II Raja-raja 5:1-14 | Pelayan yang Memimpin, Pemimpin yang Melayani - Pdt. Gerry Atje
Pelayan yang Memimpin, Pemimpin yang Melayani
II Raja-raja 5:1-14 


Istilah “Pemimpin yang melayani” pastilah tidak asing lagi di telinga kita semua. Tetapi istilah “Pelayan yang Memimpin”? Hmmmm ... agak asing di telinga kita bukan? 

Tetapi hal itulah yang terjadi dalam perikop kita hari ini ketika ada seorang hamba perempuan yang bekerja sebagai pelayan dan kemudian “memberikan pandangannya dan sarannya” dihadapan seorang Panglima kerajaan Aram: “Sekiranya tuanku menghadap nabi yang di Samaria itu ...” (ayat 3). 

Dan bukan hanya berhenti pada peristiwa itu saja, “Pelayan yang memimpin” terjadi lagi ketika para pegawai panglima Romawi itu berkata dalam ayat 13 “ ... “.

Semuanya diucapkan oleh seseorang yang menurut ukuran dunia dipandang “lebih rendah” dibandingkan dengan orang yang mendengarkan ucapan itu – hamba dan pegawai yang mengucapkan, kemudian didengar oleh tuannya, atasannya, boss nya.

Hari ini kita ingin melihat hal-hal baik apa yang ada dalam diri tuan dan para pelayannya itu.


Pelayan Yang Memimpin 

Apa yang baik dari sisi para pelayan Panglima Romawi ini? Berani berkata sesuatu karena mereka tahu bahwa apa yang mereka katakan adalah kebenaran.

Bagi hamba perempuan yang merekomendasikan Naaman untuk bertemu dengan Elisa, penyakit Naaman bisa sembuh bila Naaman mau datang kepada sang nabi, itulah kebenarannya. Bagi para pegawai Naaman, apa yang mereka ucapkan di ayat 13, itulah kebenarannya, “kalau disuruh yang susah aja bapak pasti mau melakukan hal itu, apalagi yang cuma nyemplung di sungai aja, ini perkara kecil sekali kenapa jadi gak mau?”

Padahal kalau dipikir-pikir, resiko yang mereka tanggung ketika berucap itu cukup besar lho. Iya kalau idenya itu diterima, kalau tidak? Ide diterima artinya bagus, ide tak diterima artinya “buntung”. Dalam dunia kita sekarang ini, jika boss berhasil karena ide pelayan, yang dapat nama kan si boss, bukan pelayan yang merekomendasikan ide itu pada boss.

Sayangnya, dalam kehidupan kita sehari-hari kita bisa jadi menemukan dengan mudahnya mereka-mereka yang “berlagak pemimpin” yang tak mau mendengar orang lain yang dipandang “tak selevel” dengannya. “Papa, kita ke gereja yuk, kan udah jam 8.30” ... “Kamu anak kecil mau ngatur orang tua!”. Padahal itu kan bener ya, hari minggu kita ke gereja.


Pemimpin yang Melayani 


Ini yang terakhir, apa yang baik yang terlihat jelas dalam tokoh Naaman dalam perikop kita hari ini? Rendah hati dan mau mendengarkan. 

Bayangkan apabila kita semua memiliki kerendah-hatian yang dimiliki oleh seorang Naaman: “mau mendengarkan dengan tidak memandang muka” ... Ada sesuatu yang bisa kita temukan ketika kita mau mendengarkan dengan tidak memandang muka. Bagi Naaman, sesuatu itu adalah kesembuhan. Bagi bapak dan ibu?

[Mari kita diskusikan lebih lanjut lagi, hal-hal baik apa lagi yang bisa kita temukan dari figur Naaman dan para pelayannya itu dalam perikop kita hari ini?]

II Raja-raja 5:1-14 | Pelayan yang Memimpin, Pemimpin yang Melayani

Pelayan yang Memimpin, Pemimpin yang Melayani
II Raja-raja 5:1-14 


Istilah “Pemimpin yang melayani” pastilah tidak asing lagi di telinga kita semua. Tetapi istilah “Pelayan yang Memimpin”? Hmmmm ... agak asing di telinga kita bukan? 

Tetapi hal itulah yang terjadi dalam perikop kita hari ini ketika ada seorang hamba perempuan yang bekerja sebagai pelayan dan kemudian “memberikan pandangannya dan sarannya” dihadapan seorang Panglima kerajaan Aram: “Sekiranya tuanku menghadap nabi yang di Samaria itu ...” (ayat 3). 

Dan bukan hanya berhenti pada peristiwa itu saja, “Pelayan yang memimpin” terjadi lagi ketika para pegawai panglima Romawi itu berkata dalam ayat 13 “ ... “.

Semuanya diucapkan oleh seseorang yang menurut ukuran dunia dipandang “lebih rendah” dibandingkan dengan orang yang mendengarkan ucapan itu – hamba dan pegawai yang mengucapkan, kemudian didengar oleh tuannya, atasannya, boss nya.

Hari ini kita ingin melihat hal-hal baik apa yang ada dalam diri tuan dan para pelayannya itu.


Pelayan Yang Memimpin 

Apa yang baik dari sisi para pelayan Panglima Romawi ini? Berani berkata sesuatu karena mereka tahu bahwa apa yang mereka katakan adalah kebenaran.

Bagi hamba perempuan yang merekomendasikan Naaman untuk bertemu dengan Elisa, penyakit Naaman bisa sembuh bila Naaman mau datang kepada sang nabi, itulah kebenarannya. Bagi para pegawai Naaman, apa yang mereka ucapkan di ayat 13, itulah kebenarannya, “kalau disuruh yang susah aja bapak pasti mau melakukan hal itu, apalagi yang cuma nyemplung di sungai aja, ini perkara kecil sekali kenapa jadi gak mau?”

Padahal kalau dipikir-pikir, resiko yang mereka tanggung ketika berucap itu cukup besar lho. Iya kalau idenya itu diterima, kalau tidak? Ide diterima artinya bagus, ide tak diterima artinya “buntung”. Dalam dunia kita sekarang ini, jika boss berhasil karena ide pelayan, yang dapat nama kan si boss, bukan pelayan yang merekomendasikan ide itu pada boss.

Sayangnya, dalam kehidupan kita sehari-hari kita bisa jadi menemukan dengan mudahnya mereka-mereka yang “berlagak pemimpin” yang tak mau mendengar orang lain yang dipandang “tak selevel” dengannya. “Papa, kita ke gereja yuk, kan udah jam 8.30” ... “Kamu anak kecil mau ngatur orang tua!”. Padahal itu kan bener ya, hari minggu kita ke gereja.


Pemimpin yang Melayani 


Ini yang terakhir, apa yang baik yang terlihat jelas dalam tokoh Naaman dalam perikop kita hari ini? Rendah hati dan mau mendengarkan. 

Bayangkan apabila kita semua memiliki kerendah-hatian yang dimiliki oleh seorang Naaman: “mau mendengarkan dengan tidak memandang muka” ... Ada sesuatu yang bisa kita temukan ketika kita mau mendengarkan dengan tidak memandang muka. Bagi Naaman, sesuatu itu adalah kesembuhan. Bagi bapak dan ibu?

[Mari kita diskusikan lebih lanjut lagi, hal-hal baik apa lagi yang bisa kita temukan dari figur Naaman dan para pelayannya itu dalam perikop kita hari ini?]

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER