Pekan Keluarga VIII GKP Galilea Tanjung Priok - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

Pekan Keluarga Galilea VIII 
Mewujudkan Kehidupan Jemaat 
yang Harmonis dan Berdaya” 
GKP Tanjung Priok, 27 Juni – 5 Juli 2013 




Kamis, 27 Juni 2013 
(II Raja-raja 22:1-2) 
Kecil-kecil Cabe Rawit 


Usia delapan tahun memang masih tergolong “kanak-kanak”. Mau dilihat dari sudut pandang apapun, yang namanya masih “kanak-kanak” sudah sewajarnya dipenuhi oleh tindakan yang ke-kanak-kanak-an, namanya juga masih anak-anak. Akan tetapi, usia yang masih sangat dini itu tidaklah berarti sama sekali “tak mampu berbuat apa-apa” untuk bertindak - bersikap dewasa dan melakukan sesuatu yang terbaik bagi Tuhan. Seperti kata orang, menjadi kanak-kanak itu adalah proses, tetapi menjadi dewasa itu adalah sebuah pilihan.

Mengawali rangkaian Pekan Keluarga VIII GKP Galilea Tanjung Priok, kita mau melihat kembali sepak terjang luar biasa yang pernah dilakukan oleh seorang anak kecil: Yosia. Dalam teks Alkitab kita hari ini dikatakan bahwa, “Yosia melakukan apa yang benar di mata Tuhan ...” (ayat 2). Saya mau mengajak kita untuk melihat 3 kondisi nyata yang dihadapi oleh Yosia waktu itu.
(1). Usia 8 tahun benar-benar terlalu dini untuk diberikan tanggung jawab sebagai seorang raja Israel. Bagi orang Yahudi, seseorang dipandang dewasa sewaktu dia genap berusia 13 tahun. Yosia, 5 tahun lebih awal sudah diberikan kepercayaan sebesar itu ... tanpa pengalaman apa-apa.
(2) Faktor keluarga. Keluarga Yosia tidak mewariskan model peran seorang yang baik. Ayahnya, Amon (II Raja-raja 21:20) dan Kakeknya, Manasye (II Raja-raja 21:2); Keduanya tercatat sebagai raja yang amburadul di mata Tuhan. Latar belakang keluarga yang menyedihkan.
(3) Kondisi Iman Israel yang sangat jeblok. Lihatlah proses panjang yang tercatat dalam II Raja-raja 23:1-30, di mana Yosia mengadakan pembaharuan di hadapan bangsanya. Sangat jeblok perilaku Israel di masa Yosia.
Namun yang luar biasa adalah Yosia sanggup meruntuhkan keraguan orang yang tahu tentang 3 fakta berat yang ada dalam kehidupannya itu. (Jika kita ada di zaman Yosia waktu itu, kita mungkin menjadi seorang yang ragu akan kemampuan Yosia).

Jemaat “Galilea” Tanjung Priok pun beberapa hari ke depan menapaki usia 8 tahun. Masih kecil memang, tetapi bukan berarti kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk melakukan sesuatu bagi Tuhan. Sama halnya Tuhan bisa menggunakan siapa saja, kapan saja dan di mana saja untuk melakukan sesuatu bagi-Nya ... Bapak, Ibu dan teman-teman muda semua, kita bisa berbuat sesuatu yang baik untuk kehidupan bersama kita hari ini. Entah di keluarga, di sekolah, di tempat kerja dan bahkan di dalam kebersamaan kita sebagai jemaat Tuhan di Galilea. Jadi apa yang bisa kita lakukan bagi Dia dalam kehidupan kita hari ini?


Jumat, 28 Juni 2013 
Matius 12:44 
Harta yang Terpendam 


Tidak mencari harta yang berharga itu diluar sana, temukanlah harta yang berharga itu ada di dalam halaman rumahmu sendiri”. Itulah kesimpulan dari kisah yang disampaikan oleh Russell Conwell (1843-1925) sewaktu menulis buku yang berjudul “Acres of Diamonds”.

Dalam bukunya itu Conwell bercerita tentang seorang saudagar kaya yang mendengar berita bahwa ada harta terpendam di suatu daerah. Saudagar itu pun memutuskan untuk pergi dari rumahnya untuk mencari harta terpendam itu. Tetapi ternyata ia tidak menemukan apa-apa dalam perjalanan pencariannya sehingga ia memutuskan untuk kembali pulang ke rumahnya. Setibanya di rumah, secara tidak sengaja saudagar kaya itu melihat sebuah batu hitam dengan mata cahaya yang memantulkan semua warna pelangi. Ternyata batu berlian berharga yang selama ini dia cari ke mana-mana itu adanya di lingkungan rumahnya sendiri.

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, Yesus menceritakan tentang seseorang yang “sudah menemukan harta yang terpendam” itu. Lalu apa yang diperbuat olehnya? Ia sangat bersukacita dan melakukan segalanya untuk benar-benar meraih harta yang terpendam itu.

Ada harta yang masih terpendam dalam kehidupan kita, baik itu kehidupan pribadi maupun kehidupan bersama kita: keluarga ataupun sebagai jemaat Tuhan di “Galilea – Tanjung Priok”. “Harta” yang bila kita temukan dan olah dengan baik, maka itu menjadi sarana bagi kita semua untuk semakin memuliakan Tuhan dalam hidup kita.

Tetapi sayangnya, ada kecenderungan persis seperti apa yang telah dinyatakan oleh Conwell dan kecenderungan yang tidak persis sama seperti apa yang telah dinyatakan oleh Yesus.

Dalam kisah Conwell, persamaannya adalah seperti layaknya saudagar kaya yang tidak menyadari bahwa “harta terpendam itu ada di halaman rumahnya sendiri”, ada banyak orang yang melihat bahwa kilaunya “harta yang berharga” itu selalu ada diluar jangkauan hidupnya hari ini. Dia meninggalkan apa yang telah Tuhan berikan padanya untuk digali dan ditemukan, dan mencarinya ditempat-tempat yang lain. Padahal hartanya itu ada di sini, “di tempatmu” bukan di sana dan nanti, melainkan di sini dan sekarang. Sebutlah “harta” itu sebagai kedamaian, sejahtera, ... atau bahkan “ibadah yang gak ngebosenin – monoton atau apalah itu namanya” ... Semua harta yang berharga itu ada “dihalaman rumah” kita juga.

Masalahnya hanya satu, setelah menemukan atau minimal tahu bahwa ada harta yang terpendam yang ia temukan, ia tidak melakukan pergerakan apa-apa untuk meraih betul-betul “kekayaan” yang ia temukan itu. Mereka hanya berhenti di kalimat pertama dari apa yang dikisahkan oleh Yesus, “ ... harta yang ditemukan di ladang, lalu ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi, ...”. Ketemu harta yang berharganya itu, tetapi dipendamnya lagi. Selesai.

Tantangan setiap kita hari ini adalah melanjutkan ayat 44 ini hingga akhir, “ ... Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu”. Setelah melihat sang harta terpendam itu, ada upaya dan perjuangan yang harus dia lakukan untuk benar-benar meraih dan mengembangkan harta terpendam itu.

Harta terpendam apa yang akan kita temukan dalam kehidupan keseharian kita ditengah keluarga dan jemaat? Semoga kita tidak pernah berpikir bahwa kita “tidak memiliki harta terpendam apa-apa” di tengah-tengah kehidupan keluarga kita dan jemaat Tuhan di “Galilea” hari ini. Mari kita gali, temukan dan kembangkan “harta yang terpendam” itu bagi kemuliaan Tuhan.

Sabtu, 29 Juni 2013
1 Tawarikh 4:9-10
Berani 


Membosankan! Kata itu mungkin tepat untuk menggambarkan beberapa pasal yang mengawali Kitab 1 Tawarikh. Hampir 90% dari 15 pasal paling awal dari Kitab 1 Tawarikh memang isinya menceritakan tentang data silsilah, nama-nama orang yang entah siapa mereka itu, kita gak kenal. Kalau istilahnya salah satu komikus Stand Up Comedy, “Bodo amat! Kenal juga enggak!”

Menjemukan. Karena sewaktu kita baca keterangan ayatnya, kita cuma tahu nama saja, sedangkan kisah hidup mereka, hampir bisa dipastikan kita gak tahu apa-apa sama sekali.

Tetapi ada sesuatu yang berbeda ketika penulis kitab Tawarikh ini menyebutkan nama Yabes. Seakan-akan sang penulis mau menyatakan, “Tunggu dulu, ada sesuatu yang istimewa dari hidup Yabes ini yang perlu Anda lebih tahu lagi”. Lalu kita bertanya, “Memang apa istimewanya si Yabes itu?”

Mari kita lihat istimewanya Yabes. Dari teks Alkitab kita hari ini, kita jadi tahu bahwa Yabes itu adalah nama yang diberikan oleh ibunya. Arti nama Yabes itu sendiri cukup mengerikan, dalam bahasa Ibrani, Yabes artinya “Pesakitan” (ayat 9 – harafiah: Ia menyebabkan atau akan menyebabkan kesakitan). Jangan tanya kenapa mamanya memberi nama itu kepada dia, tetapi bayangkan saja tekanan yang ada dalam diri Yabes dengan menyandang nama yang se-negatif itu: “Dia yang akan menyebabkan kesakitan, sang Pesakitan”

Saya membayangkan Yabes kecil suatu hari tidak naik kelas, lalu teman-temannya meledek, “Makanya, ganti dulu namamu jadi bagus dikit. Nama kok artinya Pesakitan, sakit teruslah kamu jadinya”

Istimewanya Yabes. Dengan kenyataan seperti itu, Yabes malah berani untuk menaikkan sebuah doa yang hebat: "Kiranya engkau memberkati aku berlimpah-limpah dan memperluas daerahku, dan kiranya tangan-Mu menyertai aku, dan melindungi aku dari pada malapetaka, sehingga kesakitan tidak menimpa aku."

Ketimbang mempersiapkan upacara bubur merah – bubur putih (untuk ganti nama), Yabes lebih memilih untuk berdoa secara berani. Dia meminta kepada Tuhan, sesuatu yang lebih daripada arti dari namanya itu. Yakin bahwa sumber berkat itu Tuhan, bukan bergantung pada “nama” atau apapun lainnya di dunia ini.

Mari kita tengok sejenak kehidupan kita. Kenyataan memang lebih suka muncul tidak sesuai dengan harapan kita, bukan? Kita ingin terus maju dan berkembang dalam kehidupan bersama kita, tidak “begini-begini terus” dalam hidup keluarga, pekerjaan, jemaat dll, tetapi ... . Satu pertanyaan, masihkah kita seberani Yabes untuk meminta (atau dalam bahasa saudara kita, meng-klaim) berkat Tuhan bagi hidup kita hari ini?

Tuhan aku percaya bahwa keluargaku akan dipulihkan. Tuhan aku percaya bahwa Jemaat Galilea akan terus bertumbuh dan berkembang. Tuhan aku percaya bahwa aku akan terus “naik” dalam pekerjaan ku hari ini. Berani mengucapkan doa seperti itu?

Ketika Yabes memiliki keberanian, maka dia menemukan jawaban Tuhan: “Dan Allah mengabulkan permintaannya itu” (ayat 10). Akan kah kita ikut serta, menemukan jawaban-jawaban dari Tuhan atas doa-doa yang kita naikkan untuk kehidupan bersama kita? Beranilah berdoa, beranilah untuk mempercayai-Nya.

Senin, 2 Juli 2013
(Kisah Para Rasul 3:1-10)
Ketakjuban 


Lebih dari sekedar heran, lebih dari sekedar kagum ... itulah ketakjuban. Seperti seorang terpelongok memandang pelangi sehabis hujan dan kehabisan kata-kata untuk melukiskan keindahan karunia Tuhan itu.

Kita sebenarnya bisa merasa takjub akan banyak sekali hal yang terjadi dalam kehidupan kita hari ini. Suatu hari saya pernah bertemu dengan sepasang kakek-nenek sedang suap-suapan makannya. Anda takjub? Saya takjub, “Masih ada rupanya pasangan kakek nenek yang seromantis itu”. Atau bahkan ketika bertemu dengan seorang anak yang lewat di tengah kumpulan orang yang sedang duduk, ketimbang dia melengos begitu saja ... dia berkata, “Permisi pak, bu ...” ... Anda takjub? Saya takjub. Ternyata masih ada.

Mungkin, hari ini kita memang kehilangan banyak potensi ketakjuban karena kita sudah melupakan banyak hal sederhana yang bisa kita lakukan, padahal itu hal yang ... menakjubkan.

Apa yang dilakukan oleh Rasul Petrus dalam teks kita hari ini sungguh membuat semua orang takjub (ayat 10). Bagaimana tidak? Ada seorang yang sejak lahir lumpuh, tiba-tiba dilihat oleh orang banyak dia bisa berjalan bahkan melompat memuji Allah.

Saya tahu apa yang ada dalam pikiran kita saat ini, “Tuhan, aku tak bisa melakukan apa yang dilakukan oleh Petrus ... menyembuhkan orang lumpuh”. Tidak apa-apa. Tetapi itu bukan berarti kita tidak bisa melakukan sesuatu yang menakjubkan dalam kehidupan kita bersama-sama dengan Tuhan.

Ketika seseorang sanggup mengampuni seseorang yang lain yang sangat-sangat telah menyakiti hatinya ... Itu menakjubkan. Ketika seseorang berjuang menggapai impian yang belum terwujud, tetapi tidak kehilangan iman bahwa suatu hari nanti dia akan meraihnya ... Itu menakjubkan. Dahulu pernah ada seorang yang bercerita pada saya, “Pak Pendeta, saya tahu sejarah keluarga itu dari mulai gajinya itu Rp 60.000,- puluhan tahun yang lalu, hingga sekarang ... mereka setia sekali membawa persembahan syukurnya pada Tuhan” ... Itu pun menakjubkan.

Atau bila suatu hari ibu melihat ayah sedang mencuci pakaian dan makanan ternyata sudah tersaji di atas meja makan, siap untuk dinikmati bersama ... Itu pun tak kalah menakjubkannya. Benarkan ya?


Selasa, 3 Juli 2013 
Kejadian 24:13-20
Hati seperti Ribka 


Seorang tak dikenal menemui gadis cantik yang sedang membawa segalon air di atas bahunya, lalu berkata: “tolong beri aku minum air dari air yang kau bawa itu”. Tak ada wawancara khusus supaya terkesan tidak “sok kenal sok deket”, tak ada sikap sombong, yang ada hanyalah satu ketulusan untuk menolong: “minumlah tuan”.

Kita semua seharusnya jatuh hati kepada hati yang dimiliki oleh Ribka. Sudah capek-capek turun ke mata air itu untuk menimba segalon air, kemudian membawa galon air itu di atas bahunya ... di saat pikirannya bisa melintas, “sebentar lagi sampai rumah, tugasku hampir selesai” .. Eh ada yang minta air itu untuk minum.

Tidak berhenti di situ saja, ini yang lebih “gila” lagi (baca: lebih membuat kita jatuh hati lagi), dia pun menawarkan diri (bukan karena diminta lho) untuk memberikan unta mereka supaya minum sampai puas juga. Bukan cuma 1 unta, melainkan ada 10 unta (ayat 10)! Unta kan minumnya buanyaaakkk ya ..

Bacalah sekali lagi ayat 19-20, lalu bayangkanlah berapa kali bolak-balik itu dia sampai 10 unta nya itu puas minum? John C. Maxwell membuat perhitungannya begini, untuk bisa membuat 10 unta itu puas minum, Ribka membutuhkan 200 galon (buyung) air dan bolak-balik perjalanan nimba air – menaruh air di palungan itu sebanyak 100 kali jika dua bahu Ribka digunakan untuk memikul galon air itu. Mari kita hitung-hitungan waktu nya. Katakanlah satu kali perjalanan nimba air dan balik ke tempat palungan itu 3 menit. Tiga ratus menit atau tepat 5 jam lamanya Ribka menolong para unta supaya puas minum. Gila kan ya! Kegilaan yang membuat kita jatuh hati pada hati yang dimiliki Ribka.

Andaikan saja hati seperti Ribka itu juga adalah hati yang kita miliki hari ini ... Tulus dalam menolong, peka dalam menawarkan bantuan, murah hati dalam bekerja ... Tapi untuk apa berandai-andai? Lebih baik memulai sesuatu yang bisa kita kerjakan dan lakukan dalam kehidupan keseharian kita: bagi keluarga kita, bagi jemaat, bagi kehidupan di sekitar kita. Supaya hati seperti Ribka adalah hati yang kumiliki juga dalam hidupku ini.

Rabu, 4 Juli 2013 
Bilangan 20:14-21
Ribut Rukun 


Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, kita bertemu dengan dua bangsa yang jelas bersaudara, yaitu: bangsa Israel yang berasal dari keturunan Yakub, dan bangsa Edom yang berasal dari keturunan kakaknya Yakub, Esau. Kitab Kejadian 36:1 menyebutkan, “Inilah keturunan Esau, yaitu Edom.” Itulah sebabnya dalam teks kita hari ini, Israel membahasakan kepada Edom, bahwa “dirinya” itu adalah seorang saudara (ayat 14). Seorang saudara yang sedang kesusahan dan meminta tolong kepada “kakak” nya untuk melakukan sesuatu bagi mereka: izin lewat kawasan kekuasaan bangsa Edom.

Tetapi apa nyata, dua kali Israel berteriak minta tolong (ayat 17 dan 19), dua kali pula saudara tuanya berkata tidak. Apa alasan bangsa Edom menolak permintaan tolong yang sederhana dari saudaranya itu? Teks kita tidak menjelaskan apa-apa tentang hal itu. Mungkin saja bangsa Edom memang tak mau repot untuk bekerja ekstra ketika membiarkan satu bangsa berjalan dan melewati daerah mereka. Atau ... mungkinkah karena alasan sejarah masa lalu yang masih selalu diingat oleh keturunan Esau itu? Tentang pertikaian antara Yakub dan Esau sejak peristiwa sup kacang merah hingga Yakub yang memperdaya ayah mereka untuk mendapatkan berkat, yang masih selalu diingat oleh Edom?

Bangsa Edom memang tidak akur dengan bangsa Israel (padahal, antara Yakub dan Esau sendiri sudah ada rekonsiliasi, perdamaian. Lihat: Kejadian 33 “Yakub berbaik kembali dengan Esau”). Di masa kemudian, pertikaian Edom dan Israel seperti yang dicatat dalam Mazmur 137:7, semakin memuncak. Penyebabnya ialah ketika Israel yang sudah masuk ke Tanah Perjanjian, kemudian diserang dan dihancurkan oleh bangsa Babel, bangsa Edom justru bersorak sorai karena hal itu.

Saya heran sekali dengan dua keturunan kakak beradik itu, apa mereka gak capek dengan pertikaian yang selalu diusung ketika mereka berjumpa ya? Jangkauan waktunya mencapai ratusan tahun lho, sejak zaman nenek moyang mereka: Yakub dan Esau, hingga hari itu mereka sudah menjadi suatu bangsa yang besar.

Apakah memang sebegitu sulitnya untuk melupakan masa lalu yang buruk, katakanlah sebuah pertikaian, sehingga setiap mereka harus mengunyah akar pahit terus sampai mereka mati? Seberat itukah gerak lengan kita untuk mengulurkan tangan tanda perdamaian?

Jemaat Galilea Tanjung Priok tahun ini, di saat sebentar lagi merayakan ulang tahunnya yang ke VIII, mendefinisikan satu harapannya tentang kehidupan bersama itu dengan kalimat: “Mewujudkan Kehidupan Jemaat yang Harmonis dan Berdaya”. Seseorang mungkin bisa berpikir, “Kok Visinya ada kata mewujudkan jemaat ..., berarti belum terwujud dong keharmonisan dan keberdayaan itu?” Tentu bukan seperti itu maksudnya. Maksudnya adalah keharmonisan dan keberdayaan dalam kehidupan kita itu akan selalu menjadi perjuangan bersama kita. Tiap-tiap hari kita menggumuli hal-hal berkaitan dengan keharmonisan dan keberdayaan kita itu. Bersyukurlah bahwa sampai hari ini (dan seterusnya), keharmonisan dan keberdayaan menjadi bagian dalam kehidupan kita sebagai jemaat. Keharmonisan bukanlah kehidupan tanpa pertikaian, tetapi keharmonisan adalah kehidupan yang “hidup ribut, sekaligus juga menemukan hidup rukunnya kembali”.

Ribut dan tak menemukan kembali apa itu artinya rukun, itulah yang terjadi dalam teks Alkitab kita hari ini. Tetapi kita? Selamat ribut rukun.

Kamis, 5 Juli 2013 
Matius 13:31-32 
Manfaat 


Selamat ulang tahun ke 8 bagi kita semua. Tidak terasa ya, ternyata hari berlalu begitu cepat. Seperti baru kemarin kita mengadakan pekan keluarga yang ke 7 tahun lalu, eh sekarang sudah nambah satu tahun lagi usia gereja Tuhan di Galilea Tanjung Priok. Setiap kali ada yang berulang tahun, tentu harapannya adalah “dia” bisa menjadi semakin dewasa. Sejarah hidup harus membuat dia belajar akan sesuatu yang membuatnya semakin bertumbuh.

Dalam pembacaan Alkitab kita di hari istimewa ini, Tuhan Yesus menggambarkan sesuatu yang luar biasa. Luar biasa karena memberikan penggambaran tentang sesuatu yang suuaaangaaat besar (Kerajaan Allah), dengan sesuatu yang benar-benar tampak kecil (biji sesawi). Menggambarkan sesuatu dengan gambaran yang benar-benar mengejutkan.

Sebutir biji sesawi itu memang adalah yang pualing kuecil, ukurannya cuma kurang dari 1 milimeter (kurang dari 0,1 cm). Tetapi dari yang sangat kecil itu di kemudian hari bisa bertumbuh hingga 2-5 meter dari permukaan tanah (ribuan kali lipat dari ukurannya yang semula).

Melihat kehidupan kita, keluarga ataupun sebagai jemaat, mungkin kita merasa memiliki kesamaan dengan biji sesawi. “Tuhan, aku pun bukan sesuatu yang besar, aku ini kecil sekali dibandingkan dengan yang lain”. Itu bisa jadi benar, kita hari ini adalah sesuatu yang tampak kecil. Tetapi tolong diingat bahwa Tuhan Yesus justru menggambarkan suatu yang sangat besar (Kerajaan Allah) itu dengan sesuatu yang tampak kecil pada awalnya. Mengapa?

Ternyata Sesawi itu biar kecil, namun memiliki banyak daya yang bermanfaat. Biji sesawi itu sering digunakan oleh orang sebagai penyedap masakan karena aromanya yang sedap jika dimasak dan memiliki berbagai macam vitamin. Tetapi bukan hanya itu saja, ketika biji sesawi ini ditanam dan kemudian terus bertumbuh, burung pun dapat membuat sarang didalam diri sesawi itu. Manfaat!

Di usianya yang ke 8 ini, sudahkah Sesawi kecil di Tanjung Priok berdampak dan menghasilkan manfaat bagi kemuliaan Tuhan? Teruslah bertumbuh dan menjadi manfaat bagi kehidupan banyak orang di sekitar kita.

Pekan Keluarga VIII GKP Galilea Tanjung Priok

Pekan Keluarga Galilea VIII 
Mewujudkan Kehidupan Jemaat 
yang Harmonis dan Berdaya” 
GKP Tanjung Priok, 27 Juni – 5 Juli 2013 




Kamis, 27 Juni 2013 
(II Raja-raja 22:1-2) 
Kecil-kecil Cabe Rawit 


Usia delapan tahun memang masih tergolong “kanak-kanak”. Mau dilihat dari sudut pandang apapun, yang namanya masih “kanak-kanak” sudah sewajarnya dipenuhi oleh tindakan yang ke-kanak-kanak-an, namanya juga masih anak-anak. Akan tetapi, usia yang masih sangat dini itu tidaklah berarti sama sekali “tak mampu berbuat apa-apa” untuk bertindak - bersikap dewasa dan melakukan sesuatu yang terbaik bagi Tuhan. Seperti kata orang, menjadi kanak-kanak itu adalah proses, tetapi menjadi dewasa itu adalah sebuah pilihan.

Mengawali rangkaian Pekan Keluarga VIII GKP Galilea Tanjung Priok, kita mau melihat kembali sepak terjang luar biasa yang pernah dilakukan oleh seorang anak kecil: Yosia. Dalam teks Alkitab kita hari ini dikatakan bahwa, “Yosia melakukan apa yang benar di mata Tuhan ...” (ayat 2). Saya mau mengajak kita untuk melihat 3 kondisi nyata yang dihadapi oleh Yosia waktu itu.
(1). Usia 8 tahun benar-benar terlalu dini untuk diberikan tanggung jawab sebagai seorang raja Israel. Bagi orang Yahudi, seseorang dipandang dewasa sewaktu dia genap berusia 13 tahun. Yosia, 5 tahun lebih awal sudah diberikan kepercayaan sebesar itu ... tanpa pengalaman apa-apa.
(2) Faktor keluarga. Keluarga Yosia tidak mewariskan model peran seorang yang baik. Ayahnya, Amon (II Raja-raja 21:20) dan Kakeknya, Manasye (II Raja-raja 21:2); Keduanya tercatat sebagai raja yang amburadul di mata Tuhan. Latar belakang keluarga yang menyedihkan.
(3) Kondisi Iman Israel yang sangat jeblok. Lihatlah proses panjang yang tercatat dalam II Raja-raja 23:1-30, di mana Yosia mengadakan pembaharuan di hadapan bangsanya. Sangat jeblok perilaku Israel di masa Yosia.
Namun yang luar biasa adalah Yosia sanggup meruntuhkan keraguan orang yang tahu tentang 3 fakta berat yang ada dalam kehidupannya itu. (Jika kita ada di zaman Yosia waktu itu, kita mungkin menjadi seorang yang ragu akan kemampuan Yosia).

Jemaat “Galilea” Tanjung Priok pun beberapa hari ke depan menapaki usia 8 tahun. Masih kecil memang, tetapi bukan berarti kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk melakukan sesuatu bagi Tuhan. Sama halnya Tuhan bisa menggunakan siapa saja, kapan saja dan di mana saja untuk melakukan sesuatu bagi-Nya ... Bapak, Ibu dan teman-teman muda semua, kita bisa berbuat sesuatu yang baik untuk kehidupan bersama kita hari ini. Entah di keluarga, di sekolah, di tempat kerja dan bahkan di dalam kebersamaan kita sebagai jemaat Tuhan di Galilea. Jadi apa yang bisa kita lakukan bagi Dia dalam kehidupan kita hari ini?


Jumat, 28 Juni 2013 
Matius 12:44 
Harta yang Terpendam 


Tidak mencari harta yang berharga itu diluar sana, temukanlah harta yang berharga itu ada di dalam halaman rumahmu sendiri”. Itulah kesimpulan dari kisah yang disampaikan oleh Russell Conwell (1843-1925) sewaktu menulis buku yang berjudul “Acres of Diamonds”.

Dalam bukunya itu Conwell bercerita tentang seorang saudagar kaya yang mendengar berita bahwa ada harta terpendam di suatu daerah. Saudagar itu pun memutuskan untuk pergi dari rumahnya untuk mencari harta terpendam itu. Tetapi ternyata ia tidak menemukan apa-apa dalam perjalanan pencariannya sehingga ia memutuskan untuk kembali pulang ke rumahnya. Setibanya di rumah, secara tidak sengaja saudagar kaya itu melihat sebuah batu hitam dengan mata cahaya yang memantulkan semua warna pelangi. Ternyata batu berlian berharga yang selama ini dia cari ke mana-mana itu adanya di lingkungan rumahnya sendiri.

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, Yesus menceritakan tentang seseorang yang “sudah menemukan harta yang terpendam” itu. Lalu apa yang diperbuat olehnya? Ia sangat bersukacita dan melakukan segalanya untuk benar-benar meraih harta yang terpendam itu.

Ada harta yang masih terpendam dalam kehidupan kita, baik itu kehidupan pribadi maupun kehidupan bersama kita: keluarga ataupun sebagai jemaat Tuhan di “Galilea – Tanjung Priok”. “Harta” yang bila kita temukan dan olah dengan baik, maka itu menjadi sarana bagi kita semua untuk semakin memuliakan Tuhan dalam hidup kita.

Tetapi sayangnya, ada kecenderungan persis seperti apa yang telah dinyatakan oleh Conwell dan kecenderungan yang tidak persis sama seperti apa yang telah dinyatakan oleh Yesus.

Dalam kisah Conwell, persamaannya adalah seperti layaknya saudagar kaya yang tidak menyadari bahwa “harta terpendam itu ada di halaman rumahnya sendiri”, ada banyak orang yang melihat bahwa kilaunya “harta yang berharga” itu selalu ada diluar jangkauan hidupnya hari ini. Dia meninggalkan apa yang telah Tuhan berikan padanya untuk digali dan ditemukan, dan mencarinya ditempat-tempat yang lain. Padahal hartanya itu ada di sini, “di tempatmu” bukan di sana dan nanti, melainkan di sini dan sekarang. Sebutlah “harta” itu sebagai kedamaian, sejahtera, ... atau bahkan “ibadah yang gak ngebosenin – monoton atau apalah itu namanya” ... Semua harta yang berharga itu ada “dihalaman rumah” kita juga.

Masalahnya hanya satu, setelah menemukan atau minimal tahu bahwa ada harta yang terpendam yang ia temukan, ia tidak melakukan pergerakan apa-apa untuk meraih betul-betul “kekayaan” yang ia temukan itu. Mereka hanya berhenti di kalimat pertama dari apa yang dikisahkan oleh Yesus, “ ... harta yang ditemukan di ladang, lalu ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi, ...”. Ketemu harta yang berharganya itu, tetapi dipendamnya lagi. Selesai.

Tantangan setiap kita hari ini adalah melanjutkan ayat 44 ini hingga akhir, “ ... Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu”. Setelah melihat sang harta terpendam itu, ada upaya dan perjuangan yang harus dia lakukan untuk benar-benar meraih dan mengembangkan harta terpendam itu.

Harta terpendam apa yang akan kita temukan dalam kehidupan keseharian kita ditengah keluarga dan jemaat? Semoga kita tidak pernah berpikir bahwa kita “tidak memiliki harta terpendam apa-apa” di tengah-tengah kehidupan keluarga kita dan jemaat Tuhan di “Galilea” hari ini. Mari kita gali, temukan dan kembangkan “harta yang terpendam” itu bagi kemuliaan Tuhan.

Sabtu, 29 Juni 2013
1 Tawarikh 4:9-10
Berani 


Membosankan! Kata itu mungkin tepat untuk menggambarkan beberapa pasal yang mengawali Kitab 1 Tawarikh. Hampir 90% dari 15 pasal paling awal dari Kitab 1 Tawarikh memang isinya menceritakan tentang data silsilah, nama-nama orang yang entah siapa mereka itu, kita gak kenal. Kalau istilahnya salah satu komikus Stand Up Comedy, “Bodo amat! Kenal juga enggak!”

Menjemukan. Karena sewaktu kita baca keterangan ayatnya, kita cuma tahu nama saja, sedangkan kisah hidup mereka, hampir bisa dipastikan kita gak tahu apa-apa sama sekali.

Tetapi ada sesuatu yang berbeda ketika penulis kitab Tawarikh ini menyebutkan nama Yabes. Seakan-akan sang penulis mau menyatakan, “Tunggu dulu, ada sesuatu yang istimewa dari hidup Yabes ini yang perlu Anda lebih tahu lagi”. Lalu kita bertanya, “Memang apa istimewanya si Yabes itu?”

Mari kita lihat istimewanya Yabes. Dari teks Alkitab kita hari ini, kita jadi tahu bahwa Yabes itu adalah nama yang diberikan oleh ibunya. Arti nama Yabes itu sendiri cukup mengerikan, dalam bahasa Ibrani, Yabes artinya “Pesakitan” (ayat 9 – harafiah: Ia menyebabkan atau akan menyebabkan kesakitan). Jangan tanya kenapa mamanya memberi nama itu kepada dia, tetapi bayangkan saja tekanan yang ada dalam diri Yabes dengan menyandang nama yang se-negatif itu: “Dia yang akan menyebabkan kesakitan, sang Pesakitan”

Saya membayangkan Yabes kecil suatu hari tidak naik kelas, lalu teman-temannya meledek, “Makanya, ganti dulu namamu jadi bagus dikit. Nama kok artinya Pesakitan, sakit teruslah kamu jadinya”

Istimewanya Yabes. Dengan kenyataan seperti itu, Yabes malah berani untuk menaikkan sebuah doa yang hebat: "Kiranya engkau memberkati aku berlimpah-limpah dan memperluas daerahku, dan kiranya tangan-Mu menyertai aku, dan melindungi aku dari pada malapetaka, sehingga kesakitan tidak menimpa aku."

Ketimbang mempersiapkan upacara bubur merah – bubur putih (untuk ganti nama), Yabes lebih memilih untuk berdoa secara berani. Dia meminta kepada Tuhan, sesuatu yang lebih daripada arti dari namanya itu. Yakin bahwa sumber berkat itu Tuhan, bukan bergantung pada “nama” atau apapun lainnya di dunia ini.

Mari kita tengok sejenak kehidupan kita. Kenyataan memang lebih suka muncul tidak sesuai dengan harapan kita, bukan? Kita ingin terus maju dan berkembang dalam kehidupan bersama kita, tidak “begini-begini terus” dalam hidup keluarga, pekerjaan, jemaat dll, tetapi ... . Satu pertanyaan, masihkah kita seberani Yabes untuk meminta (atau dalam bahasa saudara kita, meng-klaim) berkat Tuhan bagi hidup kita hari ini?

Tuhan aku percaya bahwa keluargaku akan dipulihkan. Tuhan aku percaya bahwa Jemaat Galilea akan terus bertumbuh dan berkembang. Tuhan aku percaya bahwa aku akan terus “naik” dalam pekerjaan ku hari ini. Berani mengucapkan doa seperti itu?

Ketika Yabes memiliki keberanian, maka dia menemukan jawaban Tuhan: “Dan Allah mengabulkan permintaannya itu” (ayat 10). Akan kah kita ikut serta, menemukan jawaban-jawaban dari Tuhan atas doa-doa yang kita naikkan untuk kehidupan bersama kita? Beranilah berdoa, beranilah untuk mempercayai-Nya.

Senin, 2 Juli 2013
(Kisah Para Rasul 3:1-10)
Ketakjuban 


Lebih dari sekedar heran, lebih dari sekedar kagum ... itulah ketakjuban. Seperti seorang terpelongok memandang pelangi sehabis hujan dan kehabisan kata-kata untuk melukiskan keindahan karunia Tuhan itu.

Kita sebenarnya bisa merasa takjub akan banyak sekali hal yang terjadi dalam kehidupan kita hari ini. Suatu hari saya pernah bertemu dengan sepasang kakek-nenek sedang suap-suapan makannya. Anda takjub? Saya takjub, “Masih ada rupanya pasangan kakek nenek yang seromantis itu”. Atau bahkan ketika bertemu dengan seorang anak yang lewat di tengah kumpulan orang yang sedang duduk, ketimbang dia melengos begitu saja ... dia berkata, “Permisi pak, bu ...” ... Anda takjub? Saya takjub. Ternyata masih ada.

Mungkin, hari ini kita memang kehilangan banyak potensi ketakjuban karena kita sudah melupakan banyak hal sederhana yang bisa kita lakukan, padahal itu hal yang ... menakjubkan.

Apa yang dilakukan oleh Rasul Petrus dalam teks kita hari ini sungguh membuat semua orang takjub (ayat 10). Bagaimana tidak? Ada seorang yang sejak lahir lumpuh, tiba-tiba dilihat oleh orang banyak dia bisa berjalan bahkan melompat memuji Allah.

Saya tahu apa yang ada dalam pikiran kita saat ini, “Tuhan, aku tak bisa melakukan apa yang dilakukan oleh Petrus ... menyembuhkan orang lumpuh”. Tidak apa-apa. Tetapi itu bukan berarti kita tidak bisa melakukan sesuatu yang menakjubkan dalam kehidupan kita bersama-sama dengan Tuhan.

Ketika seseorang sanggup mengampuni seseorang yang lain yang sangat-sangat telah menyakiti hatinya ... Itu menakjubkan. Ketika seseorang berjuang menggapai impian yang belum terwujud, tetapi tidak kehilangan iman bahwa suatu hari nanti dia akan meraihnya ... Itu menakjubkan. Dahulu pernah ada seorang yang bercerita pada saya, “Pak Pendeta, saya tahu sejarah keluarga itu dari mulai gajinya itu Rp 60.000,- puluhan tahun yang lalu, hingga sekarang ... mereka setia sekali membawa persembahan syukurnya pada Tuhan” ... Itu pun menakjubkan.

Atau bila suatu hari ibu melihat ayah sedang mencuci pakaian dan makanan ternyata sudah tersaji di atas meja makan, siap untuk dinikmati bersama ... Itu pun tak kalah menakjubkannya. Benarkan ya?


Selasa, 3 Juli 2013 
Kejadian 24:13-20
Hati seperti Ribka 


Seorang tak dikenal menemui gadis cantik yang sedang membawa segalon air di atas bahunya, lalu berkata: “tolong beri aku minum air dari air yang kau bawa itu”. Tak ada wawancara khusus supaya terkesan tidak “sok kenal sok deket”, tak ada sikap sombong, yang ada hanyalah satu ketulusan untuk menolong: “minumlah tuan”.

Kita semua seharusnya jatuh hati kepada hati yang dimiliki oleh Ribka. Sudah capek-capek turun ke mata air itu untuk menimba segalon air, kemudian membawa galon air itu di atas bahunya ... di saat pikirannya bisa melintas, “sebentar lagi sampai rumah, tugasku hampir selesai” .. Eh ada yang minta air itu untuk minum.

Tidak berhenti di situ saja, ini yang lebih “gila” lagi (baca: lebih membuat kita jatuh hati lagi), dia pun menawarkan diri (bukan karena diminta lho) untuk memberikan unta mereka supaya minum sampai puas juga. Bukan cuma 1 unta, melainkan ada 10 unta (ayat 10)! Unta kan minumnya buanyaaakkk ya ..

Bacalah sekali lagi ayat 19-20, lalu bayangkanlah berapa kali bolak-balik itu dia sampai 10 unta nya itu puas minum? John C. Maxwell membuat perhitungannya begini, untuk bisa membuat 10 unta itu puas minum, Ribka membutuhkan 200 galon (buyung) air dan bolak-balik perjalanan nimba air – menaruh air di palungan itu sebanyak 100 kali jika dua bahu Ribka digunakan untuk memikul galon air itu. Mari kita hitung-hitungan waktu nya. Katakanlah satu kali perjalanan nimba air dan balik ke tempat palungan itu 3 menit. Tiga ratus menit atau tepat 5 jam lamanya Ribka menolong para unta supaya puas minum. Gila kan ya! Kegilaan yang membuat kita jatuh hati pada hati yang dimiliki Ribka.

Andaikan saja hati seperti Ribka itu juga adalah hati yang kita miliki hari ini ... Tulus dalam menolong, peka dalam menawarkan bantuan, murah hati dalam bekerja ... Tapi untuk apa berandai-andai? Lebih baik memulai sesuatu yang bisa kita kerjakan dan lakukan dalam kehidupan keseharian kita: bagi keluarga kita, bagi jemaat, bagi kehidupan di sekitar kita. Supaya hati seperti Ribka adalah hati yang kumiliki juga dalam hidupku ini.

Rabu, 4 Juli 2013 
Bilangan 20:14-21
Ribut Rukun 


Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, kita bertemu dengan dua bangsa yang jelas bersaudara, yaitu: bangsa Israel yang berasal dari keturunan Yakub, dan bangsa Edom yang berasal dari keturunan kakaknya Yakub, Esau. Kitab Kejadian 36:1 menyebutkan, “Inilah keturunan Esau, yaitu Edom.” Itulah sebabnya dalam teks kita hari ini, Israel membahasakan kepada Edom, bahwa “dirinya” itu adalah seorang saudara (ayat 14). Seorang saudara yang sedang kesusahan dan meminta tolong kepada “kakak” nya untuk melakukan sesuatu bagi mereka: izin lewat kawasan kekuasaan bangsa Edom.

Tetapi apa nyata, dua kali Israel berteriak minta tolong (ayat 17 dan 19), dua kali pula saudara tuanya berkata tidak. Apa alasan bangsa Edom menolak permintaan tolong yang sederhana dari saudaranya itu? Teks kita tidak menjelaskan apa-apa tentang hal itu. Mungkin saja bangsa Edom memang tak mau repot untuk bekerja ekstra ketika membiarkan satu bangsa berjalan dan melewati daerah mereka. Atau ... mungkinkah karena alasan sejarah masa lalu yang masih selalu diingat oleh keturunan Esau itu? Tentang pertikaian antara Yakub dan Esau sejak peristiwa sup kacang merah hingga Yakub yang memperdaya ayah mereka untuk mendapatkan berkat, yang masih selalu diingat oleh Edom?

Bangsa Edom memang tidak akur dengan bangsa Israel (padahal, antara Yakub dan Esau sendiri sudah ada rekonsiliasi, perdamaian. Lihat: Kejadian 33 “Yakub berbaik kembali dengan Esau”). Di masa kemudian, pertikaian Edom dan Israel seperti yang dicatat dalam Mazmur 137:7, semakin memuncak. Penyebabnya ialah ketika Israel yang sudah masuk ke Tanah Perjanjian, kemudian diserang dan dihancurkan oleh bangsa Babel, bangsa Edom justru bersorak sorai karena hal itu.

Saya heran sekali dengan dua keturunan kakak beradik itu, apa mereka gak capek dengan pertikaian yang selalu diusung ketika mereka berjumpa ya? Jangkauan waktunya mencapai ratusan tahun lho, sejak zaman nenek moyang mereka: Yakub dan Esau, hingga hari itu mereka sudah menjadi suatu bangsa yang besar.

Apakah memang sebegitu sulitnya untuk melupakan masa lalu yang buruk, katakanlah sebuah pertikaian, sehingga setiap mereka harus mengunyah akar pahit terus sampai mereka mati? Seberat itukah gerak lengan kita untuk mengulurkan tangan tanda perdamaian?

Jemaat Galilea Tanjung Priok tahun ini, di saat sebentar lagi merayakan ulang tahunnya yang ke VIII, mendefinisikan satu harapannya tentang kehidupan bersama itu dengan kalimat: “Mewujudkan Kehidupan Jemaat yang Harmonis dan Berdaya”. Seseorang mungkin bisa berpikir, “Kok Visinya ada kata mewujudkan jemaat ..., berarti belum terwujud dong keharmonisan dan keberdayaan itu?” Tentu bukan seperti itu maksudnya. Maksudnya adalah keharmonisan dan keberdayaan dalam kehidupan kita itu akan selalu menjadi perjuangan bersama kita. Tiap-tiap hari kita menggumuli hal-hal berkaitan dengan keharmonisan dan keberdayaan kita itu. Bersyukurlah bahwa sampai hari ini (dan seterusnya), keharmonisan dan keberdayaan menjadi bagian dalam kehidupan kita sebagai jemaat. Keharmonisan bukanlah kehidupan tanpa pertikaian, tetapi keharmonisan adalah kehidupan yang “hidup ribut, sekaligus juga menemukan hidup rukunnya kembali”.

Ribut dan tak menemukan kembali apa itu artinya rukun, itulah yang terjadi dalam teks Alkitab kita hari ini. Tetapi kita? Selamat ribut rukun.

Kamis, 5 Juli 2013 
Matius 13:31-32 
Manfaat 


Selamat ulang tahun ke 8 bagi kita semua. Tidak terasa ya, ternyata hari berlalu begitu cepat. Seperti baru kemarin kita mengadakan pekan keluarga yang ke 7 tahun lalu, eh sekarang sudah nambah satu tahun lagi usia gereja Tuhan di Galilea Tanjung Priok. Setiap kali ada yang berulang tahun, tentu harapannya adalah “dia” bisa menjadi semakin dewasa. Sejarah hidup harus membuat dia belajar akan sesuatu yang membuatnya semakin bertumbuh.

Dalam pembacaan Alkitab kita di hari istimewa ini, Tuhan Yesus menggambarkan sesuatu yang luar biasa. Luar biasa karena memberikan penggambaran tentang sesuatu yang suuaaangaaat besar (Kerajaan Allah), dengan sesuatu yang benar-benar tampak kecil (biji sesawi). Menggambarkan sesuatu dengan gambaran yang benar-benar mengejutkan.

Sebutir biji sesawi itu memang adalah yang pualing kuecil, ukurannya cuma kurang dari 1 milimeter (kurang dari 0,1 cm). Tetapi dari yang sangat kecil itu di kemudian hari bisa bertumbuh hingga 2-5 meter dari permukaan tanah (ribuan kali lipat dari ukurannya yang semula).

Melihat kehidupan kita, keluarga ataupun sebagai jemaat, mungkin kita merasa memiliki kesamaan dengan biji sesawi. “Tuhan, aku pun bukan sesuatu yang besar, aku ini kecil sekali dibandingkan dengan yang lain”. Itu bisa jadi benar, kita hari ini adalah sesuatu yang tampak kecil. Tetapi tolong diingat bahwa Tuhan Yesus justru menggambarkan suatu yang sangat besar (Kerajaan Allah) itu dengan sesuatu yang tampak kecil pada awalnya. Mengapa?

Ternyata Sesawi itu biar kecil, namun memiliki banyak daya yang bermanfaat. Biji sesawi itu sering digunakan oleh orang sebagai penyedap masakan karena aromanya yang sedap jika dimasak dan memiliki berbagai macam vitamin. Tetapi bukan hanya itu saja, ketika biji sesawi ini ditanam dan kemudian terus bertumbuh, burung pun dapat membuat sarang didalam diri sesawi itu. Manfaat!

Di usianya yang ke 8 ini, sudahkah Sesawi kecil di Tanjung Priok berdampak dan menghasilkan manfaat bagi kemuliaan Tuhan? Teruslah bertumbuh dan menjadi manfaat bagi kehidupan banyak orang di sekitar kita.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER