Lukas 18:9-14 | The Way You Look at Me ~ Pdt. Gerry Atje

Lukas 18:9-14 | The Way You Look at Me


The Way You Look at Me 

Membaca perikop kita hari ini, kita bertemu dengan satu prinsip yang ‘aneh tapi nyata’, yaitu: “Yang meninggikan diri direndahkan, yang merendahkan diri ditinggikan”. Padahal, baik yang “tinggi” maupun yang “rendah” ... keduanya berbicara tentang hal-hal yang sesuai dengan kenyataannya. 

Mari kita lihat “si tinggi” Farisi (ayat 11-12) 
Dia berdoa dalam hatinya, itu artinya gak akan ada orang lain yang bisa dengar dan tahu apa isi doanya, kecuali Tuhan. Dan apa yang tidak benar dari doa si Farisi itu? Semuanya itu memang benar, sesuai dengan kenyataannya: 
- Tidak sama seperti semua orang, ini benar. 
- Bukan perampok, pezina, orang lalim ataupun pemungut cukai ... ini pun semua benar. 
- Puasa dua kali seminggu dan bawa perpuluhan ... semua benar dilakukannya. 

Coba, mana kalimat yang diucapkan oleh Farisi itu tadi yang tidak sesuai dengan kenyataannya? Semua benar. Dia bicara ‘tinggi’ karena kenyataannya emang tinggi. Ini benar-benar berbeda dengan saudara kita yang kemarin sempat populer itu ... 29 my age, labil ekonomi, bla bla bla ... bicara ‘tinggi’ tapi salah semuanya. 

Sekarang bandingkkan dengan ucapan “si rendah” pemungut cukai. Dia berdiri jauh-jauh, gak berani menengadah ke langit, sambil mukul dirinya sendiri dia berkata, “Ya, Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini”. 

Itupun si pemungut cukai memang sedang berbicara sesuai dengan kenyataannya. Kenyataannya, seorang yang bekerja sebagai pemungut cukai dianggap sebagai seorang yang berdosa karena mereka adalah antek-antek penjajah Romawi yang sering memeras uang rakyat jajahannya, yang salah satunya adalah bangsa Israel, yang tak lain tak bukan adalah bangsanya sendiri. 

Jadi kita sedang bertemu dengan dua orang yang sedang berbicara sesuai dengan kenyataan kehidupan mereka masing-masing. Tetapi mengapa menghasilkan penerimaan yang sangat berbeda? Yang satu dianggap sebagai orang benar dan yang lain tidak. 

Saya mau mengajak kita untuk merenungkan dua hal ini ... 

Yang pertama, 
Bagaimana kita memandang diri kita, hidup kita (dan apalagi bila mulai ‘berani’ menilai hidup orang lain di hadapan Tuhan). 

Merasa diri paling benar sedunia dan pada akhirnya jatuh pada jurang kesombongan. Bukankah jurang yang bernama kesombongan diri itu adalah salah satu yang paling sulit untuk dilewati? 

Padahal siapa sih orang yang sanggup merasa dirinya paling benar, paling tinggi di hadapan Tuhan di antara sesamanya? Seharusnya gak ada ... dan jangan menjadi orang yang mencoba selanjutnya untuk memandang diri sendiri paling benar sedunia di hadapan Tuhan. Pasti gagal.

Jatuh pada kesombongan. 
Apalagi kalau mulai berani menilai hidup orang lain ... Jatuh pada penghakiman (padahal, penghakiman itu adalah hak Tuhan aja kan ya?) 

Dalam Perjanjian Lama, apa yang terjadi dalam diri seorang Farisi dalam perikop kita hari ini adalah penggabungan antara ‘masuk jurangnya’ 3 sahabat Ayub dan ‘masuk jurangnya’ Ayub sendiri. Tiga sahabat Ayub masuk ke dalam jurang penghakiman, sedangan Ayub sendiri pada akhirnya masuk jurang yang namanya merasa diri paling benar di hadapan Tuhan. Dan semuanya di pandang bersalah oleh Tuhan, termasuk si Farisi dalam perikop kita hari ini. 

Hal yang terakhir yang mau kita renungkan bersama adalah ... 
Bagaimana sebenarnya cara Tuhan sendiri memandang kehidupan semua orang? 

Saya suka dengan cerita ini, kisah nyata – pernah terjadi ... 
Tentang Michaelangelo, seorang pemahat kenamaan zaman dulu ... Suatu hari dia ketemu dengan satu batu besar yang jeleklah pokoknya. Tetapi melihat batu besar yang jelek itu dia sangat kegirangan sehingga membawa pulang batu besar yang jelek itu ke rumahnya. Sampai di rumah, dia pandangi terus itu batu besar sambil senyam-senyum. Lalu ada seseorang yang melihatnya tampak sangat bahagia memandangi batu besar itu dan kemudian berkata, “Hey, kenapa kamu tampak senang sekali ngeliatin batu besar yang jelek itu?” Lalu Michaelangelo menjawab dengan semangat, “Ya ampun ... tidakkah kamu melihat apa yang sedang aku lihat di sini?! Ada seorang malaikat yang terperangkap di balik batu besar yang jelek ini dan aku akan segera mengeluarkannya dari situ!” 

Ini dia anehnya, 
Tuhan selalu punya cara yang aneh dalam melihat dan menilai hidup seseorang. Ketika orang lain hanya bisa memberikan penilaian tentang hidup kita ... entah itu baik ataupun buruk ... Tuhan selalu percaya bahwa, dalam bahasa Michaelangelo, “ada malaikat yang terperangkap dalam dirimu, dan Aku akan segera membebaskan malaikat itu agar hidupmu berubah menjadi jauh lebih baik”. 

Biarkan Tuhan membentuk hidup kita, sebab ... ada malaikat dalam diri setiap orang yang terkurung dan harus dibebaskan agar dia, siapapun orangnya, dijadikan-Nya pribadi yang baru ... yang lebih baik. 
Previous
Next Post »