Yesaya 5:1-7 | Apa Kabar Indonesia? - Pdt. Gerry Atje

Apa Kabar Indonesia?


Shalom semua. Selamat hari Minggu dan ... Merdeka!! (semangat semua nih hari ini)
Gimana kemarin lomba-lomba 17-an nya? Ikut lomba apa aja? Menang lomba apa aja? Saya kemarin cuma liat-liat aja di kanan kiri gereja kita ini, dua RT ... di kanan RT kita dan di kiri RT tetangga, pada ngadain lomba semua di waktu yang sama dan lomba yang sama juga + gak ketinggalan, dangdutan. Tapi tenang, kalau bapak dan ibu dan kita semua belum kebagian ikut lomba-lomba 17an kemarin, nanti kita sepulang kebaktian hari ini pun mau mengadakan lomba-lomba menyambut HUT RI kita ini. Wajib ikut semua ya.

Enam puluh delapan tahun plus satu hari sudah, kita jadi bangsa yang merdeka ( ... katanya). Coba dong, kalau tadi kita teriak “Merdeka!”, lalu disahut dengan ucapan yang sama semangatnya, “Merdeka!!” juga ... Bila hari ini kita ada yang tanya, “Apa kabar Indonesia?” Hayo, bapak dan ibu mau jawab apa?

Mau jawab: “Luar biasa!”? Beneran itu jawabannya? Gak salah tuh?
Seluar biasa itukah memangnya negeri tercinta kita ini hari ini? Dulu. Mungkin. Sekarang? Hmmm ... sepertinya kata “Lumayan”, lebih tepat dibandingkan kata yang tampak wow tadi itu.

Lumayanlah harga BBM naik lagi.
Lumayanlah isu SARA masih laku dijual untuk memecah-belah bangsa kita.
Lumayanlah ... yang katanya tingkat pengangguran itu turun, ... katanya (Ini beneran lho, klaim pak Presiden kita sehari sebelum tanggal 17 kemarin, dalam pidatonya di depan wakil rakyat, bilang begitu memang - ... tapi kok gak kelihatan bedanya ya pak?)
Lumayanlah ... koruptor makin banyak.

Saya kemarin mencari-cari data apa yang bisa kita gunakan untuk melihat kondisi Indonesia di masa yang lalu ... Akhirnya bertemu dengan ini: Pidato Bung Karno di tahun 60an yang mau menggambarkan tentang bagaimana kabar Indonesia di tahun itu ...


Tampak wah sekali bukan.
Coba bayangkan bapak dan ibu ada di zaman itu (opa – oma kan ada di zaman itu dulu), tanyalah: “Apa kabar Indonesia?” Lalu bandingkan jawabannya dengan menjawab pertanyaan itu di hari ini ... Dulu, katanya, orang Malaysia itu yang belajar ke Indonesia. Sekarang?

Jadi bertanya, jika para pendahulu bangsa kita melihat Indonesia yang ada hari ini, apa yang akan mereka katakan kepada kita?

Apakah akan sama atau mirip dengan apa yang dikatakan oleh Allah kepada bangsa Israel di zaman Yesaya dalam perikop kita hari ini?

Apa yang dinyatakan oleh Allah tentang bangsa Israel “hari ini” dalam perikop kita di zaman Yesaya itu?

Ada tukang kebun.
Ada kebun anggur yang dikasih segala sesuatunya itu yang terbaik, tempat terbaik “lereng bukit yang subur” (ayat 2).
Diperjuangkan semaksimal mungkin oleh tukang kebun: dicangkul, dibuang batu-batu, dipilih bibit terbaik, membuat pula menara jaga hingga menantikan panen terbaik.

Akan tetapi,
Hasilnya .... Asem!

Apalagi jika kita menyadari bahwa perjalanan Israel hari itu di zaman Yesaya, mereka tidak lagi hidup sebagai “anak kolong langit” yang hidupnya luntang-lantung di jalan padang gurun. Tidak. Mereka sekarang sudah diberikan “rumah”. Rumah terbaik yang “berlimpah madu dan susu”. Rumah yang mereka tempat tanpa mereka tahu apa itu artinya perjalanan di padang gurun selama 40 tahun dan apa itu artinya berperang melawan penduduk tanah Kanaan sebelum mereka bisa menempati Tanah Perjanjian dari Tuhan itu.

Mari kita lihat negeri kita hari ini.
Ada tukang kebun di negeri kita? Banyak. Pahlawan-pahlawan bangsa kita itu semuanya adalah tukang kebun. Ngurusi apa? “Kebun anggur” yang bernama Indonesia.
Ada perjuangan yang telah mereka lakukan? Banyak juga! Bambu runcing, merdeka artinya siap mati di medan perang mengusir penjajah.

Dan sekarang ... setelah 68 tahun kita sudah menempati rumah yang kita gak angkat senjata dan nyucur darah dan meregang nyawa untuk ngusir nyamuk bandel dari serambi rumah kita (ngusir penjajah) ...

Apa hasilnya?
Rumah kita yang tampak makin apik? Atau ...

Langkah paling awal untuk kita bisa membangun negeri kita tercinta hari ini ... bolehkah kita berhenti untuk membanding-bandingkan masa lalu dengan masa kini? Kita jelas harus belajar dari masa lalu, tetapi bila hanya merengut saat memandang masa lalu dan lupa bahwa ada sesuatu yang harus dan bisa kita kerjakan – lakukan di hari ini untuk menjadikan kehidupan jauh lebih baik ... Bila akhirnya hanya merengut, buat apa?

Lihat saja apa yang ada di depan mata kita hari ini.
“Genteng bocor”. Keadaan gak akan menjadi lebih baik bila kita cuma bisa bilang, “dulu perasaan genteng kita gak bocor, kenapa sekarang bocor?” Lalu kita mulai sibuk mencari ‘kambing hitam’.

Ambil tangga, naik ke atap rumah, genteng bocornya dibenerin atau diganti. Itu prinsip utama bagi kita untuk mengisi kemerdekaan yang diberikan gratis oleh para pendahulu bangsa kita. Dan sepertinya, hal itu pun berlaku untuk mengisi keseharian kehidupan kita hari ini kan?

Yesaya 5:1-7 | Apa Kabar Indonesia?


Apa Kabar Indonesia?


Shalom semua. Selamat hari Minggu dan ... Merdeka!! (semangat semua nih hari ini)
Gimana kemarin lomba-lomba 17-an nya? Ikut lomba apa aja? Menang lomba apa aja? Saya kemarin cuma liat-liat aja di kanan kiri gereja kita ini, dua RT ... di kanan RT kita dan di kiri RT tetangga, pada ngadain lomba semua di waktu yang sama dan lomba yang sama juga + gak ketinggalan, dangdutan. Tapi tenang, kalau bapak dan ibu dan kita semua belum kebagian ikut lomba-lomba 17an kemarin, nanti kita sepulang kebaktian hari ini pun mau mengadakan lomba-lomba menyambut HUT RI kita ini. Wajib ikut semua ya.

Enam puluh delapan tahun plus satu hari sudah, kita jadi bangsa yang merdeka ( ... katanya). Coba dong, kalau tadi kita teriak “Merdeka!”, lalu disahut dengan ucapan yang sama semangatnya, “Merdeka!!” juga ... Bila hari ini kita ada yang tanya, “Apa kabar Indonesia?” Hayo, bapak dan ibu mau jawab apa?

Mau jawab: “Luar biasa!”? Beneran itu jawabannya? Gak salah tuh?
Seluar biasa itukah memangnya negeri tercinta kita ini hari ini? Dulu. Mungkin. Sekarang? Hmmm ... sepertinya kata “Lumayan”, lebih tepat dibandingkan kata yang tampak wow tadi itu.

Lumayanlah harga BBM naik lagi.
Lumayanlah isu SARA masih laku dijual untuk memecah-belah bangsa kita.
Lumayanlah ... yang katanya tingkat pengangguran itu turun, ... katanya (Ini beneran lho, klaim pak Presiden kita sehari sebelum tanggal 17 kemarin, dalam pidatonya di depan wakil rakyat, bilang begitu memang - ... tapi kok gak kelihatan bedanya ya pak?)
Lumayanlah ... koruptor makin banyak.

