Zefanya 3:14-20 | Tuhan Punya Alasan - Pdt. Gerry Atje

Tuhan Punya Alasan 

Minggu Adven yang ke-3, saat yang dinanti-nantikan hampir tiba. 
Kalau berbicara masalah penantian, memang yang paling gak enak itu adalah sewaktu kita gak tahu kapan yang dinanti-nantikan itu datang. Tapi masih ada satu lagi yang paling gak enak banget adalah ... sudah menanti lamaa banget, eh pas datang tak seperti yang kita harapkan. 

Salah satu cerita yang saya suka tentang penantian di seputar ‘menuju natal’ adalah tentang percakapan tiga pohon: 
Pohon 1: “Kawan-kawan, suatu hari nanti aku akan menjadi sebuah tempat untuk perhiasan barang-barang yang berharga dan mahal.”
Pohon 2: “Kalau aku, suatu hari nanti aku akan menjadi sebuah kapal pesiar yang mewah sekali!”
Pohon 3: “Suatu hari nanti, aku akan menjadi penyangga sebuah rumah yang buesar sekali.”
Mereka berharap, mereka menanti da mereka gak tahu kapan datangnya waktu itu ... Dan akhirnya apa yang mereka nantikan itu datang juga ... Akan tetapi ...
Pohon 1: “Apa ini?! Cuma jadi tempat makanan sapi dan kuda di kandang kotor ini?!”
Pohon 2: “Aku juga ... aku disini cuma menjadi sebuah perahu nelayan yang reyot ini!”
Pohon 3: “Kamu berdua! Nasibku tak jauh beda. Aku cuma diparkir di tempat tukang kayu dan gak tahu kapan aku mau dijadiin apaan?!” 
Sedikit banyak, mungkin, kita pun pernah berada di situasi yang mirip: berharap, berjuang, menanti dan gak tahu kapan datangnya ... dan akhirnya ... kecewa, tak sesuai dengan harapan. 

Lalu apa yang bapak dan ibu lakukan saat itu terjadi? 
Bertanya? Pasti. Bingung juga, mungkin kesal atau bahkan marah. Marah ke siapa? Ya ke siapa saja, bahkan Tuhan pun bisa dijadikan objek kemarahannya. 

Tetapi biasanya, seseorang gak akan bertahan lama di fase hidup seperti itu: marah, kesal, bingung, nanya-nanya. Kenapa? Karena itu gak enak. Itu cuma nyakitin dirinya sendiri. Maka dia akan berusaha untuk sesegera mungkin beralih menuju fase penenangan diri. 

“Tuhan pasti punya alasan.” 

Itulah fase penenangan dirinya. Berdamai dengan apa yang sudah terjadi. Apa itu bahasa anak mudanya? “Move on!” ... “Life must go on!” ... Walaupun kalau ditanya, “Jadi apa alasannya Tuhan?” dia mungkin akan menjawab ... “aku gak tahu ... aku belum tahu ...” 

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, Tuhan mau menegaskan jawaban dari “apa alasan-Nya” sehingga Dia mengizinkan kejadian pembuangan Israel ke tanah asing: Babel, selama 70 tahun. 

Di zaman Zefanya hidup, apakah peristiwa pembuangan itu sudah terjadi? Belum. Tetapi lihatlah bahwa Tuhan amat jelas membukakan kepada orang percaya pada waktu itu apa yang akan terjadi setelah dibuang: akan datang keselamatan yang dari Tuhan. 

Seakan-akan Tuhan berkata: 
“Mungkin kamu akan bersedih hati nanti. Sementara! Sebab akhirnya jelas kamu akan bersorak-sorai.”

Kalau saya jadi salah satu orang Israel yang hidup di masa Zefanya pada waktu itu, saya gak akan ragu menanyakan hal ini: 
“Tuhan, kenapa aku harus bersorak-sorai? Di depan mataku itu cuma ada kehancuran dan penderitaan! Kasih satu alasan Tuhan, jangan diam!” 

Dan inilah alasan Tuhan pada waktu itu: 
Ayat 20 
Pada waktu itu Aku akan membawa kamu pulang, yakni pada waktu Aku mengumpulkan kamu, sebab Aku mau membuat kamu menjadi kenamaan dan kepujian di antara segala bangsa di bumi dengan memulihkan keadaanmu di depan mata mereka," firman TUHAN.

Sebutlah Dia memang marah dengan keputusan-keputusan kita yang menyakiti hati-Nya waktu itu. Katakan saja Dia pasti kecewa dengan sikap-sikap kita pada waktu itu. Tetapi ... jelas Dia gak akan pernah pergi meninggalkan kita sendirian. (Dan bangsa Israel tahu kebenaran itu, akhirnya). 
Dia punya alasan untuk marah? Ya. 
Dia punya alasan untuk kecewa? Ya. 
Dia punya alasan untuk tetap menunggu? Ya. 

Karena Dia terlalu sayang pada kita. 
Saya punya satu tayangan yang menggambarkan hal itu ... 


Dia gak pergi, Dia gak ninggalin kita ... yang Dia lakukan adalah menunggu sampai akhirnya kita kembali dan mengerti ... Bahwa Dia memang sesayang itu kepada diri kita. 

Oiya, cerita tentang tiga pohon yang tadi di awal saya cerita itu belum selesai sebenarnya. Ini dia kelanjutan ceritanya ... 

Pohon 1:
Cita-cita – Ingin jadi tempat perhiasan yang mahal. 
Fakta – Cuma jadi tempat makanan ternak di kandang dekil. 
“Suatu hari ... ada seorang bayi lahir ke dunia di kandang itu. Bayi itu dibungkus kain dan diletakkan di tempat makanan ternak itu.” 

Pohon 2: 
Cita-cita – Ingin menjadi kapal pesiar yang mewah. 
Fakta – Cuma jadi kapal nelayan yang reyot. 
“Suatu hari Seseorang naik ke kapal nelayan yang reyot itu dan mengajar banyak orang. Semua orang kagum dengan Orang itu.” 

Pohon 3: 
Cita-cita – Ingin menjadi penyangga sebuah rumah yang buesar. 
Fakta – Diletakkan begitu saja di tempat tukang kayu. 
“Suatu hari beberapa orang membawanya untuk diberikan kepada Seseorang yang membawa kayu itu menuju sebuah bukit. Di atas palang kayu itu ditaruh tulisan: ‘Inilah Raja Orang Yahudi’” 

(tahukah reaksi kawan-kawan pohon yang lainnya diluar dari 3 pohon tadi yang mendengarkan kisah mereka tersebut? “Aku mau menukar tempatku untukmu di sini supaya aku yang punya kesempatan mengalami hal itu!”) 

Hidup bersama-sama dengan Tuhan, berjalan bersama dengan Tuhan setiap hari bukanlah hidup yang tak akan pernah mengalami kekecewaan, penderitaan, terpuruk, jatuh dkk ... Hidup bersama-sama dengan Tuhan itu Cuma satu: Kita menjadi tahu tujuan akhirnya ... Bahagia. 

Sudahkah kita menemukan alasan Tuhan sewaktu kita berada di saat-saat paling membingungkan dan mengecewakan dalam hidup kita? Itu kuncinya supaya kita bisa sampai di tujuan akhir kita dan yang membuat kita pada akhirnya bisa ... bersorak-sorai.

Zefanya 3:14-20 | Tuhan Punya Alasan


Tuhan Punya Alasan 

Minggu Adven yang ke-3, saat yang dinanti-nantikan hampir tiba. 
Kalau berbicara masalah penantian, memang yang paling gak enak itu adalah sewaktu kita gak tahu kapan yang dinanti-nantikan itu datang. Tapi masih ada satu lagi yang paling gak enak banget adalah ... sudah menanti lamaa banget, eh pas datang tak seperti yang kita harapkan. 

Salah satu cerita yang saya suka tentang penantian di seputar ‘menuju natal’ adalah tentang percakapan tiga pohon: 
Pohon 1: “Kawan-kawan, suatu hari nanti aku akan menjadi sebuah tempat untuk perhiasan barang-barang yang berharga dan mahal.”
Pohon 2: “Kalau aku, suatu hari nanti aku akan menjadi sebuah kapal pesiar yang mewah sekali!”
Pohon 3: “Suatu hari nanti, aku akan menjadi penyangga sebuah rumah yang buesar sekali.”
Mereka berharap, mereka menanti da mereka gak tahu kapan datangnya waktu itu ... Dan akhirnya apa yang mereka nantikan itu datang juga ... Akan tetapi ...
Pohon 1: “Apa ini?! Cuma jadi tempat makanan sapi dan kuda di kandang kotor ini?!”
Pohon 2: “Aku juga ... aku disini cuma menjadi sebuah perahu nelayan yang reyot ini!”
Pohon 3: “Kamu berdua! Nasibku tak jauh beda. Aku cuma diparkir di tempat tukang kayu dan gak tahu kapan aku mau dijadiin apaan?!” 
Sedikit banyak, mungkin, kita pun pernah berada di situasi yang mirip: berharap, berjuang, menanti dan gak tahu kapan datangnya ... dan akhirnya ... kecewa, tak sesuai dengan harapan. 

Lalu apa yang bapak dan ibu lakukan saat itu terjadi? 
Bertanya? Pasti. Bingung juga, mungkin kesal atau bahkan marah. Marah ke siapa? Ya ke siapa saja, bahkan Tuhan pun bisa dijadikan objek kemarahannya. 

Tetapi biasanya, seseorang gak akan bertahan lama di fase hidup seperti itu: marah, kesal, bingung, nanya-nanya. Kenapa? Karena itu gak enak. Itu cuma nyakitin dirinya sendiri. Maka dia akan berusaha untuk sesegera mungkin beralih menuju fase penenangan diri. 

“Tuhan pasti punya alasan.” 

Itulah fase penenangan dirinya. Berdamai dengan apa yang sudah terjadi. Apa itu bahasa anak mudanya? “Move on!” ... “Life must go on!” ... Walaupun kalau ditanya, “Jadi apa alasannya Tuhan?” dia mungkin akan menjawab ... “aku gak tahu ... aku belum tahu ...” 

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, Tuhan mau menegaskan jawaban dari “apa alasan-Nya” sehingga Dia mengizinkan kejadian pembuangan Israel ke tanah asing: Babel, selama 70 tahun. 

Di zaman Zefanya hidup, apakah peristiwa pembuangan itu sudah terjadi? Belum. Tetapi lihatlah bahwa Tuhan amat jelas membukakan kepada orang percaya pada waktu itu apa yang akan terjadi setelah dibuang: akan datang keselamatan yang dari Tuhan. 

Seakan-akan Tuhan berkata: 
“Mungkin kamu akan bersedih hati nanti. Sementara! Sebab akhirnya jelas kamu akan bersorak-sorai.”

Kalau saya jadi salah satu orang Israel yang hidup di masa Zefanya pada waktu itu, saya gak akan ragu menanyakan hal ini: 
“Tuhan, kenapa aku harus bersorak-sorai? Di depan mataku itu cuma ada kehancuran dan penderitaan! Kasih satu alasan Tuhan, jangan diam!” 

Dan inilah alasan Tuhan pada waktu itu: 
Ayat 20 
Pada waktu itu Aku akan membawa kamu pulang, yakni pada waktu Aku mengumpulkan kamu, sebab Aku mau membuat kamu menjadi kenamaan dan kepujian di antara segala bangsa di bumi dengan memulihkan keadaanmu di depan mata mereka," firman TUHAN.

Sebutlah Dia memang marah dengan keputusan-keputusan kita yang menyakiti hati-Nya waktu itu. Katakan saja Dia pasti kecewa dengan sikap-sikap kita pada waktu itu. Tetapi ... jelas Dia gak akan pernah pergi meninggalkan kita sendirian. (Dan bangsa Israel tahu kebenaran itu, akhirnya). 
Dia punya alasan untuk marah? Ya. 
Dia punya alasan untuk kecewa? Ya. 
Dia punya alasan untuk tetap menunggu? Ya. 

Karena Dia terlalu sayang pada kita. 
Saya punya satu tayangan yang menggambarkan hal itu ... 


Dia gak pergi, Dia gak ninggalin kita ... yang Dia lakukan adalah menunggu sampai akhirnya kita kembali dan mengerti ... Bahwa Dia memang sesayang itu kepada diri kita. 

Oiya, cerita tentang tiga pohon yang tadi di awal saya cerita itu belum selesai sebenarnya. Ini dia kelanjutan ceritanya ... 

Pohon 1:
Cita-cita – Ingin jadi tempat perhiasan yang mahal. 
Fakta – Cuma jadi tempat makanan ternak di kandang dekil. 
“Suatu hari ... ada seorang bayi lahir ke dunia di kandang itu. Bayi itu dibungkus kain dan diletakkan di tempat makanan ternak itu.” 

Pohon 2: 
Cita-cita – Ingin menjadi kapal pesiar yang mewah. 
Fakta – Cuma jadi kapal nelayan yang reyot. 
“Suatu hari Seseorang naik ke kapal nelayan yang reyot itu dan mengajar banyak orang. Semua orang kagum dengan Orang itu.” 

Pohon 3: 
Cita-cita – Ingin menjadi penyangga sebuah rumah yang buesar. 
Fakta – Diletakkan begitu saja di tempat tukang kayu. 
“Suatu hari beberapa orang membawanya untuk diberikan kepada Seseorang yang membawa kayu itu menuju sebuah bukit. Di atas palang kayu itu ditaruh tulisan: ‘Inilah Raja Orang Yahudi’” 

(tahukah reaksi kawan-kawan pohon yang lainnya diluar dari 3 pohon tadi yang mendengarkan kisah mereka tersebut? “Aku mau menukar tempatku untukmu di sini supaya aku yang punya kesempatan mengalami hal itu!”) 

Hidup bersama-sama dengan Tuhan, berjalan bersama dengan Tuhan setiap hari bukanlah hidup yang tak akan pernah mengalami kekecewaan, penderitaan, terpuruk, jatuh dkk ... Hidup bersama-sama dengan Tuhan itu Cuma satu: Kita menjadi tahu tujuan akhirnya ... Bahagia. 

Sudahkah kita menemukan alasan Tuhan sewaktu kita berada di saat-saat paling membingungkan dan mengecewakan dalam hidup kita? Itu kuncinya supaya kita bisa sampai di tujuan akhir kita dan yang membuat kita pada akhirnya bisa ... bersorak-sorai.

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER