Yesaya 65:1-9 | Masih Ada - Pdt. Gerry Atje
Masih Ada 





Ada cerita tentang seorang pendeta yang datang untuk merapikan rambutnya yang mulai gondrong itu ke tempat cukur. Tukang cukur mulai mengerjakan tugasnya dan mulailah ada suatu obrolan di antara mereka. 

Tukang cukur: “Pak pendeta, saya gak percaya Tuhan itu ada.”
Pendeta: “Kenapa kamu bisa berkata seperti itu?”

Tukang cukur: “Coba aja bapak lihat keluar sana. Di luar sana ada banyak orang sakit, orang susah, menderita. Kalau Tuhan memang benar ada, tentu Dia akan melakukan sesuatu agar mereka yang menderita itu bisa hidup baik.

Pendeta: (hanya bisa diam ... tak berapa lama, diluar ada seorang lelaki yang gondrong dan bewok acak-acakan lewat. Melihat hal itu pendeta lalu berkata) “Kamu itu beneran tukang cukur?”

Tukang cukur: “Ya bener atuh pak pendeta, saya ini tukang cukur. Kenapa memangnya?”
Pendeta: “Gak kenapa-kenapa, saya kira di dunia ini gak ada tukang cukur. Tuh lihat di luar itu ada seorang laki-laki dengan rambut dan bewok yang acak-acakan. Tukang cukur memang gak ada di dunia ini. Kalau tukang cukur ada di dunia ini, tentunya gak bakalan ada orang yang rambut dan bewoknya itu acak-acakan kayak gitu.”
Tukang cukur: “Ya gak gitu juga kali pak pendeta. Biar ada yang gondrong acak-acakan kayak gitu juga yang namanya tukang cukur kayak saya ini tetap ada lah. Merekanya aja yang gak mau datang ke tukang cukur untuk merapikan rambut dan bewok mereka itu.
Pendeta: “Cocoklah itu. Tuhan pun kurang lebih ya seperti itu juga.”
Satu persoalan klasik yang akan selalu punya kesempatan untuk berulang lagi dan lagi adalah tepat seperti apa yang dinyatakan oleh pak tukang cukur tadi, “Apakah memang benar Tuhan itu ada? Kalau Tuhan ada, kenapa kehidupan tidak berjalan sebaik yang kita bayangkan?” 



Sewaktu seseorang mulai tahu apa itu artinya sakit dan menderita, mulai dari yang kecil macam kehilangan hape, dompet, diputusin pacar sampai yang berat-berat macam di PHK, gagal ujian dan lain-lain. Bahkan sewaktu BBM mulai beberapa hari yang lalu itu naik. Kan kita jadi mikir, bukannya setiap kali kita doa itu supaya Tuhan membimbing para pemimpin kita untuk mengambil kebijakan yang mensejahterakan rakyat. Kalau BBM dinaikkan, gmana mau sejahtera? Ini serius beneran Tuhan? 


Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, Israel tahu persis apa itu artinya menderita dan apa itu artinya sakit. Bagaimana tidak? Yesaya 65 mengisahkan kehidupan Israel yang benar-benar sudah bosan dengan itu semua sejak 70 tahun yang lalu mereka mulai hidup dibuang di negeri asing sebagai seorang jajahan. 

Itulah sebabnya dalam perikop kita hari ini kita bertemua dengan ayat 3-5. Apa yang terjadi di sana? 

3 suku bangsa yang menyakitkan hati-Ku senantiasa di depan mata-Ku, dengan mempersembahkan korban di taman-taman dewa dan membakar korban di atas batu bata; 4 yang duduk di kuburan-kuburan dan bermalam di dalam gua-gua; yang memakan daging babi dan kuah daging najis ada dalam kuali mereka; 5 yang berkata: "Menjauhlah, janganlah meraba aku, nanti engkau menjadi kudus olehku!" Semuanya ini seperti asap yang naik ke dalam hidung-Ku, seperti api yang menyala sepanjang hari.
- Jangan-jangan mereka mulai berpikir bahwa Allah Israel sudah tak hebat lagi, sudah kalah. Sehingga mereka beralih ke allah-allah lain (ayat 3). 
- Mereka mulai menantang keberadaan Allah. Dengan cara melanggar perintah-Nya dan mulai menyindir (ayat 4-5). Sebelum apa yang dinyatakan Allah di dalam Perjanjian Baru tentang tiada lagi makanan yang haram, dalam Perjanjian Lama waktu itu Allah jelas melarang Israel untuk memakan makanan yang diharamkan. Ketika mereka menyantapnya dengan pengetahuan bahwa itu adalah sebuah pemberontakan atas perintah Allah, jelas sekali itu adalah “menantang Allah”. 



Ini dia point kita yang pertama ingin kita renungkan. Penderitaan memang cenderung membuat seseorang untuk mengkritisi segalanya, pake demo kalau perlu. Atau bahkan menantang kebenaran keberadaan Tuhan. 


Coba aja kalau bapak dan ibu atau teman muda sedang menderita, apa sih yang terlintas dalam pikiran kita? Mempertanyakan secara kritis kepada Tuhan dan kemudian membuat kesimpulan sementara yang membuat kita “puas” dalam menjelaskan keberadaan diri kita yang hari ini menderita. 

Sayangnya, seseorang bisa berhenti pada kesimpulan ini, “Tuhan ternyata tak peduli ... Tuhan tak ada, Tuhan sudah mati buat saya.” (Jadi inget Nietze sewaktu suatu hari dia teriak-teriak di tengah pasar, “Tuhan sudah mati! Tuhan sudah mati!”) 


Kita tidak seharusnya berhenti menjadi orang “ayat 3-5”. Yang kita perjuangkan adalah seseorang yang disebut-sebut oleh Tuhan dalam ayat 8-9. 
8 Beginilah firman TUHAN: "Seperti kata orang jika pada tandan buah anggur masih terdapat airnya: Janganlah musnahkan itu, sebab di dalamnya masih ada berkat! demikianlah Aku akan bertindak oleh karena hamba-hamba-Ku, yakni Aku tidak akan memusnahkan sekaliannya.
9 Aku akan membangkitkan keturunan dari Yakub, dan orang yang mewarisi gunung-gunung-Ku dari Yehuda; orang-orang pilihan-Ku akan mewarisinya, dan hamba-hamba-Ku akan tinggal di situ.

Seseorang yang betul dia sedang berada dalam sebuah penderitaan dan kesakitan di hidupnya hari ini. Tetapi dia tidak pernah kehilangan iman bahwa Tuhan ada dan akan mengerjakan penyelamatan baginya, cepat atau lambat. 


Kita mungkin akan bertanya, “bagaimana bisa seseorang melakukan hal itu? Bukankah sulit untuk melakukan hal itu?” Sulit memang, tetapi bukan berarti tidak bisa dan tidak ada orang yang melakukan hal itu dari dahulu kala hingga hari ini. 



Kuncinya sebenarnya sudah Tuhan ungkap dalam perikop kita hari ini. Ayat 1-2 ... 
1 Aku telah berkenan memberi petunjuk kepada orang yang tidak menanyakan Aku; Aku telah berkenan ditemukan oleh orang yang tidak mencari Aku. Aku telah berkata: "Ini Aku, ini Aku!" kepada bangsa yang tidak memanggil nama-Ku. 2 Sepanjang hari Aku telah mengulurkan tangan-Ku kepada suku bangsa yang memberontak, yang menempuh jalan yang tidak baik dan mengikuti rancangannya sendiri;
- Aku telah berkenan .... 
- Aku telah mengulurkan tangan-Ku ... 

Itulah penegasan Tuhan bahwa Dia tak akan berdiam diri melihat penderitaan umat-Nya. Yang Dia kehendaki ketika kita berada dalam penderitaan adalah pembelajaran. Tepat setelah kita sukses belajar dan semakin mengerti akan karya Allah bagi hidup kita, maka pemulihan datang. Itu janji-Nya. 

Ngomong-ngomong, bapak ibu pasti tahu kan bahwa perikop kita ini hanya sejarak satu pasal lagi untuk akhir kisah pernyataan Tuhan kepada nabi Yesaya. Perikop kita pasal 65, selanjutnya adalah pasal terakhir yang diberi judul oleh LAI “Keselamatan sesudah penghukuman”. 

Berharap kita tidak berhenti di pasal 65, tetapi berkenan melanjutkan perjalanan kita sebagai tipe orang “ayat 8-9” yang pada akhirnya paling banyak belajar dan paling banyak pula mendapatkan berkat di balik penderitaan dan sakit yang diizinkan oleh Tuhan itu hadir dalam kehidupannya. 

Ada satu klip yang sangat menggambarkan siapa itu Tuhan yang kita kenal dalam Yesus Kristus ketika Dia melihat ada seseorang yang ... mungkin seperti kita ...

Yesaya 65:1-9 | Masih Ada

Masih Ada 





Ada cerita tentang seorang pendeta yang datang untuk merapikan rambutnya yang mulai gondrong itu ke tempat cukur. Tukang cukur mulai mengerjakan tugasnya dan mulailah ada suatu obrolan di antara mereka. 

Tukang cukur: “Pak pendeta, saya gak percaya Tuhan itu ada.”
Pendeta: “Kenapa kamu bisa berkata seperti itu?”

Tukang cukur: “Coba aja bapak lihat keluar sana. Di luar sana ada banyak orang sakit, orang susah, menderita. Kalau Tuhan memang benar ada, tentu Dia akan melakukan sesuatu agar mereka yang menderita itu bisa hidup baik.

Pendeta: (hanya bisa diam ... tak berapa lama, diluar ada seorang lelaki yang gondrong dan bewok acak-acakan lewat. Melihat hal itu pendeta lalu berkata) “Kamu itu beneran tukang cukur?”

Tukang cukur: “Ya bener atuh pak pendeta, saya ini tukang cukur. Kenapa memangnya?”
Pendeta: “Gak kenapa-kenapa, saya kira di dunia ini gak ada tukang cukur. Tuh lihat di luar itu ada seorang laki-laki dengan rambut dan bewok yang acak-acakan. Tukang cukur memang gak ada di dunia ini. Kalau tukang cukur ada di dunia ini, tentunya gak bakalan ada orang yang rambut dan bewoknya itu acak-acakan kayak gitu.”
Tukang cukur: “Ya gak gitu juga kali pak pendeta. Biar ada yang gondrong acak-acakan kayak gitu juga yang namanya tukang cukur kayak saya ini tetap ada lah. Merekanya aja yang gak mau datang ke tukang cukur untuk merapikan rambut dan bewok mereka itu.
Pendeta: “Cocoklah itu. Tuhan pun kurang lebih ya seperti itu juga.”
Satu persoalan klasik yang akan selalu punya kesempatan untuk berulang lagi dan lagi adalah tepat seperti apa yang dinyatakan oleh pak tukang cukur tadi, “Apakah memang benar Tuhan itu ada? Kalau Tuhan ada, kenapa kehidupan tidak berjalan sebaik yang kita bayangkan?” 



Sewaktu seseorang mulai tahu apa itu artinya sakit dan menderita, mulai dari yang kecil macam kehilangan hape, dompet, diputusin pacar sampai yang berat-berat macam di PHK, gagal ujian dan lain-lain. Bahkan sewaktu BBM mulai beberapa hari yang lalu itu naik. Kan kita jadi mikir, bukannya setiap kali kita doa itu supaya Tuhan membimbing para pemimpin kita untuk mengambil kebijakan yang mensejahterakan rakyat. Kalau BBM dinaikkan, gmana mau sejahtera? Ini serius beneran Tuhan? 


Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, Israel tahu persis apa itu artinya menderita dan apa itu artinya sakit. Bagaimana tidak? Yesaya 65 mengisahkan kehidupan Israel yang benar-benar sudah bosan dengan itu semua sejak 70 tahun yang lalu mereka mulai hidup dibuang di negeri asing sebagai seorang jajahan. 

Itulah sebabnya dalam perikop kita hari ini kita bertemua dengan ayat 3-5. Apa yang terjadi di sana? 

3 suku bangsa yang menyakitkan hati-Ku senantiasa di depan mata-Ku, dengan mempersembahkan korban di taman-taman dewa dan membakar korban di atas batu bata; 4 yang duduk di kuburan-kuburan dan bermalam di dalam gua-gua; yang memakan daging babi dan kuah daging najis ada dalam kuali mereka; 5 yang berkata: "Menjauhlah, janganlah meraba aku, nanti engkau menjadi kudus olehku!" Semuanya ini seperti asap yang naik ke dalam hidung-Ku, seperti api yang menyala sepanjang hari.
- Jangan-jangan mereka mulai berpikir bahwa Allah Israel sudah tak hebat lagi, sudah kalah. Sehingga mereka beralih ke allah-allah lain (ayat 3). 
- Mereka mulai menantang keberadaan Allah. Dengan cara melanggar perintah-Nya dan mulai menyindir (ayat 4-5). Sebelum apa yang dinyatakan Allah di dalam Perjanjian Baru tentang tiada lagi makanan yang haram, dalam Perjanjian Lama waktu itu Allah jelas melarang Israel untuk memakan makanan yang diharamkan. Ketika mereka menyantapnya dengan pengetahuan bahwa itu adalah sebuah pemberontakan atas perintah Allah, jelas sekali itu adalah “menantang Allah”. 



Ini dia point kita yang pertama ingin kita renungkan. Penderitaan memang cenderung membuat seseorang untuk mengkritisi segalanya, pake demo kalau perlu. Atau bahkan menantang kebenaran keberadaan Tuhan. 


Coba aja kalau bapak dan ibu atau teman muda sedang menderita, apa sih yang terlintas dalam pikiran kita? Mempertanyakan secara kritis kepada Tuhan dan kemudian membuat kesimpulan sementara yang membuat kita “puas” dalam menjelaskan keberadaan diri kita yang hari ini menderita. 

Sayangnya, seseorang bisa berhenti pada kesimpulan ini, “Tuhan ternyata tak peduli ... Tuhan tak ada, Tuhan sudah mati buat saya.” (Jadi inget Nietze sewaktu suatu hari dia teriak-teriak di tengah pasar, “Tuhan sudah mati! Tuhan sudah mati!”) 


Kita tidak seharusnya berhenti menjadi orang “ayat 3-5”. Yang kita perjuangkan adalah seseorang yang disebut-sebut oleh Tuhan dalam ayat 8-9. 
8 Beginilah firman TUHAN: "Seperti kata orang jika pada tandan buah anggur masih terdapat airnya: Janganlah musnahkan itu, sebab di dalamnya masih ada berkat! demikianlah Aku akan bertindak oleh karena hamba-hamba-Ku, yakni Aku tidak akan memusnahkan sekaliannya.
9 Aku akan membangkitkan keturunan dari Yakub, dan orang yang mewarisi gunung-gunung-Ku dari Yehuda; orang-orang pilihan-Ku akan mewarisinya, dan hamba-hamba-Ku akan tinggal di situ.

Seseorang yang betul dia sedang berada dalam sebuah penderitaan dan kesakitan di hidupnya hari ini. Tetapi dia tidak pernah kehilangan iman bahwa Tuhan ada dan akan mengerjakan penyelamatan baginya, cepat atau lambat. 


Kita mungkin akan bertanya, “bagaimana bisa seseorang melakukan hal itu? Bukankah sulit untuk melakukan hal itu?” Sulit memang, tetapi bukan berarti tidak bisa dan tidak ada orang yang melakukan hal itu dari dahulu kala hingga hari ini. 



Kuncinya sebenarnya sudah Tuhan ungkap dalam perikop kita hari ini. Ayat 1-2 ... 
1 Aku telah berkenan memberi petunjuk kepada orang yang tidak menanyakan Aku; Aku telah berkenan ditemukan oleh orang yang tidak mencari Aku. Aku telah berkata: "Ini Aku, ini Aku!" kepada bangsa yang tidak memanggil nama-Ku. 2 Sepanjang hari Aku telah mengulurkan tangan-Ku kepada suku bangsa yang memberontak, yang menempuh jalan yang tidak baik dan mengikuti rancangannya sendiri;
- Aku telah berkenan .... 
- Aku telah mengulurkan tangan-Ku ... 

Itulah penegasan Tuhan bahwa Dia tak akan berdiam diri melihat penderitaan umat-Nya. Yang Dia kehendaki ketika kita berada dalam penderitaan adalah pembelajaran. Tepat setelah kita sukses belajar dan semakin mengerti akan karya Allah bagi hidup kita, maka pemulihan datang. Itu janji-Nya. 

Ngomong-ngomong, bapak ibu pasti tahu kan bahwa perikop kita ini hanya sejarak satu pasal lagi untuk akhir kisah pernyataan Tuhan kepada nabi Yesaya. Perikop kita pasal 65, selanjutnya adalah pasal terakhir yang diberi judul oleh LAI “Keselamatan sesudah penghukuman”. 

Berharap kita tidak berhenti di pasal 65, tetapi berkenan melanjutkan perjalanan kita sebagai tipe orang “ayat 8-9” yang pada akhirnya paling banyak belajar dan paling banyak pula mendapatkan berkat di balik penderitaan dan sakit yang diizinkan oleh Tuhan itu hadir dalam kehidupannya. 

Ada satu klip yang sangat menggambarkan siapa itu Tuhan yang kita kenal dalam Yesus Kristus ketika Dia melihat ada seseorang yang ... mungkin seperti kita ...

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER