Keluaran 32:7-14 | Awas, Tuhan lagi Galau! - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

Awas, Tuhan lagi Galau! 
Keluaran 32:7-14 



Seorang guru meminta kepada para muridnya untuk menggambarkan seperti apa itu Tuhan bagi mereka dalam kehidupan keseharian mereka. Bagaimana mereka menggambarkan Tuhan dalam kehidupan mereka sehari-hari? Murid yang pertama berdiri dan kemudian berkata dengan bangganya, Tuhan itu seperti seorang dokter, kayak papaku. Tuhan berusaha menyembuhkan setiap orang yang kesakitan. Murid yang kedua berdiri dan kemudian berkata, Tuhan itu seperti Master Chef, kayak papaku yang jadi koki. Dia menyediakan semua keperluan makanan kita yang secukupnya. Yang terakhir, murid yang ketiga berdiri. Persis seperti apa yang selalu papaku lakukan, Tuhan itu seperti seorang pemulung ... Dia memulung sesuatu yang dipandang hina untuk kemudian dijadikan sesuatu yang lebih baik. 

Menarik ya melihat bagaimana seseorang bisa menggambarkan Tuhan seperti apa yang mereka lihat dan rasakan dalam kesehariannya. Bagaimana menurut bapak dan ibu, gambaran Tuhan yang cocok bagi kehidupan bapak dan ibu itu yang seperti apa? (sharing)

Sekarang mari kita lihat teks Alkitab kita hari ini yang menjadi bahan perenungan kita bersama. Apa yang bapak dan ibu temukan tentang gambaran Tuhan yang ada dalam teks Alkitab kita hari ini? 

Seorang teman di Facebook mengomentari dengan menuliskan hal ini: 
Tuhan seperti waiter..selalu melayani dengan senyum dan ikhlas walau yang di layani trkadang menyebalkan.

Hmmm .... sepertinya itu benar.
Mari kita baca ayat 7-10, sekali lagi ... lalu garis bawahi kalimat ini: “ ... tegar tengkuk ...”, “ ... murka-Ku bangkit ...”, “ ... Aku akan membinasakan mereka ...”. Kemarahan yang teramat sangat karena diperlakukan buruk oleh umat pilihan-Nya itu. Semua rasa geram yang memuncak itu akan sangat mudah kita temukan dalam ayat 7-10. 

Akan tetapi, segeralah beralih menuju bagian selanjutnya, ayat 11-14 ... Langsung saja ke bagian inti kalimat ayat 14, yaitu: “Dan menyesallah Tuhan karena malapetaka yang dirancangkan-Nya ...” Ada apa dengan Tuhan? Secepat itu Dia menjadi sedemikian murkanya terhadap umat-Nya, dan secepat kilat itu pula Tuhan menyesali murka-Nya itu terhadap umat pilihan-Nya itu ... 

Jika saya diberi kesempatan untuk menggambarkan apa yang Tuhan sedang perbuat dalam teks kita hari ini ... maka saya akan memilih ... Tuhan sedang galau. Alasannya? Karena “patah hati” (kalau boleh menyebutnya begitu), baca saja apa yang dilakukan oleh kekasih Tuhan itu dalam ayat 7-8 ... . 
Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Pergilah, turunlah, sebab bangsamu yang kaupimpin keluar dari tanah Mesir telah rusak lakunya. Segera juga mereka menyimpang dari jalan yang Kuperintahkan kepada mereka; mereka telah membuat anak lembu tuangan, dan kepadanya mereka sujud menyembah dan mempersembahkan korban, sambil berkata: Hai Israel, inilah Allahmu yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir." 

Kemudian, lihatlah betapa tampak plin-plannya Tuhan dengan peralihan yang secepat kilat dari satu rasa menjadi rasa yang sama sekali lain dalam dua bagian teks Alkitab kita hari ini. Bagian 1, ayat 7-10, Allah yang murka sangat; Dan bagian 2, ayat 11-14, Allah yang menyesali murkanya itu. Peralihan perasaan yang sangat cepat sehingga tampak seperti plin-plan, itu kan tandanya bila seseorang lagi galau ya ... 

Sama seperti Tuhan (yang ternyata bisa juga) lagi galau waktu itu, dalam kehidupan keseharian kita sekarang ... entah berapa banyak hal yang bisa membuat kita jadi galau. Sebut saja semua kekecewaan kita, kemarahan kita terhadap sesuatu ... atau katakanlah rasa sakit hati kita terhadap sesuatu ... 

Kemudian setelah itu, lihatlah figur Musa dalam ayat 11-13 yang “berhasil” menghalau kegalauan dalam diri Tuhan. Kemarahan yang teramat sangat yang berujung pada penyesalan atas kemarahan awal itu. Dari galau menjadi "meleleh".

Kegalauan yang berakhir dengan ... bahagia. Tuhan memilih untuk lebih mengedepankan apa yang telah dijanjikan-Nya kepada umat-Nya itu dalam ayat 13 (seperti yang diingatkan oleh Musa), ketimbang meluapkan kemarahan-Nya kepada Israel yang degil dan menyingkirkan kasih dan janji-Nya itu. 

Saya jadi penasaran, kenapa Tuhan bisa secepat itu beralih dari perasaan marah yang teramat sangat menjadi penyesalan akan kemarahan-Nya itu? Lalu Tuhan berbisik ... 
“Buat apa menyimpan sakit hati dalam diri? Ingatlah akan hal-hal yang baik, maka di situ ada jalan pengharapan menuju hidup yang sama sekali baru”. 

Apakah bapak dan ibu juga mendengar Tuhan berbisik seperti itu di hati dan pikiran bapak dan ibu hari ini?

Keluaran 32:7-14 | Awas, Tuhan lagi Galau!

Awas, Tuhan lagi Galau! 
Keluaran 32:7-14 



Seorang guru meminta kepada para muridnya untuk menggambarkan seperti apa itu Tuhan bagi mereka dalam kehidupan keseharian mereka. Bagaimana mereka menggambarkan Tuhan dalam kehidupan mereka sehari-hari? Murid yang pertama berdiri dan kemudian berkata dengan bangganya, Tuhan itu seperti seorang dokter, kayak papaku. Tuhan berusaha menyembuhkan setiap orang yang kesakitan. Murid yang kedua berdiri dan kemudian berkata, Tuhan itu seperti Master Chef, kayak papaku yang jadi koki. Dia menyediakan semua keperluan makanan kita yang secukupnya. Yang terakhir, murid yang ketiga berdiri. Persis seperti apa yang selalu papaku lakukan, Tuhan itu seperti seorang pemulung ... Dia memulung sesuatu yang dipandang hina untuk kemudian dijadikan sesuatu yang lebih baik. 

Menarik ya melihat bagaimana seseorang bisa menggambarkan Tuhan seperti apa yang mereka lihat dan rasakan dalam kesehariannya. Bagaimana menurut bapak dan ibu, gambaran Tuhan yang cocok bagi kehidupan bapak dan ibu itu yang seperti apa? (sharing)

Sekarang mari kita lihat teks Alkitab kita hari ini yang menjadi bahan perenungan kita bersama. Apa yang bapak dan ibu temukan tentang gambaran Tuhan yang ada dalam teks Alkitab kita hari ini? 

Seorang teman di Facebook mengomentari dengan menuliskan hal ini: 
Tuhan seperti waiter..selalu melayani dengan senyum dan ikhlas walau yang di layani trkadang menyebalkan.

Hmmm .... sepertinya itu benar.
Mari kita baca ayat 7-10, sekali lagi ... lalu garis bawahi kalimat ini: “ ... tegar tengkuk ...”, “ ... murka-Ku bangkit ...”, “ ... Aku akan membinasakan mereka ...”. Kemarahan yang teramat sangat karena diperlakukan buruk oleh umat pilihan-Nya itu. Semua rasa geram yang memuncak itu akan sangat mudah kita temukan dalam ayat 7-10. 

Akan tetapi, segeralah beralih menuju bagian selanjutnya, ayat 11-14 ... Langsung saja ke bagian inti kalimat ayat 14, yaitu: “Dan menyesallah Tuhan karena malapetaka yang dirancangkan-Nya ...” Ada apa dengan Tuhan? Secepat itu Dia menjadi sedemikian murkanya terhadap umat-Nya, dan secepat kilat itu pula Tuhan menyesali murka-Nya itu terhadap umat pilihan-Nya itu ... 

Jika saya diberi kesempatan untuk menggambarkan apa yang Tuhan sedang perbuat dalam teks kita hari ini ... maka saya akan memilih ... Tuhan sedang galau. Alasannya? Karena “patah hati” (kalau boleh menyebutnya begitu), baca saja apa yang dilakukan oleh kekasih Tuhan itu dalam ayat 7-8 ... . 
Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Pergilah, turunlah, sebab bangsamu yang kaupimpin keluar dari tanah Mesir telah rusak lakunya. Segera juga mereka menyimpang dari jalan yang Kuperintahkan kepada mereka; mereka telah membuat anak lembu tuangan, dan kepadanya mereka sujud menyembah dan mempersembahkan korban, sambil berkata: Hai Israel, inilah Allahmu yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir." 

Kemudian, lihatlah betapa tampak plin-plannya Tuhan dengan peralihan yang secepat kilat dari satu rasa menjadi rasa yang sama sekali lain dalam dua bagian teks Alkitab kita hari ini. Bagian 1, ayat 7-10, Allah yang murka sangat; Dan bagian 2, ayat 11-14, Allah yang menyesali murkanya itu. Peralihan perasaan yang sangat cepat sehingga tampak seperti plin-plan, itu kan tandanya bila seseorang lagi galau ya ... 

Sama seperti Tuhan (yang ternyata bisa juga) lagi galau waktu itu, dalam kehidupan keseharian kita sekarang ... entah berapa banyak hal yang bisa membuat kita jadi galau. Sebut saja semua kekecewaan kita, kemarahan kita terhadap sesuatu ... atau katakanlah rasa sakit hati kita terhadap sesuatu ... 

Kemudian setelah itu, lihatlah figur Musa dalam ayat 11-13 yang “berhasil” menghalau kegalauan dalam diri Tuhan. Kemarahan yang teramat sangat yang berujung pada penyesalan atas kemarahan awal itu. Dari galau menjadi "meleleh".

Kegalauan yang berakhir dengan ... bahagia. Tuhan memilih untuk lebih mengedepankan apa yang telah dijanjikan-Nya kepada umat-Nya itu dalam ayat 13 (seperti yang diingatkan oleh Musa), ketimbang meluapkan kemarahan-Nya kepada Israel yang degil dan menyingkirkan kasih dan janji-Nya itu. 

Saya jadi penasaran, kenapa Tuhan bisa secepat itu beralih dari perasaan marah yang teramat sangat menjadi penyesalan akan kemarahan-Nya itu? Lalu Tuhan berbisik ... 
“Buat apa menyimpan sakit hati dalam diri? Ingatlah akan hal-hal yang baik, maka di situ ada jalan pengharapan menuju hidup yang sama sekali baru”. 

Apakah bapak dan ibu juga mendengar Tuhan berbisik seperti itu di hati dan pikiran bapak dan ibu hari ini?


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER