tukang Periuk, untuk dijadikan cangkir atau gelas, bagaimana kita menggambarkan keadaan cangkir atau gelas diri kita sekarang ini?
Sempurna?
Ada retakan?
Setengah jadi?
atau dulu sih sepertinya sempurna tapi sekarang kok ancur gini ya??

Apapun perasaan kita saat ini, satu hal yang harus kita mengerti bersama adalah bahwa Allah masih terus menerus memproses dan membentuk "cangkir" kehidupan kita!! Allah belum selesai dengan cangkir kehidupan kita!

Kabar Baiknya adalah ..
Allah siap membentuk dan memproses kehidupan kita!
Sampai kapan? Sampai Allah berkata:
"Hey .. lihat .. itu Gerry, dia adalah cangkir kebanggaan Saya!"

Kabar Buruknya adalah ...
Allah siap membentuk hidup kita dan memproses kita. Kita? Apakah kita siapa dengan cara Allah memproses dan membentuk kehidupan kita sekarang ini??

Ketika Allah sepertinya sedang menghancur-leburkan cangkir hidupku sebagai cara-Nya untuk memproses dan membentuk masa depanku ... Apakah kita siap??
Di PHK?
Di putusin pacar?
Gagal dalam studi?
Gagal dalam bisnis usaha?

Lalu apa yang kita lakukan???
Ayat 4
Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.

Atau ...
merencanakan bunuh diri?
marah dan terus memaki Tuhan?

Kalau kita marah atau bahkan memaki Tuhan terhadap satu peristiwa buruk yang terjadi dalam kehidupan kita biasanya itulah tandanya kita sedang kecewa terhadap diri kita sendiri - terhadap keputusan-keputusan yang kita ambil dahulu, jalan yang kita pilih yang akhirnya membawa kita pada konsekuensi logis dari apa yang kita pilih itu - Kita kecewa hasilnya, karena tindakan yang kita pilih di masa lalu dan kemudian kita "meng-kambing-hitam-kan" Tuhan.

Ini dia masalahnya:
Karena Tuhan sebagai tukang periuk ini sedang membentuk tanah liat menjadi cangkir ... Tuhan sedang berhadapan dengan "tanah liat yang hidup", bukan yang mati!

Kalau tanah liat yang biasa (secara harafiah) .. gak susah ngaturnya ... dibentuk gmana aja, dengan cara apa aja ... dia gak akan rewel ...

Sedangkan kita? karena kita adalah "tanah liat yang hidup" ... yang bisa berteriak, menggugat dan marah ... kita selalu dapat memutuskan untuk bersedia atau menolak cara Allah membentuk dan memproses kehidupan kita ini dengan cara-Nya!

Untuk menutup renungan ..
Saya punya slide -> tentang seseorang yang mengalami kehancuran dulu sebelum menjadi cangkir kebanggaan Allah ...
(Arrrgghhh .. saya lupa saya dulu pake slide apa ... hadeuhhh .. maap sahabat!)

Tantangan kita 1:
Menjadi cangkir - bejana tanah liat yang bisa Allah banggakan!

Syaratnya 1:
Bersedia melewati proses pembentukan Sang Tukan Periuk kita itu, seturut dengan cara-Nya untuk masa depan kehidupan kita.

SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER