Galatia 5:1-15 | Pecah - Pdt. Gerry Atje
Pecah


Pernahkah terbayangkan oleh kita tentang kehidupan bersama kita antara sesama orang percaya? Bayangkan ini:
A: Kamu dari gereja mana?
B: Aku dari gereja “Juruselamat”. Kamu dari mana?
A: Kalau aku dari gereja “Mesias”
B: (dalam hati: orang karismatik ni orang)
A: (dalam hati: ah, orang dari gereja tua)
A: Kamu dah dibaptis belum?
B. Ya udah dong
A: Maksud saya kamu udah dibaptis selam belum?
B: Aku dibaptis udah, tapi dipercik.
A: Baptis yang bener itu di selam tau!
B: Kata siapa? Baptis percik juga bener tau!
A: @$@$@%%^$^amp;^
B: $^&^$^&%**^&^*^ 
Kebayang dengan kelanjutan percakapannya kan ya .... Menyedihkan.
Kita diutus oleh Tuhan untuk hidup di dunia bukan untuk saling menggigit satu dengan yang lainnya.

Akan tetapi sayang seribu sayang, memang sejarah kehidupan orang percaya dipenuhi dengan pertengkaran seperti itu: mempertentangkan hal yang bukan hakiki dalam iman Kristen, tetapi seakan-akan menjadi yang paling utama sehingga kita punya alasan untuk ... seperti dalam bahasa teks Alkitab kita hari ini ... untuk saling menggigit dan menelan (ayat 15).

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, tersirat sebuah perdebatan antara orang Yahudi Kristen dengan mereka yang baru menjadi orang percaya yang berasal dari Yunani (bukan orang Yahudi). Intinya satu: Sudah sunat belum? (ayat 2-6).Ternyata dalam kehidupan berjemaat di Galatia ada sekelompok orang Yahudi Kristen yang menyatakan bahwa untuk menjadi seorang Kristen yang benar itu adalah dengan melakukan juga apa yang mereka lakukan sebagai orang Yahudi.

Ketaatan pada Hukum Yahudi dijadikan sebagai tolak ukur untuk menerima keselamatan dari Yesus Kristus. Hal inilah yang ditolak oleh iman Kristen (ayat 6).

[Kekristenan bukan anti ber-sunat lho ya, melainkan sunat sama sekali tidak berkaitan dengan Keselamatan. Bagi orang Yahudi, sunat adalah salah satu hal yang menentukan Keselamatan – Melakukan Hukum Taurat. Ini yang perlu digarisbawahi, sebab Keselamatan dalam iman Kristen adalah melalui pengorbanan Yesus Kristus. Bukan karena “melakukan” melainkan karena “anugerah”].

Satu pengalaman sangat berharga telah tercatat bagi kita, orang percaya yang hidup di masa kini. Jika dahulu telah terjadi pertengkaran akan hal-hal yang sangat tidak hakiki dalam iman Kristen, haruskah pengalaman itu berulang kembali dengan bentuk-bentuk yang baru, yang modern? Sehingga kita, pengikut Kristus harus terbagi-bagi (kamu dari Karismatik, kamu dari Ortodoks, kamu dari Pantekosta, kamu dari “Gereja Lama” .. dll ... dll ...)?

Dalam kehidupan berjemaat, virus perpecahan pun bisa menyusup kapan saja dan dengan cara yang sama sekali kita tak bisa duga, “ternyata hal itu bisa memecah belah kehidupan kita sebagai orang percaya”.

Bulan depan, gereja kita genap berusia 8 tahun hidup mandiri, ada satu misi yang akan kita tuju bersama sebagai jemaat: Mewujudkan kehidupan yang harmonis dan berdaya. Ada kata harmonis di sana, harmonis bukanlah ketiadaan perbedaan pendapat atau perselisihan, melainkan mampu menyikapi perselisihan dan perbedaan pendapat dengan bijak dan menjadikan kita semakin dewasa. “Aku dan kamu mungkin kita bisa berbeda pendapat (dan kita bisa gontok-gontokan mempertahankan argumen kita), tetapi itu tidak berarti melupakan bahwa aku dan kamu adalah … saudara.”

Satu hal yang perlu kita ingat, ketika kita hendak angkat suara untuk memulai pertengkaran: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (ayat 14).  Ataukah kita memang harus saling membinasakan dan melupakan bahwa kita semua adalah orang yang telah diselamatkan oleh Kristus Yesus dengan harga yang mahal?

Pokok Diskusi:
a. Virus perpecahan macam apa yang bisa mengancam kehidupan berjemaat sebagai orang percaya di masa kini?
b. Apa yang bisa kita lakukan untuk mengobati dan menyingkirkan “virus perpecahan” itu?
c. Bacalah kembali ayat 13. Apa artinya ayat itu untuk kehidupan kita sebagai orang percaya?

Galatia 5:1-15 | Pecah

Pecah


Pernahkah terbayangkan oleh kita tentang kehidupan bersama kita antara sesama orang percaya? Bayangkan ini:
A: Kamu dari gereja mana?
B: Aku dari gereja “Juruselamat”. Kamu dari mana?
A: Kalau aku dari gereja “Mesias”
B: (dalam hati: orang karismatik ni orang)
A: (dalam hati: ah, orang dari gereja tua)
A: Kamu dah dibaptis belum?
B. Ya udah dong
A: Maksud saya kamu udah dibaptis selam belum?
B: Aku dibaptis udah, tapi dipercik.
A: Baptis yang bener itu di selam tau!
B: Kata siapa? Baptis percik juga bener tau!
A: @$@$@%%^$^amp;^
B: $^&^$^&%**^&^*^ 
Kebayang dengan kelanjutan percakapannya kan ya .... Menyedihkan.
Kita diutus oleh Tuhan untuk hidup di dunia bukan untuk saling menggigit satu dengan yang lainnya.

Akan tetapi sayang seribu sayang, memang sejarah kehidupan orang percaya dipenuhi dengan pertengkaran seperti itu: mempertentangkan hal yang bukan hakiki dalam iman Kristen, tetapi seakan-akan menjadi yang paling utama sehingga kita punya alasan untuk ... seperti dalam bahasa teks Alkitab kita hari ini ... untuk saling menggigit dan menelan (ayat 15).

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, tersirat sebuah perdebatan antara orang Yahudi Kristen dengan mereka yang baru menjadi orang percaya yang berasal dari Yunani (bukan orang Yahudi). Intinya satu: Sudah sunat belum? (ayat 2-6).Ternyata dalam kehidupan berjemaat di Galatia ada sekelompok orang Yahudi Kristen yang menyatakan bahwa untuk menjadi seorang Kristen yang benar itu adalah dengan melakukan juga apa yang mereka lakukan sebagai orang Yahudi.

Ketaatan pada Hukum Yahudi dijadikan sebagai tolak ukur untuk menerima keselamatan dari Yesus Kristus. Hal inilah yang ditolak oleh iman Kristen (ayat 6).

[Kekristenan bukan anti ber-sunat lho ya, melainkan sunat sama sekali tidak berkaitan dengan Keselamatan. Bagi orang Yahudi, sunat adalah salah satu hal yang menentukan Keselamatan – Melakukan Hukum Taurat. Ini yang perlu digarisbawahi, sebab Keselamatan dalam iman Kristen adalah melalui pengorbanan Yesus Kristus. Bukan karena “melakukan” melainkan karena “anugerah”].

Satu pengalaman sangat berharga telah tercatat bagi kita, orang percaya yang hidup di masa kini. Jika dahulu telah terjadi pertengkaran akan hal-hal yang sangat tidak hakiki dalam iman Kristen, haruskah pengalaman itu berulang kembali dengan bentuk-bentuk yang baru, yang modern? Sehingga kita, pengikut Kristus harus terbagi-bagi (kamu dari Karismatik, kamu dari Ortodoks, kamu dari Pantekosta, kamu dari “Gereja Lama” .. dll ... dll ...)?

Dalam kehidupan berjemaat, virus perpecahan pun bisa menyusup kapan saja dan dengan cara yang sama sekali kita tak bisa duga, “ternyata hal itu bisa memecah belah kehidupan kita sebagai orang percaya”.

Bulan depan, gereja kita genap berusia 8 tahun hidup mandiri, ada satu misi yang akan kita tuju bersama sebagai jemaat: Mewujudkan kehidupan yang harmonis dan berdaya. Ada kata harmonis di sana, harmonis bukanlah ketiadaan perbedaan pendapat atau perselisihan, melainkan mampu menyikapi perselisihan dan perbedaan pendapat dengan bijak dan menjadikan kita semakin dewasa. “Aku dan kamu mungkin kita bisa berbeda pendapat (dan kita bisa gontok-gontokan mempertahankan argumen kita), tetapi itu tidak berarti melupakan bahwa aku dan kamu adalah … saudara.”

Satu hal yang perlu kita ingat, ketika kita hendak angkat suara untuk memulai pertengkaran: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (ayat 14).  Ataukah kita memang harus saling membinasakan dan melupakan bahwa kita semua adalah orang yang telah diselamatkan oleh Kristus Yesus dengan harga yang mahal?

Pokok Diskusi:
a. Virus perpecahan macam apa yang bisa mengancam kehidupan berjemaat sebagai orang percaya di masa kini?
b. Apa yang bisa kita lakukan untuk mengobati dan menyingkirkan “virus perpecahan” itu?
c. Bacalah kembali ayat 13. Apa artinya ayat itu untuk kehidupan kita sebagai orang percaya?

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER