Yesaya 66:5-14 | Terlalu Lama Menanti - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

penantian
Renungan Warta, 11 Maret 2018

Perikop yang kita baca hari ini (Yes. 66:5-14) adalah periode yang paling akhir di masa pembuangan Israel ke Babel (bnd. Yes. 56:1). Di masa ini Israel telah menanti selama kurang lebih 70 tahun untuk melihat penggenapan janji Tuhan (bnd. Yer. 29:10) bahwa mereka akan kembali pulang ke Yerusalem dari pembuangan di Babel. Jadi, kita bisa sangat mengerti apabila Israel tidak semudah itu mengaminkan apa yang ditegaskan oleh Tuhan berulang kali dalam perikop yang kita baca hari ini, terutama di ayat 10 “Bersukacitalah ... Bergiranglah ...” karena memang mereka masih ada di Babel dan sudah teramat lelah dalam menantikan penggenapan janji Tuhan itu (lih. Yes. 66:5c).

Bayangkanlah tentang seseorang yang sudah menanti sangat lama akan .. pekerjaan yang baru setelah lama di PHK, pacar atau pasangan hidup setelah lama men-jomblo, dll. Kemudian ada seseorang yang datang dengan maksud menghibur, “Sabar ya ... Tuhan pasti memberikan yang terbaik”. Jika saya adalah orang yang telah lama menanti itu, apa yang akan saya lakukan? Dengan sesegera itu berkata: “Amin!”? Rasanya tidak. Lamanya penantian selalu memengaruhi semangat seseorang dalam mengaminkan semua perkataan penghiburan yang dia dengarkan. Semakin lama menanti, semangatnya akan semakin terkuras habis.

Oleh sebab itu perikop yang kita baca hari ini adalah kabar sukacita bagi semua orang yang telah terlalu lama menantikan sesuatu yang baik terjadi di dalam kehidupannya. Bahwa Tuhan yang kita kenal dalam Kristus tidak tinggal diam melihat penantian panjang kita. Apabila perkataan seseorang yang menghibur kesedihan dan pergumulan yang telah lama kita alami tidak cukup menjadikan kita memercayai kebaikan yang disediakan dalam kehidupan kita dibalik pergumulan itu; Setidaknya datanglah secara pribadi kepada Tuhan dan dengarkanlah apa yang Dia katakan tentang kehidupan kita yang hari ini mungkin sedang buruk-buruknya. (GA)

Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. (Yeremia 29:11)

Allah takkan membiarkan suatu masalah pun terjadi pada kita kecuali Ia memiliki rencana spesifik di mana kita akan memperoleh berkat dari kesulitan tersebut. (Peter Marshal)

Yesaya 66:5-14 | Terlalu Lama Menanti

penantian
Renungan Warta, 11 Maret 2018

Perikop yang kita baca hari ini (Yes. 66:5-14) adalah periode yang paling akhir di masa pembuangan Israel ke Babel (bnd. Yes. 56:1). Di masa ini Israel telah menanti selama kurang lebih 70 tahun untuk melihat penggenapan janji Tuhan (bnd. Yer. 29:10) bahwa mereka akan kembali pulang ke Yerusalem dari pembuangan di Babel. Jadi, kita bisa sangat mengerti apabila Israel tidak semudah itu mengaminkan apa yang ditegaskan oleh Tuhan berulang kali dalam perikop yang kita baca hari ini, terutama di ayat 10 “Bersukacitalah ... Bergiranglah ...” karena memang mereka masih ada di Babel dan sudah teramat lelah dalam menantikan penggenapan janji Tuhan itu (lih. Yes. 66:5c).

Bayangkanlah tentang seseorang yang sudah menanti sangat lama akan .. pekerjaan yang baru setelah lama di PHK, pacar atau pasangan hidup setelah lama men-jomblo, dll. Kemudian ada seseorang yang datang dengan maksud menghibur, “Sabar ya ... Tuhan pasti memberikan yang terbaik”. Jika saya adalah orang yang telah lama menanti itu, apa yang akan saya lakukan? Dengan sesegera itu berkata: “Amin!”? Rasanya tidak. Lamanya penantian selalu memengaruhi semangat seseorang dalam mengaminkan semua perkataan penghiburan yang dia dengarkan. Semakin lama menanti, semangatnya akan semakin terkuras habis.

Oleh sebab itu perikop yang kita baca hari ini adalah kabar sukacita bagi semua orang yang telah terlalu lama menantikan sesuatu yang baik terjadi di dalam kehidupannya. Bahwa Tuhan yang kita kenal dalam Kristus tidak tinggal diam melihat penantian panjang kita. Apabila perkataan seseorang yang menghibur kesedihan dan pergumulan yang telah lama kita alami tidak cukup menjadikan kita memercayai kebaikan yang disediakan dalam kehidupan kita dibalik pergumulan itu; Setidaknya datanglah secara pribadi kepada Tuhan dan dengarkanlah apa yang Dia katakan tentang kehidupan kita yang hari ini mungkin sedang buruk-buruknya. (GA)

Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. (Yeremia 29:11)

Allah takkan membiarkan suatu masalah pun terjadi pada kita kecuali Ia memiliki rencana spesifik di mana kita akan memperoleh berkat dari kesulitan tersebut. (Peter Marshal)

SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER