II Samuel 12:1-25 | Terpenting Yang Bisa Kita Lakukan - Pdt. Gerry Atje

    Social Items


Renungan Warta, 6 Mei 2018
Terpenting yang Bisa Kita Lakukan
II Samuel 12:15-25

Berusaha. Terpenting yang bisa kita lakukan adalah ‘itu’. Kadang, cukup dengan mengetahui bahwa kita telah melakukan hal ‘itu’ yang terbaik maka hati kita menjadi tenang. Meskipun mungkin, sama seperti Daud dalam pembacaan perikop kita hari ini, apa yang kita bayangkan tentang hasil dari berusaha kita tidak sesuai dengan inginnya kita. Tujuh hari lamanya Daud berusaha yang terbaik (ayat 16-18) namun apa yang diperjuangkan Daud tidak seperti apa yang dilihatnya dalam kenyataan: anaknya tetap mati.

Menarik untuk kita cermati bersama mengenai perubahan tindakan Daud sebelum dan sesudah anaknya itu mati; Tidak seperti umumnya orang Israel yang berkabung saat kedukaan tiba dengan cara: penggundulan kepala dan pencukuran janggut; melukai badan; mengoyakkan pakaian dan mengenakan karung; menebarkan debu di atas kepala dan berbaring dalam abu; dan menangis dan mengeluh; Daud berkebalikan dengan itu. Sebelum anaknya mati, Daud meratap, berpuasa, berbaring di tanah dan menangis; Setelah diketahuinya anaknya itu telah mati, Daud justru bangkit dari pembaringan tanahnya lalu ia makan.

Semangat Daud memperjuangkan yang terbaik adalah teladan bagi kita yang juga memiliki perjuangan dalam keseharian kita. Saat kita memastikan bahwa kita telah memberikan usaha yang terbaik, tenangkan hati kita dan serahkan segalanya pada Dia yang sanggup menunjukkan jalan berkat-Nya sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya. Mungkin hari ini kita merasa ada yang salah dengan inginnya Tuhan yang tidak sesuai dengan inginnya kita; Namun, Dia memang tidak pernah mengecewakan bukan? (GA)

Allah menulis dengan pena yang tidak pernah buruk kualitas tintanya. Berbicara dengan lidah yang tidak pernah keseleo. Bertindak dengan tangan yang tidak pernah gagal. (Spurgeon)

II Samuel 12:1-25 | Terpenting Yang Bisa Kita Lakukan


Renungan Warta, 6 Mei 2018
Terpenting yang Bisa Kita Lakukan
II Samuel 12:15-25

Berusaha. Terpenting yang bisa kita lakukan adalah ‘itu’. Kadang, cukup dengan mengetahui bahwa kita telah melakukan hal ‘itu’ yang terbaik maka hati kita menjadi tenang. Meskipun mungkin, sama seperti Daud dalam pembacaan perikop kita hari ini, apa yang kita bayangkan tentang hasil dari berusaha kita tidak sesuai dengan inginnya kita. Tujuh hari lamanya Daud berusaha yang terbaik (ayat 16-18) namun apa yang diperjuangkan Daud tidak seperti apa yang dilihatnya dalam kenyataan: anaknya tetap mati.

Menarik untuk kita cermati bersama mengenai perubahan tindakan Daud sebelum dan sesudah anaknya itu mati; Tidak seperti umumnya orang Israel yang berkabung saat kedukaan tiba dengan cara: penggundulan kepala dan pencukuran janggut; melukai badan; mengoyakkan pakaian dan mengenakan karung; menebarkan debu di atas kepala dan berbaring dalam abu; dan menangis dan mengeluh; Daud berkebalikan dengan itu. Sebelum anaknya mati, Daud meratap, berpuasa, berbaring di tanah dan menangis; Setelah diketahuinya anaknya itu telah mati, Daud justru bangkit dari pembaringan tanahnya lalu ia makan.

Semangat Daud memperjuangkan yang terbaik adalah teladan bagi kita yang juga memiliki perjuangan dalam keseharian kita. Saat kita memastikan bahwa kita telah memberikan usaha yang terbaik, tenangkan hati kita dan serahkan segalanya pada Dia yang sanggup menunjukkan jalan berkat-Nya sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya. Mungkin hari ini kita merasa ada yang salah dengan inginnya Tuhan yang tidak sesuai dengan inginnya kita; Namun, Dia memang tidak pernah mengecewakan bukan? (GA)

Allah menulis dengan pena yang tidak pernah buruk kualitas tintanya. Berbicara dengan lidah yang tidak pernah keseleo. Bertindak dengan tangan yang tidak pernah gagal. (Spurgeon)

SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER