Mazmur 8 | Selamat Tahun Baru! - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

Selamat Tahun Baru! 


Selamat Tahun Baru untuk kita semua. 
Awal tahun biasanya akan banyak orang yang ramai memprediksi (kalau gak mau dibilang meramal) tentang ‘peruntungan’, hoki atau apalah itu namanya, di tahun 2014 ini. Muncullah ‘orang-orang pinter’, ‘suhu’, ‘guru’, ‘pengamat’ yang mulai mengkicaukan suara mereka. Mulai dari analisa yang berdasarkan pada sesuatu yang kuat, rasional ... misalnya seorang pakar ekonomi yang memprediksi keadaan ekonomi di tahun 2014, atau berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya .. seperti analisa berdasarkan apa itu namanya? Tahun ini kan katanya tahun kuda ya. Entahlah, ada tahun kuda, tahun ular, tahun babi, tahun naga, dll. Sampai dengan analisa yang modalnya itu pake kartu .. coba bayangin! Seluruh keberadaan diri kita ditentukan dari ... setumpukan kartu? Yang benar saja. 

Kita sepakat satu hal, semuanya sebenarnya hanya ingin mencoba memuaskan pencarian jawaban semua orang atas pertanyaan: “Tahun 2014 ini, saya gmana ya?” Coba saya mau tanya ... tadi malem pas pergantian tahun, pasti berdoa dong ... nah, di dalam doanya itu ada gak yang berani bilang ke Tuhan: “Tuhan, tahun 2014 ini milik saya. Ini tahun pemulihan dari Tuhan. Ini tahun di mana Tuhan pasti menjelaskan segala sesuatu yang mbingungi itu di tahun kemarin. Tuhan pasti akan memberkati lebih sangat lagi akan hidup saya.” Ada gak yang berdoa seperti itu? Gak salah kok berdoa seperti itu. 

Atau jangan-jangan ... seseorang justru sudah memulai hari baru di tahun baru ini dengan ... sepesimis itu, “Tuhan, 2013 kemarin aja saya ancur-ancuran ... gmana tahun baru ini?” Di tambah lagi kalau percaya pada analisis-analisis yang gak karuan itu, “Oh, tahun 2014 ini gak cocok dengan karakter Anda! Berhati-hatilah.” 

Sebagai orang percaya, jelas hidup kita tidaklah di dasarkan pada “apa kata orang” tentang hidup kita, keberadaan diri kita ... melainkan pada “apa kata Tuhan” tentang hidup kita, diri kita. Peduli setan dengan apa kata orang ... dasar kita itu bukan perkataan orang, melainkan perkataan Tuhan. 

Saya mau menunjukkan pada kita semua hari ini, satu persoalan besar yang sangat umum dihadapi oleh kita ketika siapapun kita mau berusaha memahami kebenaran firman Tuhan.

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini ... Ayat 4-7. 
Mari kita memerhatikan beberapa kata ini: 
“AKU, MANUSIA, -NYA, ANAK MANUSIA, DIA”
apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya:
Boleh kita coba baca lagi ayat 4-7, tetapi dengan cara: “Bila bapak dan ibu bertemu dengan 5 kata tadi itu, langsung ganti saja kata-kata itu dengan NAMA KITA (kalau saya, berarti saya akan menggantinya langsung dengan nama saya: Gerry). 

Yuk kita baca sekali lagi. 
Sudah? Ada perbedaan rasa? 

Kadang-kadang, sewaktu kita sedang membaca Alkitab kita ini, ada banyak orang yang gak sadar bahwa sebenarnya Tuhan sedang berbicara pada dirinya juga. Bukan cuma pada Daud (yang merefleksikan Mazmur 8 ini), atau hanya pada penulis Alkitab lainnya yang sedang berbicara tentang apa kata Tuhan. 

Alkitab adalah cerita tentang kita (juga). Alkitab bukan hanya berbicara kepada mereka (di masa yang sudah lewat). Sebab Tuhan selalu berbicara dan menunjukkan karya-Nya kepada siapa saja orang yang percaya pada perkataan-Nya itu, di masa apapun mereka berada. 

Mari kita cek: 
Apa yang bapak dan ibu temukan dalam teks Alkitab kita, Mazmur 8 ini? Isinya kan tentang hidup manusia ... Kalau dari judul yang diberikan LAI, kita dapat: “Manusia hina sebagai mahluk mulia”. Kesimpulannya? Di mata Tuhan, semua manusia itu adalah sesuatu yang sangat-sangat berharga. Karena sangat berharganya manusia itu sehingga kita ... “diingat, diindahkan, di mahkotai, dibuat punya kuasa.” Hebat! 

Bapak ibu tahu gak, bagaimana cara seseorang dengan mudahnya mementahkan kebenaran firman Tuhan yang baru saja kita baca itu? Bahwa hidup kita ini berharga di mata Tuhan. Gampang. Dia tinggal bilang saja, “Ah, Tuhan .. itu kan omongannya Daud, itu kan hidupnya Daud, pengalaman Daud dengan Tuhan. Daud memang bisa bilang begitu, tetapi maaf ... saya bukan Daud.” 

Benerkan ... kebenaran yang dengan mudah diruntuhkan oleh seseorang yang merasa bahwa “itu bukan untuk saya”. Tuhan memang berbicara pada semua orang, tapi masalahnya ini: Tidak semua orang akan sepakat dengan apa yang sedang Dia bicarakan tentang hidup mereka itu. 

Dalam teks Alkitab kita hari ini jelas sekali bahwa Tuhan memang memandang semua manusia itu adalah mahluk yang sangat berharga. Itu bukan hanya pengalaman Daud, itu seharusnya menjadi pengalaman kita semua. 

Dan bukankah ini baik sekali ... mengawali tahun yang baru ini kita semua sudah mendengarkan penegasan dari Tuhan bahwa, “Kamu berharga lho!” 

Mengawali hari baru di tahun yang baru ini, kita harus mulai dari mana? Salah satu yang penting untuk kita lakukan adalah mulai dengan mempercayai ... 
Bahwa: 
Kita diingat ... Bukan diabaikan dan dilupakan. Kita diindahkan ... Bukan dibikin jelek. Kita di mahkotai ... Bukan dengan mahkota duri, karena Dia sudah mengambil bagian mahkota duri itu supaya kita tidak lagi memakai mahkota berduri. 
Di luar sana akan ada banyak peristiwa atau bahkan orang-orang lain yang mungkin saja tidak sepakat dengan perkataan Tuhan hari ini tentang hidup dan diri kita. Tuhan bilang: “Kamu berharga lho!” ... tapi mereka bilang, “Hidup lu tu ancur!” 

Bapak dan ibu pasti sudah mempercayai bahwa benar aku ini seseorang yang berharga di mata Tuhan. Akan tetapi, siapkah kita nanti bila kita berhadapan dengan situasi atau bahkan dengan mereka yang bisa mementahkan iman kita tentang perkataan Tuhan itu? 

Datanglah mendekat pada Dia selalu. 
Cari dan temukan Dia di tiap waktu. 
Sebab itulah kekuatan kita untuk bertahan dan akhirnya memenangkan apa yang Tuhan percayai mengenai keberadaan diri dan hidup kita.

Mazmur 8 | Selamat Tahun Baru!

Selamat Tahun Baru! 


Selamat Tahun Baru untuk kita semua. 
Awal tahun biasanya akan banyak orang yang ramai memprediksi (kalau gak mau dibilang meramal) tentang ‘peruntungan’, hoki atau apalah itu namanya, di tahun 2014 ini. Muncullah ‘orang-orang pinter’, ‘suhu’, ‘guru’, ‘pengamat’ yang mulai mengkicaukan suara mereka. Mulai dari analisa yang berdasarkan pada sesuatu yang kuat, rasional ... misalnya seorang pakar ekonomi yang memprediksi keadaan ekonomi di tahun 2014, atau berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya .. seperti analisa berdasarkan apa itu namanya? Tahun ini kan katanya tahun kuda ya. Entahlah, ada tahun kuda, tahun ular, tahun babi, tahun naga, dll. Sampai dengan analisa yang modalnya itu pake kartu .. coba bayangin! Seluruh keberadaan diri kita ditentukan dari ... setumpukan kartu? Yang benar saja. 

Kita sepakat satu hal, semuanya sebenarnya hanya ingin mencoba memuaskan pencarian jawaban semua orang atas pertanyaan: “Tahun 2014 ini, saya gmana ya?” Coba saya mau tanya ... tadi malem pas pergantian tahun, pasti berdoa dong ... nah, di dalam doanya itu ada gak yang berani bilang ke Tuhan: “Tuhan, tahun 2014 ini milik saya. Ini tahun pemulihan dari Tuhan. Ini tahun di mana Tuhan pasti menjelaskan segala sesuatu yang mbingungi itu di tahun kemarin. Tuhan pasti akan memberkati lebih sangat lagi akan hidup saya.” Ada gak yang berdoa seperti itu? Gak salah kok berdoa seperti itu. 

Atau jangan-jangan ... seseorang justru sudah memulai hari baru di tahun baru ini dengan ... sepesimis itu, “Tuhan, 2013 kemarin aja saya ancur-ancuran ... gmana tahun baru ini?” Di tambah lagi kalau percaya pada analisis-analisis yang gak karuan itu, “Oh, tahun 2014 ini gak cocok dengan karakter Anda! Berhati-hatilah.” 

Sebagai orang percaya, jelas hidup kita tidaklah di dasarkan pada “apa kata orang” tentang hidup kita, keberadaan diri kita ... melainkan pada “apa kata Tuhan” tentang hidup kita, diri kita. Peduli setan dengan apa kata orang ... dasar kita itu bukan perkataan orang, melainkan perkataan Tuhan. 

Saya mau menunjukkan pada kita semua hari ini, satu persoalan besar yang sangat umum dihadapi oleh kita ketika siapapun kita mau berusaha memahami kebenaran firman Tuhan.

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini ... Ayat 4-7. 
Mari kita memerhatikan beberapa kata ini: 
“AKU, MANUSIA, -NYA, ANAK MANUSIA, DIA”
apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya:
Boleh kita coba baca lagi ayat 4-7, tetapi dengan cara: “Bila bapak dan ibu bertemu dengan 5 kata tadi itu, langsung ganti saja kata-kata itu dengan NAMA KITA (kalau saya, berarti saya akan menggantinya langsung dengan nama saya: Gerry). 

Yuk kita baca sekali lagi. 
Sudah? Ada perbedaan rasa? 

Kadang-kadang, sewaktu kita sedang membaca Alkitab kita ini, ada banyak orang yang gak sadar bahwa sebenarnya Tuhan sedang berbicara pada dirinya juga. Bukan cuma pada Daud (yang merefleksikan Mazmur 8 ini), atau hanya pada penulis Alkitab lainnya yang sedang berbicara tentang apa kata Tuhan. 

Alkitab adalah cerita tentang kita (juga). Alkitab bukan hanya berbicara kepada mereka (di masa yang sudah lewat). Sebab Tuhan selalu berbicara dan menunjukkan karya-Nya kepada siapa saja orang yang percaya pada perkataan-Nya itu, di masa apapun mereka berada. 

Mari kita cek: 
Apa yang bapak dan ibu temukan dalam teks Alkitab kita, Mazmur 8 ini? Isinya kan tentang hidup manusia ... Kalau dari judul yang diberikan LAI, kita dapat: “Manusia hina sebagai mahluk mulia”. Kesimpulannya? Di mata Tuhan, semua manusia itu adalah sesuatu yang sangat-sangat berharga. Karena sangat berharganya manusia itu sehingga kita ... “diingat, diindahkan, di mahkotai, dibuat punya kuasa.” Hebat! 

Bapak ibu tahu gak, bagaimana cara seseorang dengan mudahnya mementahkan kebenaran firman Tuhan yang baru saja kita baca itu? Bahwa hidup kita ini berharga di mata Tuhan. Gampang. Dia tinggal bilang saja, “Ah, Tuhan .. itu kan omongannya Daud, itu kan hidupnya Daud, pengalaman Daud dengan Tuhan. Daud memang bisa bilang begitu, tetapi maaf ... saya bukan Daud.” 

Benerkan ... kebenaran yang dengan mudah diruntuhkan oleh seseorang yang merasa bahwa “itu bukan untuk saya”. Tuhan memang berbicara pada semua orang, tapi masalahnya ini: Tidak semua orang akan sepakat dengan apa yang sedang Dia bicarakan tentang hidup mereka itu. 

Dalam teks Alkitab kita hari ini jelas sekali bahwa Tuhan memang memandang semua manusia itu adalah mahluk yang sangat berharga. Itu bukan hanya pengalaman Daud, itu seharusnya menjadi pengalaman kita semua. 

Dan bukankah ini baik sekali ... mengawali tahun yang baru ini kita semua sudah mendengarkan penegasan dari Tuhan bahwa, “Kamu berharga lho!” 

Mengawali hari baru di tahun yang baru ini, kita harus mulai dari mana? Salah satu yang penting untuk kita lakukan adalah mulai dengan mempercayai ... 
Bahwa: 
Kita diingat ... Bukan diabaikan dan dilupakan. Kita diindahkan ... Bukan dibikin jelek. Kita di mahkotai ... Bukan dengan mahkota duri, karena Dia sudah mengambil bagian mahkota duri itu supaya kita tidak lagi memakai mahkota berduri. 
Di luar sana akan ada banyak peristiwa atau bahkan orang-orang lain yang mungkin saja tidak sepakat dengan perkataan Tuhan hari ini tentang hidup dan diri kita. Tuhan bilang: “Kamu berharga lho!” ... tapi mereka bilang, “Hidup lu tu ancur!” 

Bapak dan ibu pasti sudah mempercayai bahwa benar aku ini seseorang yang berharga di mata Tuhan. Akan tetapi, siapkah kita nanti bila kita berhadapan dengan situasi atau bahkan dengan mereka yang bisa mementahkan iman kita tentang perkataan Tuhan itu? 

Datanglah mendekat pada Dia selalu. 
Cari dan temukan Dia di tiap waktu. 
Sebab itulah kekuatan kita untuk bertahan dan akhirnya memenangkan apa yang Tuhan percayai mengenai keberadaan diri dan hidup kita.

SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER