I Raja-raja 18:20-21 | Soulmate - Pdt. Gerry Atje
Soulmate 
I Raja-raja 18:20-21 


Membaca bagian Alkitab kita hari ini, seharusnya kita menjadi bingung. Karena ini bukan kali pertamanya Israel melakukan apa yang dinyatakan dalam ayat 21: “berlaku timpang dan bercabang hati”. Sudah ratusan kali banyaknya Israel melakukan hal itu sebelum peristiwa yang kita baca dalam Alkitab kita hari ini di zaman Elia.

Mungkin orang bisa berkata, “berlaku timpang dan bercabang hati” masih lebih baik ketimbang “meninggalkan Tuhan atau beralih ke lain hati” sama sekali. Yang satu, tidak meninggalkan tetapi mendua: “Ke sana iya, ke sini iya”. Yang terakhir, putus hubungan sama sekali dengan Tuhan. Yang pertama lebih baik? Menurut ukuran manusia sih bisa bilang gitu: “kan saya tidak meninggalkan, hanya jajan saja” ... Tetapi jelas menurut Tuhan itu tetap saja, salah.

Makanya gambaran yang seringkali dihadirkan oleh Tuhan untuk mengungkapkan hubungannya dengan umat percaya itu seperti ... pernikahan. Tuhan sebagai mempelai pria dan umat sebagai mempelai perempuan. Berkali-kali dikhianati dan berkali-kali pula diterima kembali. Bingungkan?

Seharusnya memang kita bingung plus bersyukur.
Bersyukur karena memang secara hakikat, kita semua ini orang yang berdosa di hadapan Tuhan tetapi yang mendapatkan anugerah-Nya selalu sehingga kita bisa kembali pulang.

Prinsipnya kan begini: “Bukan kamu yang memilih Aku, melainkan Aku yang memilih kamu”. Itulah komitmen dan setia-Nya Tuhan kepada kita. Jadi ketika ada yang mulai berpikir dan memutuskan untuk beranjak pergi keluar dari “lingkaran keluarga” .... coba tebak siapa yang mulai “angkat kaki”?

Tuhan tidak akan pernah “angkat kaki” meninggalkan orang-orang yang telah dipilih-Nya. Tuhan hanya menjadi “subyek yang menderita” karena ditinggalkan oleh orang-orang yang dikasihi-Nya. Bahkan dengan situasi “ditinggalkan sendirian” seperti itu pun, Tuhan tidak pernah berpikir untuk beranjak pergi ... Dia menantikan dan berjuang agar kita akhirnya ... kembali.

Kalau di Perjanjian Baru, Yesus menggunakan gambaran “anak yang hilang dan pulang kembali ke rumah” ... Dalam Perjanjian Lama, seharusnya “belahan hati dan jiwa yang hilang dan bersatu kembali. Soulmate!”

Saya tertarik untuk mencari tahu jawaban atas pertanyaan mengapa Israel di hari itu seringkali memutuskan untuk mendua hati atau bahkan pergi meninggalkan Tuhan?

Satu penyebabnya adalah, “Perubahan Kehidupan”
Dulu, Israel mengembara di padang gurun dan hidup nomaden – berpindah-pindah, sekarang ... zaman telah berubah: Ini zaman Kerajaan bung! Kita hidup menetap dan bercocok tanam selain juga beternak (ingat kebun anggur Nabot? Dulu mana bisa Israel melakukan itu di padang gurun).

Jika dahulu Allah terbukti hebat di padang gurun, sekarang ... di masyarakat agraris – bertani ... “Jangan-jangan Allah kurang hebat kalau di bagian ini, sebab kata tetangga sebelah, Baal di sini jagonya”.

Hasilnya?
‘Win-win solution’, memberlakukan hati yang mendua – ke Tuhan iya, ke Baal juga iya. Dan yang paling mengesalkan (menurut ukuran manusia kali ya) adalah “waktu senang-senangnya ke sana, waktu sakit, susah, sedih, duka nya ke sini” ...

Sewaktu Elia bertanya: “Berapa lama lagi kamu berlaku timpang dan bercabang hati?” Apa sih yang dituntut oleh Elia? Komitmen. Setia. Sama seperti orang yang bisa berkata di masa kini: “Meskipun banyak orang di luar sana yang lebih cantik atau ganteng, istriku atau suamiku tetap yang paling cantik atau ganteng sedunia”. Itulah setia, itulah komitmen.

Menumbuhkan bukan hanya sekedar rasa cinta, tetapi komitmen dan berlaku setia. Itu yang harus kita perjuangkan bersama.

Di zaman sekarang, tantangannya bahkan lebih kompleks lagi. Sebab kita berhadapan dengan sesuatu yang mungkin, entah sadar atau kita tidak sadari, kita sudah ilah-kan sehingga kita memiliki hati yang mendua.

Saya suka sewaktu ada orang yang bilang, untuk mengecek apakah seseorang itu sedang meng-ilah-kan sesuatu atau tidak ... lihatlah respon awal orang tersebut ketika dihadapkan dengan pertanyaan: “Apakah saya mau menjawab panggilan Tuhan, jika Tuhan meminta saya untuk melakukan sesuatu?” Lihatlah apa reaksi kita terhadap pekerjaan kita di kantor, harta benda yang kita miliki atau bahkan terhadap keluarga sewaktu Tuhan memanggil kita untuk melakukan sesuatu. “Siap Tuhan” atau “Nantilah, lain kali aja”.

Dalam kehidupan ber-jemaat, pernahkah kita bertanya ... Kenapa sih saya ada di sini? Kebetulankah? Atau hanya sekedar “karena bapaknya bapak saya memang sejak dulu di sini”?

Bukankah jawabannya seharusnya lebih dari itu.
Kita ada di sini karena Tuhan memang telah memilih dan menempatkan kita semua di sini untuk berkarya dan melayani bagi Dia dan sesama. Tuhan juga tahu bahwa melalui kehadiran kita di sini, Dia bisa melakukan sesuatu bagi kebersamaan kita melalui hidup kita.

Memberikan hati kita sepenuhnya untuk karya dan pelayanan bersama kita bagi Tuhan di sini (dimanapun kita berada hari ini) ... itu yang menjadi tugas dan tanggung-jawab yang diberikan Tuhan kepada kita. Mulai dengan mengucapkan bahwa kita di sini bisa, adalah langkah awal untuk membuat suatu gerakan.

Bapak dan ibu, kita semua di sini, di gedung gereja kita ini selalu kipas-kipas karena kepanasan bukan? Kalau kita mau, kita bisa kok tidak lagi kipas-kipas karena kita semua kepanasan di dalam gedung gereja kita ini. Menurut bapak dan ibu, kita bisa melakukan hal itu gak sih – tidak lagi kipas-kipas di saat kita ibadah di dalam gedung gereja kita ini – ???

Bisa.
Karena “aku dan kamu di tambah Tuhan, kita adalah satu jiwa – soulmate”.

I Raja-raja 18:20-21 | Soulmate

Soulmate 
I Raja-raja 18:20-21 


Membaca bagian Alkitab kita hari ini, seharusnya kita menjadi bingung. Karena ini bukan kali pertamanya Israel melakukan apa yang dinyatakan dalam ayat 21: “berlaku timpang dan bercabang hati”. Sudah ratusan kali banyaknya Israel melakukan hal itu sebelum peristiwa yang kita baca dalam Alkitab kita hari ini di zaman Elia.

Mungkin orang bisa berkata, “berlaku timpang dan bercabang hati” masih lebih baik ketimbang “meninggalkan Tuhan atau beralih ke lain hati” sama sekali. Yang satu, tidak meninggalkan tetapi mendua: “Ke sana iya, ke sini iya”. Yang terakhir, putus hubungan sama sekali dengan Tuhan. Yang pertama lebih baik? Menurut ukuran manusia sih bisa bilang gitu: “kan saya tidak meninggalkan, hanya jajan saja” ... Tetapi jelas menurut Tuhan itu tetap saja, salah.

Makanya gambaran yang seringkali dihadirkan oleh Tuhan untuk mengungkapkan hubungannya dengan umat percaya itu seperti ... pernikahan. Tuhan sebagai mempelai pria dan umat sebagai mempelai perempuan. Berkali-kali dikhianati dan berkali-kali pula diterima kembali. Bingungkan?

Seharusnya memang kita bingung plus bersyukur.
Bersyukur karena memang secara hakikat, kita semua ini orang yang berdosa di hadapan Tuhan tetapi yang mendapatkan anugerah-Nya selalu sehingga kita bisa kembali pulang.

Prinsipnya kan begini: “Bukan kamu yang memilih Aku, melainkan Aku yang memilih kamu”. Itulah komitmen dan setia-Nya Tuhan kepada kita. Jadi ketika ada yang mulai berpikir dan memutuskan untuk beranjak pergi keluar dari “lingkaran keluarga” .... coba tebak siapa yang mulai “angkat kaki”?

Tuhan tidak akan pernah “angkat kaki” meninggalkan orang-orang yang telah dipilih-Nya. Tuhan hanya menjadi “subyek yang menderita” karena ditinggalkan oleh orang-orang yang dikasihi-Nya. Bahkan dengan situasi “ditinggalkan sendirian” seperti itu pun, Tuhan tidak pernah berpikir untuk beranjak pergi ... Dia menantikan dan berjuang agar kita akhirnya ... kembali.

Kalau di Perjanjian Baru, Yesus menggunakan gambaran “anak yang hilang dan pulang kembali ke rumah” ... Dalam Perjanjian Lama, seharusnya “belahan hati dan jiwa yang hilang dan bersatu kembali. Soulmate!”

Saya tertarik untuk mencari tahu jawaban atas pertanyaan mengapa Israel di hari itu seringkali memutuskan untuk mendua hati atau bahkan pergi meninggalkan Tuhan?

Satu penyebabnya adalah, “Perubahan Kehidupan”
Dulu, Israel mengembara di padang gurun dan hidup nomaden – berpindah-pindah, sekarang ... zaman telah berubah: Ini zaman Kerajaan bung! Kita hidup menetap dan bercocok tanam selain juga beternak (ingat kebun anggur Nabot? Dulu mana bisa Israel melakukan itu di padang gurun).

Jika dahulu Allah terbukti hebat di padang gurun, sekarang ... di masyarakat agraris – bertani ... “Jangan-jangan Allah kurang hebat kalau di bagian ini, sebab kata tetangga sebelah, Baal di sini jagonya”.

Hasilnya?
‘Win-win solution’, memberlakukan hati yang mendua – ke Tuhan iya, ke Baal juga iya. Dan yang paling mengesalkan (menurut ukuran manusia kali ya) adalah “waktu senang-senangnya ke sana, waktu sakit, susah, sedih, duka nya ke sini” ...

Sewaktu Elia bertanya: “Berapa lama lagi kamu berlaku timpang dan bercabang hati?” Apa sih yang dituntut oleh Elia? Komitmen. Setia. Sama seperti orang yang bisa berkata di masa kini: “Meskipun banyak orang di luar sana yang lebih cantik atau ganteng, istriku atau suamiku tetap yang paling cantik atau ganteng sedunia”. Itulah setia, itulah komitmen.

Menumbuhkan bukan hanya sekedar rasa cinta, tetapi komitmen dan berlaku setia. Itu yang harus kita perjuangkan bersama.

Di zaman sekarang, tantangannya bahkan lebih kompleks lagi. Sebab kita berhadapan dengan sesuatu yang mungkin, entah sadar atau kita tidak sadari, kita sudah ilah-kan sehingga kita memiliki hati yang mendua.

Saya suka sewaktu ada orang yang bilang, untuk mengecek apakah seseorang itu sedang meng-ilah-kan sesuatu atau tidak ... lihatlah respon awal orang tersebut ketika dihadapkan dengan pertanyaan: “Apakah saya mau menjawab panggilan Tuhan, jika Tuhan meminta saya untuk melakukan sesuatu?” Lihatlah apa reaksi kita terhadap pekerjaan kita di kantor, harta benda yang kita miliki atau bahkan terhadap keluarga sewaktu Tuhan memanggil kita untuk melakukan sesuatu. “Siap Tuhan” atau “Nantilah, lain kali aja”.

Dalam kehidupan ber-jemaat, pernahkah kita bertanya ... Kenapa sih saya ada di sini? Kebetulankah? Atau hanya sekedar “karena bapaknya bapak saya memang sejak dulu di sini”?

Bukankah jawabannya seharusnya lebih dari itu.
Kita ada di sini karena Tuhan memang telah memilih dan menempatkan kita semua di sini untuk berkarya dan melayani bagi Dia dan sesama. Tuhan juga tahu bahwa melalui kehadiran kita di sini, Dia bisa melakukan sesuatu bagi kebersamaan kita melalui hidup kita.

Memberikan hati kita sepenuhnya untuk karya dan pelayanan bersama kita bagi Tuhan di sini (dimanapun kita berada hari ini) ... itu yang menjadi tugas dan tanggung-jawab yang diberikan Tuhan kepada kita. Mulai dengan mengucapkan bahwa kita di sini bisa, adalah langkah awal untuk membuat suatu gerakan.

Bapak dan ibu, kita semua di sini, di gedung gereja kita ini selalu kipas-kipas karena kepanasan bukan? Kalau kita mau, kita bisa kok tidak lagi kipas-kipas karena kita semua kepanasan di dalam gedung gereja kita ini. Menurut bapak dan ibu, kita bisa melakukan hal itu gak sih – tidak lagi kipas-kipas di saat kita ibadah di dalam gedung gereja kita ini – ???

Bisa.
Karena “aku dan kamu di tambah Tuhan, kita adalah satu jiwa – soulmate”.

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER