Matius 21:1-11 | Dengan Apa yang Kumiliki - Pdt. Gerry Atje
Dengan Apa Yang Kumiliki


Ini cerita tentang seorang korban perang dari Amerika. Kisah nyata. Seorang tentara veteran perang Vietnam menjadi cacat tidak memiliki tangan kirinya lagi karena ledakan bom. Ada seorang anak muda yang sangat bersimpati kemudian berkata kepada pak tentara itu, "Pak, pasti sulit rasanya jika hari ini bapak sudah kehilangan tangan kiri bapak karena perang Vietnam dulu."

Lalu tentara itu merespon,
"Anak muda, saya tidak kehilangan tangan kiri saya. Saya memberikan tangan kiri saya untuk negara,"

Saya suka sekali dengan semangat para tentara (dari mana pun mereka berasal), mereka punya prinsip: Saya rela mati demi negara saya. Atau katakanlah seperti film-film bodyguard, "Saya boleh mati, tetapi client saya harus tetap hidup".

Itu prinsip para pejuang.
Kalau pejuang iman? Sama, "Saya rela melakukan segalanya demi iman saya, bahkan mati pun saya mau". Dan itu betul-betul terjadi dari dulu sampai sekarang. Makanya ada kutipan yang mengatakan bahwa, "Darah syuhada (orang Kristen yang mati syahid, para bapa gereja dulu) adalah fondasi gereja".

Tetapi sekarang mari kita melihat diri kita ...
Kalau ditanya apakah kita rela mati demi mempertahankan iman kita? Saya yakin masih buanyaak orang yang akan menjawab: Ya!

Akan tetapi yang mau kita renungkan hari ini dalam teks Alkitab kita ... seringkali kita berhadapan dengan hal-hal yang jauh jauh lebih sederhana dari pada 'harus' mati atau kehilangan nyawa untuk Tuhan.

Ayat 2-3
dengan pesan: "Pergilah ke kampung yang di depanmu itu, dan di situ kamu akan segera menemukan seekor keledai betina tertambat dan anaknya ada dekatnya. Lepaskanlah keledai itu dan bawalah keduanya kepada-Ku. Dan jikalau ada orang menegor kamu, katakanlah: Tuhan memerlukannya. Ia akan segera mengembalikannya."

Tuhan memerlukannya! 
Apa yang Tuhan perlu? Seekor keledai yang ada di rumah. Dalam teks paralelnya, Markus menceritakan bahwa perbuatan mengambil keledai milik orang itu diketahui oleh banyak orang di sekitar kandang keledai itu, yang hebat adalah mereka merelakan keledai itu untuk digunakan oleh Tuhan (mereka tidak meneriaki para murid itu maling lho ya).

Ternyata Tuhan seringkali memerlukan apa yang ada dalam kehidupan kita, di sekitar kehidupan kita untuk bisa diberdayakan oleh-Nya demi kemuliaan nama-Nya. Dan itu seringkali hal-hal yang jauh lebih sederhana dibandingkan apa yang diperbuat oleh veteran dalam kisah tadi demi negaranya.

Apa yang ada dalam kehidupan kita?
Tolong jangan hanya berpikir tentang uang persembahan yang bisa kita bawa kepada Tuhan demi kemuliaan nama-Nya. Apa yang bisa kita berikan kepada Tuhan jauh lebih luas dari pada hanya sekedar itu. Segenap daya, pikiran, tenaga ... bahkan seluruh hidup kita ... bukankah itu semua adalah kepunyaan Tuhan?

Saya salut dengan para murid (yang biasanya dalam narasi Injil dikisahkan hal-hal yang "buruk": kurang percaya, sok tahu, dll) ... kali ini para murid berlaku luar biasa. Yang pertama jelas mereka taat, di suruh pergi, mereka pergi mengambil keledai itu (padahal resikonya bisa diteriakin maling kan) ... Yang lebih hebat lagi adalah ...

Ayat 7
Mereka membawa keledai betina itu bersama anaknya, lalu mengalasinya dengan pakaian mereka dan Yesuspun naik ke atasnya.

Tanpa disuruh ... mereka tahu bahwa keledai itu akan dinaiki Yesus, dan mereka melihat bahwa keledai itu tidak memiliki pelana nya. maka mereka berinisiatif untuk memberikan apa yang ada dalam diri mereka untuk mengalasi keledai itu sehingga bisa dinaiki oleh Yesus.

Ada sebuah kesadaran bahwa melalui diri mereka, para murid dapat melakukan sesuatu untuk Yesus ... walaupun itu cuma 'perkara sepele' ... mengalasi keledai dengan baju mereka.

Jangan lupakan peran orang banyak yang melihat Yesus memasuki Yerusalem waktu itu dengan menggunakan keledai pinjaman itu ...

Ayat  8
Orang banyak yang sangat besar jumlahnya menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang memotong ranting-ranting dari pohon-pohon dan menyebarkannya di jalan.

Apa yang mereka lakukan?
Mereka melihat Yesus, mereka melihat kondisi jalan pada waktu itu yang mungkin tak semulus jalan raya kita hari ini ... Lalu mereka melakukan sesuatu: menghamparkan pakaian dan menyebarkan ranting di jalan. Menghamparkan pakaian tidak perlu usaha, hanya kerelaan ... dan mereka merelakan hal itu. Memotong ranting dan menyebarkannya di jalan tempat berlalunya Yesus ... ini yang tidak hanya sekedar rela, melainkan butuh usaha ... dan sekali lagi, mereka pun mau dan rela berusaha untuk mencari ranting, memotong ranting dan kemudian menyebarkannya di jalan sebagai tempat lalunya Yesus.

Apa yang bisa kita lakukan dengan apa yang kita miliki hari ini untuk Tuhan?
Seharusnya banyak hal yang bisa kita lakukan bagi kemuliaan Tuhan. Seharusnya ... ...

Matius 21:1-11 | Dengan Apa yang Kumiliki

Dengan Apa Yang Kumiliki


Ini cerita tentang seorang korban perang dari Amerika. Kisah nyata. Seorang tentara veteran perang Vietnam menjadi cacat tidak memiliki tangan kirinya lagi karena ledakan bom. Ada seorang anak muda yang sangat bersimpati kemudian berkata kepada pak tentara itu, "Pak, pasti sulit rasanya jika hari ini bapak sudah kehilangan tangan kiri bapak karena perang Vietnam dulu."

Lalu tentara itu merespon,
"Anak muda, saya tidak kehilangan tangan kiri saya. Saya memberikan tangan kiri saya untuk negara,"

Saya suka sekali dengan semangat para tentara (dari mana pun mereka berasal), mereka punya prinsip: Saya rela mati demi negara saya. Atau katakanlah seperti film-film bodyguard, "Saya boleh mati, tetapi client saya harus tetap hidup".

Itu prinsip para pejuang.
Kalau pejuang iman? Sama, "Saya rela melakukan segalanya demi iman saya, bahkan mati pun saya mau". Dan itu betul-betul terjadi dari dulu sampai sekarang. Makanya ada kutipan yang mengatakan bahwa, "Darah syuhada (orang Kristen yang mati syahid, para bapa gereja dulu) adalah fondasi gereja".

Tetapi sekarang mari kita melihat diri kita ...
Kalau ditanya apakah kita rela mati demi mempertahankan iman kita? Saya yakin masih buanyaak orang yang akan menjawab: Ya!

Akan tetapi yang mau kita renungkan hari ini dalam teks Alkitab kita ... seringkali kita berhadapan dengan hal-hal yang jauh jauh lebih sederhana dari pada 'harus' mati atau kehilangan nyawa untuk Tuhan.

Ayat 2-3
dengan pesan: "Pergilah ke kampung yang di depanmu itu, dan di situ kamu akan segera menemukan seekor keledai betina tertambat dan anaknya ada dekatnya. Lepaskanlah keledai itu dan bawalah keduanya kepada-Ku. Dan jikalau ada orang menegor kamu, katakanlah: Tuhan memerlukannya. Ia akan segera mengembalikannya."

Tuhan memerlukannya! 
Apa yang Tuhan perlu? Seekor keledai yang ada di rumah. Dalam teks paralelnya, Markus menceritakan bahwa perbuatan mengambil keledai milik orang itu diketahui oleh banyak orang di sekitar kandang keledai itu, yang hebat adalah mereka merelakan keledai itu untuk digunakan oleh Tuhan (mereka tidak meneriaki para murid itu maling lho ya).

Ternyata Tuhan seringkali memerlukan apa yang ada dalam kehidupan kita, di sekitar kehidupan kita untuk bisa diberdayakan oleh-Nya demi kemuliaan nama-Nya. Dan itu seringkali hal-hal yang jauh lebih sederhana dibandingkan apa yang diperbuat oleh veteran dalam kisah tadi demi negaranya.

Apa yang ada dalam kehidupan kita?
Tolong jangan hanya berpikir tentang uang persembahan yang bisa kita bawa kepada Tuhan demi kemuliaan nama-Nya. Apa yang bisa kita berikan kepada Tuhan jauh lebih luas dari pada hanya sekedar itu. Segenap daya, pikiran, tenaga ... bahkan seluruh hidup kita ... bukankah itu semua adalah kepunyaan Tuhan?

Saya salut dengan para murid (yang biasanya dalam narasi Injil dikisahkan hal-hal yang "buruk": kurang percaya, sok tahu, dll) ... kali ini para murid berlaku luar biasa. Yang pertama jelas mereka taat, di suruh pergi, mereka pergi mengambil keledai itu (padahal resikonya bisa diteriakin maling kan) ... Yang lebih hebat lagi adalah ...

Ayat 7
Mereka membawa keledai betina itu bersama anaknya, lalu mengalasinya dengan pakaian mereka dan Yesuspun naik ke atasnya.

Tanpa disuruh ... mereka tahu bahwa keledai itu akan dinaiki Yesus, dan mereka melihat bahwa keledai itu tidak memiliki pelana nya. maka mereka berinisiatif untuk memberikan apa yang ada dalam diri mereka untuk mengalasi keledai itu sehingga bisa dinaiki oleh Yesus.

Ada sebuah kesadaran bahwa melalui diri mereka, para murid dapat melakukan sesuatu untuk Yesus ... walaupun itu cuma 'perkara sepele' ... mengalasi keledai dengan baju mereka.

Jangan lupakan peran orang banyak yang melihat Yesus memasuki Yerusalem waktu itu dengan menggunakan keledai pinjaman itu ...

Ayat  8
Orang banyak yang sangat besar jumlahnya menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang memotong ranting-ranting dari pohon-pohon dan menyebarkannya di jalan.

Apa yang mereka lakukan?
Mereka melihat Yesus, mereka melihat kondisi jalan pada waktu itu yang mungkin tak semulus jalan raya kita hari ini ... Lalu mereka melakukan sesuatu: menghamparkan pakaian dan menyebarkan ranting di jalan. Menghamparkan pakaian tidak perlu usaha, hanya kerelaan ... dan mereka merelakan hal itu. Memotong ranting dan menyebarkannya di jalan tempat berlalunya Yesus ... ini yang tidak hanya sekedar rela, melainkan butuh usaha ... dan sekali lagi, mereka pun mau dan rela berusaha untuk mencari ranting, memotong ranting dan kemudian menyebarkannya di jalan sebagai tempat lalunya Yesus.

Apa yang bisa kita lakukan dengan apa yang kita miliki hari ini untuk Tuhan?
Seharusnya banyak hal yang bisa kita lakukan bagi kemuliaan Tuhan. Seharusnya ... ...

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER