Nanti, Kunikmati Hidupku - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

Alkisah, ada seorang pemuda yang memiliki tekad dan semangat yang besar untuk sukses. Baginya, hidup adalah perjuangan yang tiada henti. Kerja dan terus bekerja. Bersenang-senang, menikmati hasil pekerjaannya, sama sekali tak pernah terlintas dalam pikirannya. Pendeknya, hidupnya hanya untuk bekerja dan bekerja. 

Melihat hal itu, seorang temannya bertanya, “Untuk apa kamu bekerja begitu keras? Mengapa kamu tidak pernah menikmati hidup ini, menikmati hasil kerja kerasmu?” Sang pemuda itu langsung menjawab, “Sekarang bukan waktunya untuk menikmati hidup. Kerja keras dulu. Saya harus berhasil menjadi manajer dulu.” 

Ketika ia sudah menjadi manajer, kerjanya malah semakin keras. Ketika hal yang sama ditanyakan kembali, ia menjawab, “Sekarang bukan saatnya untuk menikmati hidup. Saya harus bekerja keras untuk menyiapkan dana membeli rumah.” Setelah rumah terbeli, ia ditanya lagi. Jawabannya, “Saya harus bekerja keras untuk menyiapkan dan pernikahan.” 

Begitu seterusnya, ia harus bekerja keras menyiapkan biaya kelahiran anaknya. Lalu menyiapkan pendidikan anaknya, lalu persiapan pernikahan anaknya, lalu membiayai usaha untuk anaknya, dan seterusnya. 

Akhirnya, di pusaranya tertulis sebuah kalimat, “Di sini dimakamkan seseorang yang nanti akan menikmati hidupnya.” 

Rhenald Kasali, Cracking Zone, hlm. 196-197.

Nanti, Kunikmati Hidupku

Alkisah, ada seorang pemuda yang memiliki tekad dan semangat yang besar untuk sukses. Baginya, hidup adalah perjuangan yang tiada henti. Kerja dan terus bekerja. Bersenang-senang, menikmati hasil pekerjaannya, sama sekali tak pernah terlintas dalam pikirannya. Pendeknya, hidupnya hanya untuk bekerja dan bekerja. 

Melihat hal itu, seorang temannya bertanya, “Untuk apa kamu bekerja begitu keras? Mengapa kamu tidak pernah menikmati hidup ini, menikmati hasil kerja kerasmu?” Sang pemuda itu langsung menjawab, “Sekarang bukan waktunya untuk menikmati hidup. Kerja keras dulu. Saya harus berhasil menjadi manajer dulu.” 

Ketika ia sudah menjadi manajer, kerjanya malah semakin keras. Ketika hal yang sama ditanyakan kembali, ia menjawab, “Sekarang bukan saatnya untuk menikmati hidup. Saya harus bekerja keras untuk menyiapkan dana membeli rumah.” Setelah rumah terbeli, ia ditanya lagi. Jawabannya, “Saya harus bekerja keras untuk menyiapkan dan pernikahan.” 

Begitu seterusnya, ia harus bekerja keras menyiapkan biaya kelahiran anaknya. Lalu menyiapkan pendidikan anaknya, lalu persiapan pernikahan anaknya, lalu membiayai usaha untuk anaknya, dan seterusnya. 

Akhirnya, di pusaranya tertulis sebuah kalimat, “Di sini dimakamkan seseorang yang nanti akan menikmati hidupnya.” 

Rhenald Kasali, Cracking Zone, hlm. 196-197.

SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER