Mazmur 100:1-5 | No Woman No Cry ~ Pdt. Gerry Atje

Mazmur 100:1-5 | No Woman No Cry


Renungan Warta, 3 Juni 2018
No Women No Cry
Mazmur 100:1-5

Beberapa orang pernah salah memahami judul lagu yang menjadi judul renungan ini. Termasuk saya. Membaca judul lagu itu kita mengira lagu itu mengenai para jojoba (jomblo-jomblo-bahagia) yang lantang menyerukan “gak ada pacar juga gak apa-apa”. Setelah kita mendengar seluruh lirik lagunya, tebakan kita salah mengenai ungkapan “no women no cry”, yang memang biasanya dipakai untuk menggambarkan keadaan jomblo dalam bahasa sehari-hari beberapa orang. Lagu itu ternyata mengisahkan tentang seorang lelaki (Bob Marley) yang berkata kepada istrinya (Rita), “Jangan sayang, jangan menangis”.

Pengalaman salah memahami lagu seperti itu membuat saya bertanya-tanya apakah ketika kita menyanyikan sebuah kidung pujian, kita bisa juga mengalami “salah paham” yang sama? Rasanya agak sulit terjadi untuk salah memahami sebuah kidung pujian kita kepada Tuhan karena semua kidung pujian dituliskan untuk memuji, menyembah dan sebagai ungkapan iman dalam segala hal. Bahkan lagu-lagu yang kadang dikritik “kurang tepat secara teologis” pun (Misalnya: Mari masuk, masuk hatiku ... Ya Yesus), kita memahaminya sebagai ungkapan kerinduan kepada Dia untuk selalu hadir dan tinggal di hati kita (yang memang sudah Dia lakukan).

Jikapun ada kesulitan seseorang dalam memahami kidung pujian mungkin salah satunya tergambar di perikop kita, ayat 4-5. Ketika suasana hati kita tidak bertepatan dengan apa yang diungkapkan isi lagu tersebut. “Bersyukurlah! Sebab Tuhan itu baik”, padahal hari ini kita sedang ada dalam pergumulan yang berat. Saat kita merasa berat dalam mengungkapkan kidung pujian kita kepada-Nya karena kehidupan memang sedang berada dalam jalan sukar; Tetaplah bernyanyi. Temukanlah kekuatan untuk memadankan kembali kehidupan kita seturut dengan janji Tuhan yang telah dinyatakan kepada banyak orang melalui kidung-kidung pujian. (GA)

Mungkin dibutuhkan kemurnian hati untuk memuji Tuhan atas berkatNya yang belum menjadi nyata daripada saat berkat itu telah dirasakan atau ketika berkat itu sedang kita nikmati sekarang. (A. W. Tozer)
Previous
Next Post »