1 Raja-Raja 6:1-13 | Gak Gaptek Lagi - Pdt. Gerry Atje
Masih tentang media sosial dan teknologi.
Perkembangan teknologi itu sangat cepat ya. Saking cepatnya kalau kita mau ngikutin malah jadi capek kita. Baru beli yang terbaru, eh besoknya sudah ada lagi yang lebih baru. Beberapa waktu yang lalu saya pernah lihat ada iklan tab ... seri 7 atau seri 8 gitu saya lupa. Lalu saya bilang, "Wah udah seri 8 aja ... seri 1 nya aja saya gak pernah tahu".

Membaca perikop kita, mungkin kita akan kesulitan untuk mendapatkan gambarannya. Saya ada gambar dan videonya ...

Ada yang saya sadari setelah membaca dan melihat gambar dan menonton videonya ... ternyata Bait Allah itu kecil lho (hayo siapa yang membayangkan Bait Allah itu adalah rumah yang besar?), hanya berukuran 60 hasta panjangnya x 20 hasta lebarnya x 30 hasta tingginya (satu hasta itu 0,5 meter). Jadi ukuran Bait Allah itu hanya 30m x10m x 15m. Kalau di zaman Perjanjian Baru seperti yang dilakukan oleh imam Zakharia (bapaknya Yohanes Pembabtis, Lukas 1:5-25), hanya imam yang masuk ke dalam Bait Allah dan umat menunggu di luar untuk mendengarkan imam setelah imam selesai dan keluar dari Bait Allah.

Ada juga yang menarik untuk kita lihat bersama: Israel di zaman Salomo, betul mereka adalah negeri yang sedang berkembang, akan tetapi kalau masalah peradapan kota ... bangsa Israel jelas kalah maju dibandingkan bangsa-bangsa lain yang sudah lebih dulu mapan waktu itu. Coba kita lihat ke belakang sebentar, sewaktu Israel masih menggelandang di padang gurun ... bangsa-bangsa lain sudah maju teknologinya (bangsa lain sudah bisa membuat peralatan perang dari besi, atau lihat Mesir yang sudah jaya dengan segala bangunan tingginya). Israel yang gaptek. Coba lihat ayat yang paling terakhir dari perikop kita 1 Raja-raja 6:38 ... Inikan berarti mereka memang berjuang luar biasa untuk bisa mendapatkan bangunan bait Allah saat itu. Lihat juga perikop sebelumnya ...
1 Raja-raja 5:6
Oleh sebab itu, perintahkanlah orang menebang bagiku pohon-pohon aras dari gunung Libanon, dan biarlah hamba-hambaku membantu hamba-hambamu, dan upah hamba-hambamu akan kubayar kepadamu seberapa juga kauminta, sebab engkau tahu, bahwa di antara kami tidak ada seorangpun yang pandai menebang pohon sama seperti orang Sidon.

Hari ini saya mau mengajak kita untuk merenungkan dua hal saja
Pertama:
Mengenai sikap kita terhadap teknologi: Sejauh apa kita terbuka terhadap perkembangan teknologi?

Sekarang ini kita sering mempermasalahkan mengenai keberadaan orang-orang Kristen yang sudah mulai malas bawa Alkitab karena berpikir praktis "tinggal buka HP Suci saja ada Alkitabnya". Betul kita harus terbuka terhadap perkembangan teknologi, namun khusus mengenai "HP Suci" ini, saya sih masih suka dengan "gaya lama" yaitu membaca Alkitab dalam bentuk kitab. Ini menurut saya lho ya kalau orang baca Alkitab melalui HP biasanya orang tersebut gak lagi mau melihat perikop sebelum atau setelah yang dibacanya itu. Padahal melihat ayat-ayat sebelum dan sesudahnya itu seringkali penting untuk membuat kita menyadari sesuatu. Saya sendiri gak tahu apakah kita mampu membendung orang-orang yang berpikiran praktis dan membaca Alkitab melalui HP Suci ... Minimal kita bersikap terbuka terhadap teknologi yang pada akhirnya membuat kita menjadi semakin dekat dengan Tuhan.

Saya pernah mendengar kisah nyata ini dari abad pertengahan sepertinya: seorang pendeta marah-marah karena ada orang yang menyebut bahwa suatu hari mungkin manusia akan bisa terbang ... Pendeta itu berkata: "Kalau Tuhan menginginkan manusia bisa terbang, tentu Tuhan memberikan kepada manusia itu sayap!". Nama pendetanya adalah pendeta Wright ... ayah dari Wright bersaudara yang akhirnya sukses membuat orang bisa terbang dengan naik pesawat terbang.

Terakhir:
Mengenai Tindakan kita: Mari Belajar memanfaatkan teknologi untuk kemuliaan Tuhan.

Orang itu bisa betah berlama-lama surfing di internet ... bahkan di warnet. Kenapa? Games? Medsos? Mungkinkah suatu hari nanti ada orang yang bisa membuat aplikasi atau apalah gitu ya ... yang membuat kita bisa betah berlama-lama bersekutu di dalam Tuhan dengan memanfaatkan perkembangan teknologi? Sangat mungkin! Mulai dari yang bisa kita lakukan saja ... mulai menjadikan media sosial bapak dan ibu sebagai bagian dari cara kita semua untuk menunjukkan sikap hidup saling menguatkan dan saling menopang di dalam Tuhan.

1 Raja-Raja 6:1-13 | Gak Gaptek Lagi

Masih tentang media sosial dan teknologi.
Perkembangan teknologi itu sangat cepat ya. Saking cepatnya kalau kita mau ngikutin malah jadi capek kita. Baru beli yang terbaru, eh besoknya sudah ada lagi yang lebih baru. Beberapa waktu yang lalu saya pernah lihat ada iklan tab ... seri 7 atau seri 8 gitu saya lupa. Lalu saya bilang, "Wah udah seri 8 aja ... seri 1 nya aja saya gak pernah tahu".

Membaca perikop kita, mungkin kita akan kesulitan untuk mendapatkan gambarannya. Saya ada gambar dan videonya ...

Ada yang saya sadari setelah membaca dan melihat gambar dan menonton videonya ... ternyata Bait Allah itu kecil lho (hayo siapa yang membayangkan Bait Allah itu adalah rumah yang besar?), hanya berukuran 60 hasta panjangnya x 20 hasta lebarnya x 30 hasta tingginya (satu hasta itu 0,5 meter). Jadi ukuran Bait Allah itu hanya 30m x10m x 15m. Kalau di zaman Perjanjian Baru seperti yang dilakukan oleh imam Zakharia (bapaknya Yohanes Pembabtis, Lukas 1:5-25), hanya imam yang masuk ke dalam Bait Allah dan umat menunggu di luar untuk mendengarkan imam setelah imam selesai dan keluar dari Bait Allah.

Ada juga yang menarik untuk kita lihat bersama: Israel di zaman Salomo, betul mereka adalah negeri yang sedang berkembang, akan tetapi kalau masalah peradapan kota ... bangsa Israel jelas kalah maju dibandingkan bangsa-bangsa lain yang sudah lebih dulu mapan waktu itu. Coba kita lihat ke belakang sebentar, sewaktu Israel masih menggelandang di padang gurun ... bangsa-bangsa lain sudah maju teknologinya (bangsa lain sudah bisa membuat peralatan perang dari besi, atau lihat Mesir yang sudah jaya dengan segala bangunan tingginya). Israel yang gaptek. Coba lihat ayat yang paling terakhir dari perikop kita 1 Raja-raja 6:38 ... Inikan berarti mereka memang berjuang luar biasa untuk bisa mendapatkan bangunan bait Allah saat itu. Lihat juga perikop sebelumnya ...
1 Raja-raja 5:6
Oleh sebab itu, perintahkanlah orang menebang bagiku pohon-pohon aras dari gunung Libanon, dan biarlah hamba-hambaku membantu hamba-hambamu, dan upah hamba-hambamu akan kubayar kepadamu seberapa juga kauminta, sebab engkau tahu, bahwa di antara kami tidak ada seorangpun yang pandai menebang pohon sama seperti orang Sidon.

Hari ini saya mau mengajak kita untuk merenungkan dua hal saja
Pertama:
Mengenai sikap kita terhadap teknologi: Sejauh apa kita terbuka terhadap perkembangan teknologi?

Sekarang ini kita sering mempermasalahkan mengenai keberadaan orang-orang Kristen yang sudah mulai malas bawa Alkitab karena berpikir praktis "tinggal buka HP Suci saja ada Alkitabnya". Betul kita harus terbuka terhadap perkembangan teknologi, namun khusus mengenai "HP Suci" ini, saya sih masih suka dengan "gaya lama" yaitu membaca Alkitab dalam bentuk kitab. Ini menurut saya lho ya kalau orang baca Alkitab melalui HP biasanya orang tersebut gak lagi mau melihat perikop sebelum atau setelah yang dibacanya itu. Padahal melihat ayat-ayat sebelum dan sesudahnya itu seringkali penting untuk membuat kita menyadari sesuatu. Saya sendiri gak tahu apakah kita mampu membendung orang-orang yang berpikiran praktis dan membaca Alkitab melalui HP Suci ... Minimal kita bersikap terbuka terhadap teknologi yang pada akhirnya membuat kita menjadi semakin dekat dengan Tuhan.

Saya pernah mendengar kisah nyata ini dari abad pertengahan sepertinya: seorang pendeta marah-marah karena ada orang yang menyebut bahwa suatu hari mungkin manusia akan bisa terbang ... Pendeta itu berkata: "Kalau Tuhan menginginkan manusia bisa terbang, tentu Tuhan memberikan kepada manusia itu sayap!". Nama pendetanya adalah pendeta Wright ... ayah dari Wright bersaudara yang akhirnya sukses membuat orang bisa terbang dengan naik pesawat terbang.

Terakhir:
Mengenai Tindakan kita: Mari Belajar memanfaatkan teknologi untuk kemuliaan Tuhan.

Orang itu bisa betah berlama-lama surfing di internet ... bahkan di warnet. Kenapa? Games? Medsos? Mungkinkah suatu hari nanti ada orang yang bisa membuat aplikasi atau apalah gitu ya ... yang membuat kita bisa betah berlama-lama bersekutu di dalam Tuhan dengan memanfaatkan perkembangan teknologi? Sangat mungkin! Mulai dari yang bisa kita lakukan saja ... mulai menjadikan media sosial bapak dan ibu sebagai bagian dari cara kita semua untuk menunjukkan sikap hidup saling menguatkan dan saling menopang di dalam Tuhan.

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER