1 Tesalonika 5:16-22 | Hati Terarah pada Tuhan dan Memegang Janji - Pdt. Gerry Atje
Hati Terarah pada Tuhan dan Memegang Janji
Tema kita hari ini sebenarnya berisikan dua tema yang digabungkan menjadi satu.
1. Hati yang terarah pada Tuhan (itu artinya hati kita yang tertuju pada Tuhan)
2. Memegang janji (Siapa punya janji? Tuhan? Kita? Atau dua-duanya punya janji?)
Bagaimana kita menggambarkan tema kita itu dalam hidup sehari-hari? Gampang-gampang susah ya, “hati terarah pada Tuhan dan memegang janji”. Mari kita coba mencari gambaran yang lebih mudah untuk kita dapatkan contoh konkritnya dalam kehidupan kita sehari-hari.
Bolehkan kita mengganti kata “Tuhan” dalam tema kita hari ini dengan kata “kekasih”? (Dalam Perjanjian Lama dan juga Perjanjian Baru, gambaran Tuhan itu kekasih, suami, mempelai lelaki, dll., amat mudah kita temukan)
“Hati yang terarah pada kekasihku dan memegang janji”.
Mari kita share, apa artinya kalimat itu buat kita? 
(lebih gampang menemukan konkretnya kan).
Saya duluan deh ya yang komentar. 
Buat saya, kalimat “Hati yang terarah pada kekasih dan memegang janji” itu artinya ...
1. Mata gak jelalatan, lirak-lirik cewek lain. 
Contoh aja, pas lagi naik motor dan ada kekasih kita di bonceng, lirak-lirik cewek berarti siap punggungnya biru-biru gara-gara dicubitin.
2. “Memegang janji”, yang paling kepikiran adalah satu kata: setia. Dia punya janji, saya punya janji.
Satu hal yang sangat bisa merusak tema kita hari ini: kecewa. Kita dikecewakan dia atau kita dianggap mengecewakan oleh dia. Diduain, janji tapi bo’ong, diomelin terus saban hari, dll ... akhirnya kecewa.
Jemaat di Tesalonika hampir saja memiliki pengalaman kecewa. 
Baca saja 1 Tes. 5:1-2 
Tetapi tentang zaman dan masa, saudara-saudara, tidak perlu dituliskan kepadamu, karena kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam.
Dapat ya yang saya maksud. 
Mereka menanti janji Tuhan yang mau datang kembali tetapi sampai hari itu (dan sampai sekarang), ternyata masih juga belum datang-datang! Itu artinya penderitaan mereka sebagai orang percaya menjadi tambah panjang. Sudah dimusuhi dan disakiti oleh masyarakat sekitar mereka, sekarang mereka hampir saja dikecewakan oleh Tuhan.
Kita perlu tahu situasi itu supaya kita tidak mengganggap bahwa jemaat di Tesalonika sewaktu membaca ayat yang kita mau renungkan hari ini ... itu sebagai perkara yang mudah. Terbalik. Itu sangat sulit.
Akan tetapi, dari sesuatu yang sulit itu, ketika mereka mau melakukan ayat 16-22, ternyata apa yang awalnya tampak mengecewakan, ... ternyata ada penjelasannya dari Tuhan.
Ada dua prinsip yang mau kita pelajari hari ini. 
Pertama, prinsip pra-duga tak bersalah 
(ayat 19-22). 
Sewaktu punya pengalaman kecewa, sayangnya banyak orang yang mulai menyeret Tuhan ke kursi terdakwa dan mulai menghakimi Tuhan. Hebat kan bisa menghakimi Tuhan. “Jangan main-main dengan orang yang kecewa”.
Justru itu masalahnya.
Apa yang kita baca dalam ayat 19-22 menjadi bertolak belakang ketika kita mulai menempatkan Tuhan sebagai terdakwa.
Ayat 19: kita jadi kehilangan apa yang telah Tuhan berikan untuk kita.
Ayat 20: kita jadi memandang sebelah mata kebenaran firman Tuhan
Ayat 21: kita jadi tergesa mengambil kesimpulan
Ayat 22: kita membiarkan si jahat menguasai diri kita
Segala sesuatu yang seharusnya kita tolak dalam kehidupan kita itu, justru menjadi bagian nyata dalam hidup kita ketika kita sudah kadung menghakimi Tuhan. Bebaskan Tuhan dari segala tuduhan, biarkan Dia menjelaskan apa yang menjadi rencananya bagi hidup kita. Oleh sebab itulah prinsip yang ke dua ini menjadi penting. 
Prinsip kedua, berkomunikasi selalu dengan Dia (berbicara dari hati ke hati, ayat 16-18)
Ngomong, jangan diem aja. 
Sampaikan kepada Dia semua perasaan kita kepada Tuhan. Berbicaralah dan datanglah pada Tuhan. Karena sewaktu kita mengajak Tuhan untuk ikut ambil bagian dalam menyelesaikan pergumulan-pergumulan kita, Dia selalu punya jalan terbaik untuk mengubah pergumulan kita menjadi berkat bagi hidup kita. Dan itulah yang membuat kita akan selalu menemukan sukacita yang sejati dalam hidup kita ini.

1 Tesalonika 5:16-22 | Hati Terarah pada Tuhan dan Memegang Janji

Hati Terarah pada Tuhan dan Memegang Janji
Tema kita hari ini sebenarnya berisikan dua tema yang digabungkan menjadi satu.
1. Hati yang terarah pada Tuhan (itu artinya hati kita yang tertuju pada Tuhan)
2. Memegang janji (Siapa punya janji? Tuhan? Kita? Atau dua-duanya punya janji?)
Bagaimana kita menggambarkan tema kita itu dalam hidup sehari-hari? Gampang-gampang susah ya, “hati terarah pada Tuhan dan memegang janji”. Mari kita coba mencari gambaran yang lebih mudah untuk kita dapatkan contoh konkritnya dalam kehidupan kita sehari-hari.
Bolehkan kita mengganti kata “Tuhan” dalam tema kita hari ini dengan kata “kekasih”? (Dalam Perjanjian Lama dan juga Perjanjian Baru, gambaran Tuhan itu kekasih, suami, mempelai lelaki, dll., amat mudah kita temukan)
“Hati yang terarah pada kekasihku dan memegang janji”.
Mari kita share, apa artinya kalimat itu buat kita? 
(lebih gampang menemukan konkretnya kan).
Saya duluan deh ya yang komentar. 
Buat saya, kalimat “Hati yang terarah pada kekasih dan memegang janji” itu artinya ...
1. Mata gak jelalatan, lirak-lirik cewek lain. 
Contoh aja, pas lagi naik motor dan ada kekasih kita di bonceng, lirak-lirik cewek berarti siap punggungnya biru-biru gara-gara dicubitin.
2. “Memegang janji”, yang paling kepikiran adalah satu kata: setia. Dia punya janji, saya punya janji.
Satu hal yang sangat bisa merusak tema kita hari ini: kecewa. Kita dikecewakan dia atau kita dianggap mengecewakan oleh dia. Diduain, janji tapi bo’ong, diomelin terus saban hari, dll ... akhirnya kecewa.
Jemaat di Tesalonika hampir saja memiliki pengalaman kecewa. 
Baca saja 1 Tes. 5:1-2 
Tetapi tentang zaman dan masa, saudara-saudara, tidak perlu dituliskan kepadamu, karena kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam.
Dapat ya yang saya maksud. 
Mereka menanti janji Tuhan yang mau datang kembali tetapi sampai hari itu (dan sampai sekarang), ternyata masih juga belum datang-datang! Itu artinya penderitaan mereka sebagai orang percaya menjadi tambah panjang. Sudah dimusuhi dan disakiti oleh masyarakat sekitar mereka, sekarang mereka hampir saja dikecewakan oleh Tuhan.
Kita perlu tahu situasi itu supaya kita tidak mengganggap bahwa jemaat di Tesalonika sewaktu membaca ayat yang kita mau renungkan hari ini ... itu sebagai perkara yang mudah. Terbalik. Itu sangat sulit.
Akan tetapi, dari sesuatu yang sulit itu, ketika mereka mau melakukan ayat 16-22, ternyata apa yang awalnya tampak mengecewakan, ... ternyata ada penjelasannya dari Tuhan.
Ada dua prinsip yang mau kita pelajari hari ini. 
Pertama, prinsip pra-duga tak bersalah 
(ayat 19-22). 
Sewaktu punya pengalaman kecewa, sayangnya banyak orang yang mulai menyeret Tuhan ke kursi terdakwa dan mulai menghakimi Tuhan. Hebat kan bisa menghakimi Tuhan. “Jangan main-main dengan orang yang kecewa”.
Justru itu masalahnya.
Apa yang kita baca dalam ayat 19-22 menjadi bertolak belakang ketika kita mulai menempatkan Tuhan sebagai terdakwa.
Ayat 19: kita jadi kehilangan apa yang telah Tuhan berikan untuk kita.
Ayat 20: kita jadi memandang sebelah mata kebenaran firman Tuhan
Ayat 21: kita jadi tergesa mengambil kesimpulan
Ayat 22: kita membiarkan si jahat menguasai diri kita
Segala sesuatu yang seharusnya kita tolak dalam kehidupan kita itu, justru menjadi bagian nyata dalam hidup kita ketika kita sudah kadung menghakimi Tuhan. Bebaskan Tuhan dari segala tuduhan, biarkan Dia menjelaskan apa yang menjadi rencananya bagi hidup kita. Oleh sebab itulah prinsip yang ke dua ini menjadi penting. 
Prinsip kedua, berkomunikasi selalu dengan Dia (berbicara dari hati ke hati, ayat 16-18)
Ngomong, jangan diem aja. 
Sampaikan kepada Dia semua perasaan kita kepada Tuhan. Berbicaralah dan datanglah pada Tuhan. Karena sewaktu kita mengajak Tuhan untuk ikut ambil bagian dalam menyelesaikan pergumulan-pergumulan kita, Dia selalu punya jalan terbaik untuk mengubah pergumulan kita menjadi berkat bagi hidup kita. Dan itulah yang membuat kita akan selalu menemukan sukacita yang sejati dalam hidup kita ini.

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER