Matius 21:1-11 | Melayani Tuhan Itu Sederhana - Pdt. Gerry Atje
melayani tuhan itu sederhana
Renungan Warta Jemaat, 25 Maret 2018

Jika Tuhan datang dalam rupa manusia ke dunia ini, apa yang akan dilakukan-Nya? Melihat Yesus sebagai Dia yang datang ke dunia ini dalam rupa seorang hamba, ada beberapa gambaran ideal yang rasanya tidak cocok dengan apa yang seharusnya menjadi kenyataan dari bayangan ideal kita. Banyak orang yang membayangkan Dia yang datang itu harus lahir di istana yang mewah; Nyatanya Yesus cuma lahir ditempat yang terlalu sederhana (jika tidak boleh mengatakan “terlalu tidak layak”). Dia yang datang itu harus dengan diiringi prajurit yang berjumlah besar dan berkendaraan kereta kencana berkuda yang istimewa; Nyatanya Yesus masuk ke Yerusalem hanya berkendarakan seekor keledai beban yang muda (ayat 5, 7).

Namun, apa yang terjadi memang seperti itu. Dia yang datang dalam rupa manusia ke dunia ini memilih untuk menggunakan cara yang kita bisa baca di dalam Alkitab, seperti dalam perikop kita hari ini: Dia datang tidak menggunakan kuda perang (apalagi kereta kencana), tetapi hanya menggunakan keledai muda yang bahkan larinya pun tidak cepat.

Pertanyaannya, mengapa Dia memilih untuk mengambil jalan itu? Saya kira salah satu jawaban yang sangat nyata dalam perikop kita hari ini adalah karena Dia mau setiap orang bisa menyambut kedatangan-Nya tanpa harus berpikir bahwa mereka (orang-orang itu) merasa tidak layak dihadapan-Nya (ayat 8, 9).

Banyak orang yang berpikir terlalu rumit dalam meng-ejawantah-kan kerinduannya melayani Tuhan: “Harus begini dulu, harus begitu dulu”. Padahal, melayani Tuhan itu sederhana: “Jika tidak punya pakaian untuk dihamparkan di jalan bagi Yesus, rantingpun boleh dibawa untuk melayani Dia”. (GA)

Janganlah membiarkan apa yang tidak bisa Anda lakukan mengganggu apa yang bisa Anda lakukan. (John Wooden)

Matius 21:1-11 | Melayani Tuhan Itu Sederhana

melayani tuhan itu sederhana
Renungan Warta Jemaat, 25 Maret 2018

Jika Tuhan datang dalam rupa manusia ke dunia ini, apa yang akan dilakukan-Nya? Melihat Yesus sebagai Dia yang datang ke dunia ini dalam rupa seorang hamba, ada beberapa gambaran ideal yang rasanya tidak cocok dengan apa yang seharusnya menjadi kenyataan dari bayangan ideal kita. Banyak orang yang membayangkan Dia yang datang itu harus lahir di istana yang mewah; Nyatanya Yesus cuma lahir ditempat yang terlalu sederhana (jika tidak boleh mengatakan “terlalu tidak layak”). Dia yang datang itu harus dengan diiringi prajurit yang berjumlah besar dan berkendaraan kereta kencana berkuda yang istimewa; Nyatanya Yesus masuk ke Yerusalem hanya berkendarakan seekor keledai beban yang muda (ayat 5, 7).

Namun, apa yang terjadi memang seperti itu. Dia yang datang dalam rupa manusia ke dunia ini memilih untuk menggunakan cara yang kita bisa baca di dalam Alkitab, seperti dalam perikop kita hari ini: Dia datang tidak menggunakan kuda perang (apalagi kereta kencana), tetapi hanya menggunakan keledai muda yang bahkan larinya pun tidak cepat.

Pertanyaannya, mengapa Dia memilih untuk mengambil jalan itu? Saya kira salah satu jawaban yang sangat nyata dalam perikop kita hari ini adalah karena Dia mau setiap orang bisa menyambut kedatangan-Nya tanpa harus berpikir bahwa mereka (orang-orang itu) merasa tidak layak dihadapan-Nya (ayat 8, 9).

Banyak orang yang berpikir terlalu rumit dalam meng-ejawantah-kan kerinduannya melayani Tuhan: “Harus begini dulu, harus begitu dulu”. Padahal, melayani Tuhan itu sederhana: “Jika tidak punya pakaian untuk dihamparkan di jalan bagi Yesus, rantingpun boleh dibawa untuk melayani Dia”. (GA)

Janganlah membiarkan apa yang tidak bisa Anda lakukan mengganggu apa yang bisa Anda lakukan. (John Wooden)

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER