II Korintus 1:8-12 | Semau-Mau-Nya - Pdt. Gerry Atje

Renungan Warta, Minggu 29 April 2018
Semau-Mau-Nya
II Korintus 1:8-12

Saya selalu ingat perkataan seorang teman: “Kiranya kehendakku sesuai dengan kehendak-Mu”. Memang kita sudah terbiasa mendengar perkataan Yesus: “Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu yang terjadi” (Luk. 22:42). Akan tetapi, mari renungkan sekali lagi perkataan di awal paragraf dan bertanya: Memang apa salahnya menyampaikan doa seperti itu? Apabila seseorang bisa bersukacita jika yang terjadi adalah “bukan kehendakku melainkan kehendak-Mu” (sebagai bentuk totalitas berserah diri), betapa terlebih sukacita lagi bila yang kita temukan adalah “kehendakku ternyata sesuai dengan kehendak-Mu”.

Rasul Paulus dalam perjalanan pelayanannya memberitakan Injil menemukan kedua pengalaman dalam dua kalimat yang kita bicarakan tadi. Satu pengalaman Rasul Paulus yang menggambarkan perkataan Tuhan Yesus: “inginnya begini tapi ternyata jadi begitu”, bisa kita temukan ketika Rasul Paulus dan Silas hendak memberitakan Injil ke Asia, namun Roh Kudus mencegahnya saat itu demi menolong jemaat di Makedonia (Kis. 16:1-10).

II Kor. 1:12 memberikan pengalaman iman yang berbeda bahwa ada kala di mana “apa yang kita pikirkan berpadanan dengan pikiran Tuhan”. Yang menarik dalam perikop renungan hari ini adalah karena Paulus berbicara tentang suara hati yang sesuai dengan suara Tuhan justru saat Paulus berjumpa dengan banyak penderitaan (ayat 8-9).

Kedua pengalaman iman itu menjadi Kabar Baik bagi kita: entah yang terjadi adalah “kehendakku” atau “kehendak-Nya”, pikiran-Nya yang terwujud dalam sejarah kehidupan kita, tidak akan pernah mengecewakan. (GA)

Aku tidak mempercayai bahwa Tuhan sedang bermain dadu dengan alam semesta ini. (Albert Einstein)

II Korintus 1:8-12 | Semau-Mau-Nya


Renungan Warta, Minggu 29 April 2018
Semau-Mau-Nya
II Korintus 1:8-12

Saya selalu ingat perkataan seorang teman: “Kiranya kehendakku sesuai dengan kehendak-Mu”. Memang kita sudah terbiasa mendengar perkataan Yesus: “Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu yang terjadi” (Luk. 22:42). Akan tetapi, mari renungkan sekali lagi perkataan di awal paragraf dan bertanya: Memang apa salahnya menyampaikan doa seperti itu? Apabila seseorang bisa bersukacita jika yang terjadi adalah “bukan kehendakku melainkan kehendak-Mu” (sebagai bentuk totalitas berserah diri), betapa terlebih sukacita lagi bila yang kita temukan adalah “kehendakku ternyata sesuai dengan kehendak-Mu”.

Rasul Paulus dalam perjalanan pelayanannya memberitakan Injil menemukan kedua pengalaman dalam dua kalimat yang kita bicarakan tadi. Satu pengalaman Rasul Paulus yang menggambarkan perkataan Tuhan Yesus: “inginnya begini tapi ternyata jadi begitu”, bisa kita temukan ketika Rasul Paulus dan Silas hendak memberitakan Injil ke Asia, namun Roh Kudus mencegahnya saat itu demi menolong jemaat di Makedonia (Kis. 16:1-10).

II Kor. 1:12 memberikan pengalaman iman yang berbeda bahwa ada kala di mana “apa yang kita pikirkan berpadanan dengan pikiran Tuhan”. Yang menarik dalam perikop renungan hari ini adalah karena Paulus berbicara tentang suara hati yang sesuai dengan suara Tuhan justru saat Paulus berjumpa dengan banyak penderitaan (ayat 8-9).

Kedua pengalaman iman itu menjadi Kabar Baik bagi kita: entah yang terjadi adalah “kehendakku” atau “kehendak-Nya”, pikiran-Nya yang terwujud dalam sejarah kehidupan kita, tidak akan pernah mengecewakan. (GA)

Aku tidak mempercayai bahwa Tuhan sedang bermain dadu dengan alam semesta ini. (Albert Einstein)

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER