Yesaya 6:1-8 | Melayani itu Ngeri ... Ngeribetin - Pdt. Gerry Atje
menolong orang lain
Syalom bapak ibu semua. Apa kabar?
Dua minggu tidak bertemu, semoga kita semua baik-baik saja. Terima kasih untuk doanya, kemarin acara pernikahan di Blora berjalan dengan baik. Sekalian ini saya mau memperkenalkan ... ini istri saya: Dhebora Tiara Setyowati.

Bahan perenungan kita hari ini cukup populer, tentang Yesaya mendapatkan panggilan Allah. Alkitab berisi banyak sekali orang-orang yang dipanggil Allah untuk melayani. Akan tetapi, khusus untuk Yesaya ini ... dia unik. Masih inget kan cara Tuhan memanggil para nabi lainnya, misalnya: Tuhan memamnggil Musa (Keluaran 6) atau Tuhan memanggil Yeremia (Yeremia 1:4-10). Hampir semua nabi-nabi di PL dipanggil Tuhan secara khusus dengan menyebut nama mereka: "Hai Musa ..., Hai Yeremia ...", kecuali Yesaya.

Ada gak kita ketemu di perikop kita hari ini, Tuhan memanggil secara khusus dengan nama pada Yesaya? Gak ada. Coba lihat ayat 8, Tuhan hanya berkata: ""Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?"

Ini persoalan yang klasik banget, ketika Tuhan memanggil orang-orang untuk melayaniNya atau mengerjakan tugas dari Tuhan ... adakah yang mau? Hari ini saya mau mengajak kita untuk merenungkan dua hal saja.


Yang pertama, fakta di ayat 5: ""Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam."

Melayani itu ngeri ... (Ngeribetin juga).

Betul ya ... melayani itu memang ngeri: merasa diri tidak layak, tidak kudus lalu mau berbicara tentang hal-hal yang berasal dari Tuhan. Ngeri.

Ok, dimengerti masalah kengeriannya itu dan memang kita semua tidak akan pernah bisa menjadi orang yang sempurna: selalu ada jatuh-bangun dalam hidup kita yang membuat kengeriannya memang selalu ada.

Di konteks zaman sekarang, yang saya takutkan bertambah satu lagi nih. Melayani itu ngeri ... ngeribetin. Jadi orang, bisa saja menjawab panggilan Tuhan ... tapi dengan rada terpaksa ... karena dalam pikirannya: makin nambah ribet aja nih, sehari-hari udah ribet ditambah satu lagi ini pula.

Jadi yang paling pahit di sini adalah orang yang datang dan menjawab, tidak dengan hati yang rela (seperti Yesaya), tetapi berawal dari (sedikit atau banyak) rasa terpaksa.

Yang terakhir yang menjadi kunci perbedaan antara Yesaya dan saya atau kita mungkin adalah ini ... Ayat 7: "Ia menyentuhkannya kepada mulutku serta berkata: "Lihat, ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni."

Bapak ibu boleh tanya gak? Sewaktu bapak dan ibu ada di tengah persekutuan (gereja) ... ada perasaan yang berbeda gak daripada saat, misalnya: di kantor? di tempat sekolah atau kuliah? atau di tengah lingkungan sekitar rumah kita? Ada perasaan yang berbeda?

Gak ada? Oh iya, gak ada perasaan yang berbeda karena di semua tempat sama-sama menyenangkan suasananya. Ups, apa? Bukan itu? Sama-sama bikin eneg-ngeselinkah?

Satu-satunya cara agar semakin banyak orang yang dengan rela hati mau menjawab panggilan Tuhan dengan hati yang rela (bahkan menurut saya, meskipun pada awalnya dia berangkat dengan hati yang sedikit terpaksa) adalah dengan melakukan apa yang dilakukan oleh malaikat Serafim tadi pada Yesaya.

Jadilah orang yang menopang, memulihkan dan menguatkan ... Jadilah orang yang membuat orang-orang di sekitar kita merasa nyaman berada di tengah kebersamaan kita hari ini.

Tuhan menolong kita.

Yesaya 6:1-8 | Melayani itu Ngeri ... Ngeribetin

menolong orang lain
Syalom bapak ibu semua. Apa kabar?
Dua minggu tidak bertemu, semoga kita semua baik-baik saja. Terima kasih untuk doanya, kemarin acara pernikahan di Blora berjalan dengan baik. Sekalian ini saya mau memperkenalkan ... ini istri saya: Dhebora Tiara Setyowati.

Bahan perenungan kita hari ini cukup populer, tentang Yesaya mendapatkan panggilan Allah. Alkitab berisi banyak sekali orang-orang yang dipanggil Allah untuk melayani. Akan tetapi, khusus untuk Yesaya ini ... dia unik. Masih inget kan cara Tuhan memanggil para nabi lainnya, misalnya: Tuhan memamnggil Musa (Keluaran 6) atau Tuhan memanggil Yeremia (Yeremia 1:4-10). Hampir semua nabi-nabi di PL dipanggil Tuhan secara khusus dengan menyebut nama mereka: "Hai Musa ..., Hai Yeremia ...", kecuali Yesaya.

Ada gak kita ketemu di perikop kita hari ini, Tuhan memanggil secara khusus dengan nama pada Yesaya? Gak ada. Coba lihat ayat 8, Tuhan hanya berkata: ""Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?"

Ini persoalan yang klasik banget, ketika Tuhan memanggil orang-orang untuk melayaniNya atau mengerjakan tugas dari Tuhan ... adakah yang mau? Hari ini saya mau mengajak kita untuk merenungkan dua hal saja.


Yang pertama, fakta di ayat 5: ""Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam."

Melayani itu ngeri ... (Ngeribetin juga).

Betul ya ... melayani itu memang ngeri: merasa diri tidak layak, tidak kudus lalu mau berbicara tentang hal-hal yang berasal dari Tuhan. Ngeri.

Ok, dimengerti masalah kengeriannya itu dan memang kita semua tidak akan pernah bisa menjadi orang yang sempurna: selalu ada jatuh-bangun dalam hidup kita yang membuat kengeriannya memang selalu ada.

Di konteks zaman sekarang, yang saya takutkan bertambah satu lagi nih. Melayani itu ngeri ... ngeribetin. Jadi orang, bisa saja menjawab panggilan Tuhan ... tapi dengan rada terpaksa ... karena dalam pikirannya: makin nambah ribet aja nih, sehari-hari udah ribet ditambah satu lagi ini pula.

Jadi yang paling pahit di sini adalah orang yang datang dan menjawab, tidak dengan hati yang rela (seperti Yesaya), tetapi berawal dari (sedikit atau banyak) rasa terpaksa.

Yang terakhir yang menjadi kunci perbedaan antara Yesaya dan saya atau kita mungkin adalah ini ... Ayat 7: "Ia menyentuhkannya kepada mulutku serta berkata: "Lihat, ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni."

Bapak ibu boleh tanya gak? Sewaktu bapak dan ibu ada di tengah persekutuan (gereja) ... ada perasaan yang berbeda gak daripada saat, misalnya: di kantor? di tempat sekolah atau kuliah? atau di tengah lingkungan sekitar rumah kita? Ada perasaan yang berbeda?

Gak ada? Oh iya, gak ada perasaan yang berbeda karena di semua tempat sama-sama menyenangkan suasananya. Ups, apa? Bukan itu? Sama-sama bikin eneg-ngeselinkah?

Satu-satunya cara agar semakin banyak orang yang dengan rela hati mau menjawab panggilan Tuhan dengan hati yang rela (bahkan menurut saya, meskipun pada awalnya dia berangkat dengan hati yang sedikit terpaksa) adalah dengan melakukan apa yang dilakukan oleh malaikat Serafim tadi pada Yesaya.

Jadilah orang yang menopang, memulihkan dan menguatkan ... Jadilah orang yang membuat orang-orang di sekitar kita merasa nyaman berada di tengah kebersamaan kita hari ini.

Tuhan menolong kita.

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER