Lukas 9:28-36 | Di Sini Lebih Baik - Pdt. Gerry Atje

    Social Items


Di Sini Lebih Baik
Lukas 9:28-36

Saya sangat tertarik dengan perkataan Petrus dalam ayat 33 tadi yang menyatakan, "Guru, betapa bahagianya kami ada di tempat ini ..." Soalnya saya jadi bertanya-tanya sendiri .. kenapa Petrus ngomong kayak gitu? "bahagia benar di sini" ... di mana itu 'di sini'? - di atas gunung - Lah, emang kalau biasanya mereka ada 'di bawah gunung, - ditempat mereka biasa ada, maksudnya - ... emangnya kenapa? Maksudnya mereka gak bahagia gitu sewaktu ada 'di bawah gunung' di tempat mereka biasanya berada? Kita gak tahu ... Kadangkan pilihannya memang bukan selalu antara baik atau buruk ... bisa juga antara baik dan lebih baik.

Yang jelas, dalam perasaan Petrus sewaktu berada di atas gunung bersama-sama dengan Yesus dan beberapa murid lainnya pada waktu itu (ditambah lagi dengan penyataan akan kehadiran Elia dan Musa) ... menurut Petrus, di sini, di atas gunung lebih membahagiakan dibandingkan dengan 'di bawah gunung'. 

Kan seharusnya kita menjadi bertanya lagi ya ... memang ada apa sih di bawah sana? Mari kita lihat beberapa contoh yang terdapat dalam ayat-ayat sebelumnya:

Lukas 9:22 ... 'mengerikan bukan?'
Lukas 9:9 .... 'tambah mengerikan lagi kan?'
Lukas 8:53 ... 'nah yang ini namanya ngeselin. siapa kamu menertawakan Allah yang datang dalam rupa manusia?

Itulah beberapa kenyataan yang dihadapi oleh mereka sewaktu mereka ada di bawah sana. Ada .. katakanlah ... kengerian tersendiri - bagi para murid dan orang percaya pada waktu itu, mungkin ... - sewaktu mereka menyadari bahwa ketika mereka mengikut Kristus, ada banyak hal yang terjadi di bawah sana.

Sedangkan di sini? Di atas gunung ini ...?
Gak ada siapa-siapa di sini selain kita ... Gak ada orang yang rese, tukang rusuh, pengganggu dan perusak, penebar masalah atau bahkan komentator sejati ... Gak ada. 

Di sini kita tenang. 
Di bawah sana. Penat luar biasa.

Itu satu hal yang mau saya ajak untuk kita renungkan hari ini: "Perasaan dibawah gunung dan perasaan sewaktu ada di atas gunung"

Mereka merasa bahwa "di atas gunung ini" adalah "tempat persembunyian" yang sempurna. Damai di sini, di bawah sana gak terlalu damai rasanya. ... Jadi kalau boleh, di sini saja selamanya, gak usah ke bawah lagi.

Bukankah setiap kita punya tempat di mana kita bisa merasakan jauh-jauh lebih damai dibandingkan ketika kita berada di tempat lainnya. Katakanlah tempat kita bisa menenangkan diri, mendamaikan hati dari kepenatan keseharian kita.

Yang saya takutkan adalah sewaktu ada orang yang sampe kepikiran bahwa "tempat di atas gunung" mereka itu bukan di sini. "Di sini" nya itu di mana? Ya di keluarga pas kita balik ke rumah ... atau di jemaat kalau kita lagi kumpulan bersama saudara seiman kita.

Itu kebalik!
Seharusnya, keluarga, jemaat ... adalah "tempat di atas gunung" nya kita yang bisa membuat kita ... seharusnya ... bisa pula berucap seperti Petrus, "Tuhan, betapa berbahagianya kami ini ada di sini." Bukan malah jadi horor gitu kalau pulang ke rumah atau pergi ke gereja.

Mungkin beberapa orang bisa bilang, "yah ... memang begitulah di keluarga saya mah, jemaat juga begitu ... menyedihkan ..." Serem gak sih kalau sampai keluarga dan jemaat kita bukanlah tempat "di atas gunung" nya kita?

Kuncinya pak bu ...
Cuma satu sebenarnya. Yesus ada gak di sana? Ketemu Yesus gak kita di sana? Ngobrol dengan Yesus gak kita di sana? Kita dengar tidak apa yang diucapkan oleh-Nya pada kita tentang hidup kita?

Kuncinya satu itu: fokus pada berjumpa dan menemui Kristus yang ada dalam kehidupan kita, di keluarga, di jemaat ... di mana pun kita ada.

Saya pernah dengar satu cerita tentang seorang pegolf yang sedang tanding ... kan kalau golf itu mainnya mirip catur ya ... (penontonnya gak boleh berisik maksudnya) ... Saat itu tiba giliran satu pegolf memukul bola ... dia memusatkan perhatiannya pada bola golf itu ... dan kemudian memukul bolanya .. dan ... bolanya masuk. Semua penonton bertepuk tangan, dan di antara penonton itu ada satu yang menghampirinya, "Selamat ya, anda berhasil memasukkan bolanya dengan baik .. padahal suara kereta api yang tadi lewat itu bising sekali lho." 

Lalu si pegolf itu pun kemudian berkata: "Suara bising kereta api yang tadi lewat? Kereta api yang lewat yang mana ya?"

Yups .. itu lah artinya fokus pada 'bola golf'nya sehingga bahkan sekalipun ada kebisingan di sekitarnya waktu itu ... fokusnya si pegolf itu hanya pada bola.

Yang terakhir, ayat 37
"Pada keesokan harinya ketika mereka turun dari gunung itu ..."

Ini dia kebenaran yang paling nyatanya. Kita tidak akan pernah bisa menemukan kedamaian yang sejati dengan cara melarikan diri dari kenyataan yang ada dalam kehidupan keseharian kita. 

Itu sebabnya Yesus membawa mereka turun kembali ke dunia nyata. Sebab, "di atas gunung" bukanlah tempat mereka yang sebenarnya berada ... Hadapi, belajar, berproses, fokus pada penyertaan Tuhan. Sebab dari kunci itulah kita bisa menemukan kebenaran bahwa damai yang sesungguhnya dan yang sejati itu bukanlah terletak pada pertanyaan "di mana?" (tempat), melainkan karena ... Dia.

Lukas 9:28-36 | Di Sini Lebih Baik


Di Sini Lebih Baik
Lukas 9:28-36

Saya sangat tertarik dengan perkataan Petrus dalam ayat 33 tadi yang menyatakan, "Guru, betapa bahagianya kami ada di tempat ini ..." Soalnya saya jadi bertanya-tanya sendiri .. kenapa Petrus ngomong kayak gitu? "bahagia benar di sini" ... di mana itu 'di sini'? - di atas gunung - Lah, emang kalau biasanya mereka ada 'di bawah gunung, - ditempat mereka biasa ada, maksudnya - ... emangnya kenapa? Maksudnya mereka gak bahagia gitu sewaktu ada 'di bawah gunung' di tempat mereka biasanya berada? Kita gak tahu ... Kadangkan pilihannya memang bukan selalu antara baik atau buruk ... bisa juga antara baik dan lebih baik.

Yang jelas, dalam perasaan Petrus sewaktu berada di atas gunung bersama-sama dengan Yesus dan beberapa murid lainnya pada waktu itu (ditambah lagi dengan penyataan akan kehadiran Elia dan Musa) ... menurut Petrus, di sini, di atas gunung lebih membahagiakan dibandingkan dengan 'di bawah gunung'. 

Kan seharusnya kita menjadi bertanya lagi ya ... memang ada apa sih di bawah sana? Mari kita lihat beberapa contoh yang terdapat dalam ayat-ayat sebelumnya:

Lukas 9:22 ... 'mengerikan bukan?'
Lukas 9:9 .... 'tambah mengerikan lagi kan?'
Lukas 8:53 ... 'nah yang ini namanya ngeselin. siapa kamu menertawakan Allah yang datang dalam rupa manusia?

Itulah beberapa kenyataan yang dihadapi oleh mereka sewaktu mereka ada di bawah sana. Ada .. katakanlah ... kengerian tersendiri - bagi para murid dan orang percaya pada waktu itu, mungkin ... - sewaktu mereka menyadari bahwa ketika mereka mengikut Kristus, ada banyak hal yang terjadi di bawah sana.

Sedangkan di sini? Di atas gunung ini ...?
Gak ada siapa-siapa di sini selain kita ... Gak ada orang yang rese, tukang rusuh, pengganggu dan perusak, penebar masalah atau bahkan komentator sejati ... Gak ada. 

Di sini kita tenang. 
Di bawah sana. Penat luar biasa.

Itu satu hal yang mau saya ajak untuk kita renungkan hari ini: "Perasaan dibawah gunung dan perasaan sewaktu ada di atas gunung"

Mereka merasa bahwa "di atas gunung ini" adalah "tempat persembunyian" yang sempurna. Damai di sini, di bawah sana gak terlalu damai rasanya. ... Jadi kalau boleh, di sini saja selamanya, gak usah ke bawah lagi.

Bukankah setiap kita punya tempat di mana kita bisa merasakan jauh-jauh lebih damai dibandingkan ketika kita berada di tempat lainnya. Katakanlah tempat kita bisa menenangkan diri, mendamaikan hati dari kepenatan keseharian kita.

Yang saya takutkan adalah sewaktu ada orang yang sampe kepikiran bahwa "tempat di atas gunung" mereka itu bukan di sini. "Di sini" nya itu di mana? Ya di keluarga pas kita balik ke rumah ... atau di jemaat kalau kita lagi kumpulan bersama saudara seiman kita.

Itu kebalik!
Seharusnya, keluarga, jemaat ... adalah "tempat di atas gunung" nya kita yang bisa membuat kita ... seharusnya ... bisa pula berucap seperti Petrus, "Tuhan, betapa berbahagianya kami ini ada di sini." Bukan malah jadi horor gitu kalau pulang ke rumah atau pergi ke gereja.

Mungkin beberapa orang bisa bilang, "yah ... memang begitulah di keluarga saya mah, jemaat juga begitu ... menyedihkan ..." Serem gak sih kalau sampai keluarga dan jemaat kita bukanlah tempat "di atas gunung" nya kita?

Kuncinya pak bu ...
Cuma satu sebenarnya. Yesus ada gak di sana? Ketemu Yesus gak kita di sana? Ngobrol dengan Yesus gak kita di sana? Kita dengar tidak apa yang diucapkan oleh-Nya pada kita tentang hidup kita?

Kuncinya satu itu: fokus pada berjumpa dan menemui Kristus yang ada dalam kehidupan kita, di keluarga, di jemaat ... di mana pun kita ada.

Saya pernah dengar satu cerita tentang seorang pegolf yang sedang tanding ... kan kalau golf itu mainnya mirip catur ya ... (penontonnya gak boleh berisik maksudnya) ... Saat itu tiba giliran satu pegolf memukul bola ... dia memusatkan perhatiannya pada bola golf itu ... dan kemudian memukul bolanya .. dan ... bolanya masuk. Semua penonton bertepuk tangan, dan di antara penonton itu ada satu yang menghampirinya, "Selamat ya, anda berhasil memasukkan bolanya dengan baik .. padahal suara kereta api yang tadi lewat itu bising sekali lho." 

Lalu si pegolf itu pun kemudian berkata: "Suara bising kereta api yang tadi lewat? Kereta api yang lewat yang mana ya?"

Yups .. itu lah artinya fokus pada 'bola golf'nya sehingga bahkan sekalipun ada kebisingan di sekitarnya waktu itu ... fokusnya si pegolf itu hanya pada bola.

Yang terakhir, ayat 37
"Pada keesokan harinya ketika mereka turun dari gunung itu ..."

Ini dia kebenaran yang paling nyatanya. Kita tidak akan pernah bisa menemukan kedamaian yang sejati dengan cara melarikan diri dari kenyataan yang ada dalam kehidupan keseharian kita. 

Itu sebabnya Yesus membawa mereka turun kembali ke dunia nyata. Sebab, "di atas gunung" bukanlah tempat mereka yang sebenarnya berada ... Hadapi, belajar, berproses, fokus pada penyertaan Tuhan. Sebab dari kunci itulah kita bisa menemukan kebenaran bahwa damai yang sesungguhnya dan yang sejati itu bukanlah terletak pada pertanyaan "di mana?" (tempat), melainkan karena ... Dia.

SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER