Yohanes 19:28-42 | Jumat (Tiga Hari Lagi Baru) Agung


Syalom bapak ibu semua. Di antara semua hari raya gerejawi, mungkin hari ini adalah hari raya gerejawi yang paling canggung untuk kita merayakannya. Coba kita lihat: Natal, enak kita merayakannya ... Paskah, apalagi ini senang kita merayakannya ... lalu ada Kenaikan Tuhan Yesus dan Pentakosta, juga gak sedih-sedih banget. Akan tetapi Jumat Agung? Bagaimana kita harus merayakannya? Ngucapin selamat? Selamat Jumat Agung? Agung-nya itu kan terlihat karena Paskah ada. Kalau gak ada Paskah, gak akan ada kata sambung Agung ... Betul ya? Kalau gak ada Paskah atau Kebangkitan, Jumat ini cuma hari Jumat Kelabu. Agungnya itu baru kita sadari betul setelah tiga hari kemudian. Jumat (tiga hari lagi baru) Agung.

Semua ucapan selamat Jumat Agung yang ceria pasti karena disitu terselip “pesan Paskah” di dalamnya? Benar gak? Contoh: “Dia mati untuk kami, Dia bangkit untuk kami” Nah kan ada pesan Paskahnya. Coba yang murni Jumat Agung thok gitu, gimana cara merayakannya? Tau mengucapkan selamatnya bagaimana? Tidak ada orang yang mengucapkan selamat di hari jumat waktu Yesus wafat di salib. Semua berduka, semua kehilangan. Semua melupakan apa yang dahulu sudah diberitau oleh Yesus. Kesusahan itulah yang dialami oleh para murid dan pengikut Tuhan Yesus pada waktu itu.

Saya tertarik dengan keterangan beberapa nama yang disebutkan dalam perikop kita.
Ada Yusuf Arimatea (ayat 38), menarik ya disebutkan di situ bahwa ia mengikut Yesus dengan sembunyi-sembunyi karena takut diketahui oleh orang-orang Yahudi lainnya.
Ada Nikodemus (ayat 39) masih ingat Yohanes 3:16? Ayat itu muncul dalam rangkaian cerita percakapan Yesus dengan Nikodemus ini.

Saya kepikiran bagaimana perasaan mereka setelah Yesus dalam perikop kita hari ini diketahui oleh mereka telah wafat? Paling tidak mereka memiliki modal utama yang sangat besar: Di saat para murid Yesus lari tunggang-langgang menjauh, mereka berdua malah tetap mendekat.

Hari ini saya mau mengajak kita untuk melihat Jumat Agung dari perspektif itu.
Merayakan Jumat Agung adalah merayakan semangat kita untuk tetap berjalan bersama Tuhan ... meskipun tampaknya, rasa-rasanya ... Tuhan bungkam, diam bahkan kita pikir Tuhan itu mati, gak ada pergerakan-Nya sama sekali. Namun tetap ada orang yang terus setia mendekat kepada Tuhan yang terbungkam itu.

Kabar baiknya, bahkan kepada mereka yang kabur (seperti para murid yang kabur), Tuhan masih saja tetap menunjukkan keagungan di hari Jumat itu tiga hari lagi ... Jika kepada mereka yang menjauh saja Tuhan datang mendekat dan menunjukkan keagungan-Nya, apalagi kepada bapak dan ibu, kepada kita semua yang berjuang selalu untuk tetap dekat dengan Tuhan walaupun seperti mau mati rasanya.
Previous
Next Post »