Lukas 14:7-11 | Gila Hormat

Gila Hormat 


Syalom ... Apa kabar bapak dan ibu dan semuanya di Palalangon? Lama kita gak bertemu. Senang bisa kembali ke Palalangon dan berjumpa dengan bapak dan ibu semua hari ini. 

Hari ini kita mau sharing tentang firman Tuhan yang paling favorit sewaktu kita datang ke gedung gereja atau kita datang dalam kebaktian-kebaktian lainnya ... 

Mari kita baca, Lukas 14:7-11 

Benar kan, paling favorit ... 
Coba aja kalau kita datang ke gereja untuk kebaktian, kita semua akan sangat-sangat sungkan untuk duduk di ... barisan bangku paling depan. Lihat saja itu bangku depan gereja di kebaktian kita hari pada kosong semua. Dan kalaupun diundang untuk maju mengisi bangku yang paling depan itu, uhhh ... susahnya minta ampun. Kalo kata orang mah, “Ini udah PeWe .. Posisi Wuenak! Males pindah-pindahnya” gitu kan ya? 

Kita semua menjadi sangat bertolak belakang dengan orang-orang yang dilihat oleh Yesus dalam teks kita hari ini. Mereka yang berbondong-bondong untuk ‘maju ke bangku paling depan’ karena itulah tempat paling terhormat di kala itu. Kita menjadi ... seperti ... menghayati sekali apa yang dinyatakan oleh Yesus, “ ... jangan duduk di tempat kehormatan atau di depan, tapi duduklah di tempat yang paling rendah, di belakang ... ” 

Tema yang kita bahas hari ini pun menarik. “Gila Hormat”. 
Masalahnya sebenarnya ada di satu kata saja, “Gila”. Satu kata terakhir, “Hormat” sebenarnya sama sekali bukan inti masalahnya. Kenapa? Sebab ‘hormat’ entah dihormati atau menghormati, diri kita atau orang-orang yang ada di sekitar kita hari ini ... Itu harus. 
Ayah ingin dihormati oleh ibu dan anak-anak. Begitu pula Ibu ingin dihormati oleh ayah dan anak-anak. Anak pun sama, ingin dihormati oleh orangtua mereka. Majelis Jemaat, Pendeta, Komisi Pelayanan, bahkan kita semua sebagai bagian dari jemaat Tuhan ... semuanya ingin dihormati oleh sesama kita sekalian.
Bayangkan kalau masalah ‘Hormat’ – dihormati dan menghormati – itu hilang dalam kehidupan kita ... Mau jadi apa kehidupan kita hari ini?? Kata orang Jakarta mah, ‘Jadi songong. Gak sopan.’ Karena selalu merasa dirinya ‘lebih tinggi’ dan orang lain ‘lebih rendah’. 

Kita sepakat bahwa ‘Hormat’ itu adalah sebuah keharusan. Kita menjadi menyadari bahwa baik diri kita maupun orang-orang yang ada di sekitar kita itu sama berharganya. Tidak ada yang merasa diri lebih hebat atau lebih tinggi dibandingkan yang lain, sehingga merasa layak untuk bisa merendahkan yang lain dan menuntut penghormatan kepada dirinya dari yang lain. Itu dia, “Gila Hormat”. 

Sampai di sini, kita bertemu dengan persoalan paling pertama yang mau kita renungkan bersama. Untuk menjadi seorang yang jatuh dalam jurang “Gila Hormat”, seseorang harus tahu dan kenal dulu tentang dirinya dan apa-apa yang dianggap olehnya sebagai sebuah kehormatan yang layak diterima oleh dirinya itu. 

Kalau dia nya sendiri merasa bahwa dirinya itu tidak memiliki sesuatu apa pun yang membuat dirinya merasa harus dihormati oleh orang lain yang ada di sekitarnya: keluarga, tetangga, jemaat, dll., dia tak akan pernah bertemu dan jatuh ke dalam jurang yang namanya “Gila Hormat”. Dia nya aja gak tahu dia bisa menghormati dirinya sendiri karena apa? Gimana dia bisa menuntut orang lain bisa menghormati dia? 

Mari kita ambil contoh sederhana. 
Seseorang akan merasa bahwa dirinya ‘layak dihormati’ bila orang itu merasa bahwa dirinya itu ikut serta dalam upaya membangun kehidupan. Entah itu dalam keluarga, masyarakat atau bahkan jemaat. Seseorang yang ikut serta dalam upaya membangun ... maka biasanya penghormatan datang dengan sendirinya. 
- Siapa anak yang tidak bangga dan menghormati ayahnya yang dia tahu bahwa ayahnya itu berjuang keras luarbiasa untuk membangun hidup keluarga. Anak mana dan istri mana yang tidak bangga dan menghormati ayah seperti itu? 
- Suami mana yang tidak bangga dan menghormati istrinya yang dia tahu bahwa istrinya itu menopang luar biasa untuk hidup keluarganya? Sudah berlelah-lelah mengurus urusan rumah tangga, masih juga bekerja lebih untuk nambahin supaya “kompor ngebul di dapur”. 
- Orangtua mana yang tidak bangga melihat anaknya mati-matian belajar dan berjuang untuk membangun masa depan hidupnya lebih baik dari yang sekarang? 
- Dan siapa pula yang tak bangga sewaktu tahu bahwa dirinya itu ikut berperan serta dalam pembangunan gedung serbaguna yang ada di samping gereja kita ini? “Itu 5 sak semennya dari saya lho” ... 

Akan tetapi, 
menyadari sesuatu yang bisa membuat kita dibanggakan atau dihormati oleh orang lain yang ada di sekitar kita itu ... bila takarannya sudah meluber ... Hati-hati, dia bisa jatuh ke dalam jurang yang namanya, “Gila Hormat”. 
- Kamu kan cuma dirumah aja seharian, saya yang kerja nyari duit diluar sana. Jadi gak usah sok ngatur!! 
- Papa mama kan cuma lulusan SMP, aku ini lulusan S1!! Gak pantes papa mama ngatur hidupku kayak gini! 
- Emang kamu kira yang membangun gedung gereja dan gedung serbaguna itu siapa kalau bukan saya?!? 

Sewaktu seseorang tahu akan peran dan keikutsertaannya dalam membangun dan membuatnya merasa bangga ... di situ dia bisa terpeleset masuk ke dalam jurang “Gila Hormat”. 

Ada satu cerita, kisah nyata ... Hitler di masa keemasannya, oleh pemerintah Jerman waktu itu dibuatkan satu film dokumenter yang ditayangkan di bioskop-bioskop. Hitler waktu itu ingin menyaksikan bagaimana orang-orang menghormati dirinya dengan cara ikut menonton filmnya itu di sebuah bioskop dan menyamar sebagai orang biasa. Sewaktu film nya itu mau di putar, seorang perwakilan pemerintah berdiri dan berkata, “Saudara-saudara, mari kita berdiri dan memberikan penghormatan bagi pemimpin agung kita yang akan kita saksikan filmnya sebentar lagi”. Semua orang berdiri dan memberikan penghormatan itu ... kecuali Hitler. Dia begitu terharu melihat dirinya dihormati luarbiasa oleh ‘rakyatnya’ hingga dia lupa ikut berdiri dalam penyamarannya itu. Tiba-tiba ada orang yang berbisik kepadanya yang masih duduk itu, “hey bung, cepat berdiri! Aku tahu bagaimana rasanya kita dipaksa harus menghormati si haram jaddah ini, tetapi bila kita tidak melakukannya ... ada puluhan polisi rahasia yang siap menangkap kita! Cepat berdiri dan lakukan saja!” 

Yang paling menyesakkan adalah ... sewaktu seseorang yang mengira dirinya selayak itu, seterhormat itu ... tetapi ternyata itu adalah semu. Rasa sakit dan malu yang tercipta dalam ayat 8-9 ... selalu dapat terulang dari masa ke masa.


Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."
Previous
Next Post »