Saya kemarin mencari-cari data apa yang bisa kita gunakan untuk melihat kondisi Indonesia di masa yang lalu ... Akhirnya bertemu dengan ini: Pidato Bung Karno di tahun 60an yang mau menggambarkan tentang bagaimana kabar Indonesia di tahun itu ...


Tampak wah sekali bukan.
Coba bayangkan bapak dan ibu ada di zaman itu (opa – oma kan ada di zaman itu dulu), tanyalah: “Apa kabar Indonesia?” Lalu bandingkan jawabannya dengan menjawab pertanyaan itu di hari ini ... Dulu, katanya, orang Malaysia itu yang belajar ke Indonesia. Sekarang?

Jadi bertanya, jika para pendahulu bangsa kita melihat Indonesia yang ada hari ini, apa yang akan mereka katakan kepada kita?

Apakah akan sama atau mirip dengan apa yang dikatakan oleh Allah kepada bangsa Israel di zaman Yesaya dalam perikop kita hari ini?

Apa yang dinyatakan oleh Allah tentang bangsa Israel “hari ini” dalam perikop kita di zaman Yesaya itu?

Ada tukang kebun.
Ada kebun anggur yang dikasih segala sesuatunya itu yang terbaik, tempat terbaik “lereng bukit yang subur” (ayat 2).
Diperjuangkan semaksimal mungkin oleh tukang kebun: dicangkul, dibuang batu-batu, dipilih bibit terbaik, membuat pula menara jaga hingga menantikan panen terbaik.

Akan tetapi,
Hasilnya .... Asem!

Apalagi jika kita menyadari bahwa perjalanan Israel hari itu di zaman Yesaya, mereka tidak lagi hidup sebagai “anak kolong langit” yang hidupnya luntang-lantung di jalan padang gurun. Tidak. Mereka sekarang sudah diberikan “rumah”. Rumah terbaik yang “berlimpah madu dan susu”. Rumah yang mereka tempat tanpa mereka tahu apa itu artinya perjalanan di padang gurun selama 40 tahun dan apa itu artinya berperang melawan penduduk tanah Kanaan sebelum mereka bisa menempati Tanah Perjanjian dari Tuhan itu.

Mari kita lihat negeri kita hari ini.
Ada tukang kebun di negeri kita? Banyak. Pahlawan-pahlawan bangsa kita itu semuanya adalah tukang kebun. Ngurusi apa? “Kebun anggur” yang bernama Indonesia.
Ada perjuangan yang telah mereka lakukan? Banyak juga! Bambu runcing, merdeka artinya siap mati di medan perang mengusir penjajah.

Dan sekarang ... setelah 68 tahun kita sudah menempati rumah yang kita gak angkat senjata dan nyucur darah dan meregang nyawa untuk ngusir nyamuk bandel dari serambi rumah kita (ngusir penjajah) ...

Apa hasilnya?
Rumah kita yang tampak makin apik? Atau ...

Langkah paling awal untuk kita bisa membangun negeri kita tercinta hari ini ... bolehkah kita berhenti untuk membanding-bandingkan masa lalu dengan masa kini? Kita jelas harus belajar dari masa lalu, tetapi bila hanya merengut saat memandang masa lalu dan lupa bahwa ada sesuatu yang harus dan bisa kita kerjakan – lakukan di hari ini untuk menjadikan kehidupan jauh lebih baik ... Bila akhirnya hanya merengut, buat apa?

Lihat saja apa yang ada di depan mata kita hari ini.
“Genteng bocor”. Keadaan gak akan menjadi lebih baik bila kita cuma bisa bilang, “dulu perasaan genteng kita gak bocor, kenapa sekarang bocor?” Lalu kita mulai sibuk mencari ‘kambing hitam’.

Ambil tangga, naik ke atap rumah, genteng bocornya dibenerin atau diganti. Itu prinsip utama bagi kita untuk mengisi kemerdekaan yang diberikan gratis oleh para pendahulu bangsa kita. Dan sepertinya, hal itu pun berlaku untuk mengisi keseharian kehidupan kita hari ini kan?

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER