Amos 8:1-10 | Satu Dunia yang Adil dan Sejahtera ~ Pdt. Gerry Atje

Amos 8:1-10 | Satu Dunia yang Adil dan Sejahtera

Satu Dunia yang Adil dan Sejahtera 
Amos 8:1-10



Upside Down. “Dunia bawah dan dunia atas” adalah sebuah film terbaru yang dibintangi oleh Kristen Durst (itu lho, yang jadi pacarnya Spiderman). Film itu bercerita tentang kisah cinta dua insan dari dua belahan dunia yang berbeda, dunia atas dan dunia bawah. Yang menarik adalah gambaran yang ada dalam film itu tentang “dunia atas” dan “dunia bawah”. Antara mereka yang “hidup kaya” dengan mereka yang “hidup miskin”, dunia yang sejahtera dengan dunia yang hancur-hancuran.

Film sains fiksi itu memang mengisahkan tentang keberadaan dua planet yang memiliki gravitasinya masing-masing, tetapi “hidup berdampingan” sehingga orang yang ada di dunia atas bisa melihat keadaan mereka yang ada di dunia bawah, begitu pula sebaliknya. Ketika orang yang ada di dunia bawah, yang miskin itu, melihat keadaan kota di dunia atas, begitu gemerlapnya. Sedangkan dunia mereka sendiri yang ada dibawah, begitu kelamnya.

Ide dalam film itu sangat luarbiasa, menggambarkan perbedaan kehidupan – antara yang sejahtera dengan yang tidak – dalam dunia yang berbeda, dunia atas dan dunia bawah dengan visual efek yang bagus banget (wajib tonton J). 




Setelah menonton film itu, saya jadi semakin tersadar bahwa ada begitu banyak cara seseorang untuk menggambarkan “ketidak-adilan” itu. Yang hidup ‘kaya’ semakin menindas yang hidup ‘miskin’. 

Agak mirip dengan teks perikop kita hari ini tentang keadaan bangsa Israel di masa Amos. “Yang kaya” semakin menindas “yang miskin”. Lihat saja bagaimana Amos mendengaran firman Tuhan dalam ayat 4-6. Keberadaan mereka yang disebut, “kamu yang menginjak-injak orang miskin”, “ ... yang membinasakan orang sengsara”, “ ... yang berbuat curang (supaya mereka untung dan yang lain buntung)”, “mereka yang membeli dan menjual dengan memanfaatkan kelemahan dan kekurangan orang”.

Satu-satunya perbedaan yang paling mengenaskan antara film “Upside Down” dengan kisah Israel di masa Amos (dan juga rasanya kisah kita di masa kini) adalah karena kita hidup di satu dunia yang sama (bukan dua dunia seperti dalam film itu). Tak seperti orang yang digambarkan dalam film Upside Down, mereka perlu melihat ke atas – ke dunia yang ada di atas mereka itu – untuk menyadari ada perbedaan antara mereka; Kita hari ini, cukup dengan melayangkan pandangan kita ke tempat yang paling dekat dari diri kita hari ini ... mungkin kita akan dengan mudahnya menemukan hal itu: ketidak-adilan dan kesengsaraan dalam hidup ini.

Perikop yang kita baca hari ini adalah sebuah jaminan dari Tuhan bahwa Dia tidak akan tinggal diam, melihat “satu dunia” yang telah Dia ciptakan “dengan sangat baik” itu menjadi hancur karena oknum-oknum bangsa Israel yang melupakan bagaimana kasih setia Tuhan kepada hidup mereka (ayat 1-3, 7-10).

Kita tentu tahu bahwa Amos adalah salah satu nabi yang diutus Tuhan sebelum keputusan Tuhan untuk menghukum Israel ke tanah Pembuangan itu terjadi.

Hari ini, mari kita bertanya pada diri kita masing-masing: Haruskah pola “dihukum terlebih dahulu” baru menyadari pentingnya hidup bersama dalam sebuah keadilan dan keharmonisan yang menciptakan rasa damai sejahtera itu berulang lagi? Tidakkah sejarah telah mengajar kita banyak hal tentang ketidak-adillan yang kemudian menghancurkan kehidupan bersama, bukan hanya sejarah dalam Alkitab, tetapi rasanya juga sejarah kehidupan kita semua.

Berharap kita tidak terlalu memikirkan dengan sangat luasss sekali: mengimpikan terjadinya dunia yang adil dan sejahtera itu terjadi oleh karena kita. Mulailah dengan sesuatu yang dekat dengan hidup kita. Di tengah keluarga? Melawan hadirnya anggapan “ada anak emas, perak, perunggu” mungkin adalah sesuatu yang paling realistis untuk kita lakukan. Di tengah jemaat? Melayani sepenuh hati dengan tidak memandang muka (Siapa dia yang kita layani? Siapa rekan sekerja saya?) ... Ah, semoga itu semua jauh dari kehidupan kita di sini, di keluarga kita ... juga di Persekutuan Orang Percaya yang telah Tuhan kumpulkan di Galilea Tanjung Priok.

Pokok Diskusi
1. Bentuk-bentuk konkret macam apa yang bisa kita lihat dan rasakan hari ini tentang ketidakadilan itu? (dalam keluarga, dalam jemaat?)
2. Apa yang bisa kita lakukan untuk melawan hadirnya ketidakadilan itu?

Previous
Next Post »